Skinpress Demo Rss

Just An over-speculated-self-centered-cynical-brat

Filed Under () by Pitiful Kuro on Thursday, February 26, 2009

Posted at : 4:06 PM

Fujita: Hey, Kid, Which one will you prefer, The lone wolf, or The happy sheep?
Sawamura: (surely answer), The lone wolf.
Fujita: Why? You don’t want to go to school? Enjoyin math or japanese literature? Having a good time with your friends? Spend your time with your girlfriend? Hm?
Sawamura: No, if i choose to become a sheep, my power comin from the other, but if i choose the wolf, i’ll become strong even there’s no one beside me. And sheep? If that brat leave all alone by it’s companion, game over, died.


I’m just a pre-teenager when i read these dialogue, my vision of life that time is just a little bit better than a tortoise. Narrow. Simply, i reject that argumen. It’s irrasional, how come we got any power if we all alone, eat our meal at the lunch break without laughing with our besties? Whoa, i’m—the 13 years-naive-scupid-boy—can’t imagine a life like that. Gue pikir, Yuriko Nishiyama membuat karakter Masahiro Sawamura yang begitu dinginnya itu untuk menyeimbangkan Toru Naruse yang over ceria. Terlalu banyak aura positif pun ngga baik, kan. Makanya, beliau membuat karakter yang sedemikian pundungnya dengan pengalaman luar biasa menyedihkan. Pokoknya tanpa tujuan dan filosofi tertentu, hanya membuat karakter negatif dan habis perkara. Gue ngga terlalu menyukai Sawamura sebagai personaliti, bagaimana mungkin ada manusia yang seperti itu? Memilih untuk sendirian, berharap dengan kesendiriannya itu dia justru akan bertambah kuat. Well.

Sejujurnya menarik. Saat-saat edisi awal, karakter ini memang buat gue mengernyitkan dahi. Tapi makin kesini, gue malah suka sama tokoh ini. Terutama saat gue membaca ulang 29 jilid Harlem Beat saat gue SMA, yang memang—walaupun tidak mirip—ada sedikit perasaan senasib.

Domba atau serigala. Lagi-lagi, apakah ini soal pilihan? Oh. Gue benci memilih. Domba? Hm? Bagaimana dengan itu? Kelihatan sangat menyenangkan bukan? Selalu terlihat berkelompok, bersama satu dengan yang lain, berbahagia. Oh ya, tentu ngga bahagia-bahagia melulu, kan? Setiap manusia sudah seyogyanya memiliki masalahnya sendiri-sendiri, beragam, dan berbeda satu sama lain. tingkatan levelnya pun begitu, ada ringan, ada yang berat, tergantung point of view si pelaku masalahnya. Disinilah adventage dari seekor domba—atau manusia yang memilih menjadi domba (lah, ga ada analogi yang bagusan ya?), mereka bisa membaur dan tentunya bisa seenggaknya untuk berbagi dengan yang lainnya, kebahagiaan, rasa dipercaya, dan tentunya rasa penyelesaian masalah bersama. Persis. Itukah yang Sawamura maksud? Bahwasannya kekuatan seekor domba itu berasal dari domba-domba lainnya? Sweet. Bloody Sweet. Tapi seperti telah disampaikan secara singkat oleh Sawamura di dialog diatas. Apa yang terjadi dengan domba yang terpisah dari kerumunannya? Tinggal tunggu waktu kematiannya dengan tenang.

And the lucky other one? The Wolf. Karakteristik serigala, individualis. Titik. Satu-satunya keunggulan yang dimiliki hewan ini hanya itu, tidak berkelompok, berburu sendirian (dalam beberapa spesies, tentu ada yang berkelompok), maka hewan ini dapat bertahan dalam kondisi apapun. Bagus, eh? Kurang lebih. Kekurangannya? Ngga ada? Selain terlalu individual, ngga ada.
Tidak domba, tidak serigala, diantara keduanya itu ngga ada yang dirasa cocok buat gue pakai sebagai konsep. Terlalu pesimis, menarik diri, bebal, menyebalkan untuk menjadi seekor domba. Tapi juga terlalu berekspetasi kanan-kiri untuk seekor serigala. Jadi? Serigala berbulu domba? Nein, konteksnya ngga bisa mengacu kesana. Andaikan diberi pertanyaan harus pilih yang mana, i’ll prefer wolf.

1 comment:

Anonymous said...

Klo domba berbulu serigala gimana?

Nice new layout. :)