<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246</id><updated>2009-11-01T23:41:48.403+07:00</updated><title type='text'>Pitiful Weakling</title><subtitle type='html'>At the time of temptation, god is already provide a way out, so you will be able to stand it. -&lt;i&gt;Corinthians 10:13&lt;/i&gt;-</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>126</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-1097267575262364601</id><published>2009-10-26T00:42:00.000+07:00</published><updated>2009-10-26T00:45:27.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sikit Karya'/><title type='text'>Tidak Jelas Juntrungannya</title><content type='html'>Selalu mudah membuat cerita dengan awalan sebuah awal. Huruf pertama dari suku kata pertama dari kalimat pertama dari paragraf pertama, dan apakah itu? Aku. Aku duduk, tertidur, namun aku sadar. Sadar bahwa aku masih hidup, jantungku berdetak sebagaimana mestinya sebuah jantung bergerak, nafasku memburu terengah-engah, tapi diatas semua itu, aku masih hidup. Tidak peduli berapa satuan cc yang tertumpah ke jok mobil orang yang panik disampingku, tak peduli seberapa indah penampilanku sudah didandani manis oleh darahku sendiri, sekali lagi satu hal yang kutegaskan, aku masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku tak ditubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat aku, duduk di dashboard melihat diriku sendiri yang merintih sakit, kesannya lucu, dan mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup—atau terakhir—yang bisa saja terjadi. Aku tentu tidak merasa sakit, tapi sepertinya dia, maksudku aku, tampak kepayahan. Pft—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si supir nampak panik, begitupula dua orang yang ada di bangku penumpang, err.. tentu saja, melihat salah satu anggota keluarganya berpeluh darah tak sadar, bagaimana bisa tenang, mereka pasti sedih memikirkan bagaimana mengurus mayatku nanti, ergh.. proses kremasi, tanah pekuburan, dan tetek bengek birokrasi lainnya soal penguburan mayat yang dulu pernah kudengar hanya bikin pusing, jelas saja mereka panik. Maaf, terlalu sinis? Ah ya, kalau begitu, mereka pasti sedih akan kehilanganku, puas ralatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sudah memeluk bumi dengan gulita pekatnya, menyisihkan ruang sempit untuk selusin bintang paling terang bereksibisi pamer cahaya, sedangkan aku, dengan tubuh astral ringan tak lebih berat dari zarah menikmatinya santai. Sayang, rintihan dia—maaf—aku, mengganggu saja. Tak pernah menyangka dengan tubuh macam ini bisa menikmati dunia senikmat-nikmatnyanya, tahu tidak? Rasanya, emm.. seperti menyatu dengan alam, maksudku, benar-benar menyatu, ah, sudahlah, kalau belum sepertiku takkan tahu rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghirup udara yang sebenarnya tak perlu, merasakan dingin udara perbuktian yang seharusnya tak bisa kurasakan, dan mendengarkan kabar-kabar dari serangga di kejauhan gelapnya malam. Ah~ dunia.. ups! Maksudku, akhirat. Euh. Tak tega, kawan. Meskipun aku dianugrahi sinisme tingkat empat dan sarkasme level dewa, aku tak bisa membiarkan dia—ergh, maksudku tubuhku—merintih demikian hebatnya. Tak percaya aku, bagaimana mungkin seorang kuat seperti diriku, si keras kepala pantang mengeluh dan tukang injak kelemahan orang, bisa berteriak pilu begitu. Halalah, malu aku. Kapan sih prosesnya selesai? Halo? Tuhan? Kau disana? Sini dong ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ergh? Siapa? Aih aih, datang? Sewujud entitas berdiri (maksudku, benar-benar berdiri) diatas kap mobil yang melaju 80km/jam, bukan manusia kan? Aku membalik badanku, memaksimalkan akomodasi mata astralku untuk melihat lebih jelas wujud makhluk yang asik nangkring semeter didepanku. Apa.. si Tuhan sendiri yang menyempatkan datang ke mobil sedan butut keluaran 80an ini untuk menjemputku secara langsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.. bukan-bukan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membaca pikiranku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waw, dia tersenyum, yang ngerinya, bukan senyuman manusia, err, secara literal. Karena saat mataku mulai dapat melihat dengan baik, kepalanya bukan kepala manusia, tapi.. anjing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Koreksi, pak, ini kepala Jackal, bukan anjing. Mitos mesir kuno di dunia atas, pernah dengar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia atas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tentu tidak tahu ya, maksudku dunia orang hidup,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak lebih jelas sekarang, sosok itu berbentuk manusia utuh, hanya saja berkepala an—maksudku, Jackal. Mengenakan setelan jas hitam plus kemeja putih, nampak seperti orang yang menghadiri pemakaman. Aku turut keluar mobil mendekatinya, menembus kaca depan, dan duduk persis didepan.. emm.. siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, maaf pak, terlambat memperkenalkan diri saya, anda dapat menyebut saya dengan berbagai sebutan yang ada di dunia atas sesuka anda, Shinigami, dewa kematian, Izrail, Anubis, Domorad, Elynthiok, atau apapun yang pernah anda dengar,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tukang cabut nyawa,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya bolehlah.. kalau begitu, mulai saja. Farhan Putranto, lahir 6 maret 1985 pukul 08.11 pagi, meninggal 8 Febuari 2010 pukul 02.54 pagi. Anak dari bapak Catur Marti—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Err.. aku menengok sekilas ke dashboard, jam masih menunjukkan pukul 01.49, 5 menit lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“—cucu dari—astaga! Pak, tolong dengarkan! Ini prosedurnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Euh, baik.. tapi.. apakah lima menit sisa ini akan digunakan untuk mendengarkan anda berbicara soal silsilah panjang yang bahkan-aku-tak-tahu-anda-sebut-siapa? Boleh ngobrol saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plop&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dia menutup bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu pak,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, biasanya aku mengobrol sambil minum kopi, apakah mungkin aku bisa minum kopi dengan tubuh begini? Atau aku kembali sebentar ke tubuhku untuk minum kopi? Aih, tapi nampaknya aku hanya akan kesakitan ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, ngobrol atuh pak, saya hanya punya waktu kurang dari empat menit untuk ada disini kan? Kooperatif sedikit sesekali untuk memenuhi permintaan terakhir orang yang akan meninggal dong..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya, dalam catatan, anda sudah tercatat meninggal,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah ya.. baiklah, kalau begitu saya saja yang bertanya, nanti akan dibawa kemana saya? Surga? Neraka? Atau reinkarnasi seperti film-film kungfu itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda yakin ingin tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Err... tidak akan ada bedanya tahu sekarang dan nanti kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waw, takut sih sebenarnya, berbuat baik aku jarang, berbuat jahat tidak pernah, ibadah kurasa cukup, aku sering membantu orang, hei, aku psikolog, itu terhitung membantu kan? Walau ada bayarannya, tetap saja hitungannya membantu orang. Pasti surga, eh, tapi rasanya terlalu mudah, lagipula aku baru saja jadi psikolog setahun terakhir, apa sudah cukup banyak orang yang kutolong? Bagaimana-bagaimana—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm Ehm..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Euh, maaf pak, lupa kalau anda bisa tahu apa yang saya pikir,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini (membuka catatan), waktu kecil anda pernah memukul kepala teman anda dengan gelas, itu minus, lalu pernah menaruh paku payung di bangku guru, minus, pernah melempari teman sekelas dengan plastik air kencing, minus, ah.. ini baik, memberi makan kucing dengan susu, plus, lalu—blablabla—oke, surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan senang dulu, surga dan neraka hanya berbeda suhu, di surga lebih sejuk, sementara neraka panas sedikit. Yah, kalau di dunia orang hidup, surga itu seperti bumi bagian barat—apa namanya?—ah, eropa. Neraka, katakanlah seperti daerah tropis. Saya pribadi lebih suka berlibur di neraka—ah.. maaf, melantur, ehm. Dan anda bisa berkunjung atau pindah ke dua bagian dunia itu jika anda mau. Yang berbeda dari dunia orang hidup, disana anda dapat mati, tapi di tempat yang anda kunjungi nanti, anda abadi. Mudah saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gentayangan sajalah..”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-1097267575262364601?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1097267575262364601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1097267575262364601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/10/tidak-jelas-juntrungannya.html' title='Tidak Jelas Juntrungannya'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-1389861750763471147</id><published>2009-10-06T11:45:00.001+07:00</published><updated>2009-10-06T11:51:23.241+07:00</updated><title type='text'>EYD</title><content type='html'>Ada pepatah lama yang mengatakan, setejam-tajamnya pisau, apabila tidak pernah diasah, pasti akan tumpul juga. Can’t more agree with that. Kemampuan nulis gue makin jongkok karena lama ngga pernah digunakan untuk tulisan bebas. Karya ilmiah, makalah, dan esai, itu semua adalah bentuk tulisan yang gue buat dalam beberapa bulan terakhir. Tidak ada cerpen, tidak ada prosa, tidak ada pula yang namanya puisi (emang pernah gue bikin puisi?), ha. Semua kegiatan yang berhubungan dengan bahasa terpotong sudah bagai t*t*t yang di sunat, tau ngga? Bahkan ngga ada satu buku pun yang gue selesaikan dalam beberapa bulan terakhir (buku diktat dan motivasi ga di hitung, maksudnya sastra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa alasannya? Yang jelas, bukan kehilangan minat, minat gue pada bidang ini masih sangat besar. Bahkan keinginan-mustahil-terwujud gue untuk ngambil program ganda dengan sastra indonesia masih belum pudar, ingin tapi ngga mungkin, sort of. Di bilang sibuk pun sebenernya ngga terlalu, banyak waktu kosong yang dipergunakan secara tidak efektif dan cuma nyampahin waktu: browsing tanpa tujuan, tidur, bahkan—melamun. Oh keren. No, no, time that i spend with meine freundin is not such a waste, gue melihatnya sebagai penghabisan waktu yang berkualitas, walau tidak melakukan apapun. Ha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, gue mencoba untuk membangkitkan insting menulis yang entah sejak kapan tumpul. Caranya? Alamak, tidak ada jaminan seperti yang di berikan seperti saat kita meminjam uang ke bank, kalau gue memberi janji, nanti jaminannya disita, haha. Mudah sajalah, diusahakan untuk mengisi blog ini dengan rutin, amin gak? Amin dong ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama, gue meminta seseorang teman baik untuk memilihkan satu topik secara acak, berikutnya terserah gue akan mengembangkan topik itu menjadi seperti apa nantinya. Here it is.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ejaan Yang Disempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jangan keburu mengerutkan dahi terlebih dahulu setelah melihat judul diatas, salahkan Bayu Adiputro yang memilih topik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ejaan yang disempurnakan atau lebih akrab kita kenal dengan singkatan EYD adalah ejaan yang mulai dipakai di Indonesia pada tanggal 16 Agustus 1972. Mencakup 12 aspek total dan mungkin ratusan poin-poin kecil peranakan dari 12 aspek tersebut. 12 aspek tersebut adalah. Kapitalisasi, tanda koma, titik, seru, hubung, titik koma, tanya, petik, titik dua, kurung, elipsis dan tanda garis miring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali kita sebagai bangsa Indonesia mengerdilkan fungsi dari EYD ini dan jelas-jelas meludahi tata bahasa yang ada. Mungkin masih dimaafkan apabila penggunaan EYD ini tidak terlalu dijunjung tinggi pada penulisan karya sastra, dengan dalih agar membuat karya tersebut menjadi lebih menarik dan lebih asik untuk dikonsumsi. Misal saja, penggunaan tanda titik berurutan untuk menimbulkan kesan hening dan membuat efek suram pada sebuah dialog, tentu dimaafkan. Tapi jika kesalahan terang-terangan tersebut digunakan dalam sebuah karya ilmiah, wah, tidak bisa berkomentar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walah, tidak usah jauh-jauh ke penulisan karya ilmiah yang meribetkan jiwa membuat pusing mata itulah, mari pindah saja ke fenomena sosial yang sedang marak belakangan ini. Situs jejaring sosial, tempat dimana tulisan menjadi media utama komunikasi—disamping fitur foto dan sebagainya, tentu. Mungkin bisa saya katakan, bahwa situs jejaring sosial semacam facebook atau myspace dapat dijadikan sampel bagaimana kondisi bangsa ini memandang sebuah bahasa. Saya tidak munafik, tentunya bahasa slang lebih menarik digunakan dalam keseharian, jadi saya tidak akan mengkritisi soal kosakata disini. Yang jadi masalah adalah, cara menulis, tipografi. Mengerti maksud saya? Begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, menjadi aq.&lt;br /&gt;Kamu, menjadi kmoch.&lt;br /&gt;Dsb, ngga kuat melanjutkan, maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerti kan maksud saya? Tidak masalah dengan bahasa slang, tidak ada masalah dengan kosakata, tapi setidaknya, gunakanlah bahasa sebagaimana mestinya seperti yang sudah diatur oleh para pendahulu kita di masa lampau. Jika ingin membuat kata baru, maka akan sangat dipersilahkan, tapi janganlah merubah kata yang sudah ajeg, menjadi suatu bentuk lain yang (maaf) membuat merinding orang yang membacanya. Tidak harus menggunakan tata bahasa yang sebagaimana saya sebutkan di paragraf pertama, tanda baca yang baik dan benar. Tidak harus titik setelah akhir kalimat, tidak harus koma setelah satu kalimat selesai, tapi cukup gunakanlah dengan bijak. Karena satu tanda titik sudah cukup untuk mengakhiri, satu tanda seru sudah cukup untuk membuat satu kalimat berartikan seru, dan satu tanda tanya sudah menjelaskan dengan amat jelas kalau kita sedang bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam facebook sendiri, cukup banyak grup yang menentang penggunaan bahasa demikian, jadi bukan hanya saya kan yang agak terlalu perfeksionis? Ada pula yang menyebutkan bahwa tata bahasa demikian adalah tata bahasa alay, entahlah, saya lebih suka menyebutnya sebagai penggunaan tipografi yang kebablasan daripada jenis bahasa yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu. Saya juga tidak mendiskreditkan pengguna bahasa demikian, hanya saja, saya menghimbau untuk menggunakan bahasa sebagaimana mestinya. EYD diciptakan oleh orang Indonesia, kalau bukan orang Indonesia sendiri yang menggunakan serta melestarikannya, siapa lagi? Tidak lucu jika suatu saat nanti, kitab suci bahasa Indonesia kita yang melampirkan EYD diklaim oleh bangsa lain bukan? Jangan sampai kita berlatah ria menggunakan tatanan bahasa yang seharusnya pada saat itu, sudah terlalu terlambat, kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya tidak munafik, bahasa slang lebih membuat saya nyaman daripada harus berkaku setiap saat dalam setiap kesempatan. Saya juga tidak menjadikan KBBI sebagai kitab saya, walau selalu saya buka pada saat ada kesempatan. Namun untuk tanda baca, kata yang sudah ada, baiklah kita gunakan sebijaknya dan jangan diubah, karena penyusunan yang demikian tidaklah mudah untuk dibuat oleh para sepuh kita dulu. Hargai jerih payah mereka, Yap?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-1389861750763471147?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1389861750763471147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1389861750763471147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/10/eyd.html' title='EYD'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-7901914290642201172</id><published>2009-10-03T02:34:00.001+07:00</published><updated>2009-10-03T02:37:02.916+07:00</updated><title type='text'>Eeeergh!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kalau lo jarang olahraga, jangan lari ngebut tanpa pemanasan!! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;Karena badan manusia bukan mesin &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;DIESEL!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*megangin tulang selangka*&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-7901914290642201172?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/7901914290642201172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/7901914290642201172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/10/eeeergh.html' title='Eeeergh!'