Skinpress Demo Rss

Nda Ngumplukke Balung Pisah

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Thursday, February 12, 2009

Posted at : 11:58 PM

Lagi-lagi gue terbangun dan bingung, soal waktu, soal tempat. Bahkan sempet-sempetnya panik dan mempertanyakan kasur siapa yang gue tiduri kali ini? Tentu kasur gue sendiri, kerusakan otak sementara. Anehnya lagi, gue sama sekali ngga bisa mengingat hari apa sekarang. Tadinya gue kira rabu, yang berarti ada kuliah jam setengah sembilan, gue baru terbangun lagi jam setengah delapan, phew. Merasakan betapa ngantuknya mata, maka sms gue layangkan ke salah seorang rekanan untuk menyampaikan gue malas dan ngga akan masuk, yeah. Dan beberapa jam kemudian, gue tergoda untuk mengecek kalender yang ternyata menunjukkan hari kamis untuk tanggal 12 febuari. Dan ada kuliah pukul setengah empat, wah menyenangkan, ya?

Ah ralat, kalau pernah ditulis disini bahwa gue payah soal pemilihan kata secara verbal, gue mau mengoreksinya. Anjir, gue baru sadar, pak, bu, ternyata yang gue hasilkan dalam bentuk tulisan pun ngga jauh beda ancurnya. Yah, sedikit lebih baik daripada kemampuan ngomong gue sih. Tapi pastinya, masih parah. Buktinya? Tuh liat tulisan di entri sebelumnya, kata yang dipilih asal-asal seenak udel, pengulangan-pengulangan kata yang ga penting, dan terutama.. bertele-tele. Waduh, syok nih. Haha. Bohong kalau misalkan gue mengatakan tidak punya latar belakang sastra sama sekali. Nyatanya, ibu gue adalah seorang guru Bahasa Indonesia lulusan sastra Indo di UNJ. Seorang tukang bikin puisi yang aktif saat bergabung sama pecinta alam. Aih, seharusnya dengan pertimbangan bibit itu, gue punya seenggaknya kemampuan nulis lah, tapi ini ngga. Mungkin gue kena kutuk. Iya, gue kan selalu mencerca setiap puitisi yang mencoba mengekspresikan diri mereka melalui karyanya masing-masing, tapi gue malah bereaksi-ngerut-kening. Dan hasilnya, dewi bahasa marah lalu mengutuk gue, aha, ngaco to the core.

Sebabnya? Emm, biarpun gue punya darah sastra yang mengalir deras di vena, gue ngga pernah mendapatkan didikan sastra tersebut. Si ibu, yang notebene adalah seorang pekerja, jadi ngga punya waktu untuk mengarahkan gue ke bidang yang sekiranya dia inginkan untuk gue ambil. Hasilnya? Gue ngga pernah punya cita-cita valid pemberian darah gue sendiri. Sebenernya gue ngga punya masalah sama yang namanya puisi mau se-alay apapun bahasanya—secara personal. Tapi gue pernah hidup di lingkungan yang.. Ehem.. katakanlah menjunjung tinggi kelelakian, semua masalah bisa diselesaikan secara fisik, dan logika. Sehingga bentuk katarsis seperti pelampiasan pada bahasa yang kita kenal dengan puisi, cerpen, novel, atau penumpahan emosi kedalam kertas dalam bentuk apapun, sukses gue pandang sinis akibat lingkungan.

Itu kejadian kira-kira waktu gue SMP, dan itu cukup mempengaruhi gue sampai sekarang gue mengetik ini. Memang, gue percaya Gnosis Sanguinis, sebuah bentuk ilmu atau sifat yang ngga bisa kita dapatkan dengan pengalaman hidup, hanya bisa didapat dari darah. Dan darah yang gue maksud disini tentu Ibu gue, seorang sastrawan setengah jadi yang dikonvert ke bidang keguruan. Nampak jelas kalau-kalau kegilaan beliau soal sastra waktu muda menurun tajam ke gue. Sangsi andaikan gue suka sastra dari apa yang gue alami, mengingat dari umur lima tahun gue udah doyan baca Dragon Ball, bukannya Kucing Bersepatu Boot.

Bukan cuma sastra, darah gue menggelegak setiap kali ngeliat siluet gunung dari kejauhan. Si ibu yang merupakan dedengkot pecinta alam di kampusnya, si inosen berhati besi berkepala batu—atau seenggaknya itu yang gue tangkep. Didikan yang beliau terima dari keluarganya bukan sekedar wacana ringan pengisi rubik gosip di koran merah. Hidup sebagai anak perempuan di keluarga dengan delapan anak. Plus embel-embel hidup dibawah garis kemelaratan ngebuat dia menjadi orang yang sangat keras, terlalu keras malah. Dengan segala watak dan lingkungan itu, dia jatuh cinta dengan kegiatan pecinta alam. Jauh dari rumah, menjelajahi gunung, manjat tebing, dan bahkan nyasar berhari-hari dan bertahan dengan makan daun singkong. Yang seperti itulah yang membuat dia merasakan hidup. Tepat. Itu juga menurun ke gue

