Skinpress Demo Rss

19th Down, dan lain-lain.

Filed Under (,, ) by Pitiful Kuro on Tuesday, March 24, 2009

Posted at : 7:06 PM

Tidak dalam mood untuk menulis sebenarnya. Tapi demi menghargai beberapa orang, gue akan mencoba sedikit menyisihkan tenaga untuk menistakan satu fokus yang sedang nista ini untuk menggores keyboard (bukan pena).

Gue inget setahun lalu, tepat 23 maret ada acara Jejepangan di margo city depok. Namanya lupa. Pokoknya pulang dari sana udah sekitar jam sepuluh malam, dan gue bukannya langsung pulang kerumah, cuci kaki, cuci muka, minum susu terus tidur, tapi malah kewarnet. Menuliskan postingan semacam ulasan apa aja yang terjadi setahun belakangan, rasanya menyenangkan. Mana waktu itu juga kaya orang norak pake ngetes webcam warnet pula, dan tepat disebelah gue ada orang nyetel bokep tanpa pakai headset. Uuh yeah. Bagusnya yang nonton ga sampe ngos-ngosan deh. Selamet.

Ternyata banyak yang terjadi setahun belakangan ini. Terlalu banyak malah. Memori pun sepertinya udah ga cukup menampung semuanya, sebagian besar terlupakan, sebagian kecil menjadi kenangan, dan sisanya mimpi buruk. Ini bukan tahun terbaik dalam hidup gue, namun bukan juga menjadi tahun yang terburuk. Biasa, plain. Tapi ga dipungkiri ditahun ini gue menemukan banyak hal, yea, kalau dari dalam diri itu standar-standar aja, tidak berarti sama dengan yang dari luar kan? Gue mengenal dunia baru yang menyenangkan, sebuah bentuk yang awalnya ga pernah gue sadari sebelumnya. Mungkin dulu terlalu sibuk sama empat dinding hitam yang mengurung dengan erat, yang eratnya itu bahkan bisa membuat harimau bengal pun mati sesak nafas. Sibuk dengan dunia sendiri, dan tidak ada yang bisa gue lihat selain tanah dibawah (well, gue sering nemu duit loh pada masa ini).

Katakanlah, di tahun ini gue mengenal Tika dan Luthfi dan embel-embel Bersepeda Lintas Jakarta (BLJ) di belakang nama mereka.. Dua orang yang menjadi kebanggan terbesar yang bisa gue miliki sekarang. Walau ga sedikit konflik yang terjadi sama mereka (inget insiden Pizza hut tik?), untungnya semua bisa diatasi dengan baik. Yah, semuanya ga lebih dari salah paham sih. Yang penting itu komunikasi ya kan. Pembentukannya ga sebentar, tiga tahun berjalan dan gue masih sungkan untuk meminta bantuan mereka, haha. Tiga tahun. Jalan-jalan konyol bersama mereka yang engga ada habisnya keliling Jakarta, makan bakmi menteng yang menjadi surga dunia setelah menggoes sepeda jauh-jauh, ataupun ke kota tua gila-gilaan naik kereta (yang mana itu sepeda ikut berpartisipasi meramaikan desakan penumpang KA). Dan yang paling berkesan tentu saat datang ke monas yang entah ada angin apa lagi bersih-bersihnya. Jadinya itu pemandangan kaya di central park dah. Hi.


oh ya, lihatlah wajah nista mereka.

Oh iya, engga lupa juga saat gue nonton pementasan teater berdua bareng Luthfi. Rashomon judulnya (walaupun judul aslinya in a groove). Itu termasuk momen yang ga bisa gue lupain. Mencari dengan ganas menelusuri jadwal pementasan TIM—nyari yang mana yang gratisan, dan akhirnya menemukan yang satu itu, walaupun harus bela-belain dateng jam delapan malem dan beresiko kehabisan angkot untuk pulang, haha. Yah, saat liburan menunggu pengumuman Universitas itu adalah saat-saat paling menyenangkan sama mereka. Bertandang di rumah Tika, minum kopi, masak nasi goreng yang rasanya enuak (bo’ong sih), dan nonton DVD ngabisin waktu. Oh Tuhan, betapa bahagianya saat-saat nganggur itu, bisa dikembalikan? Haks-haks.

Plus, saat gue diikutkan dalam kepanitiaan POPA, acara sekolah. Gue ga berminat, sama sekali. Kalau bukan karena Tika, nama gue ngga akan masuk dalam daftar kepanitiaan saat itu. Menjalani kehidupan sebagai bayangan itu udah sangat nyaman sampai ke tulang sum-sum. Penonton, itu prinsip, tapi sekali itu aja gue langgar. Entah kenapa, selain dorongan dari Tika, ada rasa ingin meninggalkan jejak walau sedikit di SMA yang bisa dialihkan jadi kolam renang saat banjir ini. Dan sip-nya, walau apa yang kami semua (satu angkatan) lakukan dinilai tidak lolos oleh juri, gue pribadi mendapatkan banyak disini, di sebuah kepanitiaan non-religius.

Hal lain di umur gue yang 18. The Unreachable. Ah, sudahlah, sebut saja Erni, Erni Froida lengkapnya, haha. Kalau menyebut nama dia, bagi gue mungkin seperempat dari masa SMA kali ya? Kalau digambarkan secara mudah, dia ada seorang perempuan yang punya lirikan mata pembunuh, tajam, seperti silet *jiah*. Yang entah kenapa kok bisa ya gue suka sama ini orang? Andaikan alasannya ditanya, maka silahkan baca dialog di bawah ini,

Oknum: Kok bisa suka sama dia bung?
Gue: Engga tau, tiba-tiba ‘Blam!’, suka deh.
Oknum: ...

Well said. Seharusnya gue penggila Jejepangan saat itu, paling banter komik, atau buku novel populer—yang umum. Nah, mana sarana yang bisa ngebuat suka sama ini orang? Engga nyambung, absurd total. Masa-masa dimana kalau papasan yang ada gue malah buang muka, atau paling bagus mah nunduk. Berada lebih dekat dari lima meter maka keringet dingin mulai bocor dan kaki gemeteran. Man, saat itu gue bisa dibilang nerd, geek, setan sekolah, bayangan, ada ngga adanya gue mah sama aja. Kuper mampus dan anti-g401 abis-abisan. Ketenaran gue hanya pada pelajaran Ekonomi-Akutansi, sama agama Islam aja, sisanya? Wung. Hanya sebentuk debu hitam mengambang di udara. *Tsah*.

teteup, gue suka menggambarkan dia dengan yang satu ini =)), lirikannya men, lirikannya.