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2841799004457179684</id><published>2009-09-21T12:36:00.001+07:00</published><updated>2009-09-21T12:36:10.858+07:00</updated><title type='text'>Letetan Bangsawan Kelaparan</title><content type='html'>Mohon maaf lahir batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang mengucapkan kata-kata itu seminggu belakangan. Tidak hanya yang islam, rekanan saya yang kristen, agnostik, dan bahkan ateis pun menyempatkan mengucap kalimat emas tersebut. Takbir berkumandang, gendang berkedok bedug ditabuh, dan gelegar petasan menjerit dimana-mana. Gema bahagia mengaum di dinding-dinding kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muak saya muak, tentu tidak ada yang salah dalam perayaan ini, selebrasi setelah satu bulan penuh menahan nafsu kan katanya. Apa derita telah dilalui, mafhum saja kalau ingin ada kesenangan sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang saja, tidak semua bisa menjalani hari ini dengan tawa, dengan senyum. Ada yang dilanda kesukaran, ada yang masih menyeret kakinya penuh borok di trotoar, ada yang makan dari sampah sisa tak termakan, dan.. ada yang berduka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya pilihan, dan demi mereka, saya memilih untuk tidak bersuka cita.. Ingat, ini pilihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2841799004457179684?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2841799004457179684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2841799004457179684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/09/letetan-bangsawan-kelaparan.html' title='Letetan Bangsawan Kelaparan'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2679334431533246778</id><published>2009-09-20T22:04:00.001+07:00</published><updated>2009-09-20T22:04:12.236+07:00</updated><title type='text'>Pergi Tanpa Pamit</title><content type='html'>Ini hari raya. Tapi tolong, kabarkan satu saja kabar baik untuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahku tak Pamit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jiwa dari seribu.&lt;br /&gt;Asal tak pelak kumpulan enggan tumbuh.&lt;br /&gt;Jiwa-jiwa gelap tertanam muram.&lt;br /&gt;Berlari singkat di peraduan kejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar setan, buah iblis.&lt;br /&gt;Tak jauh tak beda bukan serupa.&lt;br /&gt;Anak beranak hitam berbalut merah.&lt;br /&gt;Menggapai bahagia tak pernah merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua? Ah, mungkin tiga&lt;br /&gt;Aku bahkan tak menaruh duga.&lt;br /&gt;Satu lagi kamboja kaku.&lt;br /&gt;Tak pernah kulihat, hanya kurasa pelu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup.. Tolonglah.&lt;br /&gt;Yang maha mengatur lagi maha mengarah&lt;br /&gt;Jangan timpakan terus amarah, buatlah berkah.&lt;br /&gt;Bagi mereka, tersenyumlah merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, biar aku yang membawa bagian jiwamu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18-09-2009&lt;br /&gt;Untuk darahku yang lain, yang bahkan tak tahu namamu. Semoga diterima disisinya, semoga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2679334431533246778?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2679334431533246778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2679334431533246778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/09/pergi-tanpa-pamit.html' title='Pergi Tanpa Pamit'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-6780204032096428646</id><published>2009-09-05T23:36:00.000+07:00</published><updated>2009-09-05T23:38:10.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='From My Mind'/><title type='text'>Un-nomaly League</title><content type='html'>Gue bersyukur sekarang bulan puasa, karena waktu ngerokok gue dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, gue ngga bego kok, ngga bego-bego amat untuk tau seseorang udah memandang gue dengan sebelah mata. Terlihat jelas. Terpampang besar-besar di jidat siapa-siapa saja yang demikian. Cukup beberapa interaksi untuk pemastian, dan hasil visum sudah keluar, voila, bye then.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah saja sih, kalau orang udah kehilangan minat sama gue dan bahkan memandang gue dengan pandangan merendahkan, halal buat gue untuk berlaku sebaliknya. Sori, bukannya tanpa usaha untuk membuat keadaan kembali normal dan meminta penjelasan. Secara kronologis, usaha gue untuk dekat dengan seseorang itu adalah di awal perkenalan. Setelah kenal, akan berbuah dua jalan, biasa-biasa saja karena memang ngga terlalu menarik dan worth untuk dikenal, atau, gue kejar mati-matian karena memang orang-orang menarik ini memang irresistible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apabila terjadi permasalahan, pasti dan akan selalu gue usahakan untuk memastikan, apakah orang tersebut benar-benar sudah memandang dengan pandangan mata yang merendahkan gue, atau engga. Apabila engga, maka coret azas praduga tadi, apabila iya, terbagi kedalam dua opsi. Apa mereka yang bermasalah sama gue ini termasuk dari orang-orang yang gue akui? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iya, dan setelah usaha gue, orang ini tetap memandang gue demikian, maka dia sama sekali ngga worth dong untuk diperlakukan manis? Najis amat, mending gue nistakan senista-nistanya. Pengakuan gue akan orang tersebut gue cabut, ngga akan sampai menunjukkan sikap permusuhan tentunya, tapi yah, omongannya ngga akan pernah gue denger lagi. Berkoar-koar lah sesukanya, omongannya akan gue anggap sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ngga? Hahah! Najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodohnya, sudah tau dari dulu kalau gue adalah orang yang susah membaur, tapi malah ditambah dengan segala sepesifikasi yang gue berikan untuk menyaring siapa-siapa aja orang yang worth untuk masuk ke lingkaran aman yang gue bentuk. Iyalah, saringan yang baik akan menghasilkan minuman bagus tanpa ampas. Sayangnya lubang saringan itu kadang gue buka terlalu lebar dan memberikan jalan bagi mereka-mereka yang memang ngga berada di liga gue untuk masuk. Hasilnya? Mereka akan kaget tau seperti apa isinya. Hahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue sadar sepenuhnya, liga dimana gue berada itu ditempati sama orang-orang yang ngga biasa. Tentu gue masuk diantaranya, i’m not ordinary people, nor standard, nor normal people. Masuk diantara mereka yang paling marginal diantara yang marginal, yang paling aneh diantara yang teraneh, yang memuja hal-hal yang dianggap orang normal tidak normal, sakit, atau apalah sebut saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu liberal, antek komunis, penganut agnostik, seorang dualis agama, korban asosial, merajuk pada pagan, gila materialis, atheis tidak beradab, hpemuja kenikmatan dunia dan lain-lain, gue hidup nyaman diantara mereka, dan tidak dipungkiri, mereka adalah sedikit dari orang-orang menarik yang pernah gue temui tanpa kehilangan cahayanya sedetikpun dari mata gue. Menarik luar dalam. Orang-orang yang pemikirannya selalu ingin gue bantah, tanpa satu kalipun gue ingin mengeluarkan sikap pragmaris gue. “Lo mikir gitu, terserah, gue punya pandangan gue sendiri.” Ngga, gue ngga bisa mengatakan demikian pada mereka, saking menariknya, gue sampai membantah apa yang mereka katakan dan mencoba tahu lebih dalam seperti apa mereka. Itu tanda kalau gue tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang? Mereka yang jumlahnya sedikit itu harus berkurang lagi? Man.. beberapa kehilangan cahayanya, dan kalau sudah hilang, mau bicara apa lagi? Tertarik pun gue ngga, yang ada malah gue rendahin balik. Geez.. tunjukkan cahaya kalian lagi, dan buat gue melenggangkan ekor gue bak melihat tulang putih bersih! Geez..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-6780204032096428646?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6780204032096428646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6780204032096428646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/09/un-nomaly-league.html' title='Un-nomaly League'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2773961504114582312</id><published>2009-09-04T00:55:00.001+07:00</published><updated>2009-09-04T00:58:25.877+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='From My Mind'/><title type='text'>Keinginan itu Bukan Utopia</title><content type='html'>“if there is no blood spoils, there is no glory at all”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali gue ditanya soal cita-cita, dengan jumlah yang entah sudah berapa ribu kali dalam rentang waktu semenjak gue bisa mengingat. Mulai dari saat taman kanak-kanak yang khas dengan jawaban abstraknya, sampai ke masa kuliah sekarang yang sudah melogiskan pikiran untuk memberi jawaban memuaskan bagi si penanya. Mungkin ada orang yang sudah mamatenkan cita-citanya semenjak kecil, dokter ya dokter tok, tidak berubah sampai akhirnya dia benar-benar menjadi dokter, beri aplause buat mereka-mereka yang demikian. Tapi tentunya sebagian besar orang akan terbelokkan cita dan keinginan mereka karena waktu dan tentunya keadaan, ya iya, ngga mungkin kan dunia ini hanya diisi sama presiden, dokter, pilot dan insinyur aja? Nanti gue laper ngga ada yang jualan warteg dong? Haaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang untuk soal mereka-mereka yang cita dan keinginannya dianggap terlalu muluk untuk masyarakat umum. Taruhlah pengalaman lama gue dulu. Saat gue mau pergi ke bogor naik sepeda, orang serumah malah ketawa pas gue berangkat. Apakah mereka menilai keinginan gue terlalu tinggi? Ah-so, bener sih, karena saat itu lagi kemarau, dan gue berangkat siang-siang, ngga sampai sepertiga jalan gue udah nyerah dan balik lagi naek kereta, wahaha. Pulangpun gue ditertawakan, mereka seolah mendapat legitimasi tertulis bahwa keinginan gue—sepedaan sampe bogor—itu adalah muluk. Tapi emang kepala batu ya batu aja, ngga sampai seminggu gue berangkat lagi, kali ini malam jam 12 pas, gue berangkat diem-diem kaya maling, and voila, gue sampe disana dengan selamat. Pulangnya, orang rumah pada pucet tau gue abis dari bogor, huahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan macam apa sih yang terlalu muluk? Jadi CEO perusahaan multinasional? Mengoleksi perangko-perangko lama? Atau apa? Kemarin Ussi bilang dia dilecehkan *halah mak* sama kawan kampusnya, bahwa idenya untuk mendaki bromo tidak menggunakan jalur pendaki itu muluk. Loh kenapa? Bukannya justru asik menantang diri dengan sesuatu yang lebih asing? Kalau lewat kalur konvensional pasti akan sering ketemu pendaki lain, jalurnya juga itu-itu aja, bosen. Yah, tidak bisa dipungkiri sih, kemungkinan bahayanya juga pasti berlipat, tapi eu, bukannya rekreasi makin asik kalau bukan hanya sekedar rekreasi ya? Taruh nyawa dekat garis mati, maka semuanya akan terasa lebih asik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“One freedom means thousand fall”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia (Ussi), memang liar bukan kepalang ampun. Coba pikir, dia berencana untuk ke papua sendirian, alamak, bisa bayangkan badannya yang kontet dan bantet itu guling-gulingan dikejar suku pedalaman disana? Huahaha.. atau justru karena posturmu itu lo jadi percaya diri us karena yakin bakal diterima mereka sebagai keluarga barunya? *ampun*. Ehem.. sejujurnya gue sama sekali ngga menganggap idenya itu muluk, jauh dari kata itu malah, mungkin bisa gue bilang terlalu keren? Yeah, disamping gender dan umur yang harusnya masih doyan ngerumpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau karena yang memandang keingan tersebut ini gue? Karena gue punya keinginan yang sama muluknya? Entah ya. Tika bener, bisa naek sepeda aja gue udah sampe bogor, naek motor gue mungkin mau keliling Indonesia, pengen sih, banget, haha. Yap, target gue berikutnya tuh, begitu ada motor *ngarep* gue mau ke aceh, atau opsi lainnya, ke surabaya, tepos tepos dah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk soal bromo us. Gue sama sekali ngga bilang muluk, tapi andaikan gue bergerak dalam kelompok, tentunya ada hal lain yang harus diitung ulang. Apa semuanya sanggup? Mengingat tingkat kesulitan dan bahaya yang harus ditempuh itu tentunya lebih daripada jalur biasa. Kalau orang-orangnya yang setipe sama gue atau elo, yang ‘pergi dulu, bisa enggaknya nanti’ ya jalan aja, kalo kagak kuat pun pasti kita akan maksa sampe atas yak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog lo diapdet kek&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2773961504114582312?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2773961504114582312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2773961504114582312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/09/keinginan-itu-bukan-utopia.html' title='Keinginan itu Bukan Utopia'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-1274929072476020211</id><published>2009-09-01T00:09:00.004+07:00</published><updated>2009-09-01T00:20:11.507+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='letter'/><title type='text'>From The Sorrow</title><content type='html'>Untuk si fanatik Dan Brown berkemeja flanel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pertama kali bertemu, gue langsung berpikiran, apa lagi yang bisa gue harapkan dari seorang perempuan? Lo datang naik motor, turun, membuka helm dan membiarkan rambut panjang lo berantakan, lo berjalan ke arah kami yang lebih dulu ada disana dengan gaya yang terlalu macho untuk ukuran tampang demikian, plus, gue ngga akan pernah lupa momen saat lo mengeluarkan Malaikat dan Iblis dari tas kecil lo itu. Lo sapa semua yang ada disitu, tidak terkecuali gue. Hahah.. itu cukup ngagetin gue, kaya gue bilang sebelumnya, ‘kok lo nyapa gue sih?’, ups, sori, jangan jitak gue lagi, inferioritas gue ngga main-main, ketakutan akan relasi gue bukan cuma gelar, like i told you before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo yang atraktif tiba-tiba berubah awkward saat gue tanya-tanya tentang Malaikat dan Iblis, yang lain tiba-tiba lo kacangin *ge er* dan lo mulai bertanya banyak hal ke gue, tentang Dan Brown, tentu. Masih inget gak berapa kali gue nyoba kabur dari elo saat itu? Hahah, minder. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We have a many thing in common. Lo suka Dan Brown, gue juga, lo demen game, gue juga (tadinya), hadah, inget pas gue bantuin lo namatin Metal Gear 2 dan 3? Katanya lo ngga mau dibantuin untuk dimainin, minta gue ngasih clue doang, tapi lo malah frustasi waktu ngejinakin Bom di MGS 2, dan waktu lawan The End di MGS 3. Payah ah, haha. Pemikiran lo dan gue pun setipe, “cintai negara ini, tapi bencilah sistem yang ada”. Keren ah. Porsi skeptis, porsi sinis, dan tamparan yang lo berikan kepada orang lain untuk menyadarkan mereka sama persis dengan yang gue lakukan. Selalu bersikap netral dan tidak memihak, bahkan kepada orang terdekat sendiri, dan bahkan sama gue, jiah.. sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi kesamaan yang justru membuat lo sama gue sejenis, keluarga. Bukan hal baik, tapi sayangnya kita sama-sama berasal dari keluarga yang tidak utuh. Pada titik tertentu, kesamaan ini bisa membuat kita makin satu pikiran, tapi pada titik lain, justru menghancurkan, lo tau sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo dan gue dekat, pada titik itu, lo adalah orang terdekat gue, bahkan lebih daripada tika dan luthfi yang gue ceritain itu. Lo bercerita, gue bercerita, lo mendengarkan, gue pun mendengarkan. Plus minus, jauh dekat, berseberangan saling dekat, lo dan gue berbagi, mungkin malah terlalu banyak. Apa yang gue simpan gue keluarkan, dan apa yang lo kunci rapat-rapat pun lo buka. Pada titik itu, mungkin gue merasa udah menemukan kepingan baru dalam hidup gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian waktu dan jarak berlaku kejam. Kuliah dimulai, gue di Bandung dan elo.. dimana? Menghilang ngga ada jejaknya. Nope, gue ngga nyalahin kok, bener, siklus dalam relasi itu biasa kan? kaya yang lo bilang, sekarang ada, besok belum tentu ada, sekarang dekat, besok mungkin jauh, atau bahkan musuh. Setelah beberapa lama, gue denger kabar katanya lo udah punya pacar. Whoa, sebagai seseorang yang cukup mengenal elo dulu, gue turut seneng, sungguh, ngga ada kata dendam ataupun kecewa satu kalipun terlontar dari mulut gue ataupun pijitan jempol gue, ngga semua yang lo denger itu bener, met. Serius. See? Kalau secara lisan gue ngga bisa membuktikannya, secara tulisan semoga lebih bermakna, pada titik ini, ngga ada satu jengkal benci pun ke elo. At all.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo putus dan ujug-ujug ngehubungin gue. Sekali lagi, gue sama sekali ngga marah. Tapi ada banyak pertimbangan kenapa permintaan lo ngga bisa gue kabulin. Udah semuanya gue bilang kan? kita sama-sama berasal dari keluarga yang berantakan, itu bukan awal yang bagus. Nope, bukan berarti seseorang yang asalnya dari keluarga demikian tidak berhak untuk sebuah kebahagiaan, rangakaian kata itu ditujukan buat gue, bukan lo. Terlalu banyak kemiripan sampai terasa mengerikan, lo terlalu mudah menenangkan gue dan gue pun terlalu gampang membuat lo senyum. Sadarkah? Kita menempati lubang yang sama, dan jika begitu, kita nggak akan bisa saling mengisi kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terpenting, gue mempunyai seorang perempuan yang gue kagumi saat ini dan sebuah hubungan yang semakin harinya membawa sebuah hal baru buat gue. Baik positif, negatif, baik buruk, senang susah, semuanya gue usahakan nikmati dengan setiap pori-pori kulit gue. Dan gue harap lo bisa menemukan orang seperti gue menemukan dia. Yang mengisi tiap ruang di dalam diri lo dengan hal-hal baru, bukan hal yang bisa lo tebak bahkan sebelum gue katakan. Bukan, nggak berarti juga lo bisa nungguin gue sampe lumutan, sama sekali ngga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan gue sendiri sekarang pun, permintaan lo ngga mungkin gue penuhi. Kita terlalu saling kenal, seolah lahir dari rahim yang sama. Nggak, bahkan mungkin diatas hubungan kakak-adik andaikan ada. Ya, gue mencintai elo, bukan sebagai laki-laki pada perempuan, tapi sebagai manusia ke manusia lainnya. Sahabat? Hahah, lucunya, kita sama-sama meng-utopiakan kata itu ya? Heheh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah lo ngga boleh berhenti hanya karena hal semacam ini, umur lo 18, waktu masih panjang dan masa depan masih nampak seperti cakrawala, manfaatkan sebaik mungkin. Nope, gue ngga minta a big leap for a mankind, just a little step for a man at the very first. Gue tau lo bisa met. Yakin, karena gue mengenal elo sebaik gue mengenal diri gue sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga lo ngerti :) Just walk in the park, yap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: kapan-kapan kita ngobrolin Dan Brown lagi ya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-1274929072476020211?