Tapi jelas, dia punya mimpi, dia punya egoisitas sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri yang melayani keluarganya dengan baik, simpel seperti itu. Tapi sayang, mungkin gue dan tentunya si bapak ngga bisa memenuhi ego beliau. Sekarang pun, dia sedang menyusun plan kesekian untuk memuaskan egonya, sebuah keluarga bahagia yang lengkap plus rumah kecil tiga kamar. Gue hanya manut-manut, udah ngga peduli lagi mau bagaimana jadinya, terserah, yang penting ego beliau terpuaskan, dia bahagia, dan itu cukup. Berkali kali gue bilang, “Ngga usah tanya pendapat, cukup jalanin yang ma’ mau, kalo-kalo bisa bikin ma’ seneng, okelah, jalanin!” tapi emang kepala batu, masih aja dia nanya terus pendapat gue. Ah ya, itu juga menurun ke gue. Lucu memang, seorang dengan mental baja pun masih ingin merasakan lingkup sosial yang bernama keluarga. Nyaris ngga nyambung, nyaris roman. Berasal dari keluarga yang cukup chaos mungkin mendorongnya demikian, delapan anak, satu rumah dipinggir kali, dan tidur udah kaya ikan asin dijejer. Ajaib itu kehidupan

Gue pernah diceritain, bahwa keluarga besar gue adalah keluarga yang sangat beruntung yang bisa selamat dari krisis ekonomi 65’. Saat itu kacau, bisnis anjlok, rumah dijual, dan akhirnya keluarga besar itu terpecah. Dan salah satu pecahannya, tinggal di bantaran kali. Di pecahan itulah si ibu tinggal. Perlahan, satu-satu dari delapan anak itu mulai gede dan akhirnya bisa melepas pecahan itu dari ujung tanduk, well, kaya sinetron ya? Dan sekarang, gue lah yang mewakili pecahan itu—walau ngga ingin, bentuk keluarga besar macem itu bikin ga nyaman. Gila hormat. Yeaa, gue yang bahkan mengurung diri di kamar pas lebaran ini disuruh beramah tamah sama sanak saudara? Tunggu kiamat. Keluarga Betawi, gue ngga suka sifat dominan mereka. Sok tau, tukang ngatur, nada bicara tinggi, dan hampir selalu merasa benar. Phew. Ah iya, tambah satu lagi, maniak ego! Bahkan sekarang udah memasuki tahun keempat gue melaksanakan aksi bisu dengan salah satu kakak si ibu, dan diapun begitu. Alasannya? gue cuma membela apa yang gue percaya, dan dia ga suka, marah, dan akhirnya diam sampe bego.

Gnosis Sanguinis, sebuah ilmu/sifat yang ngga bisa didapatkan dari pengalaman, seperti yang gue sebutkan sebelumnya. Kalau ada sifat yang diwariskan dari si ibu, lalu apa yang bapak gue wariskan ke gue? Sebut deh semua sifat nyebelin gue, maka itu berasal dari orang ini. Pesimis, masa bodo, over serius. Whew. Dia bukan tipe yang bisa diterima banyak orang. Janjinya sangat susah dipegang, pembohong kelas lele, dan manipulatif. Kontraktor yang aneh, beneran. Mau suksesnya kaya apaan juga, kantornya masih yang itu-itu aja, butut, sebagian masih kayu, setengah jadi dan masih banyak bagian yang belum disemen alus. Hobinya bukan nongkrong di cafe—cafe sih, cuman agak primitif, namanya warung kopi. Kopi kapal api, pekat, gulanya satu sendok favorit dia, ahaha. Kalau ketemu dia dan ngga mengenalnya, daripada disebut kontraktor sukses, pasti akan dikira pria paruh baya baru di PHK. Satu-satunya cowok yang gue kenal selama 18 tahun gue hidup yang ngga punya setelan jas sama sekali, mantep pak. Bisa nangkep? Yeah, kesederhanaan dia bener-bener nurun ke gue. Ada lagi, dia bener-bener bodoh, sangat! Ba-nget! Entah berapa kali dia udah ditipu sama temen kerjanya. Sampe-sampe kerjaannya pernah bangkrut total dan beralih bidang. Alasannya seinget gue, “Orang minta tolong, kalau ngga dikasih ya mati, masa ngga dikasih?” dan itu kata yang membeo yang diucapkan ke ibu gue setiap kali dia ditipu. Bodoh kan? Dan sayangnya, itu juga nurun ke gue—walaupun sekarang gue udah bisa memilah mana yang harus gue tolong dan mana yang ngga.

Sebagai manusia, dia sangat-sangat-sangat-sangat menyebalkan, tapi sebagai seorang bapak, dia sempurna. Terutama buat gue, ah. Banyak hal yang membuat gue ingin sekaligus ngga ingin seperti mereka. Pastinya sih, mereka bukan goal yang gue jadikan kiblat.

....

Dan say? Tau ga sih seberapa menyeramkannya otak kita berpikir? Apa lo mencuri ide gue dalam mimpi? Atau sebaliknya? Lol..

Lalu?

Dia bilang jangan Pamrih? WHoah, sayangnya saya orang yang profit oriented soal kehidupan sosial, man. Gelar dibelakang nama saya itu salah satunya Prg. Kepanjangan dari apa? Pragmatis, my beloved javanese sugar (halah).