*Tentunya tidak seseram diatas*

Ujungnya tidak berakhir bagus. Tapi kalau boleh gue bilang, gue menyelesaikannya dengan baik *lah?*. Gampangnya, bagi orang lain yang melihat, itu adalah sebuah penyelesaian absurd tak berbentuk yang bahkan menyaingi ketidakjelasan fisiologis amoeba. Tapi buat gue pribadi, itu adalah saat dimana gue bisa melepaskan jangkar rese yang mengikat kepala di dasar samudra bernama—sensor—. Gue mengakhiri hari wisuda itu dengan baik (walau penampilannya seperti hasil rekayasa genetika manager dan tukang ojek).

Oh, sepertinya tulisan ini akan panjang saudara-saudaraku.

Satu lagi dunia yang gue masuki di tahun ini. Networld. Sebenernya, udah dari kapan tau gue kenal sama dunia ini. Forum game, forum Jejepangan, dan milis email pernah gue kecap dengan lidah perawan ini. Tapi hei, gue belum pernah terjun sedalam ini sebelumnya. Perkenalkan, IndoHogwarts. Jeng jeng. Apa itu? Hanya forum RPG, biasa aja, titik. Yang tidak biasa dari forum itu adalah, interaksinya, orang-orangnya. Man. Terima kasih sama siapa-itulah-namanya pendiri Yahoo karena telah mengimplementasikan Yahoo Messengger. Memang bukan sarana komunikasi satu-satunya, tapi itulah yang anak IH gunakan untuk berinteraksi.

Bukan hanya RPGnya yang membuat ketagihan—malah sebenarnya bukan itulah yang IndoHogwarts jual, tapi interaksi antar membernya justru yang jadi sajian utama. Disini gue banyak mengenal orang-orang baru yang jelas taraf menariknya diatas rata-rata. Deyna, Miru, Shinta, Deva, Inta, Aji, Mbak Yuni, Catherina, Shaula, Thiwy, Acid, Kunceh dan akan sangat panjang kalau gue sebut semua. Dan dari daftar nama yang panjang itu, ada beberapa nama yang memang terlalu ga biasa buat gue.

Manda dengan perasaan senasib seperjuangan, berusaha melawan tatapan-tatapan menghina dari lingkungan yang merendahkan tiap inchi harga diri kita bersama, iya kan Mand? *lebay mahadewa*. Staff IH yang sangat baik, ngga bosen-bosennya gue tanyain A, B, C. Sebenernya ingin ngobrol banyak sama yang satu ini, namun yah, waktu selalu jahat sama kita berdua Mand.

Rere, seorang ibu yang gagal mengurus anak-anaknya. Haha. Orang pertama dari garis sinis-sarkastis yang berinteraksi sama gue. Kaget luar biasa saat pertama kali YM sama orang yang ini. Well said. Gue selalu menjauhi tipe orang macem ini, males, dan pastinya hanya berbuah gondok. Namun diujungnya gue malah jatuh cinta sama dia, menarik, OCD kelas ringan, dan secara kasar bolehlah gue bilang dia itu pedagang sempurna, untung ruginya harus jelas (terutama hubungan sosial) haha.

Pradit dan Sigi, jadikan saja satu wacana, karena mereka punya daya tarik yang sama, apa itu? Liar. Rawr. Tentu bercanda sayang. Pola pikir mereka yang tentunya ngga biasa sukses mencuri hati gue. Engga sedikit dari mereka yang bisa gue pelajari. Gue seneng mengobrol panjang lebar sama mereka, sungguh. Ingin rasanya ngebuka semua, ngalirin apa yang gue pikir ke mereka dalam satu waktu, hanya ya, tau diri lah. Gue mau bercerita bukan berarti mereka harus mau mendengarkan, toh? Love them, tentu. :)

Ussi. Terlalu banyak yang bisa gue deskripsikan tentang dia. Seorang genius tersembunyi yang tertimbun rasa malas berkepanjangan. Sunggu sayang. Lucu, selera humornya diantara bagus dan jelek. Saat bagus, jangan heran gue cekikikan sendiri kalau baca blognya. Tapi kalau jelek, jangan heran juga kalau tiba-tiba gue cemberut. Haus pengetahuan, apapun yang asing bagi dia pasti akan dicari sampai ketemu, dan harus ketemu. Marah, sering gue marah sama dia, sejauh ini masih bisa gue tahan, tapi yah, bocor juga pada akhirnya. Tentu, gue juga sayang sama yang ini. Sangat.

Tahun ini terlalu banyak. Kejadian positif, kejadian negatif. Jangan lupa tendon gue yang sobek itu, ah ya, joint tangan kanan yang juga masih bermasalah sampai sekarang, bagus, gue ga bisa menikmati badminton dengan tenang *sigh*. Yang paling negatif pun malah bikin gue nyengir, oh tahun yang bagus sekali, kawan. Setahun gue hidup ini, adalah tahun dimana gue lulus SMA, dengan nilai yang standar khas gue. Mencoba ujian di berbagai kesempatan dan akhirnya terjebloslah ke sini. Psikologi UPI.

Oke. Hampir semuanya.

Ulang tahun, apa yang terlintas di benak anda saat kata itu disebut? Selebrasi? Bermain tepung? Lempar-lemparan telur? Atau kue dengan lilin menari diatasnya? Hm. Bagus kalau begitu. Fyi, itu semua engga pernah gue rasakan dalam hidup. Ulang tahun gue selama ini hanyalah berbentuk cium tangan kepada orang tua dan ucapan selamat sekedar selamat. Tidak ada hadiah, tidak ada kue. Oh ya, berharap apa? Gue cowo, dan memanglah muka gue yang gahar ini ga pantas disandingkan dengan kue tart dan kawan-kawannya, haha. Atau seenggaknya sebelum pertambahan umur gue yang ke-19 sekarang. Entah setan apa yang merasuki rekanan kampus untuk merayakan seseorang yang bahkan pernah menjadi hantu bernyawa ini (atau daging berjalan, ah, sama saja).