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1274929072476020211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1274929072476020211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/09/from-sorrow.html' title='From The Sorrow'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-8133030285698095634</id><published>2009-08-24T22:31:00.001+07:00</published><updated>2009-08-24T22:32:59.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Nego Lagi?</title><content type='html'>Hola..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah masuk ramadhan nih ceritanya, dan gue disuruh pulang untuk melaksanakan puasa hari pertama di Jakarta, uhu.. dan puasa hari pertama di Jakarta dengan keluarga gue itu bisa dideskripsikan cukup dengan satu kata lima huruf:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriuk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garing oh my goat. So? Whats the difference between shaum and not, in Jakarta, heh? with my fam, and not with? Gue tetep guling-gulingan di kamar, adek gue tetep keluyuran kayak simpanse kebelet kawin, dan si ibu tetep sibuk dengan—pacarnya? Wakaka. Gampangnya sih, sama nyebelinnya. Kalau sendirian gue bisa puas meratapi nasib, kalau pulang kampung gue bisa puas meratapi nasib (lha?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kronologis, gue berangkat hari jumat, ngambil kereta yang jam 12.45, karena udah ngga ada hal yang bisa gue lakuin di Bandung, yowis, naek kereta secepetnya aja. Rencana awal, gue berangkat dari kosan jam 11, supaya bisa solat jumat di deket stasiun, so, seselesainya gue solat gue bisa langsung berangkat. Tapi sesuai dengan kalimat favorit gue, “rencana toh tinggal rencana”. Gue baru berangkat dari kosan jam 12 kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang harus diobrolin dengan meine freundin, ampe lupa waktu, ahay.. jadilah gue ngebut dengan harapan ngga ketinggalan jumatan. Begitu sampe di stasiun, pamitan, gue langsung nyari mesjid via nanya-nanya orang. Begitu nemu, ternyata udah surat kedua, An-naba udah sekitar ayat sepuluhan, gue panik! Buru-buru ngambil wudu, buru-buru cari shaff kosong dan takbir. Tapi tunggu! Ada yang kurang kayanya. Yeap, gue solat pake tas ransel..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbirnya batal, gue copot tas dan takbir ulang disaat imam udah bergaya i’tidal.. haiya.. semoga diterima deh ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kereta juga lagi gak mood. Tentunya di bordes kayak biasa, padahal gue dapet tempat duduk, ehe. Kalau biasanya gue bakalan bawel sama orang-orang sebelah gue, kali ini ngga. Gue masang cap ‘apa lo liat-liat? Gak seneng? GAK SENENG?’ di jidat gue. Tauk kenapa. Tiga jam setengah di kereta, gue abisin dengan ngerokok-tidur-ngerokok-kepanasan-tidur. Geez..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malemnya gue taraweh sendiri kayak taun-taun sebelumnya. Mesjid dideket rumah gue anarkis banget. Egile, itu solat apa latihan militer? Ngambil yang 23 rokaat, cepet mampus udah kayak senam aerobik, sebulan gue solat disana bisa langsing kali. Ya mendingan gue solat dirumah kan, pace nya bisa gue atur sendiri. Kalo lagi niaaat, gue baca beberapa surat pendek yang (sok) di tartil, kalo lagi maleees, al ikhlas aja, wakakaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ga ada yang spesial di hari sabtunya, baik sahur maupun buka puasanya. Tiis-tiis aja sih. Kecuali waktu gue beli iket pinggang di cempaka mas (kayak mall, tapi lebih mirip pasar minggu). Karena di nadi gue mengalir darah cowok tulen, maka yang namanya nawar di ngga ada di dalam kamus gue. Gue pengen yang gampang aja, berapa harganya, sekali tawar, deal price, masukin kantong, enak kan? Yaudah, gue keliling-keliling, nyari toko gesper dan nemu satu, gue nanya-nanya harga ke mbak-mbaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue: mbak, ada gesper yang modelnya simpel, dan tipe ‘sreet’ (memperagakan gerakan absurd didepan mbaknya) gitu nggak mbak?&lt;br /&gt;Si mbak (SM): oh ada, yang ini gimana?&lt;br /&gt;Gue: terlalu nyentrik, yang laen?&lt;br /&gt;SM: yang ini gimana?&lt;br /&gt;Gue: emm.. ini berapa harganya?&lt;br /&gt;SM: 180ribu&lt;br /&gt;Gue: Heh? *kaget, karena gesper lama gue harganya cuma 10rebuan, wakwaw*&lt;br /&gt;SM: bisa kurang kok mas.&lt;br /&gt;Gue: pasnya berapa kalo gitu?&lt;br /&gt;SM: yah, 160 deh buat mas.&lt;br /&gt;Gue: Kemahalan ah, ngga jadi ya mbak..&lt;br /&gt;SM: bisa ditawar lagi kok mas *sambil narik-narik tangan gue*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini gue mulai mikir, coba lah sesekali gue nawar a’la ibu-ibu gitu, yang sadis bin jahanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue: berapa ya.. 40 deh? *wakwakwaw, 4 kali lipet lebih rendah? Ihik*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe titik ini gue ga berharap harganya turun, toh gue cuman iseng doangan nawarnya, pengennya langsung pulang dan suruh pembantu yang beliin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SM: Ih, si mas tega, yaudah deh, buat mas 70 aja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Take a deep breath..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ssh*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*fuuuh*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gasp*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AR YU FRIKKIN KIDDIN MEEH???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak, situ oke? Tadi bukannya situ ngasih harga 180 ribu? BACA: SERATUS DELAPAN PULUH REBU, SETARA DUIT MAKAN GUE SETENGAH BULAN!! Dan situ nurunin harga kayak mijit semut??! Sepenti thousand rupiah is less than half price yuu gip tu mi at the first place, MAGGOT?? Idih, sok jual mahal amat sih? Situ ratu heh? Situ ratu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*gasp*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cuman mandangin si mbak dengan tatapan nggak percaya a’la cinta fitri, penuh kekecewaan dan keputusasaan mendalam *halah*. Gue pun pergi, sementara si mbak tereak-tereak ngurangin harga lima rebu di setiap langkah gue. Hueh, rasanya gue mau nelen panadol 3 biji sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya si ibu mau pergi beli makanan buat buka, gue nitip gesper. Pulangnya, voila, iket pinggang dengan model yang hampir sama ada ditangan gue dengan harga 30 ribu. Pret-cuih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-8133030285698095634?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/8133030285698095634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/8133030285698095634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/nego-lagi.html' title='Nego Lagi?'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-4346021031825022833</id><published>2009-08-17T00:24:00.002+07:00</published><updated>2009-08-17T00:28:06.946+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event'/><title type='text'>Peduli Tidak Peduli</title><content type='html'>Tanggal berapa sekarang? 17 Agustus. Dan kalau ditanyakan, ada apa dengan tanggal 17 agustus, maka kebanyakan orang, tentunya warga negara Indonesia akan menjawab dengan bangga: Hari kemerdekaan kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung 64 tahun yang lalu teks proklamasi dibacakan, kemerdekaan dideklarasikan, cengkraman penjajah dilepaskan, Indonesia terbentuk. Rakyat menyambut dengan antusias, kemerdekaan yang saat itu diperjuangkan pada bulan Ramadhan tidak menyurutkan teriakan-teriakan massa yang membara. Merdeka, merdeka, dan merdeka, itulah yang mereka ucapkan, tak peduli rasa haus dan lapar yang merajam perut, mereka tetap semangat berteriak, mengacu pada film dokumenter yang saya tonton tentang kemerdekaan republik kita ini tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, 64 tahun kemudian setelah bapak Soekarno maju ke podium, apakah semangat yang dirasakan oleh bumi pertiwi ini masih sama seperti dulu? Untuk yang satu itu, saya tidak tahu. Bisa iya, bisa juga tidak. Mungkin saya juga kurang ambil bagian dalam memparadekan hari kemerdekaan kita itu. Jelas saja, 19 tahun saya hidup, dan 18 kali hari kemerdekaan terlewat, belum pernah satu kalipun darah saya mengalir lebih deras setiap tanggal 17 agustus datang. Biasanya hanya numpang lewat dan tidak menimbulkan kesan yang berarti bagi diri saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman dulu tidak sama dengan sekarang, zaman sekarang segala sesuatunya bisa diperjuangkan tidak hanya dengan main mulut atau main fisik, ada teknologi yang dinamakan internet yang membuat kita dapat berteriak dalam dunia maya, dan sebagainya. Atau justru sebaliknya? Justru teknologi lah yang mengakibatkan moral bangsa kita untuk urusan nasionalisme turun drastis? Kalau-kalau para ekstrimis berbicara, pastilah globalisasi dan modernisasi yang dijadikan kambing hitam. Atau yang lebih tidak bertanggung jawab, itu adalah salah para generasi muda yang terlalu rapuh jatuh kedalam bujukan tangan liberalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah untuk para kaum muda yang lain, tapi bagi saya, tanggal 17 agustus tidak ada bedanya dengan tanggal-tanggal lain dalam setahun, mungkin dengan pengacualian bahwa hari libur saya bertambah satu dengan adanya tanggal 17 agustus ini. Saya pun bukan orang yang nasionalis dalam artian umum. Saya melihat sebelah mata pada pancasila, memandang malas kepada burung garuda dan menggambar Crayon Shinchan pada saat pemilu presiden beberapa waktu lalu. Tidak cukup nasionalis kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai bisa, saya tidak ingin mengikuti satu-pun peraturan birokrasi di negara ini. Masa bodoh dengan KTP, masa bodoh dengan pajak, masa bodoh dengan kartu keluarga, sekali lagi, andaikan bisa. Sayangnya aturan mengatakan demikian, dan hidup saya bisa terganggu kestabilannya mengingat saya berasal dari golongan menengah ke bawah. Pemikiran saya masih seperti anak SMA ketika sedang presentasi, (1) pemerintah selalu salah, (2) jika ada masalah sosial politik, ekonomi ataupun bencana alam, silahkan kembali ke poin nomor 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, saya tidak pernah melihat dimana bagusnya sistem birokrasi, tata pemerintahan dan bagaimana para rakyat menanggapi persoalan-persoalan tersebut. Teman saya bilang, “kita tahu, tapi kita pura-pura tidak tahu”. Yang saya balas dengan, “apa yang bisa kita perbuat? Toh kita tidak bisa apa-apa.”. singkat kata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cinta negri ini, Indonesia, tapi saya benci dengan sistem yang ada. Bukan pesimis, saya hanya merasa belum mampu melakukan apa-apa untuk menggerakan roda perubah. Dan catat kata belum, itu berarti ‘akan’, cepat atau lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FF0000;"&gt;Selamat ulang tahun yang ke 64,&lt;/span&gt; &lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#FFFFFF;"&gt;wahai Zamrud Khatulistiwaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-4346021031825022833?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4346021031825022833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4346021031825022833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/peduli-tidak-peduli.html' title='Peduli Tidak Peduli'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-5341909079070333564</id><published>2009-08-16T23:55:00.000+07:00</published><updated>2009-08-16T23:57:16.590+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Bremm! Nguong.. Kyaa!</title><content type='html'>Gue udah bisa naek motor dong. *pasang emot kacamata item*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlaluan emang kalau gue disetarakan sama anak-anak jaman sekarang yang waktu SD aja udah bisa bawa motor seport, sedangkan gue naek sepeda aja masih roda tiga. Yah, tahap perkembangan masing-masing individu kan beda-beda, dan mungkin gue salah satu yang cukup terlambat *wush, ngeles*. Haha.. ya gimana ngga, belajar sepeda aja pas kelas tiga SMA, itu juga pake nabrak tukang sayur untuk jumlah yang melebihi jumlah rambut dikepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gak deng. Kalo belajar sepeda sih udah dari Te-Ka, cuman karena satu dan lain hal (kenal dengan kata-kata itu?) kemampuan bersepeda gue ilang, sejalan lurus dengan minat naek sepeda gue sampai kelas tiga SMA kemaren. Mungkin udah cukup, tapi gue ingin berterima kasih lagi sama Lutfi yang udah capek-capek mau ngajarin gue sepedaan.. ralat, udah mau tega-teganya ngerokok nyantai sementara gue keseok-seok belajar sendirian. Dan tentunya momen-momen tak terlupakan bersama kumpulan Bersepeda Lintas Jakarta dalam menerobos tiap-tiap arteri utama yang ada di ibukota kita tercinta ini, yang membuat gue jatuh hati dengan kendaraan roda dua paling bonafide dalam persepsi gue pribadi, makasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa naek motor? Yeah, ‘bisa’ disini maksudnya, gue udah bisa ngebut dikit-dikit, nyelip dikit-dikit, nanjak dikit-dikit, banyakan kagoknya. Jiah. Kaga-kaga, udah lumayan lancar kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemaren gue latihan naek motor dalam tanda kutip (jadinya “latihan naek motor”?). Atau katakanlah begitu. Diawali dengan ngapel seperti biasa kerumah meine freundin (cihui, gue punya pacar?), ngobrol-ngobrol membunuh waktu, makan, dan ngegosip sama si ibu. Sampai pada suatu titik, ada celetukan ide yang entah awalnya dari siapa, dari gue, atau meine freundin? Tau.. yang jelas berbunyi pengen jalan-jalan. Dan dikarenakan faktor x yang berbunyi: BOKEK! Maka kriteria tempat yang akan didatangi ya jelas yang ngga boros uang. Jadilah, meine freundin mengusulkan, “gimana kalo sekalian latihan motor?” dan gue pun ngangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk destinasi, dikarenakan ada dua kepala yang sama-sama males mikir untuk memutuskan sesuatu, tempat tujuan yang ditargetkan pun jadi ngaco. Dari dago sampai lembang, dari kota baru parahyangan sampai jatinangor, acak, tapi melihat kondisi skill nyetir gue yang setara batita, maka jatinangor dijadikan destinasi. Dengan pertimbangan jalan kesana itu lurus-lurus doang. Alrite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah, jam setengah lima kita berangkat dari kiaracondong menuju jatinangor, dengan gue sebagai supir, dan meine freundin sebagai kenek. Btw, jatinangor tuh kagak jauh-jauh amat yak? Cuman jalanan lurus ‘blas’, belok kanan, sedikit macet dan beres deh. Dulu gue kira jauh banget loh, karena udah keluar Bandung dan masuk kabupaten kan ya? Tapi masih bisa diakses pulang-pergi setiap hari kok *kalo niat*. Kebayang dah kaya apaan guru-guru SMA gue yang tinggalnya di Bekasi dan harus pulang pergi Bekasi-Jakarta tiap hari! Eew.. masuk pagi pula. Salim dulu ah bu *sungkem*.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan di perjalanan? Hadah, setiap speedometer mencapai angka 50km/j, pasti ada suara dibelakang gue, iyap, si kenek, meine freundin pasti jejeritan kalau gue bawa ngebut dikit. Suara-suara macem, “Aduh! Pelan-pelan!”, “40 ajah!”, “Teteh takuut!” and so on berkumandang tiap tiga menit. Padahal kalau dia yang bawa, ngebut-ngebut halal aja tuh, pengen gue jitak tapi dia pake helm, ga akan berasa kan? Ya ga jadi deh. Tapi ada benernya juga sih, toh gue baru belajar, sok-sokan ngebutnya ditahan dulu aja sampe bener-bener bisa. Ihi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatinangor juga ngga kaya bayangan, awalnya gue kira penuh pohon dimana-mana, hijau asri, sejuk, udaranya enak. Tapi yang ada malah kebalikannya, hahah.. mimpi-mimpi gue pupus sudah. Tapi untung kesananya sore, jadi gersangnya ngga terlalu berasa. Sesampenya disana, kita, gue dan meine freunding langsung parkir di Jatos, masuk kedalam ke mall satu-satunya di jatinangor yang minim fasilitas *gaya lah, orang kota gituh*. Masuk kesini cuma nangkrin di foodcourt beli teh poci, ngobrol-ngobrol sedikit untuk nunggu magriban. Ihi, bokek. Abis solat langsung jalan-jalan di daerah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang familiar dengan jatinangor, atmosfirnya mirip-mirip sama kota di jawa. Mungkin karena banyak truk-truk pengankut material ataupun bis-bis kotanya, tapi gue merasa ada kemiripan sama kota-kota yang ada di garis utara pulau jawa, atau pantura pada khususnya. Dalam cara yang aneh, gue ngerasa kaya ada dirumah *halah, gaya*. Ujung-ujungnya kita makan di warung nasi goreng, kalau di daerah kampus UPI, mungkin nasi goreng pengkolan kali ya? &lt;- kata meine freundin, hahah.. Begitu selesai, langsung balik lagi ngelewatin jalan yang sama dengan yang kita dilewatin untuk ke jatinangor. Hasrat untuk ngebut dan nyelip-nyelip gue pun ngga tertahankan, dan dibelakang kepala ada yang jerit-jerit lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;Harus lancar, biar dia ngga jerit-jerit lagi :)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-5341909079070333564?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/5341909079070333564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/5341909079070333564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/bremm-nguong-kyaa.html' title='Bremm! Nguong.. Kyaa!'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-1352041863976074009</id><published>2009-08-11T22:57:00.000+07:00</published><updated>2009-08-11T22:58:26.568+07:00</updated><title type='text'>Pintunya Terbuka tuh, part II...</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;“Ini semua biar kamu mandiri, bung.”&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Apa tolak ukur seseorang bisa dikatakan mandiri? Kalau candaan garing jaman gue SMP pasti akan bilang, “bisa mandi sendiri,” haha. Kalau tolak ukur standar ya tentu, bisa mengurus dirinya sendiri tanpa ketergantungan orang lain. Entah itu nyari makan, ngurus semua kebutuhan sehari-hari ataupun udah ngga membutuhkan afeksi berlebih dari keluarganya (manja). Dan kalau boleh ditambahkan dalam contoh ekstrim, udah bisa nyari uang sendiri. Tapi pastinya tolak ukur mandiri itu beda di setiap kultur budaya, oh, ngga usah terlalu umum seperti budaya, di setiap keluarga mungkin punya tolakan mandiri yang beda-beda..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk gue sendiri, gue udah dilepas kayak ayam dari gue SD. Tepatnya kelas lima, saat itu keluarga kecil gue keluar dari keluarga besar untuk alasan yang gue pun ngga tau, kami mengontrak rumah yang jaraknya ngga begitu jauh dari rumah keluarga besar, approximately 5 km kali ya? Dan karena ibu kerja dan si bapak juga kerja (mungkin), gue harus ngurus diri gue sendiri ngga tau gimana caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah tujuh berangkat sekolah, selesai jam tiga, pulang kerumah ngga ada siapa-siapa, gue diharuskan masak sendiri, entah cuma goreng makanan beku, atau bereksperimen geje di dapur. Kerjaan gue ya maen melulu, terus yang asiknya, karena lingkungan rumah kontrakan gue itu termasuk lingkungan ‘slump’ (kumuh), temen gaul gue di lingkungan rumah itu ya heboh-heboh. Ngga ada batasan umur disana, gue bergaul sama preman-preman tukang mabok, tatoan, tindikan dimana-mana dan kalo ngomong itu ngga pernah lepas dari kata “k*n*l”, “anj*ng*”, “ng*n*o*” and so on. Lingkungan mempengaruhi kepribadian kan? So, jadilah gue, Cubung Hanito versi begundal berandal bromorcorah di saat mimpi basah-pun gue belom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandiri eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue ngga bisa melihat poin pengorbanan yang dilakukan orang tua gue untuk menjadikan gue mandiri. Mereka hanya melepas gue kaya ayam dan beres. Kalau kata tutor gue di rohis dulu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;“Usaha antum cuma segitu, ya jangan harap Allah akan ngasih apa yang antum mau,”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kalau misal apa yang diberikan orang tua gue hanya segitu, ya gue juga ngga bisa memberikan hasil yang setimpal kan? no, jangan bahas soal materi, gue cukup-cukup aja tuh, tapi yang lain. Equivalent trade, pertukaran setara, gue ingin membuang paham ini jauh-jauh dari kisaran seputar kepala gue. Berikan kepada orang lain apa yang orang lain berikan kepada kita, mereka ngga memberikan gue afeksi, ya kenapa gue harus ngasih ke mereka? Jah, prinsip yang seolah-olah gue udah menjual hati gue kepada materialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang mereka tobat, dan minta gue balik? Dan mengatasnamakan didikan ayam dilepas itu sebagai proses untuk membentuk kemandirian gue? Makanya, bullshit. Dalam kesadaran yang jauh, gue bersyukur dididik dengan cara macam itu, dengan begitu gue merasa bisa mandiri lebih awal setidaknya, dan gue ngga terlalu membutuhkan afeksi dari keluarga yang memang nyaris ngga pernah diberikan. Mungkin itu faktor utama yang membuat gue merasa bisa bertahan dengan prinsip alone but not lonely beberapa waktu yang lalu. Hahah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Apakah gue trauma? Melihat output keluarga yang blecetan kemana-mana dan ngga jelas bentuknya itu? Well, sort of. Ngga bisa dibilang juga gue trauma, toh gue masih dengan santai bisa meletetkan lidah gue kepada mereka. Benci? Biasa tuh, udah mati rasa sama yang namanya family matter. Terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cuma ngga mau nikah, simpel kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No, no, bukannya gue puter haluan dan jadi gay, kagak lah. Gue doyan cewe seperti gue doyan apel, bisa digigit *loh*. Andaikan gue menunjukkan symptom-symptom gayness, itu hanya sekedar candaan, oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau ditanya alasannya? err, apa penjabaran singkat disepanjang entri-entri gue sebelumnya ngga cukup? Yah, cuma takut sih. Gimana kalau kesalahan yang sama terulang lagi? Nanti perempuan yang jadi istri gue gimana nasibnya? Dan kalau punya anak, anak gue bakalan jadi kaya apa? Apa akan jadi kaya gue yang—euh. Gue dalam posisi yang sekarang, sebagai anak, merasa udah cukup, ga usahlah ada keluarga lain lagi yang ujungnya cuma jadi begini. Dan gue, sebagai cikal bakal pembentuk keluarga di masa depan nanti merasa ngga perlu untuk menambah daftar panjang tersebut. Karena itu, gue nggak mau nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lo tau apa yang beda diantara lo dan gue, bung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngga, lo bilang kita sama, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“You have the father material, and im not,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hahah..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;(Kapan ya? Sekitar desember 2008 mungkin, Monas.)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jiah, gue dibilang punya figur ayah yang kuat sama orang sesat, entah dari mana dia bisa ngambil kesimpulan semacam itu, tapi gue hanya bisa ketawa penghormatan denger pendapatnya itu.  Am i?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke poin awal, apakah benar begitu? Apakah gue udah tau sendiri garis takdir gue sepuluh tahun yang akan datang seperti apa? Apa gue tau besok pagi gue akan makan apaan? Apa gue tau kalau dua tahun lagi itu awal dari sebuah akhir? Dan apa gue tau gua hanya akan membuat keluarga yang ujungnya cuma ancur-ancuran? Ngga tuh. Gue hidup 19 tahun, dan selama 7 tahun mengkonsepkan bahwa gue ngga akan menikah nantinya. Tapi hei, ada faktor x yang lain, apakah selama 19 tahun gue hidup gue hanya menemukan satu jenis keluarga doang? Hanya keluarga yang hancur doang? Ngga tuh. Di banyak tempat dan kenalan, gue menemukan keluarga-keluarga yang rapih, harmonis dan terlihat manis.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pikiran awal: Loh? Apa salah gue? Kenapa keluarga gue blarakan, tapi orang lain bisa keliatan indah begitu? Dosa gue apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-setelah-bener-bener-mikir: Kenapa ngga bikin aja keluarga yang seperti itu?&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah pikiran itu muncul sejak kapan, apalagi orang yang katakanlah orang terdekat gue sekarang, tinggal di keluarga yang harmonis, sangat malah. Mungkin terlalu berada lama disana membuat pola pikir gue ngegeser? Siapa yang tau? Gue ngga bisa bilang kalau paradigma gue tentang pernikahan udah berubah, gue masih tetep takut nikah, tapi, sedikit, paradigma itu udah bergeser. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Karena kamu, mungkin?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-1352041863976074009?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1352041863976074009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1352041863976074009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/pintunya-terbuka-tuh-part-ii_11.html' title='Pintunya Terbuka tuh, part II...'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2694392377730101539</id><published>2009-08-10T14:45:00.000+07:00</published><updated>2009-08-10T14:47:07.344+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Pintunya Terbuka tuh</title><content type='html'>Berapa lama gue ngga mengapdate entri disini? Ah, malas kalau disuruh ngitungin hari satu-satu. Tapi bukan berarti gue ngga menulis sama sekali, kebanyakan hal yang ingin gue tulis udah disalurkan ke tempat lain, sedangkan kejadian yang gue alami belakangan terlalu statis untuk dijadikan bahan tulisan. So, blog yang udah berdiri lebih dari setahun ini nganggur lah. Padahal, awalnya gue ingin membuat entri setiap tiga hari sekali, yang berarti kira-kira sepuluh postingan perbulan, niatan awal sih gitu, nyatanya? Ngek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So? Mumpung tugas udah ngga ada dan ada yang lewat dikepala gue, mari nulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang bisa gue bilang temen, dulunya, dateng ke Bandung. Gue bertemu dengan dia di suatu tempat, sedikit nostalgia, dan menari dengan candaan-candaan khas kita berdua. Hal-hal klise yang biasa dilakukan teman lama tentunya. Tapi bagaimana kalau ternyata dia udah berbeda jauh dari apa yang kita kenali dulu? No, no, bukan soal tampilan, bukan fisik, tapi soal apa yang ada di kepalanya. Bagaimana kalau hubungan yang dulunya dibina dengan baik menjadi garing karena jarak dan waktu? Well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si teman ini tiba-tiba mengatakan hal yang intinya menandakan permusuhan dari hubungan baik itu ke gue. Alasannya? karena gue ngga bisa memenuhi keinginan dia. Tentunya ini akan jadi masalah yang bisa ngebuat kepikiran sampe-sampe hanya mengonsumsi rokok dan kopi (atau teh) dalam hitungan hari. Tapi nyatanya ngga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaya yang gue bilang di beberapa entri sebeljumnya, hanya ada beberapa orang yang gue akui, hanya orang-orang inilah yang bisa ngebuat gue stres berkepanjangan. Dia ini tadinya adalah salah satunya, tapi dikarenakan hal yang membuat hubungan gue dan dia jadi buruk, jarak dan waktu, pengakuan dari gue pun hilang. Hasilnya? Mudah, peduli amat. Dia mau marah kek, mau jungkir balik kek, ya mana peduli, respek hilang, ketertarikan hilang, ya selamat tinggal. Yea, gue mengadaptasi pola pikir ini dari Rere dengan sedikit perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang berbeda dari Rere, mungkin. Pemutusan hubungan ngga akan berasal dari gue, kalau pihak lain udah ngga merasa perlu untuk berinteraksi atau mengontak gue, ya ngapain juga gue maksa-maksa? Kalau dia ngga butuh, ya (terpaksa) gue juga ngga butuh. Haha, menghilangkan relasi? Itu yang gue takutin, tapi kalau pihak lain yang mau, bisa apa gue?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu mungkin yang membuat gue berpikir untuk memprofesionalkan hubungan dengan kebanyakan orang. Kalau memang ada perlu, ya silakan hubungi gue, siap sedia membantu, tapi andaikan engga? Ngga masalah juga sih. Dengan begitu guenya ngga perlu takut kan kehilangan relasi? Toh relasinya aja ngga ada, haha. Yang pasti, gue menyayangkan kalau orang yang gue akui, yang jumlahnya juga sedikit, malah jadi musuh. Yah, masa bodo lah. Like i care.. but, i do care.. muahaha..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jah, gue misuh-misuh gini juga orangnya juga kaga akan baca.. yasutra lah. Seenggaknya nulis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2694392377730101539?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2694392377730101539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2694392377730101539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/pintunya-terbuka-tuh.html' title='Pintunya Terbuka tuh'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-8498498623347191264</id><published>2009-08-04T01:32:00.000+07:00</published><updated>2009-08-04T01:34:35.647+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>01.32 am.&lt;br /&gt;Terbangun karena mìmpi (lagi?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[edited later]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-8498498623347191264?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/8498498623347191264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/8498498623347191264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/08/01.html' title=''/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-1751164503239355096</id><published>2009-07-28T23:22:00.001+07:00</published><updated>2009-07-28T23:27:03.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Sikit Tentang Rohis</title><content type='html'>What a freaaaakkin cold night wind breeze out theree!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sembilan malem, tapi anginnya kaya jam tiga pagi, sinting. July mau berakhir dan akan digantikan Agustus, yang berarti September ngga akan lama lagi, haha, gue rindu hujan yang turun setiap hari. Walaupun cucian jadi lama keringnya, seenggaknya gue bisa menikmati musim kesukaan gue itu. Segalanya jadi dingin, sedikit-sedikti keujanan, sedikit-sedikit pilek, dan selimut jadi dobel, yeap, rindu enak ga enaknya musim ujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, selain penanggalan masehi yang berganti, dan musim yang berubah, satu hal lagi yang menjadi momok kebanyakan orang di negara yang mayoritas muslim dan berada di daerah kanan ini. Penanggalan Hijiriah, ngga lama lagi bulan puasa akan dateng. Kenapa? Yah, sejujurnya gue ngga begitu girang-girang amat dengan datengnya puasa, sebaliknya, gue juga ngga merasa terganggu dengan datangnya bulan dimana keseharian kita harus serba nahan (ehem, agak bermasalah dengan emosi sih, tapi bukan hal besar toh). Kalau kebanyakan orang jadi keinget sama atmosfir bulan puasa yang tenang dan damai itu, gue, jadi keinget Rohis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s a couple years ago, disaat gue masih aktif di organisasi keagamaan itu, menjalani bulan puasa bisa dibilang menyenangkan, bisa juga nyiksa. Tentu menyenangkan, dengan berbagai macam kuliah-kuliah islami, tiap minggunya dikasih menthoring sama orang-orang yang cukup cakap di bidangnya, diberikan doktrin-doktrin bagaimana menyenangkannya bagaimana menjalankan ibadah puasa sebagai seorang muslim, ya gimana ngga kepengaruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngga menyenangkannya? Well, jadi pusat pertanyaan di kelas, mungkin. Dongkol juga sama guru Agama gue yang sekaligus jadi pembina Rohis, dia menyarankan pada anak kebanyakan untuk bertanya kepada anggota Rohis kalau-kalau ada yang ngga dimengerti.. Eah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh ini ngga bung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu boleh ngga sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa ini gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, niat sholat ini gimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh eh eh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentunya gue jawab dengan demokratis. Jawaban yang gue kasih ngga kolot konservatif, tapi juga ngga liberal terlebih sekuler. Jawaban yang ada ditengah yang tidak menjudge benar salah, tapi bagaimana yang nanya ini bisa memutuskan baik ngganya sendiri. Halah, sok keren gue. Ngga enaknya, dari petuah-petuah yang diberikan para mentor, mau ga mau yang mendengar pasti jadi terpacu kan? Apalagi kalau diberikan dengan gaya yang amat persuasif. Contohnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah baiknya bila antum mencari amal sebanyak-banyaknya di bulan yang penuh berkah ini. Kalau antum biasa tilawah satu halaman sehari pada hari biasa, cobalah untuk tilawah satu juz sehari saat bulan ramadhan ini. Pahalanya—bla bla bla”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Note: antum: kalian, atau ‘kamu’ dalam artian paling halus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dan gue pun tilawah satu juz sehari. Eaak, mulut sampe kering pas puasa, yang ngga lancar baca jadi lancar, yang lelet jadi cepet, yang pendek napas jadi panjang and so on. Entah rela atau terpaksa, gua melakukannya. Yah, seenggaknya gue udah pernah khatam sekali karena petuah-doktrin-super-persuasif itu, ehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disaat gue teringat dengan euforia ramadhan saat itu, tiba-tiba gue mendapatkan sebuah Tag di FB, sebuah notes. Bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;kenangann itu,?&lt;br /&gt;Yesterday at 6:55pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa hari yang lalu, dwi ga sengaja buka bLog SIAR77 yang lama,,&lt;br /&gt;dan disitu dwi baca untuk yang kedua kaLinya LPJ daurah (SWISS 77) yang diLaksanakan pada tanggaL 5, 6 n 7 januari di tahun 2007,,&lt;br /&gt;dan posisi dwi saat itu sebagai peserta,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;subhanaLLah,,&lt;br /&gt;seteLah sekian Lama terpendam, kenangan itu merekah kembaLi,,&lt;br /&gt;rasa yang teLah tersimpan rapi,,&lt;br /&gt;kini mencoba keLuar dan menampakkan diri,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak tahan mata ini untuk tidak berlinang,,&lt;br /&gt;mengingat itu,,&lt;br /&gt;mencoba untuk memaknainya kembaLi,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini ku hanya dapat menyimpan semuanya dalam angan,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"junduLLah"&lt;br /&gt;sebuah kata. namun begitu besar maknanya,,&lt;br /&gt;sebuah kata. yang membuat bergetar ketika mengetahui arti didaLamnya,,&lt;br /&gt;sebuah kata. yang membuat kami menyadarii,,&lt;br /&gt;sebuah kata. yang membuat kami mencoba untuk memahamii,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana,?