Dan perayaannya pun ngga main-main, well prepared. Dramatis, dan jelas membuat gue sebagai seorang melankolis sempurna ini sampai capek harus nutupin wajah saking malunya. Dari tas sampai buku, dari topi sampai perjalanan ke kawah putih. Gue sangat menghargai itu semua walau memang mungkin tidak nampak ya? Maafkanlah gue yang memang terlalu jaim ini. Memperlihatkan perasaan secara eksplisit itu haram hukumnya buat gue. Secara verbal dan gesture gue mungkin ngga bisa mengutarakannya dengan baik. Tapi lewat tulisan, gue bener-bener berterima kasih sama kalian yang mau repot-repot mempersiapkan itu semua. Seorang bijak pernah berkata, “Buatlah seseorang senang hari ini, maka kau akan membuatnya senang 20 tahun kemudian saat ia mengingat hari tersebut,” ya. 20 tahun lagi gue akan tersenyum lebar mengingat hari ini, yap.

Satu lagi, boleh kan?

Gue introvert murni, tidak bisa mengutarakan pendapat dengan baik, plus cara bicara gue yang ngambang bin burem ini. Banyak hal yang ngga bisa gue sampaikan dengan baik. Basicnya gue susah bergaul. Walaupun ngga setuju dengan Freud, tapi sepertinya kalau kepribadian itu tidak bisa dirubah benar juga, mungkin. Kalian tahu? Sulit sungguh susah memperjuangkan diri untuk meyakinkan bahwa seseorang itu sudah bisa disebut teman. Kenal dengan orang tentu banyak. Tapi yang bisa gue anggep teman, sedikit. Setiap kali gue menggunakan kata itu (teman), itu karena gue ngga bisa menemukan kata substitusi yang dapat mewakili kata tersebut. Pengalaman main teman-temanan gue sebagian besar buruk sih. Haha.

Sejauh inipun gue susah untuk merasa kalau gue bukan orang luar. Yah, outsider, sampai hari akhir tetap outsider. Bergerak dalam grup itu berat, terutama untuk orang dengan prinsip prepare for the worst macem gue. Pikir negatifnya dulu, positifnya ilang kemana tau. Menyenangkan kah cara hidup macam ini? Ngga. Terlalu banyak yang dipikir. Pastinya, gue ngga ada didalam lingkaran kalian, tapi juga ngga ada diluar. Bias. Oh ya, tertawalah, hal sepele macam ini aja pake dibahas. Mungkin besok, mungkin minggu depan, tahun depan, atau barangkali beberapa tahun lagi. Gua akan masuk :).

Akhirnya, selamat tinggal 18, satu tahun ini akan gue usahain simpen di memori, atau seenggaknya ada pensieve ini yang bersedia menampung. Dan 19.

Selamat Datang.


Smile, Please.

Filed Under () by Pitiful Kuro on Saturday, March 14, 2009

Posted at : 10:46 PM

Harus mulai darimana nih? Bingung. Alrite, gue coba mulai dari garis besarnya ah. Kita, manusia, human being, umat manusia. Lahir ke dunia yang diawali dengan hubungan dua orang yang kita namakan orang tua. Kita, manusia, hidup, bernafas, makan, reproduksi dan berpikir. dalam hidupnya di dunia, manusia pastinya akan menemukan berbagai macam hal, kejadian. Yang senang, yang sedih, yang menggembirakan, bermuram durja, dan banyak lagi. Sering kali, manusia juga mendapatkan berbagai macam masalah yang tentunya beragam jenis dan tingkat kesulitannya. Tapi hei? Kita berpikir, kitalah yang menentukan seberapa besar tingkatan masalah tersebut, semuanya hanya tergantung dari bagaimana kita mempersepsikan masalah itu aja kan?

Ada beberapa macam orang dilihat dari segi penggunaan persepsi ini. Yang satu, menggunakan penyederhanaan dalam menghadapi masalahnya. Well, ini tipe orang yang gue suka. Mereka percaya kalau-kalau masalah yang datang kepada mereka itu bisa di handle asalkan pengoptimalan fungsi otak yang dinamakan berpikir itu dilakukan. Mereka ngga akan down hanya karena ditolak cewek, mereka ngga akan misuh-misuh kalau mereka ketimpa musibah, dan tentunya tipe orang macam ini ngga akan mudah untuk jatuh. Dalam beberapa hal, gue suka menggunakan tipe persepsi ini, yang dipikir udah kebanyakan, jadi penyederhanaan sesuatu macam ini sangat membantu deh. Misal aja, gue yang sekarang bener-bener masa bodo soal urusan orang tua. Mau mereka ngga kontak lagi, mau yang satu ngilang, mau yang satu nikah lagi, gue angkat tangan. Bukan hal besar, ah, toh gue seenggaknya pernah merasakan berada didalam keluarga yang lengkap, itu cukup.

Orang yang macam ini biasanya jago nutupin berbagai macam hal. Karena mereka menganggap bahwa menceritakan atau berkonsultasi akan persoalan remeh itu cuma buang waktu, “buat apa? Masalah kecil aja kok ampe ngadu-ngadu?” there. Tapi tentunya, seperti sifat manusia pada umumnya, limit pun ada pada diri mereka. Disaat sudah mencapai batas dimana mereka bisa menggunakan penyederhanaan persepsi ini, mereka akan bocor juga pada akhirnya. Weits? Bocor disini juga bukan dalam konteks negatif, kan? Toh pada dasarnya manusia itu memang makhluk sosial, hm? Anak kelas 1 SMA juga tau kalau manusia itu ngga akan bisa hidup tanpa manusia lainnya. Atau, yah, saat mereka menghantam suatu persoalan yang mereka tidak bisa anggap remeh lagi.

Yang kedua, dari beberapa paragraf diatas, pasti jelas, apa yang tipe kedua. Tepat! Andaikan anda menjawab mereka-mereka yang mempersepsikan persoalan secara gamblang, maka nilai 100 untuk anda. Jah. Berkebalikan dengan tipe sebelumnya, mereka akan secara eksplisit menunjukkan bahwa mereka sedang ada masalah. Kegagalan dalam memanagae persoalan tersebut, serta ketidakpuasan setelah pelampiasan dilakukan terhadap subjek katarsis, membuat seseorang yang sedang bermasalah mengeksposnya luas-luas. Tipe-tipe yang mudah dijadikan contoh yaa, status-status di Facebook atau Y!M. yang sering berkecimpung *halah* di kedua sarana interaksi tersebut pasti ngga jarang akan menemukan status yang bunyinya negatif dan pundungan, toh? Yeah, itulah mereka.