&lt;br /&gt;kemana mereka semua,?&lt;br /&gt;mereka yang saat itu ada daLam naungan Nya,?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana,?&lt;br /&gt;kemana mereka smua,?&lt;br /&gt;semua bukti yang membawaku bersama,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana,?&lt;br /&gt;kemana mereka semua,?&lt;br /&gt;rasa yang saat itu teLah dipupuk,?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemana,?&lt;br /&gt;kemana mereka semua,?&lt;br /&gt;semua janji yang teLah terpatri, waLau tak terungkap dari caci,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;fosiL dari setiap makhLuk hidup,,&lt;br /&gt;artefak dari sebuah benda,,&lt;br /&gt;rumus dari sebuah perjaLanan,,&lt;br /&gt;air dari setiap sungai,,&lt;br /&gt;udara dari setiap awan,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kauand,,&lt;br /&gt;masihkah ada kenangan itu di hati kaLiand,?&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Note: murni kopipas, besar kecil huruf itu tanggung jawab yang nulis, Lol..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tanggepan gue: Nah lohh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mereka yang aneh, atau guenya yang mati rasa? Tapi gue sama sekali ngga merasakan apa yang mereka rasakan. Kangen secara personal dengan member rohis lain? a big no. Kangen sih iya, tapi bukan dengan orangnya., organisasinya. Alasan gue milih Rohis pada awalnya karena gue benci dengan badan eksekutif yang ada didalam lembaga pendidikan (baca: OSIS). Tapi gue ingin berorganisasi, sementara organisasi legal didalam lingkungan sekolah ya itu-itu aja, OSIS dan MPK. Ekskul? Yea, gue akhirnya milih ekskul yang berbentuk organisasi, Rohis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan gue menikmatinya, sungguh. Bekerja secara profesional di sebuah badan itu menyenangkan. Apalagi dengan angkatan gue yang cowonya hanya berjumlah delapan orang. Semuanya pas, efisien dan ngga ada pemborosan tenaga percuma karena kebanyakan orang. Tanggung jawab lebih besar. Gimana caranya nyalurin duit puluhan juta agar sampai ke divisi-divisi yang beres dan digunain secara efisien dengan orang yang terbatas. Phew. Itu tiga tahun yang menyenangkan secara profesional, tenaga gue bener-bener kepake. Tapi secara personal? Eak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mungkin iya, awal bergabung gue ngira bisa mempercayai mereka satu demi satu. Yang notabene adalah kumpulan orang yang beda-beda latar belakang, gue pikir menyenangkan bisa berbagi pikiran dengan mereka, awalnya. Sampai suatu titik gue sadar. Bahwa organisasi yang tidak didasari dengan loyalitas, tapi dengan ikatan keagamaan itu hanya berbuah dua jalan. (1) Kuat erat karena sepaham, (2) blarakan karena berprinsip terlalu konservatif dan cenderung masa bodo dengan permasalahan tiap individu. di OSIS, yang landasannya loyalitas, ketika satu anggotanya terkena masalah, maka akan langsung dipertanyakan keloyalannya terhadap organisasi, di Rohis? Jangan harap. Dan sejak sadar itu, gue membatasi, cukup dengan ikatan profesional aja di organisasi itu. Ambil ilmunya, jalankan kegiatannya, tapi jangan terikat dengan orang-orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue penasaran apa yang terjadi kalau gue ketemu dengan para mentor gue dulu.. haha, yang pasti, dari pengalaman dengan apa yang terjadi kepada senior-senior angkatan atas gue dulu saat balik ke sekolah. Pertanyaannya kurang lebih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikum, apa kabar akhi?”&lt;br /&gt;(Baik aja akh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih konsisten di jalan Allah ga antum?”&lt;br /&gt;(Alhamdulillah, masih akh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Solatnya gimana? Masih susah kaya dulu ngga?”&lt;br /&gt;(Ngga, udah ngga pernah bolong kok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadarusnya gimana, tajwidnya membaik ga? Udah tartil belum?”&lt;br /&gt;(Udah jarang akhi, tapi seminggu ada kok satu halaman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huahahaha.. Kaya diinterogasi dah. Untungnya gue ngga pernah denger mentor-mentor gue nanya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhi, pacaran?&lt;br /&gt;(Iya akh, ehehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa langsung disidang di tempat.. jiah..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-1751164503239355096?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1751164503239355096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/1751164503239355096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/07/sikit-tentang-rohis.html' title='Sikit Tentang Rohis'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-875643545134896317</id><published>2009-07-23T03:58:00.002+07:00</published><updated>2009-07-24T15:15:31.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Nightwalker</title><content type='html'>03.53 am. Outside.&lt;br /&gt;Can't sleep due to a bad mental health..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minus dua jam lalu, gue udah ada diluar kosan, berjalan tanpa arah, tanpa tujuan. Well yea, kalau ditanya tujuan sih, ada aja, mengurangi tekanan batin? Lol. Apalah namanya, yang jelas gue menikmati suasana sepi yang jelas ngga mungkin bisa gue dapat di siang hari. Kapan lagi lo bisa jalan di tengah-tengah tanpa takut kelindes angkot kalau bukan malem-malem? Dan kapan lagi lo bisa jalan hanya dengan selapis kemeja flanel dengan dua kancing dibuka tanpa diliatin orang kalo bukan malem-malem (buset, sok seksi abis gue)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was fun. Disaat gue mau balik ke kosan, gue memutuskan untuk berjalan sedikit lagi, area berlawanan dari perjalanan panjang gue sebelumnya. And there i met them, di depan Daarut Tauhid, gue ketemu Arsy, Dani, sama Marwan, gegeletakan kaga jelas juntrungannya di depan mesjid. Yea, mereka baru pulang dari Jakarta dalam rangka study tour (?). Herannya, mereka udah sejam setengah diluar (karena kosannya dipake tidur buat yang cewe), kenapa ngga hubungin gue aja dan langsung tidur di tempat gue? Bzt, sungkan? Yah, apalah. Toh akhirnya mereka geletakan juga disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang pernah nanya ke gue, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa lo ngga jadi gay, bung?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wotdehek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan dia bertanya seperti itu? Mungkin, mungkin sih, (1) yang nanya itu gay, (2) gue banyak bercerita tentang masa lalu gue ke dia, (3) gue belom pernah pacaran waktu itu. Dengan tiga poin diatas, terutama poin nomer dua, dia sangat yakin kalau gue gay. Masa lalu yang buruk, keluarga yang acakadul adalah faktor utama seseorang untuk menjadi gay, kata dia. Heeh, tau sih standarnya, kekecewaan terhadap orang tua, kejadian traumatis dengan orang dewasa, semuanya itu alasan yang cukup untuk mendorong seseorang menjadi gay, sekali lagi, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, walaupun gue melihat seperti apa figur orang tua gue dulu, terlebih, dulu gue lebih sering maen boneka dan berimaji bahwa tumpukan guling adalah rumahnya dibanding bermain robot-robotan dan ngerusak mobil yang baru dibeli dalam 30 menit maen, gue masih normal. Sampe sekarang gue doyan cewe tuh, dan masih menyempatkan diri ngebuka situs bokep disaat gue ingin (Wakkakaka, a guy’s nature, eh?). Although, frankly, in the old times, before i met this gay guy, i once attracted to one people that, unfortunately, a guy. Okay, i know its silly, but, that relation almost became a relationship (creepy, isn’it?). hahah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya gue meragukan orientasi seksual gue sendiri, tapi saat itu toh gue masih SMP, masih lugu, manis, imut, lucu (minus ceceran darah, tentu). Gue ngga ngerti apa-apa, sementara yang ngajak adalah seseorang yang umurnya jauh diatas gue, dengan pemikirannya yang bisa gue bilang luas, gue nyaris terpengaruh sama ajakan dia (IYA! Gue pake mikir pas ditanya mau jadi pacarnya apa kagak =)) ). Well, seenggaknya gue normal sekarang, dan ketertarikan seksuil gue terhadap laki-laki lain udah nol besar. Bersyukurlah, bung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak, karena gue lebih seneng nyium bau shampoo cewek, bukannya bau keringet mas-mas kuli bangunan, kaya elo,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenapa gue tiba-tiba teringat pertanyaan lawas itu? Orangnya pun gue udah ngga tau dimana sekarang, terakhir kontak juga lebih dari setengah tahun lalu. Hm? Mungkin blog &lt;a href="http://orgasmingorganism.blogspot.com"&gt;ini&lt;/a&gt; yang mengingatkan gue sama dia. Huahaha, konten dari blog milik Fa itu, bener-bener menggambarkan apa yang sering dia ceritakan ke gue. Bagaimana rasanya ingin tampil kedepan publik tanpa harus malu dengan orientasi seksual yang sayangnya dikutuk agama dan dicibir masyarakat itu. Gimana susahnya mencari pasangan yang Love just by love, not for lust, or money, or.. whateva, just love. Dia ngga menyalahkan siapapun dengan orientasinya, dia bahagia dengan itu, katanya—walaupun dengan konsekuensi lebih sulit untuk mencari pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, its raining suddenly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah cukup lama ya tanah ngga basah di Bandung, siang panas, malemnya dingin, ada yang lagi sedih hari ini? Lol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu juga hujan, gue mengantarnya ke terminal Pulo Gadung, yang seperti biasa, angkutan di Indonesia apa sih yang sempurna dengan kata telat? Satu jam lebih gue dan dia menunggu di tempat-yang-kalau-bisa-dibilang-lobby, hujan mengguyur, tanah becek, dan para calo berlarian kesana kemari menanyakan penumpang, “naik apa mbak? Mau kemana? Dibawain mbak barangnya? Payung?” and so on. Saat yang mungkin jadi saat terakhir gue bertemu dia, saat dimana gue harus menambahkan lagi nama dalam daftar ‘Orang-orang yang pergi entah kemana’. Kami menunggu, dia berusaha tertawa, gue hanya tersenyum naif. Tidak banyak obrolan, hanya gumaman dan helaan nafas panjang yang berulang, sesekali tertawa tanpa alasan, atau tepukan di punggung yang entah maknanya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bis datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue hujan-hujanan membantu mengangkat barang dia yang emang banyak (dasar bencong!) ke bagasi, setelah selesai, gue dan dia bersalaman dalam kuyup, saling tepuk punggung. Kata-kata terakhir dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maju bung, lo bisa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gue,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tetep kontak yak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia naik ke bisnya, melambai-lambai dari jendela yang setengah gelap ke gue yang ada diluar, kehujanan, sampai bis itu hilang dari pandangan mata gue. Gue kembali ke halte, berteduh, menyalakan rokok, dan menunggu hujan berhenti untuk kembali pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia? Tidak ada kabar. Semoga harapan lo terkabul, punya seseorang yang mencintai lo karena cinta, bukan karena nafsu ataupun uang atau.. apalah. Hanya cinta, kan? kata-kata lo gue kutip tuh. Hehe.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wish you luck.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-875643545134896317?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/875643545134896317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/875643545134896317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/07/nightwalker.html' title='Nightwalker'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-450055295716831170</id><published>2009-07-22T19:53:00.001+07:00</published><updated>2009-07-22T19:55:15.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Crying</title><content type='html'>In the old times, i used to be a crybaby man who gave his teardrops for everything melancholic. Bzt, im not kidding, for a period, there is a time that i never not crying at least once in a day. Haha, maybe for people who know me later will laughing like Mbah Surip, but again, its true. Entahlah, mungkin dulu gue sangat labil, oversensitif hingga semua perkataan orang lain masuk ke hati. Cengeng mungkin, he eh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu gue membenci diri gue sendiri yang terlalu gampang menangis, gue laki-laki kan? Dengan fisik berukuran XL, logiskah kalau gue menyumbangkan air mata untuk guling dan masih menggigit bantal di tengah malam? Tentu ngga, makanya gue benci kan. Dulu selalu berpikir gimana caranya untuk ngga menangis, atau seenggaknya, menahan air mata untuk tidak keluar disaat yang ngga tepat, yah. Untungnya sih, gue ngga pernah nangis didepan umum (haha), hanya orang tertentu aja yang mengetahui bahwa gue dulu adalah drama king yang siap mengumbar air matanya kapanpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue menangis, sayangnya, dalam diam :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya juga macem-macem, dari persoalan kecil remeh temeh, sampai ke persoalan yang benar-benar mebebani pundak ngga kira-kira. Dan kalau udah gue hadapi, gue tinggal mencari tempat sepi, yang biasanya adalah kamar gue sendiri untuk menangis. Matiin lampu, nyalain lilin dan setel lagu di mp3 (gue dulu punya mp3, hahah). Sangat drama king kan? Melankolis najis tralala-trilili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue lupa kapan terakhir kali gue menangis, mungkin satu atau dua tahun lalu, tepatnya bener-bener lupa. Entah hal apa yang menyadarkan gue untuk ngga membuang-buang air mata lagi untuk setiap urusan yang gue hadapi, tapi gue inget siapa orangnya, hehe. Dari titik itu, gue mulai mengeraskan hati, hadapi semuanya dengan kepala dingin—sedingin mungkin. Walau memang kadang bila ditinjau dari segi hati, gue sering overheat, kepala gue tetep dingin, selalu mencari jalan keluar yang serasional dan selogis mungkin. Dan sepertinya gue berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ukuran cowok, mungkin gue sering melihat orang menangis belakangan ini. Ukuran cowo? Tentu, karena kalau cowo lagi ngobrol sama sesamanya, kaga pake nangis-nangisan, itu mah cewe kan? Setahun belakangan banyak kerabat gue dan beberapa orang yang cukup dekat yang meninggal. Dan itu berarti badai airmata dimana-mana. Sayangnya, seperti yang gue tulis sebelumnya, gue adalah orang yang buruk dalam bersimpati, walaupun otak nyuruh gue untuk nangis, ada hal yang membuat gue menahan diri untuk tidak menyumbang air mata lagi ke tanah. Bahkan saat kematian mbah pun, gue ngga menangis. Well, gue tinggal punya satu nenek sekarang, no matter what, i’ll meet her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, uh.. rindu mau nangis, keluar air mata sih sering, kalo kelilipan semut atau kebanyakan nguap, pasti keluar air mata. Tapi yea, tentu bukan yang macem itu, nangis yang dikarenakan sesuatu yang mengganjal di hati, di kepala. Entah itu yang bersumber dari perasaan senang yang ekstrim, atau yang paling sering dialami: karena sedih. Gue punya ruangan gelap yang ada sinar bulannya kalau malem sekarang, tapi sayang, gue lupa caranya nangis, tsk. Kapan sih manusia puas? Disaat gue lagi cengeng, i always think how to become stronger, and then, when i reach the peak of power, i wanna go down and wash my eye at the nearest river of sadness. Tsk tsk tsk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-450055295716831170?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/450055295716831170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/450055295716831170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/07/crying.html' title='Crying'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-6724091266611208602</id><published>2009-07-10T15:40:00.001+07:00</published><updated>2009-07-10T15:41:52.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>A Letter Of Agony</title><content type='html'>Tidur siang, bukan ide yang jelek. Tapi siang ini gue terbangun dengan satu sms masuk.&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“X meninggal, kecelakaan. Jenazahnya akan dibawa dari semarang besok, pemakamannya lusa, lo dateng kan?”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue membaca sms itu seperti membaca kutipan singkat diary lama, bukan dejavu, tapi seolah kedatangan sms itu udah gue perkirakan sebelumnya. Well..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="font-style: italic;"&gt;“Ngga bisa, titip salam buat yang lain.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What should i say, tho? Gue bukan orang yang hebat dalam bersimpati. Yah, mungkin dulu gue adalah ahlinya, tapi pengalaman lama mengajarkan banyak, dan buat gue, bersimpati itu sama nilainya dengan kosong. Entah buat yang lain, simpati tidak pernah memberikan kekuatan tambahan dikala awan mendung menggelayuti hari-hari yang hampa, itu buat gue pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’ll never give my sorrow for you, tapi satu hal, gue akan memberikan penghormatan tertinggi untuk lo, yang mungkin pernah duduk disamping gue disaat-saat yang sulit, walau, ujungnya tidak berakhir baik. Darah kita mengikat, tulang kita pernah ada didalam satu jalur, dan gue bersyukur pernah memiliki elo sebagai salah satu bagian dari diri gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Ashes to ashes, dust to dust; in sure and certain hope of the Resurrection into eternal life.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sayang, walau gue berharap lo masuk surga, kayanya itu ngga mungkin mengingat seperti apa lo hidup dulu, haha, semoga lo ngga ditempatkan di neraka yang terlalu panas yah. Gue akan menyusul ngga dalam waktu yang lama, dear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yep.... nikmati perjalanan panjang lo ini kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---See ya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-6724091266611208602?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6724091266611208602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6724091266611208602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/07/letter-of-agony.html' title='A Letter Of Agony'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2852598205344172045</id><published>2009-06-22T23:41:00.005+07:00</published><updated>2009-06-23T00:07:58.092+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Paham, Tapi Lupa.</title><content type='html'>This day is not a bad day, but neither a good day. Ngga ada yang berbeda dari hari sebelumnya kok, mengurung diri di kamar, kadang tiduran, kadang baca buku, kadang browsing, yeap. Nyaris pengangguran, UAS harusnya udah dimulai sekarang, namun belum ada kabar pasti yang bisa dipertanggungjawabkan kepastiannya soal jadwal, ha. Ngga ada pilihan lain kan selain duduk diam manis bak putri raja zaman medieval?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa gelas teh yang gue minum hari ini, mungkin lima? Atau tujuh? Gue lupa, tangan gue bergerak tanpa sadar menuangkan air kedalam pemanas bolak-balik setiap kali gue ngerasa lemes. Yeaa, namanya juga pasca tipes, stamina disedot di usus sih. Yang pasti, udah ada orang yang berdecak kagum dengan konsumsi gula gue, ganti dengan gula jagung, katanya—atau gue akan sibuk ngabisin duit gue sendiri untuk beli insulin beberapa tahun lagi. Say, siapa yang tau? Mungkin gue udah pesta pora sama cacing tanah sebelum gue divonis diabetes kan? Tentunya, saran lo selalu gue denger kok, ngecek harga pasar dulu tapi, ihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat kan? Ini gue nyeduh air lagi.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Are you mad? Take a walk, dear. You’ll feel better.“&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;And i am. Bukan, gue ngga marah. Hanya sedikit gangguan pikiran yang negatif. Seseorang pernah memberitahu gue begitu, disaat pikiran kita ngga enak, berjalanlah, dan saat berikutnya kita akan merasa lebih baik. Don’t think about direction, just take a step forward, and said: “just walk in the park.”. Filosofisnya, dia berpendapat begini, biasanya setiap ada orang lagi jatuh, orang lain akan menyemangatinya dengan kata-kata demikian, ‘terus melangkah kedepan’. Dia memanifestasikan kata-kata itu secara literal, tanpa ada makna dibaliknya dan lakukanlah seperti yang kata-kata itu bilang: berjalan. Hehe, dia lucu, dan dia mengatakan bahwa hal itu benar-benar membantunya merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, gue juga melakukannya sering kali. Disaat pikiran sedang suntuk, terlalu negatif untuk gue pikul sendiri tanpa ada orang lain yang bisa gue bagi, gue akan berjalan, tanpa arah, hanya berjalan (dengan tambahan embel-embel nikotin di tangan biasanya, ehe). Sangat berlaku dalam keadaan gue yang sekarang, mengurung diri di kamar, yap, untuk mempertahankan kewarasan disaat pikiran-pikiran negatif muncul, gue berjalan. Tanpa interaksi, tanpa sosialisasi, dengan mental yang sama sekali ngga siap, itu patologis, lihat matahari sekilas, ada dunia lain selain di ruangan kecil ini, maka kamu akan merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, lo bener, gue merasa lebih baik. Mungkin apa yang gue pikir ngga akan berubah, hanya tenggelam sesaat kedalam kesadaran yang lebih bawah lagi. Tapi seenggaknya, gue akan punya waktu lebih untuk mengembalikan kondisi mental gue supaya lebih baik, lebih siap untuk menghadapi pikiran itu di lain waktu. Itu kan maksud lo? Yah, makanya gue cinta sama elo say.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm? Hari ini cukup panas, bzt, wrong, panas banget malah. Gue rindu masa-masa awal kuliah, masa-masa awal gue mulai ngekos. Koreksi kalau salah, tapi waktu itu udara lagi dingin-dinginnya kan? Gila, gue ngga bisa ngelupain malem pertama gue. Malem pertama tidur di kosan maksudnya. Tidur di karpet supertipis, tanpa selimut, tanpa bantal—hanya pake sajadah yang dilipat supaya tebel, dan bam! Nyaris ngga bisa tidur karena kedinginan, beneran menggigil abis-abisan. Paginya, saat pertama kali mandi di kosan, JAH. Aer es.. sorenya gue langsung sakit. Belum ada galon air waktu itu, gue mengandalkan pemanas air yang gue beli untuk ngebuat air minum, hihi, penderitaan luar dalam pokoknya. Gue hidup dengan garis kesengsaraan begitu lebih dari sebulan sebelum akhirnya bala bantuan dateng—kasur, bantal, galon, etc. Sekarang gue malah bosen dengan fasilitas yang lebih dari cukup ini. Bukannya ngga bersyukur, kecenderungan untuk hidup susah? Bisa jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu masa lalu, sering terjadi, apalagi disaat kita nganggur, sedang stagnan. Bersyukurlah gue punya blog, dan seperti apa yang gue bilang, fungsi blog buat gue adalah sebagai memori, pensieve untuk menampung kejadian-kejadian yang kesemuanya ngga bisa gue masukan kedalam ingatan. Gue senyam-senyum bacanya, dulu juga pernah gue tulis, gue baru mempunyai (semacam) diari dari 5 tahun lalu aja udah suka ketawa baca tulisan sendiri, apalagi orang-orang yang punya diari dari SD? Dislokasi syaraf mungkin. Gue mulai nulis personal journal (semacam) diari dari 2005, atau tepatnya sekitar 3 SMP—dari masih berbentuk buku (yang naudzubillah jelek tulisannya), sampai berbentuk digital macem blog ini. Sayangnya yang berbentuk buku itu ILANG! Shit abis, saat pindahan dari rumah kontrakan ke rumah keluarga mungkin kebuang, entahlah, itu sangat gue sesalkan. Sisanya cuma beberapa lembar baru yang gue tulis di kertas binder, cuma 2 lembar. Huek. Nestapa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“You may say take a step forward, dear. But, i’m sure that you don’t mind if i take a look to the past for a second.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Go on.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gue membaca entri-entri lama, dan bener, gue senyum sendiri. Mengenang apa yang memori tidak bisa kenang, itulah gunanya blog untuk gue pribadi. Walaupun kadang gue salah artikan sebagai media katarsis, yang mana itu cukup bodoh, mengingat blog itu bukan hanya gue pribadi yang baca, tapi orang lain juga. Sesuatu yang privasi memang sebaiknya tidak diumbar ke umum, tapi seringkali gue kebablasan, hidup tanpa katarsis itu setengah gila, dan hasilnya? Lihat aja sendiri. Banyak entri lama gue yang begitu parah menelanjangi diri sendiri habis-habisan, rasanya pengen diapus, tapi gue urungkan. Bagaimanapun, itu tetep gue. Tulisan gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang mengganggu pikiran gue saat ini—kebanyakan asalnya dari orang lain, mana lagi? Heh. Tau sendiri, rasanya ingin mengkonversi fakta kedalam fiksi andaikata faktanya tidak seindah bayangan. Tentu, hidup tidak melulu diatas, roda pedati katanya, dan mungkin sekarang gue sedang berada di bawah. And there i found it. The answer of my ‘fact-oh-please-bacame-a-fict-i-beg-you’ thingy. Di salah satu entri terdahulu ternyata jawabannya, gue tulis dengan kedua tangan gue sendiri. Jawaban apa yang gue cari sekarang ada di masa lalu, gue pernah menuliskannya secara gamblang terang-terangan, gue mengakuinya, valid, nyata, sadar. Lihat? Betapa pensieve semacam blog begitu membantu seseorang dengan pikun akut macem gue dalam mengingat? Atau sebaliknya? Justru gue yang terlalu banyak mengeluarkan aturan? Terlalu perfeksionis sampai-sampai lupa dengan apa yang ia camkan pada dirinya sendiri saking banyaknya? Kompulsif katakanlah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu entri pada bulan febuari 2009. &lt;a href="http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/02/ada-yang-terlewat.html"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menjelaskan semuanya. Kenapa pada saat itu gue bisa menuliskannya tanpa beban? Samar gue ingat, gue menuliskan itu dengan enteng, asik, tanpa ada rasa sesal sama sekali. Dugaan gue. Gue belum tenggelam terlalu jauh kedalam kebutuhan adiktif yang gue sebut sebagai relasi disini. Pada saat itu, gue udah cukup sempurna sebagai makhluk yang individualis, tidak berarti gue ngga butuh orang lain, butuh, namun hanya pada taraf yang ringan. Terhitung sekitar lima bulan gue menyesuaikan diri sebagai seorang individualis, dalam Jurnal Volker Grassmuck tentang kaum asosial, gue memenuhi kriterianya. Dan jangan salah, pada awal penyesuaian diri itu (sekitar september – oktober 2008), yang merupakan masa individual dimulai, gue merasakan kekosongan yang luar biasa. Grassmuck mengatakan dalam Jurnalnya, bahwa sebelum seseorang memasuki tahap asosial, tahap dimana individu sudah tidak terlalu mementingkan individu lainnya dalam menjalani hidup, mereka akan merasa sangat membutuhkan orang lain dalam taraf tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kenapa sekarang sebuah hal yang sudah gue tau sebelumnya, sudah gue manualkan dengan sempurna sebelumnya, dan bahkan udah gue buat post khusus tentang hal itu bisa mengganggu gue? Hanya karena disampaikan orang lain? Atau gue udah terlalu sosial sampai-sampai ngga ada satu pun perkataan orang lain yang ngga gue peduliin? Siapa tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, semua hal ngga akan ada artinya tanpa ada hal konkrit yang bisa dipertanggungjawabkan, tanpa bukti autentik, itu semua hanya omong kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, gue skeptis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2852598205344172045?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2852598205344172045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2852598205344172045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/06/paham-tapi-lupa.html' title='Paham, Tapi Lupa.'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-6324018286054952517</id><published>2009-06-17T19:07:00.001+07:00</published><updated>2009-06-17T19:44:20.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>Prinsip dan Kebebasan (gabung ajalah).</title><content type='html'>Gue punya prinsip, dan gue kira kebanyakan orang yang masih bernyawa juga punya sesuatu yang dijadikan pegangan untuk berpijak yang biasa dinamakan prinsip. Bon, yang namanya prinsip itu sifatnya tersembunyi, hanya diketahui sama sang pemilik dan orang-orang yang pernah mendengar langsung konsep prinsip yang dijabarkan oleh si pemilik prinsip. Jadi, andaikan kita ngga mendengar langsung dari orangnya, menurut gue sih, kita ngga akan tau prinsip apa yang dipakai sama orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip, ideologi, cara berpikir or something hell similiar with it, sebut sajalah sesuka anda, bagi gue masih satu bunyi. Dari sekian banyak prinsip yang gue tanya atau gue denger dari orangnya langsung, tentulah beraneka ragam, karena jelas keluar dari kepala dan mental yang berbeda, lingkungan yang macem-macem pun juga turut ambil bagian dalam pembentukan prinsip ini. Ada beberapa prinsip yang menurut gue sangat menarik dari beberapa orang. Tentu, gue ngga paham secara total prinsip yang mereka jabarkan ke gue secara singkat, mereka sendiri yang paham, dengan tingkat daya tangkep gue yang lebih rendah dari kecebong (sodara guee?), apa sih yang bisa gue tangkep?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mata bayar mata, darah bales darah, mereka bilang anjing, maka gue juga bilang anjing!” –agak dilebay-in,-red.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpel, gue ngga bilang ini prinsip dari seorang pendendam yang ga bisa tidur sebelum membalas perlakuan orang lain ke dia. Nope. Ini prinsip paling fair yang pernah gue denger dari seseorang. Happy go round, tapi begitu ada hal yang bikin kita ngga enak karena perbuatan orang lain, jangan harap itu orang bisa tidur nyenyak sebelum kita bisa bales perbuatannya. Yeah, gue suka prinsip ini, dasarnya gue pendendam sih, Freud gue ludahin mentah-mentah, gue hidup bukan untuk mereduksi ketegangan, all hail Adler, gue hidup untuk mencari ketegangan setinggi-tingginnya, sayang. Yang merasa punya prinsip ini, gue sama sekali ngga menganggap prinsip ini remeh, gue suka, banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Ada masalah? Lo mau akrobat didepan gue juga gue ngga akan peduli, you have your own way, and i have mine.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue juga ngga bisa menilai kalau prinsip ini adalah prinsip yang keluar dari lidah seorang toleran tingkat akut. Gue mengenalnya sebagai pribadi yang asoy enjoy your life with geboy style *halah*. Gampang aja, semua hal jangan dibawa susah, semua ada jalannya, men. Untuk hubungan dengan orang lain, pandangan orang yang melihat prinsip ini hanya berbuah dua jalan, melihat si pemilik prinsip adalah seorang ignorance kelewat masa bodo dengan lingkungan—terutama sama hal yang dia ngga suka, atau, melihat dia sebagai pribadi yang sangat toleran dan memberikan kebebasan pada orang lain untuk berbuat seenak jidatnya (bukan del, gue ngga ngejek elo). Gue ngga tau yang mana, seperti yang gue bilang tadi, gue hanya seseorang dengan daya serap setara simpanse, jangan berharap gue bisa menjabarkan prinsip rumit yang hanya bisa dipahami empunya deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue agak susah menerima prinsip yang ini, relatif sih, kalau orang-orang yang gue akui (dalam tanda kutip) melakukan hal yang ngga berkenan di kepala, gue pasti akan kepikiran. Tapi gue setuju andaikan prinsip ini gue pake untuk menanggapi orang-orang yang statusnya hanya lewat doang di hidup gue, silakan, anda mau jumpalitan juga gue ngga akan peduli. Matipun gue mungkin hanya akan bilang “oh”, disusul dengan penghormatan dengan gaya gue sendiri, and done, nothing personal tho. Kejam ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah aja kok, apa yang orang lain lakukan ke gue, gue akan melakukan hal yang sama ke dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, dalam sudut pandang gue yang terbatas, orang ini menekankan hubungan berintinkan fungsi. Apa sih namanya? Law of attraction kalo ngga salah, orang yang menginginkan hubungan dua arah dengan lawan mainnya. Ngga akan pernah mau maju duluan untuk memulai sebuah hubungan, kecuali mungkin orang tertentu punya daya tarik yang membuat dia sangat ingin membangun hubungan. Akan baik ke orang kalau orang itu baik ke dia, tapi bakalan masa bodo dengan orang yang ngga ada feel dengan si pemilik prinsip. “It’s alright if you want to know me, but it’s ok if you wanna leave, like i care”. Gampangnya begitu, mungkin. Pragmatis, andaikan ngga ada untungnya berhubungan dengan seseorang, mungkin dia ngga akan minat bahkan untuk mengobrol basa-basi. Tipe sadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tiga dari sekian banyak yang seenggaknya dapat gue pahami sedikit. Yang lainnya gue ngga berani jabarkan karena minimnya informasi—dan sekali lagi (boleh kan?), daya tangkep gue ter-ba-tas. Untuk prinsip gue? Hadah, kaya yang gue bilang di awal post ini, sebuah prinsip paling dimengerti sama yang punya. Dan apa jadinya kalau gue jabarkan sendiri prinsip gue? Oh no, ngga akan selesai walaupun tangan gue udah kram ngetik, sebaiknya jangan, kan? Lagipula menjabarkan prinsip sendiri panjang lebar apa menariknya buat orang lain? Yang ada malah jadi males baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tinggal di negara demokrasi, rite? (atau ‘katanya’ demokrasi, manapun lah). Jadi pastilah ada satu ganjalan di kepala andaikan satu kata yang kita sebut dengan kebebasan ini agak dihalangi. Tidak secara langsung, mungkin? Menghalangi dengan memberikan teror-teror implisit juga cukup mengganggu kok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya gue ngga terlalu perhatian dengan apa yang Ussi tulis di blognya mengenai satu hal. Blognya yang sekarang (nyaris) dibaca orang-orang satu fakultas (whoa, tenar amat). Apa rasanya saat apa yang lo tulis dibaca banyak orang dengan berbagai pikiran, berbagai sudut pandang? Gue pribadi ngeri. Ussi sendiri merasa kebebasannya dalam menulisnya diambil, temen-temennya bahkan melarang dia untuk tidak membahas hal-hal tertentu yang sensitif—menurut mereka. Secara umum malah, tulisannya pernah mengundang konflik dengan panitia Ospeknya, huah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ussi sendiri mah adalah orang dengan tingkat cuek yang melebihi Panda, selama jarinya bergerak, itulah yang akan dia posting, ngga kebayang orang dengan tipe macam itu dilarang-larang. Gue bilang tadi, awalnya masa bodo, tapi kalau itu juga gue alami gimana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan menulis gue diambil, gue yang biasa menulis dengan bahasa yang berlebihan, sensitif, drama king, menelanjangi diri habis-habisan diatas media bernamakan blog ini gimana? (liat satu kalimat dibelakang, drama king ngga?). Memang secara ngga langsung, tapi mengerikan, sangat, saat apa yang lo tulis dengan tingkat privasi diatas rata-rata dibaca oleh orang-orang yang kita temui di aktivitas keseharian kita, itu nyaris mimpi buruk. Gue ngga mengatakan bahwa kebebasan gue diambil secara terang-terangan, ada yang melarang gue menulis? Ngga. Tapi satu hal, gue hanya ngeri. Mungkin seperti yang Sigi bilang, “lo kenal gue lewat Blog, Raine Beau, gue ngga ngebayangin apa jadinya saat lo bertemu langsung dengan gue sebagai Tiyana Sigi.” (kurang lebih,-red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jadinya kalau orang-orang tau gue dari dua sisi? Gue sebagai apa yang gue sebut disini ‘Pitiful Weakling’, dikenal lewat blog, lewat NW. Dan orang-orang juga mengenal gue sebagai ‘Cubung Hanito’ sebagai apa gue sebenernya di dunia nyata. Gue ngga bisa paham dengan perkataan dia waktu itu, tanggapan gue hanya “lalu kenapa?”