Gue juga ngga bisa bilang hal ini buruk, toh gue juga pasti pernah begitu kan? Tipe-tipe seperti ini muncul karena beberapa faktor yang mempengaruhi.

Pertama, minimnya limit managemen masalah serta persepsi yang digunakan dalam menanggapi masalah tersebut. Ini bergantung dari ketahanan mental dan sudut pandang yang digunakan saat masalah itu datang. Semakin tidak siapnya mental untuk menghadapi suatu persoalan, maka makin besar pula persoalan yang dirasakan oleh seseorang.

Kedua, setelah saringan pertama (kekuatan mental, dan persepsi) bocor, maka saringan keduanya adalah katarsis. Pelampiasan kedalam berbagai bentuk. Setelah managemen permasalahan yang gagal, sikap apa yang kita namakan pundung akan terlihat. Nah, disini katarsis akan berperan. Entah bercerita/curhat dengan orang yang sekiranya dekat atau dipercaya, atau pelampiasan ke suatu kegiatan. Kebanyakan orang akan memilih untuk bercerita, namun, ada pula sekelompok orang yang merasa tidak menemukan katarsis yang pas untuk melampiaskan apa yang dirasakan. Jadi, mereka akan cenderung mencari pelampiasan diluar bentuk bercerita, biasanya berbentuk kegiatan. Entah itu olahraga, mengkonsumsi barang tertentu (kopi, atau rokok misal), dan lain-lain.

Poin kedua tidak ada masalah, justru, apabila hal dalam poin pertama tidak terjadi, maka point kedua juga tidak akan terjadi, toh? Andaikata limit serta persepsi dapat dikendalikan dengan maksimal, maka tidak akan ada kata pundung terdengar. Jadi? Apa sih yang menyebabkan minimnya limit dalam menghadapi sebuah persoalan? Tolak ukur kedewasaan seseorang? Pengalaman? Minimnya trial and eror? Gue engga habis pikir, bagaimana bisa ada seorang perempuan yang jadi pundung level mahadewa saat mengetahui cowo incerannya jadian sama cewe lain. sampe sekarang pun gue masih engga mengerti kenapa bisa sampe begitu. Yeah, orang beda-beda, gue ngerti, cuman yaa, gue aja ngga sampe gitu-gitu amat kok pas cewe yang gue suka malah suka ke cowo laen *lah, curcol masa SMA*.

Kita, apalagi yang bisa membaca tulisan ini, pastinya sudah diberi akses yang luar biasa, kan? Kita bisa mengakses internet, seenggaknya punya komputer, dan mampu bayar listrik. Dengan segala kemapanan itu, baguskah andaikan kita masih berpundung-pundung ria lagi karena permasalahan yang katakanlah, sebenernya mudah tapi dipersulit. Banyak aja tuh orang yang mengklaim dirinya orang paling malang didunia, kalo istilah yang sering gue sebut tuh, “matahari ngga akan bersinar untuk dirinya seorang,”. Merasa tidak ada solusi yang baik bagi dirinya, merasa ngga punya siapa-siapa untuk berbagi *aw aw, tertohok*, dan selalu kesepian. Masih banyak orang semacem itu. Padahal, masih banyak orang yang kurang beruntung, yang makan pun hanya nasi basi, yang bertahan hidup hanya dengan modal belas kasih orang lain, masih ada. Dan mereka tetap menjalani hidup mereka sampai sekarang.

Yah, tulisan ini gue dedikasikan untuk seseorang, dan tentunya, sebagai manusia yang egois, gue dedikasikan ke diri gue sendiri juga. Banyak hal positif, banyak hal yang bagus kok dalam hidup ini. Kalau mau menyempatkan waktu, tengoklah ke langit di waktu siang, maka matahari masih ada disana dan siap menyiram kita dengan cahaya ultravioletnya. Keindahan bukan hanya milik malam, men, yah, gue masih berpendapat kalau langit itu hanya bisa dinikmati dalam waktu malam aja sih. Haha, sebuah pendapat yang harus diubah ya? Yup, bersama kita bisa..

Rokok bisa membuat lupa sejenak akan masalah
Kopi bisa membuat otak terpacu dalam memikirkan persoalan
Bir? Well, belum pernah nyoba. Mungkin membantu, eh?

Tapi, itu semua toh ngga lebih dari penguluran, kan? Lo pasti berpikir begitu, dan gue pun sama. Tunduk kepada waktu, beruntung kalau-kalau si waktu memberikan pencerahan berupa solusi berpikir akan apa yang kita persoalkan, kalau ngga? Mungkin akan terasa membaik seiring dengan berjalannya waktu, tapi engga,

time is a healer, but you can never get over the pain

Somewhere Over The Limit

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Monday, March 09, 2009

Posted at : 12:27 AM

*wung.*

Pulang, menapaki jalan sempit gelap yang itu-itu lagi. Phew, kondisi saat ini, sedikit gemetar di bagian kaki, kayanya. Rumah kos mulai tampak memenuhi retina, dan dalam hitungan ke tigapuluh, gue udah duduk didepan komputer. Sementara start up, gue memasang alat yang sedari tadi gue kangenin pada tempatnya, pemanas air. Yup, sudah dipasang.

*gelas ke tiga*

Ada sesuatu yang baru aja gue sadari. Yaitu, perbedaan antara rokok dan kopi. Gue sih mengira secara keuntungan dan kerugian mengkonsumsi kedua benda ini sama aja. Toh gue juga udah mencoba keduanya—yang mana masing-masing itu cukup intens, dan sepertinya gue menganggap kalau kedua benda yang orang bilang banyakan negatifnya ini berefek sama. Aih, mari gue jelaskan dari sudut pandang tidak kapabel ini.