. Dan sekarang, gue merasakan ngerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif A, gue mereduksi isi postingan sebatas garis aman yang gue tentukan. Tidak ada konflik, tidak ada pertanggungjawaban akan apa yang gue tulis, tidak perlu merasa ngeri dengan tulisan sendiri (itu konyol). Imbasnya? Ada yang tertahan di kepala, dan itu ngga baik buat orang macem gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif B, mencari tempat lain untuk menuangkan hal-hal yang bersifat sensitif, tempat gue secara halal mendramatisasi permasalahan dengan bahasa yang dilebih-lebihkan, oh ya, gue penjahat bahasa emang. Mungkin blog baru, mungkin tulisan yang bersifat offline yang gue simpen di harddisk gue semata, mungkin tulisan tangan yang gue simpan dibawah bantal (hil yang mustahal! Tulisan gue jelekk!). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue pilih B. So? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bye drama king.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-6324018286054952517?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6324018286054952517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/6324018286054952517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/06/prinsip-dan-kebebasan-gabung-ajalah.html' title='Prinsip dan Kebebasan (gabung ajalah).'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-3698983508337687398</id><published>2009-06-14T00:28:00.003+07:00</published><updated>2009-06-14T00:48:21.322+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='From My Mind'/><title type='text'>Konyol to The Core</title><content type='html'>Katanya, gue kena karma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin. Pada dasarnya gue ngga pernah meletakkan kepercayaan kepada hal yang di blacklist oleh anak rohis pada masa SMA gue, TBC katanya. Bukan karena rohis juga sih, gue terlalu rasional untuk percaya sama hal yang sejenis dengan takhayul itu. Ada mobil dijalan, maka jangan jalan di tengah-tengah, nanti ketabrak, simpel sajalah. Gue selalu heran kenapa orang zaman dulu selalu mau bersusah-susah mengarang cerita untuk menakuti anak agar mau mengikuti apa yang mereka inginkan. Jangan potong kuku pada malam hari katanya, kenapa? Karena nanti potongan kukunya bisa jadi kunang-kunang.. heh, sinting. Teori abiogenesis itu cuma berarti satu kata, konyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, selalu ada penjelasan rasional dari apa yang ditakhayulkan sama orang zaman dulu. Katanya jangan bersiul saat lagi mandi, nanti bisa jadi bego. Setau gue sih, saat bersiul, otot yang bergerak itu hanya otot bibir dan pengaturan nafas, paling banter ya keselek aer, bukan jadi bego—kecuali minum aer ledeng bisa bikin bego, laen cerita—nah nah, kalo begitu siapa yang bego? Yang bersiul, atau yang bikin ‘bersiul saat mandi itu bisa bikin bego’? Ada lagi hal yang menggelitik relung otak kiri gue, jangan bersiul waktu malem, karena ada tiga kemungkinan berdasarkan kitab takhayul populer, (1) bisa mengundang maling, (2) nanti ada uler dateng kerumah. (3) mengundang kuntilanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poinnya, segoblok-gobloknya maling, sebisa mungkin dia akan mendatangi rumah yang sepi tanpa penghuni, dan bukannya rumah yang rame sama suara siulan, bener ga sih? Kecuali malingnya kaya di cerita-cerita  1001 malam yang cukup imbisil untuk mengatakan mau ke pesta topeng saat kepergok penjaga Baitul Maal (dan dia emang pake topeng untuk nutupin wajah), dan berdalih mau menjahit saat alasan pertama ngga dipercaya (dia bawa linggis yang diasumsikan sebagai jarum jahit). Oh, tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, uler? Biarpun gue bersiul sampe jontor juga kalau gue bersiulnya di tengah kota Jakarta yang jalanannya bikin uler merinding buat nyebrang, gue jamin ngga akan ada uler yang dateng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, for sure, gue pernah saking penasarannya sama entitas paling doyan ngikik sejagat raya ini sampai bela-belain bersiul setengah jam di bawah pohon beringin paling angker di kampus jam satu pagi, hasilnya? Nihil. Yang ada gue kejang-kejang keausan ratusan meter dari kosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa diambil—selalu ada alasan rasional di setiap petuah? Maka buatlah dalih yang rasional pula, anak zaman sekarang udah terlalu pinter untuk dibegoin, sayang. Tapi sialnya, masih ada aja tuh yang percaya, yasudahlah, silakan aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa karma gue?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata bales mata, darah bales darah, menampar pipi kanan orang lain, suatu waktu pipi kanan kita akan ditampar. Nah, konsep karma itu begitu kan? Apa yang gue lakukan ke orang lain dengan bunyi yang negatif, mungkin suatu hari hal negatif itu juga akan terjadi ke gue dalam bentuk yang lain. Oh ya, menyebalkan amat dan gue males untuk percaya walaupun gue mengalaminya sendiri dalam bentuk yang begitu konkrit sekarang. Masa bodo, nama gue salah satunya diambil dari nama batu, say, jadi salahkan nama gue kalau-kalau gue punya kepala sekeras batu. Gue. Tetep. Ngga. percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to square one, gue terlalu rasional untuk percaya bahwa bangun siang = rejeki ilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang gue percaya, bangun siang = telat solat subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana satu kejadian kecil bisa membuat gue lari-larian sepanjang jalan penuh jemaah taat, terburu satu hal ece-ece yang kita kenal dengan nama kabar. Setengah sinting mencari tahu, berekspetasi kelewat bodoh yang ujungnya hanya bikin kepala sendiri berasap, memandangi kotak kecil yang biarpun kita goyang-goyangkan sampai gila juga ngga akan ada yang berubah. Oalah.. termakanlah gue sama omongan sendiri. Kalau sudah dalam keadaan begitu, kemana sisi rasional gue? Kemana logika konkrit yang gue bangga-banggain, heh? Tenggelam kedalam satu kata empat huruf dalam bahasa Indonesia yang sangat perlu gue sensor agar tidak terjadi perpecahan, demi kepentingan dan kerukunan umat, mengingat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka kata itu adalah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah.. bodoh lah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-3698983508337687398?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/3698983508337687398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/3698983508337687398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/06/konyol-to-core.html' title='Konyol to The Core'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-4002547720919005512</id><published>2009-06-08T23:22:00.003+07:00</published><updated>2009-06-09T07:22:34.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sh*t'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journal'/><title type='text'>Saat Ngedrop Itu Dipakai Untuk..</title><content type='html'>Yow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue sakit, terhitung dari 19 Mei sampai sekarang. Dari sakit kepala ringan sampai memohon untuk habisi saja nyawa gue saat itu juga. Beberapa post sebelumnya juga memberitahukan hal demikian kan? Tapi siapa yang sangka gue sampai divonis Demam berdarah yang sepaket sama tipes oleh hasil tes darah keparat itu? Gue pun ngga menyalahkan dokter klinik yang keras kepalanya melebihi keras kepala gue untuk menyarankan gue di opname saja, oh sialan, rekor tanpa opname gue patah kan jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung tanggal 2 sampai tanggal 6 Juni kemarin, gue di opname, bukan pengalaman yang menyenangkan sih, tapi juga bukan hal yang nyebelin amat, it was fun. Awalnya, setelah dokter klinik menyarankan untuk di opname, Ibu langsung ngotot bawa gue ke Jakarta yang jelas-jelas gue tolak. Tugas banyak, UAS sebentar lagi, ngga mungkin gue meninggalkan kuliah dimana harusnya lagi masa-masa intensifnya kan? Tapi jelas, gue kalah. Dengan bukti autentik berupa hasil periksa darah dan keterangan dari dokter, gue ngga bisa membantah, dan saat itu juga gue langsung dibawa ke Jakarta dengan mengabari orang tertentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I've got a bad disease&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;But from my brain is where I bleed.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Insanity it seems&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Has got me by my soul to squeeze.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well all the love from thee&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;With all the dying trees I scream.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The angels in my dreams &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Have turned to demons of greed that's mean. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ibu, paman (atau sebut saja begitu), dan gue ke Jakarta naik kereta, tadinya mau travel, tapi udah terlalu sore untuk nyari travel yang masih jalan jam segitu. Sampai di Jakarta, gue langsung diboyong ke RS. Islam, masuk UGD, disini gue bener-bener ngerasa konyol, saat itu gue sehat, serangan demam tipes yang biasa nongol malem hari itu udah gue lewatin pas di kereta. Jadilah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue dan Ibu masuk ke UGD, menghampiri resepsionisnya, gue duduk dengan tenang di bangku yang kosong, si Ibu ngomong sama petugas.. dan ujug-ujug..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas: Kamu! Kamu yang sakit kan?&lt;br /&gt;Gue: *sempet nengok kanan kiri* ee.. iya pak.&lt;br /&gt;Petugas: Itu, tempat tidurnya, kamu tidur disana sampai ada pertolongan nanti!&lt;br /&gt;Gue: *Bengong* Tapi saya sehat pak..&lt;br /&gt;Petugas: TIDURAN!&lt;br /&gt;Gue: Hyaaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena bawaan UGD yang selalu hectic apa hal lain, itu bapak-bapak kayanya jadi sadis dah. Gue naik ke tempat tidur khas UGD yang kecil itu, dan taukah pemandangan apa yang ada di kanan kiri gue? Di kanan, gue melihat seorang laki-laki mengerang-ngerang hebat, wajahnya pucet penuh keringet, selimutnya entah dua atau tiga lapis, badannya ngga tenang dan bolak-balik teriak-teriak “Ibuu”. Di kiri? Horor, ada seorang bapak-bapak umur 60an lagi diobatin kepalanya, mungkin karena jatuh, kulit pelipis, bagian alis dan kelopak matanya lepas, dia bukan ngerang lagi, menggelepar. Di depan gue ada laki-laki umur 20 akhir yang bolak balik muntah darah, mungkin TBC atau habis kecelakaan, soalnya dia bolak balik megangin kepalanya. Di sisi lain, gue melihat laki-laki dengan tangan bengkok, tulangnya menonjol keluar, dahsyat, ngilu kuadrat ngeliatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apakah poin inti dari kesemuanya? Gue lagi sehat-sehat aja, dan gue tiduran kaya orang bego diantara erangan-erangan dan banjir darah di UGD itu.. ha-ha. Lima menit kemudian ada dokter jaga yang memasangkan infus ke gue. Gue baru pertama kali diinfus, jadi ngga tau rasanya, tapi apakah yang namanya diinfus itu sebegitu serunya ya? Soalnya darah gue ngucur deres sampai ngebasahin sendal, taulah. Selesai pasang infus dokternya langsung bilang ke gue agar langsung dibawa ke kamar aja, dan tau gue dibawa pake apa? Kursi roda, ampun dah, padahal gue udah mohon-mohon ke dokternya kalau gue masih kuat jalan, bawa-bawa infus sambil lari juga hayuk dah, tapi katanya prosedur dan gue disuruh nurut, yaudah, dengan badan sehat seger, gue didorong sama suster. Sampe di kamar, gue langsung tayamum, menjama’ solat magrib dan isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target gue sembuh secepatnya karena gue harus kembali ke rutinitas gue.. secepat mungkin. Karena itu, disuruh minum, maka gue minum dengan porsi onta, disuruh makan, maka semua makanan yang dikasih rumah sakit gue makan tanpa sisa, disuruh jangan banyak gerak ya gue diem aja di kasur ngga kemana-mana. Cuma satu, cuma satu saran rumah sakit yang gue tolak mentah-mentah, pake pispot. Oh no, itu mimpi buruk, gue lebih suka bolak-balik kamar mandi nenteng infus daripada harus pamer benda keramat gue kemana-mana, maap-maap aja dah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari berselang, gue akhirnya bisa pulang setelah ngotot-ngototan sama dokter yang mantau gue. Trombosit udah naik, DB udah bukan masalah, tinggal tipes dan demam sintingnya yang dateng tiap malem. Rawat jalan gue rasa udah cukup, lagian juga udah ada beberapa tugas yang menunggu dikerjain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang cukup rese di kepulangan gue dari rumah sakit adalah, ngga berapa lama gue sampai dirumah, mandi dll, gue kedatangan tamu yang (sama sekali) tidak diundang. Yea, siapa lagi kalau bukan Tika dan Rere, oh, Tika sih emang niatannya mau dateng, tapi yang satu lagi tuh yang ngga diarepin kedatangannya. Yah, pokoknya makasih banyak buat Tika, terutama Rere yang udah menyempatkan waktunya jauh-jauh dari Sukabumi ke Jakarta yang entah dalam rangka apa mau mampir ke rumah gue sekedar jenguk dan ketawa-ketawa geje (sumpah, beneran geje). Walau akhirnya gue usir dengan tidak hormat karena demam gue mulai naik lagi, tapi gue berterimakasih sebesar-besarnya atas waktu yang disisihkan untuk menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggunya gue balik ke Bandung, naek kereta parahyangan paling pagi, tujuannya sih supaya sepi, tapi kereta minggu itu sama aja ramenya kaya jam-jam lain di hari lain. Untungnya sih yang sebangku sama gue tau kemana, bebas dah nikmatin dua bangku harga satu bangku. Sampai di Bandung ada yang berbaik hati ngejemput untungnya, ehe, makasih. Selanjutnya, hari minggu itu gue habiskan dengan sangat menyenangkan pokoknya, walau cuma di kosan, tetep aja menyenangkan dengan berbagai sebab (khu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_bIx6jh2UbK0/Si08DpjVh0I/AAAAAAAAAU4/qWBzKv24KWM/s1600-h/n47697.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 195px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_bIx6jh2UbK0/Si08DpjVh0I/AAAAAAAAAU4/qWBzKv24KWM/s320/n47697.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344994366149986114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa orang, judul Breakfast at Tiffany’s mungkin udah ngga asing lagi ya, apalagi di IH ada seorang Sigi yang memperkenalkan sang malaikat Audrey Hepburn yang baik disadari maupun tidak, telah mempromosikan pesonanya kepada anak-anak IH yang lain. Itu judul film yang dia (Sigi) rekomendasikan ke gue dimana Hepburn berperan didalamnya. Gue pun mengusahakan mencari film tersebut, apalagi mengingat siapa yang merekomendasikan film itu. Gue download via youtube tanpa subtitel. Nyaho dah, udah jelas kalau Breakfast at Tiffanys adalah film yang isinya 95% adalah dialog antartokoh, sementara gue menonton itu tanpa subtitel, plus bahasa Inggris gue khususnya listening itu sangat ecekeble, jadilah, gue Cuma bisa kerut dahi waktu nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa bulan, saat menyusuri toko buku untuk mencari bacaan tambahan di kala bosan, gue menemukan buku itu, Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s. Yeap, andaikata gue ngga bisa mengerti filmnya, kenapa gue ngga baca aja bukunya sekalian? Mumpung nemu. Gue beli dan gue baca. Dengan bayangan bahwa Holly Golightly adalah Audrey Hepburn (dan bukannya Raine Beau) gue sukses tersihir oleh dialog-dialog yang ada di buku itu. Kadang dialognya itu teramat panjang, bahkan bisa mencapai satu setengah halaman, tapi mungkin itulah gaya menulis Truman Capote, mengandalkan dialog daripada deskripsi, toh memang yang digunakan disini adalah sudut pandang orang pertama kan. Satu hal menarik yang gue dapat di novel ini, gue merasa (hanya merasa) menemukan darimana gaya tulisan Raine Beau berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue merasa (sekali lagi, merasa) menemukan kesamaan antara tokoh Raine Beau dan Holly Golightly, bukan dari segi latar belakang, hanya pembawaannya. Pembawaan Holly yang humoris dan terkadang romantis entah kenapa gue rasa (ingat, merasa) tercermin didalam Raine Beau yang humoris (tapi sarkastis), dan romantis (tapi sinis). Atau apapun lah, gue hanya merasa begitu, anggap sajalah ini guyonan dari fans setia lo gi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alexandre Dumas Jr., Gadis Berbunga Kamelia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_bIx6jh2UbK0/Si08DTXg3LI/AAAAAAAAAUw/RuvMzR30u1o/s1600-h/viewimage.php.