Buat gue, kopi dan rokok itu mempunyai kegunaan yang sama. Membuat kita (atau mungkin, gue lebih tepatnya) bisa berpikir jernih, dan bisa menetralkan pola pikir terhadap masalah ke dalam posisi yang lebih tenang. Yea. Itu betul. Disaat gue lagi galau-galaunya, baik rokok maupun kopi bisa memberikan sesuatu yang ngga bisa hal lain berikan. Katarsis terselubung, atau katarsis satu pihak, gampangnya, serasa menceritakan beban kita ke sesuatu bentuk yang tidak eksis dan tentunya memberikan sensasi yang nyaris sama besar seperti kita benar-benar telah curhat kepada seseorang. *ehem, empat*. Namun gue menemukan perbedaan yang cukup besar diantara kedua katarsis semu ini.

Pada rokok. Ini yang biasa dijadikan kebanyakan orang sebagai sarana untuk melupakan masalah mereka. Sensasi dari merokok, hati terasa tenang, kepala rasanya enteng, dan pikiran jadi lebih jernih daripada biasanya, serta, daya konsentrasi sepertinya juga melonjak tajam beberapa level. Wow, menyenangkan rasanya ya? Sangat solutif sekali kan? Jadi jangan heran andaikata banyak orang yang memutuskan untuk merokok dengan alasan “bisa melupakan masalah,” atau “kayanya, pikiran jadi lebih tenang aja gitu,” hm, jangan heran. Tapi dibalik kesemua keuntungan tersebut, gue pribadi merasakan kekurangan dari merokok. Oh ya, tentu ada kekurangannya, kan? Ngga liat tuh di bungkusnya? Jantung, kanker, gangguan kehamilan and so on and so on. Banyak. Tapi itu untuk orang pada umumnya. Bagi gue, justru kekurangan dari rokok itu ya tadi, kepala jadi berasa lebih enteng dari biasanya, dan gue kurang suka. Gue lebih milih untuk merasa pusing dan kepala serasa berat daripada merasa kepala ini jadi enteng gila-gilaan—yang mana, justru itulah yang dijargonkan orang-orang yang merasa memiliki keuntungan dari menghisap barang terkutuk ini “kepala gue jadi berasa enteng,”.



Plus, kekurangan lain dari merokok bagi gue pribadi. Merokok itu hanya memberikan sensasi tenang (yang bahkan, rasa tenangnya itupun ngga enak buat gue) sesaat. Tengok dua tiga jam setelah sesi merokok gue selesai. Maka akan ditemukan gue sedang meringkuk di kasur, kepala pening luar biasa, perut mual, dan keseluruhan badan ngga enak. That’s it. Sangat semu. Lagipula, daripada membuat masalah terpikirkan dengan jernih, yang ada malah kita jadi lupa sama masalahnya saking jadi tenangnya pikiran.

*gelas keenam*

Lalu bagaimana dengan kopi? Hitam, pahit, manis, panas, dingin. Banyak macemnya. Sedangkan sensasi yang kopi berikan? Jantung berdegup lebih cepat daripada biasanya, mata terasa terang, dan dalam dosis yang lebih tinggi dapat membuat badan jadi gemetar. Woh? Daripada rokok, sepertinya kopi lebih memberikan sensasi yang lebih negatif ya? Sepertinya demikian. Soal keuntungannya, gue baru aja menyadari di perjalanan pulang dari gathering IH tadi, yea, ternyata lebih memberikan sensasi (yang gue anggep) positif. Jantung yang berdegup cepat, kepala yang serasa bertambah berat, dan ketidaktenangan yang didapat dari gemetar badan. Itu semua dikombinasikan menjadi suatu bentuk konsentrasi luar biasa yang membuat kita bisa memikirkan banyak hal dengan kepala super jernih. Kalau rokok memberikan ketenangan yang teramat sangat sampai kita lupa sama masalah. Kopi berkata lain, dia memberikan sensasi yang membuat kita teringat dan ingin menyelesaikan hal-hal yang sedang mengganggu pikiran. Jenius.



*ceklek*

*err.. ketujuh*

Lagipula, sampai detik ini gue masih ngga menemukan kenikmatan dari sebatang rokok. Hanya sensasi ketenangan semu tadi yang gue rasa. Gue pun masih heran sama orang-orang yang begitu getolnya merokok. Sudah lebih dari lima bungkus rokok—atau sekitar enampuluh batang gue hisap, namun belum ada perasaan yang membuat ketagihan itu muncul. Tidak barang seujung kuku pun. Apa yang mereka cari sebenernya? Pelarian dari masalah yang buntu jalan keluar? Atau sekedar manifestasi rasa ingin menunjukkan kalau mereka adalah laki-laki sejati? Manapun deh.

Kita telisik lebih jauh lagi deh ya? Pertama dari kopi dulu deh, kafein yang menjadi ‘frontmen’ dalam kopi, dalam istilah bahasa Indonesia tertulis, kafein/kafeina yang mempunyai nama molekul C8H10O2N4 ini adalah zat racun yang terdapat pada kopi atau teh, dipakai sebagai obat perangsang peredaran darah dan sebagai campuran minuman. Sedangkan mengutip wikipedia,
Kafeina merupakan obat perangsang sistem pusat saraf pada manusia dan dapat mengusir rasa kantuk secara sementara. Minuman yang mengandung kafeina, seperti kopi, teh, dan minuman ringan, sangat digemari. Kafeina merupakan zat psikoaktif yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Tidak seperti zat psikoaktif lainnya, kafeina legal dan tidak diatur oleh hukum di hampir seluruh yuridiksi dunia.

Sedangkan yang satunya dibicarakan lagi, si rokok dengan nikotin sebagai andalan. Dari KBBI, disebutkan bahwa nikotin adalah zat racun yang terdapat dalam tembakau, digunakan dalam perobatan serta untuk insektisida (WTF!).

*walah, kelewatan banyak, gelas kesepuluh sekarang..*

Dari dua paparan diatas, jelas kenapa kafein lebih berefek daripada nikotin. Soalnya di rokok ngga cuma ada nikotin sih, ada tar dan kawan-kawan, dan saya males memaparkan satu-satu. Kafein, merangsang peredaran darah, membuat pengkonsumsinya timbul perasaan agak-agak cemas, mungkin itu yang menyebabkan ada rasa ingin menyelesaikan pikiran-pikiran jadi makin hebat, mungkin.

---

Walau dikasih kecap, harga diri ngga bisa dimakan.
Biar pake teh botol sosro, prinsip itu sama paitnya.

Beh.. ngga heran orang-orang justru malah sebel kalau kenal baik sama gue. Ga bisa menyampaikan maksud, kebanyakan aturan, ngga tau terima kasih, kepala batu, dan lain-lain. yak. Grao.

Kenal Gak? dan Beberapa Soal Film.

Filed Under (, ) by Pitiful Kuro on Sunday, March 08, 2009

Posted at : 12:28 AM

Rasa ingin menulis memuncak miris, menggelitiki setiap relung sayap kanan otak sinis. Gak mau tau, ego harus dipuaskan. Yaho.

Oh iya, soal dunia kampus deh. Sejujurnya beda dari apa yang gue bayangkan sebelumnya soal kehidupan sebagai mahasiswa di kampus. Testimoni serta persepsi yang gue terima saat gue SMA tentang kampus itu lumayan beda dari yang sekarang gue rasain langsung. Kalo dulu, orang-orang pada bilang kalau segala yang berhubungan sama kampus itu santai, serba nongkrong, maen-maen, dan harus pinter-pinter jaga diri supaya pikiran ‘alaah, kerja dulu aja dah, ntar kuliahnya lanjutin lagi’ ngga merasuki otak. Tapi ngga begitu-begitu amat kok. Santai sih santai, jadwalnya bisa dikaretin ampe melar, tapi tugasnya ngga bisa dipandang remeh, sekalinya gampang ya gampang, tapi kalo lagi susah-susahnya tuh bakalan bikin begadang. Plus, untuk orang-orang yang patuh aturan, kampus itu ngga bisa dibilang santai sama sekali. Ga boleh absen banyak, tugas dikumpulin, atau ngga lulus dan harus mengulang lagi mata kuliah itu tahun depan, wew. Ancaman yang bikin merinding kan?

Soal sosial kampus, ngga seindividu yang dulu gue kira. Masih banyak aja tuh yang bersedia membagi contekan jawaban saat UAS. Ngerjain tugas juga masih banyak yang kerja sama menyelesaikannya bareng. Bayangan horor hilang seketika, yah, seenggaknya di tempat gue kuliah ngga seserem itu kok. Dosennya juga variatif, ada yang kaku sampe bikin mata belo karena ikut suasana tegangnya, ada yang jago lullaby sampe bikin yang begadang jadi pulas, dan ada juga yang murni dosen: presentasinya oke. Tapi ngga sedikit juga yang nambah-nambahin intermezzo disela-sela penjelasannya, misal aja ada dosen yang banyolannya over dan emang jago ngelawak (astaga, dosen apa badut?), ada juga yang pemain teater jadi-jadian, dan ada juga dosen yang mampu ngebaca situasi dengan sangat-sangat baik. Variatif.

Praktisnya, kampus gue sebenernya cukup menyenangkan kalau diliat dari segi pengajaran. Tapi apakah hal yang membuat gue kurang sreg sampe-sampe pengen ikut ujian lagi? Well, yea, sistimnya kurang teratur. Mungkin karena jurusan yang tergolong baru, jadi masih banyak diperlukan penyesuaian-penyesuaian agar lebih baik lagi. Hm hm, dan gue bukan orang yang cocok untuk membangun sesuatu dari nol, lebih bisa gue lakukan andaikata melanjutkan tradisi yang udah ada sebelumnya. Haha. Hal itu juga yang sempet membuat gue dikuliahin panjang lebar ampe kuping panas sama senior gue waktu masih di rohis.

Pindah oke, ngga pun juga gapapa.

---

Gue punya kepercayaan yang bunyinya “semua orang itu sama menariknya, hanya soal kita mengenal mereka lebih baik dari kebanyakan orang atau engga”. Banyak orang yang gue kenal sekarang—dan menrik—pada awalnya itu gue anggep biasa-biasa aja. Palingan si A cuma anak SMA biasa yang gila fashion, atau si B? Yaah, palingan anak gaul biasa dengan serentetan pesona tebar pesonanya. Tapi nyatanya engga, setelah beberapa saat berinteraksi secara intens, banyak hal yang awalnya engga keliatan perlahan nongol *halah, nongol*. Jadi tahu kalo si A itu ternyata pemikir yang luar biasa absurd dan unlogis, namun masih nyisain unsur kalo ada kemungkinan pikiran dia yang absurd itu jadi nyata. Dan si B? Ya selama ini gue tau hanya doyan tebar pesona doang ternyata menyimpan macem-macem ide yang bikin gue berdecak girang.

Nah nah, ada pengalaman sejenis? Untuk itu gue ngga bisa percaya dengan apa yang kita sebut first impression. Sekuat apapun impresi pertama yang gue tangkep dari seseorang, gue akan berusaha mengaburkannya sampe bener-bener bias. Tunggu beberapa waktu lagi supaya bisa ditentukan, apakah dia worth, atau tidak untuk diajak tukar pikiran. Tee hee. Dont judge book by it’s cover, basi, anak SD pun juga pasti udah pada denger istilah sejuta umat itu. Tapi mau dikata apa kalau nasib berkata lain? *lah lah*, nyatanya emang begitu. Cover-impresi pertama biasanya sangat bikin sesat. Contohnya gue misal (p.s: cuma CONTOH), kesan pertama gue tuh umumnya, “wah, cool nih, diem-diem aja”, atau “ih, kayanya gimanaaa gitu ya”, padahal dalem ati gue udah komat kamit “wanjred, gue salah apaan nih diliatin mulu? Baju? Ah, ngga kebalik kok!”. (n.b: cuma CONTOH).

Di dunia kampus pun gue perlahan menilik. Selain di tempat gue biasa interaksi ini (kalo di tempat biasa mah, udah lumayan jelas), gue mulai melihat beberapa orang yang sekiranya akan ‘hebat’ kalau bisa gue ajak interaksi, namun mungkin sulit, abisnya emang ngga ada variabel untuk mendekati orang-orang itu sih. Masa tiba-tiba ngga ada badai ngga ada ujan es (eh? Bandung ada loh kemaren, haha) gue nanya, “neng, kenalan dong” bisa digampar.

---

Another Side,

Gue nonton Kambing Jantan di bioskop. Oh yeaaah, gue tau reaksi elo berdua baca kalimat pertama paragraf ini tik, pi. Aha, hedonis? Pengkhianat? Yah, mungkin memang itu kali ya? Tenang, hanya penyesuaian diri, mamen. Jiwa gue masih jiwa-ngegembel-10-ribu-rupiah-saja-untuk-seharian kok *lol*. Sepedaan lagi? Yuuk, udah lama ngga jalan nih ya? *loh, malah curcol*.