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 204px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_bIx6jh2UbK0/Si08DTXg3LI/AAAAAAAAAUw/RuvMzR30u1o/s320/viewimage.php.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344994360194817202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kayanya ngga perlu ditanya lagi darimana gue mendapatkan rekomendasi buku yang satu ini. Tidak direkomendasikan secara langsung, tepatnya gue mencomot isi salah satu entri dari blognya Pradit yang ngebuat gue merinding di tiap paragrafnya sebagai rekomendasi. Entri tersebut memuat buku ini sebagai bahasan, dan gue menjadi amat tertarik untuk membaca dan mengalami hal yang sama dengan yang dirasakan oleh peresensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya? Cengeng. Kisah cinta yang dikemas dengan sangat berlebihan, tapi gue suka. Gue suka bagaimana Armand Duval mencintai Margeurite Gautier dengan begitu murni, bagaimana Armand bisa meneteskan air matanya sebegtiu mudahnya kepada Margeurite tanpa gue menganggap Armand itu bukan laki-laki, mudah saja, mungkin Alexandre Dumas Jr. membawakan cerita yang begitu nyata tentang kemurnian cinta kepada gue dengan begitu apik. Bagaimana sebuah pembalasan dendam pun tetap ngga bisa gue liat sebuah pembalasan namun sebuah pernyataan cinta tak langsung yang diberikan Armand kepada Margeurite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue mulai baca buku ini disaat gue lagi demam tinggi-tingginya di rumah sakit. Disela erangan manja anak laki-laki penghuni kasur sebelah, dan suara tee-vee yang sebisa mungkin gue hindari, gue membuka buku yang sengaja dibawa untuk mengisi waktu luan. Mungkin keadaan itu mempengaruhi gue, siapa tau, gue terlalu sentimentil saat mulai membaca buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai titik ini, sampai gue selesai membaca buku itu, gue masih ngga bisa mempercayai bahwa di suatu tempat didunia ini ada manusia yang bisa mencintai seperti Armand. Gue akan menggunakan kata-kata najis disini. Dia bisa mencintai seseorang begitu tulus, sampai tadi gue bilang, dia menyakiti seseorang, membalas dendam tapi dendamnya ngga kerasa, gue hanya menangkap perasaan cinta yang tak tertahankan yang dimiliki Armand dari pembalasan dendamnya. Yang dia tetap menerima dan merawat Margeurite dengan begitu baiknya saat Margeurite datang memohon pengampunan. Dia begitu kehilangan sangat dikhianati, menangis. Terlebih saat ia mengetahui Margeurite meninggal dan ia tak sempat melihatnya lagi, yang pada bab awal gue hanya menaikkan alis membaca tingkah laku Armand yang aneh, pada bab akhir dan gue baca kembali bab awal lalu membaca apa yang tertulis disana, seketika gue paham. Dia adalah Armand Duval, seorang lelaki yang bisa mencintai dengan begitu luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, gue berpikir bahwa sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Armand. Pihak yang tidak mempunyai kekuatan dan harus mengalah saat pihak satunya ingin melakukan apa yang ia ingin lakukan, tidak punya hak untuk mengatur apalagi memerintah. Seperti Armand yang pasrah saat Margeurite kedatangan Duke yang menyokong pendanaannya. Armand tidak bisa protes karena dari segi finansial ia tidak dapat mengalahkan si Duke, ia harus menahan perasaan cemburu yang membakar otaknya, demi Margeurite. Ah, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;My friends are so depressed&lt;br /&gt;I feel the question&lt;br /&gt;Of your loneliness&lt;br /&gt;Confide... `cause Ill be on your side&lt;br /&gt;You know I will, you know I will&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1600 word, entri kali ini dicukupkan sajalah sampai disini.. kalau kepanjangan, juga susah untuk jadi memoar. Kadang gue benci bergantinya hari, karena perasaan yang dipupuk pun akan tumbuh semakin besar tanpa tanya suka atau ngga, betul kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;My friends are so distressed&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And standing on&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The brink of emptiness&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;No words... I know of to express&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This emptiness&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I heard a little girl&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; And what she said&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Was something beautiful&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; To give... your love&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; No matter what&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-4002547720919005512?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4002547720919005512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4002547720919005512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/06/saat-ngedrop-itu-dipakai-untuk.html' title='Saat Ngedrop Itu Dipakai Untuk..'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bIx6jh2UbK0/Si08DpjVh0I/AAAAAAAAAU4/qWBzKv24KWM/s72-c/n47697.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-2787876469146370231</id><published>2009-06-01T20:14:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T20:16:36.694+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Que'/><title type='text'>Tidak Bermaksud Lebay :))</title><content type='html'>Jumat kemarin akhirnya hutang gue lunas. Hutang gue sebagai PM dari Anjiro Fuma kepada Pradit, PM dari The Morcerf. Fuma mempunyai plot dengan Kristobal, bahkan katanya jadi orang terdekatnya (aw, makasi prad). Namun gue tanpa pikir-pikir malah meninggalkan chara sendiri terbengkalai, dan bahkan term berikutnya, diapus. Nyah. Pertanggung jawaban dalam bentuk fanfic itu sudah lama gue buat, bahkan sebelum Fuma sendiri gue delete—dan bahkan saat gue sendiri masih aktif (= =a). Banyak kendala yang menghalangi gue menyelesaikan fanfic itu, dan maaf, bukan males alasannya. Mentok, tidak ada ide, minim konsep dan sangat ngaco. Sementara ‘lawan main’ gue adalah Praditta Pursadin, Don Juan, orang mengerikan yang setiap gue membaca tulisannya selalu membuat gue merinding tanggo. Dengan dia yang hebat seperti itu, gue merasa kerdil, tulisan gue kerdil, gue merasa fanfic itu tidak pantas sampai ke tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, hari Jumat itu gue semangat, padahal kalau dari kondisi fisik, gue sangat kepayahan waktu itu. Kepala pusing parah, badan panas, muka ikut merah saking panasnya, namun gue membuka folder berjudul IH, mengklik dokumen word berjudul ‘fanfic’. Entahlah, yang pasti ide mengalir lancar, walau gue tidak yakin ide-ide itu berhasil dimanifestasikan kedalam tulisan yang berkualitas. Pada saat selesai pun demikian, gue ragu memberikan dokumen word dengan besar 3000 kata itu. Tapi toh gue sudah menyelesaikannya, gue udah berusaha, dan sekecil apapun tulisan gue terlihat, itu tetap tulisan gue dan harus gue hargai. Kira-kira jam satu malam, fanfic itu sampai ke tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh well, memang gue membuat fanfic itu khusus untuk Pradit seorang, maka gue memberikan otoritas penuh kepada Pradit, terserah fanfic itu mau diapain. Tapi, siapa yang sangka kalau fanfic semacam itu di post? Aww, gue ngga mau tau kelanjutannya. Untuk Pradit, gue berucap banyak terima kasih karena pernah menyempatkan diri menjadi partner RP gue, walau kayanya sekarang pun plotnya udah dibelokkan ya? Yah, apapun lah, makasih :D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia seperti itulah yang gue tinggalkan, dengan segala keterkungkungannya dengan dunia luar, NW memberikan banyak hal selain tatap muka. Dua orang bisa bertukar pikiran habis-habisan sampai urat mau putus, padahal gue ngga mengenal dia, dan dia pun ngga mengenal gue. Pembahasan dengan taraf horor sering terjadi, saling serang? Apalagi. Menyindir satu sama lain akan keluhan yang dijabarkan, merendahkan dengan bahasa halus dengan tujuan mengingatkan, gue suka itu semua. Gue ngga meninggalkan dunia itu secara total, namun gue juga ngga bisa membagi dua dunia itu sama rata, ilmu gue terlalu cetek. Maka gue harus pilih salah satu, dan gue pilih RW untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perkembangan RW yang gue pilih? Entahlah, di entri sebelum-sebelum ini gue sudah menyebutkan berbagai sisi positifnya, sering kumpul sama manusia lain, udah ngga segrogi dulu ngomong sama cewe, dan oh ya! Gue udah bisa senyum dikit-dikit. Bahkan ada orang-orang tertentu yang bisa dikatakan udah bisa gue bagi cerita beberapa hal, untuk semuanya, belum. Tapi entah orang-orang itu memandang gue seperti apa, neurotik? Pesakitan? Ha, lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katanya, kalau gue ada masalah, gue bisa cerita dan ada banyak yang siap dan mau denger, jangan dipendem sendirian, nah nyatanya? Emm, punya kaca? Ngaca gih.. apakah hal yang diberitahukan ke gue—bahwa banyak orang yang siap dan mau denger itu berlaku juga? Bukannya malah susah ya ngajarin orang berenang, padahal sendirinya ngga bisa berenang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Mau protes? Hubungi gue dengan media biasa, ha-ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu gue sempet berpikir, “is this worth?”. Apakah ini sepadan dengan NW yang gue korbankan? Dengan keadaan fisik kritis beberapa hari lalu, dan didukung dengan lingkungan yang makin sibuk, gue menanyakan hal itu ke diri gue sendiri. Gue mengandai, apakah yang gue lakukan sekarang kalau gue ngga off dari NW. Mungkin gue sedang ngerepp, mungkin gue sibuk ngepost di berbagai forum, mungkin gue sedang brainstorming dengan beberapa orang, mungkin. Tapi gue rasa itu konyol, kalau ditanya, apakah gue menyesal? Gue jawab, engga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalian menganggap gue ngga berusaha, is that so? Kalau begitu, sah saja toh kalau gue menganggap usaha kalian ngga kerasa? No offense o, my bloody comrade, gue sadar dengan apa yang gue tulis satu paragraf kebelakang walau kepala gue ngawang sekarang. Gue hanya merasa begitu. Lalu? Dari sudut gue, mungkin usaha gue harus ditambah, gue yang hanya bisa bicara di kelompok-dua-orang mungkin harus bisa terbiasa dengan kelompok-tiga-orang, empat-orang, lima, dan pada akhirnya mungkin sembilan. Ah, siapa yang tau? Tanyalah pada oreo yang menganggur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-2787876469146370231?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2787876469146370231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/2787876469146370231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/06/tidak-bermaksud-lebay.html' title='Tidak Bermaksud Lebay :))'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-4219434846910127846</id><published>2009-05-24T23:14:00.002+07:00</published><updated>2009-05-24T23:19:21.935+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Harus lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;haus&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus lebih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lapar&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue butuh ketegangan yang lebih besar daripada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sekarang&lt;/span&gt;..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue sendiri yang akan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hancur &lt;/span&gt;lebih dulu nantinya..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-4219434846910127846?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4219434846910127846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/4219434846910127846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/05/harus-lebih-haus.html' title=''/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7369896477498731246.post-7754758242201789525</id><published>2009-05-24T08:39:00.002+07:00</published><updated>2009-05-24T08:49:29.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='For Remember'/><title type='text'>S-mile.</title><content type='html'>Two in the morning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitungannya pagi, tapi langit masih gelap, dengan pertimbangan gue ngga suka pagi tapi begitu cinta sama yang namanya malam, sikap apakah yang harus gue tunjukkan? Benci bilang cinta? Oh no, itu mah lagunya Radja *Dadadamn Dadadamn, Hoi!*. yang manapun deh. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya gue rehat, badan ngga enak, kepala ngawang, mata berair dan.. tangan gemeter. Oh ya, sensasi yang terakhir itu sih gue dapetin dari kopi, yeaa, disaat gue harusnya memeluk bantal gue malah minum kopi, kayanya jantung yang bercokol di tubuh gue harus banyak-banyak bersabar, tuannya serabutan. Dan kalau ditanya kenapa gue begadang, terus gue jawab ‘emang lagi pengen aja’, percaya? Yang percaya justru aneh. Bahkan ketika gue menganggap ‘emang lagi pengen aja’, gue ngga yakin itu alasannya. Semua yang ada di dunia ini bertumpu pada hukum kausalitas, bukan? Ada akibat, maka harus ada sebab. Kenapa Bianca Reina Springfield sakit? Karena kemarin sore dia bermain hujan di danau hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepakan sayap kupu-kupu dapat menimbulkan badai di belahan dunia lain. Bisa saja, dan mungkin ada hal yang gue tekan ke alam bawah sadar, dan akhirnya termanifestasikan kedalam bentuk kegiatan yang gue namakan 'begadang'. Expanding possibilities ngga berlaku, karena setelah gue mengeliminasi kesemua yang mungkin, jawaban yang paling masuk akal adalah jawaban yang paling najis dan menye-menye, gue anti (haha). Yah, apapun alasannya, yang penting gue harus menikmati masa-masa melek ekstra gue beberapa jam ke depan, dan mikirin gimana supaya ini kepala kaga lepas dari tempatnya, punyeeng..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, dunia ngga berputar dengan elo sebagai porosnya, tau!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pasti kata-kata yang sangat familiar ya di telinga anak IH. Kalimat yang ditujukan kepada mereka yang dianggap egois kelewatan, kepada mereka yang mentitelkan diri sebagai drama queen tingkat lebay, mengemis belas kasihan orang, dan memposisikan diri mereka sendiri ke tingkat tertinggi. Kalimat itu ditujukan kepada orang-orang yang demikian. Kalimat itu sangat sering muncul entah di status YM anak-anak IH, ataupun blog mereka masing-masing. Memprotes secara tidak langsung penyimpangan yang kebablasan, entah dalam birokrasi IH, ataupun dalam RP. Dan memang benar, ada beberapa orang yang memang memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka dengan segala tingkahnya pantas untuk diberikan kalimat tersebut, tapi ada juga yang mungkin ngga memenuhi kriteria, tapi apes kena kalimat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, gue pun pernah dikatai demikian. Dan sampai sekarang, alasannya gue sama sekali ngga tau. Konsep gue, bahwa gue—badan tiga dimensi dengan tambahan nyawa didalamnya ini adalah sebutir pasir, yang sama dengan jutaan butiran pasir lainnya. Nah, bagian mananya yang yang bisa disebut egois? Gue cukup sinis self sentris sampai-sampai kalau ada yang salah—gue ngga pernah berani untuk menengok ke orang lain untuk menuduh, tengok ke diri sendiri, dan mungkin itu salah gue. Gue ngga pernah menghalangi jalan orang untuk maju, jika dia satu jalur sama gue, maka gue akan dengan senang hati untuk mundur sebentar, membiarkan orang itu lewat, barulah gue kembali berjalan dengan tenang. Dan seinget gue sih, gue ngga pernah minta dikasihanin, yang ada mah gue minta ditampar biar gue bisa bangun lebih cepet daripada harus bermelankolis-najis ria dulu. Oh, gue selalu terlihat muram? Maaf aja, berada dalam titik nadir itu udah menjadi kebiasaan, paham alone but not lonely yang gue anggap ideal dulu membentuk gue menjadi seperti sekarang, haha, salah langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah? Bagian mananyaa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gue cukup paham dengan konsep tersebut, dan gue sama sekali ngga menemukan bahwa gue masuk ke kriteria yang pas untuk dikatai demikian. Bahkan hal yang bisa membuat gue menggaruk-garuk tanah sedemikian ekstrimnya itu adalah soal hubungan dengan orang lain! Memburuk, maka pikiran gue ngga akan lepas dari hal itu untuk beberapa hari kedepan. Rere mungkin bener, badan gue nyusut karena kebanyakan mikir rekanan RW, gimana hubungan dengan mereka, dan gimana caranya untuk menambah kualitas hubungan tersebut. Sama dengan seseorang, gue ngga akan bisa ketawa kalau ada satu orang aja yang muram, ga enak, dan bawaannya pengen menyamakan lantai dengan orang tersebut. Sekali lagi, mananya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah empat? Harus tidur kayanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, selamat untuk dia yang jauh disana, udah ketemu yang pas ya? Semoga langgeng dan lancar, gue turut berbahagia dan berdoa selalu, amen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7369896477498731246-7754758242201789525?l=pitifulweakling.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/7754758242201789525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7369896477498731246/posts/default/7754758242201789525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pitifulweakling.blogspot.com/2009/05/s-mile.html' title='S-mile.'/><author><name>Pitiful Kuro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01224223152292925914</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='08319591810206402839'/></author></entry></feed>