Al rite. Kambing Jantan, enam maret 2009. Film garapan Rudi Soedjarwo yang merupakan adaptasi dari buku dengan judul hampir serupa. Yah, basicnya gue bukan penyuka film sih, apa yang harus gue komentarin? Secara genre, gue bisa bilang film ini beda sama film-film indonesia lain yang lagi mainstream sekarang. Dari story mungkin standar-standar aja, tapi dari genre, jelas beda. Komedi yang ditampilin disini itu bukan komedi anarkis dimana harus ada main fisik dulu baru jadi suatu bahan tertawaan. Ketimpuk sendal, kaki diinjek, ataupun tempelengan tiba-tiba. Film ini ngga memberikan itu semua. Film ini mengandalkan dialog-dialog untuk menyampaikan bahwa genre film ini adalah komedi. Dan itu bukan hal yang umum kan di Indonesia? Atau paling engga, gue anggep begitu deh ya.

Sayang terlalu banyak bagian drama-cinta-setengah-setengahnya. Yeah, bagian drama dari film ini nyaris sama-atau bahkan lebih buruk daripada film-film ‘lope-lope’ standar yang lain. Plus, semua pemeran wanita di film ini (minus ibunya) itu bikin eneg kalo diliat lebih lama lagi mainnya, ketawa, marah, nangis mereka itu terlalu berlebihan ah. Gue bisa ngasih nilai 6/10 buat film ini *halah, sok banget*. Biasa, cuman buat orang-orang yang mengincar tema komedi yang beda dari yang biasa kita liat, lumayan lah.

Masih enam maret 2009 kawan. Sepulang dari Kambing Jantan, ada rencana lagi untuk nonton film indie di France Culture Center—yang kebetulan deket sama bioskop pemutaran kambing jantan sebelumnya. Disana lagi ada pameran foto, bedah buku, dan pemutaran film yang kesemuanya itu bertajuk gay, lesbian, transgender and so on and so on. Phew. Pameran fotonya lumayan, sekali lagi nih, gue ngga berbasis fotografi, penilaian gue subjektif mampus. Beberapa ada yang bagus, dan beberapa pula ada yang sangat maksa sampe ngga keliatan kalo itu adalah pameran fotografi.

Soal filmnya?

Soooooooooooo. Gaaaaaaaaaaay. *yaeyalah*

Detik-detik pertama gue nonton itu merupakan adaptasi abis-abisan. Bayangin aja, dari awal udah ada dua cowok berbicara dengan intim yang bikin tengkuk meremang, dan dilanjutkan dengan ciuman mereka yang ‘hot’. Weleweleh, apakah dosa bagi saya untuk mempunyai rasa ingin ngakak berlebih saat itu? Tentu tidak. Tapi saya menghargai bahwa film yang saya tonton ini adalah semacem perayaan barudak homo bandung, dapat terlihat beberapa meter dibelakang saya itu duduk berpasang-pasangan cowo dengan mesranya, wakaka. Merinding saya, merinding. Demi menjaga perasaan para homo tersebut, saya menahan tawa saya.

Spinnin, muter, gasing, judul dari filmnya. Awalnya sih emang dipenuhi adegan ‘hot’ tanpa sensor yang bikin geli-merinding-eneg. Tapi makin ketengah, makin terasa konflik-konflik yang ringan, namun ada dalam jumlah yang banyak bertebaran di tiap sudut film ini. Sinematografinya lumayan, kayanya bener-bener ngga menggunakan program edit film untuk menambahkan efek sedikit pun. Pemotongannya tiap scene-nya juga kasar, namun menurut gue itu justru jadi nilai tambah tersendiri dari film ini. 6.8/10 kayany cukup deh. *lah, gedean nilai film homo*.

On The Night Like This.

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Tuesday, March 03, 2009

Posted at : 7:57 PM

On the night like this, there is so many thing i want to tell you..


Bermaksud istirahat karena kepala serasa dihantam KBBI, namun malah terbangun dengan cenut-cenut di bagian belakang kepala bertambah heboh. Pusing. Oh iya, hari sudah malam, ya? Entah berapa jam yang dihabiskan untuk memejamkan mata sekedar membaring. Seharian dirasa, bahwa ocehan dosen yang berbumbukan ilmu itu hanya omong kosong, pokoknya kepala pusing, dan tidak ada penjelasan lain yang dapat memungkiri cengkraman di dalam kepala ini. Aho.

Terbangun di awal malam, lihat deh, langit belum beranjak gelap, di tepi-tepian masih nampak tirai cahaya dari sang solar, namun uh.. dia sudah tak mau berbagi cahayanya lagi sekarang. Ganti, sekarang si Lunar yang mengambil alih posisi. Walau.. sial, lagi-lagi para awan jahat itu menghalangi pandangan dari tarian gemulai rembulan putih dibaliknya. Sekarang hujan. Tombak-tombak air menghantam lembut genting-genting tua berumur dengan anggunnya, menjadikan tolak ukut celcius menurun beberapa derajat, dingin loh. Ah, tapi tapi, justru keadaan begini yang menyenangkan. Dentingan, aroma, dan udara membuat suasana terasa dirumah—bahkan saat sedang jauh dari tempat kelahiran kita itu.

On the night like this.


Di malam yang seperti ini, rasanya banyak hal yang ingin diucapkan, kepada banyak orang, yang kita anti, yang kita puja, yang keberadaannya tak kecil. Hati seakan tergelitik untuk berbicara jujur, menelanjangi diri sampai tidak ada satu benangpun yang dinamakan harga diri tinggal. Berbicara habis-habisan, terkikik, tertawa geli, menangis haru, ataupun hanya sekedar simpul kecil yang mengembang halus di bibir. Tentang diri sendiri, tentang orang lain, tentang rasa yang tertahan, semua.

There is so many thing i want to show you..


Dingin. Kulit digelitiki lembut oleh sensasi kekurangan panas, iya ya, tidak ada yang dinamakan dingin, yang ada hanya kekurangan panas. Tangan mencari-cari, aksesori jaket pun dikenakan untuk menampik dingin. Rasanya seperti berpura-pura, tapi bukan, hanya berusaha membendung apa yang seharusnya mengalir, dan mana yang seharusnya tidak. Atau bukan waktunya. Spooky, malam ini cukup mengerikan, rasanya untuk berbicara jujur adalah hal yang mudah, semudah menandatangin absensi kuliah. Tapi untungnya tidak ada seorangpun di sisi, hehe, yang berarti menutup kemungkinan untuk berbicara blak-blakan selebar ember bocor. Malangnya.. atau justru beruntung ya.

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay…


Well, sayangnya tidak begitu.. Oh iya, kelupaan. Mungkin terlalu telat ya? Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali toh? Selamat Ulang tahun Re, 25 tahun ya? Wah-wah, seperempat abad. Sebaiknya undangan cepet-cepet disebar yak, atau tidak sama sekali? LOL.

Klana Graha Budaya

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Sunday, March 01, 2009

Posted at : 1:14 AM

Gue. Nista.

Anjir. Entri yang kemaren? Ngeluh-ngeluh setengah mampus, misuh-misuh ngga jelas cuma karena jatah makan dua ribu perak sehari? Nista. Sangat nista. Apa sih? Dua ribu itu juga duit, masih bisa dipake makan macem-macem, makan enak, sehat, cukup. Tapi kok gue malah ngeluh yang sebenernya ngga penting? Aww. Nista. Ya ngga? Seharusnya sih ngga andaikan bahan pembanding gue itu adalah orang-orang kebanyakan yang kehidupannya berada di atas garis kemapanan, tapi sayangnya kali ini ngga. Yeap, kemaren, gue pulang ke jakarta dan itu bener-bener disaat yang tepat. Trans7 di malam kepulangan gue itu memutar sebuah acara yang.. menarik. Tentang seniman ketoprak. Dan apa yang disampaikan disana itu, whoa.

Grup ketoprak yang menargetkan keliling pulau jawa dalam lima tahun, beranggotakan sekitar empat puluh orang keseluruhan. Hidup mereka? Jangan ditanya. Melarat. Penghasilan empat puluh orang sehari itu totalnya 75ribu, phew. Minus solar untuk diesel, bersihnya tiga puluh lima ribu, dan itu dibagi ke empat puluh orang, bayangin. Seorang hanya dapat sekitar 700 perak sehari. Untungnya pemilik grup ketoprak itu mau menutup gaji grup itu agar bisa mendapat seenggaknya dua ribu rupiah sehari. Dan jika ditotal, bapak pemilik grup ketoprak itu udah merugi sekitar Rp. 2 milyar. Wow. Lalu? Alasan mereka menggeluti pekerjaan yang bahkan penghasilannya ngga lebih baik dari pemulung ini apa? Dua ribu? Bahkan pemulung pun bisa mendapatkan lebih dari itu, kan?

Seni. Seni. Seni. Semuanya demi melestarikan seni masyarakat jawa terdahulu yang dinamakan ketoprak. Watdehel? Semuanya, semua penderitaan itu, menghina sistem pencernaan dengan makan mie tiap hari itu semua demi seni? Dua ribu perak sehari itu demi seni? Man, gue nista. Mereka mempunyai tujuan yang mulia, kan? Bahkan sampai ada yang harus kehilangan kedua tangannya saat melakukan pekerjaan tersebut, tapi mereka ngga mundur. Lima tahun yang ditargetkan pun baru berjalan di angka tiga. Sisa dua tahun lagi misi pelestarian ini mereka janjikan untuk selesai. Gue yang saat itu menonton hanya bisa berdecak kagum, melongo, dan berusaha menampik segala informasi yang bikin miris jauh-jauh dari daya nalar. Terlalu gila. Saat itu gue langsung teringat masa-masa yang gue anggep “susah” beberapa hari yang lewat. Dan yah, tepat di detik itu gue merasa ‘penderitaan’ yang gue alami itu bener-bener nista. Katakanlah setara, dua ribu untuk gue, dan dua ribu untuk mereka, gue mengeluh, dan mereka ngga, nista? Pasti?

Sekarang apa? Akankah muncul ekspetasi-ekspetasi yang biasa muncul di film kelas teri untuk melengkapi kenistaan gue? Dengan bunyi, “aiih, ngga lagi deh akyu ngeluh-ngeluh.. blalala”. Gitu? Well, maunya, tapi karena alur seperti itu udah bisa ketebak, jadi sebaiknya hal macam itu dihapus sajalah. Gantinya, mungkin gue harus bersyukur ngga dilahirkan di keluarga yang bebal terhadap rasa-rasa yang tadi gue rasakan, semacam miris saat melihat ada orang yang susah, dan tentu selalu meminimalisir taraf hidup agar setara dengan lingkungan sekitar, yah, itulah keluarga menyebalkan dimana gue lahir. Baguslah, gue ngga akan berjengit naik KRL ekonomi, ga akan ribut saat baju gue kena lumpur, dan tetap berusaha menghadapi kakek-kakek yang narikin celana gue berharap 1000 perak tanpa perasaan merendahkan.

***

Oh ya, saat gue pulang dari Bandung ke Jakarta kemaren, ada hal yang ngga biasa yang gue temukan di perjalanan. Yeap, gue sebangku sama cewe. Padahal seumur-umur gue dapet bangku tuh sama bapak-bapak atau oom-oom dan pasti, kalau baunya ngga minyak nyong-nyong yang bikin kepala berdenyut hebat, pasti bau gosong-kecut yang menguar, kali ini lain, bau shampoo yang khas. Whew, tadinya udah salting duluan, siap-siap dengan posisi terbaik biar ngga keliatan konyol dan segala macemnya. Karena siapa tau list di phonebook gue bisa nambah (ASLI! Ini cuman becandaan). Dan disaat gue mau menyapa dia, sekedar berkenalan mungkin, Hpnya bunyi, dan diapun mengangkat—dengan anggun.

“EH GOBLOK BANGET SIH, KEMANA, WOI, UDAH MAU BERANGKAT! CEPETAN!”

*pats*

Dan gue pun memalingkan muka ke jendela, membatin, “well, kayanya ini akan menjadi sesepi perjalanan yang lain.”

***


Ah engga, ternyata dua jam kemudian gue terbangun dengan kepala bersandar di pundak itu cewe. Untungnya ngga ditampar, tapi malah dicengirin *ge er*. Walau alay, tapi baek juga, kacamata gue yang jatoh pun diambilin dan ditaroin di kantong gue. Aha.