Skinpress Demo Rss

Saat Ngedrop Itu Dipakai Untuk..

Filed Under (,, ) by Pitiful Kuro on Monday, June 08, 2009

Posted at : 11:22 PM

Yow.

Gue sakit, terhitung dari 19 Mei sampai sekarang. Dari sakit kepala ringan sampai memohon untuk habisi saja nyawa gue saat itu juga. Beberapa post sebelumnya juga memberitahukan hal demikian kan? Tapi siapa yang sangka gue sampai divonis Demam berdarah yang sepaket sama tipes oleh hasil tes darah keparat itu? Gue pun ngga menyalahkan dokter klinik yang keras kepalanya melebihi keras kepala gue untuk menyarankan gue di opname saja, oh sialan, rekor tanpa opname gue patah kan jadinya.

Terhitung tanggal 2 sampai tanggal 6 Juni kemarin, gue di opname, bukan pengalaman yang menyenangkan sih, tapi juga bukan hal yang nyebelin amat, it was fun. Awalnya, setelah dokter klinik menyarankan untuk di opname, Ibu langsung ngotot bawa gue ke Jakarta yang jelas-jelas gue tolak. Tugas banyak, UAS sebentar lagi, ngga mungkin gue meninggalkan kuliah dimana harusnya lagi masa-masa intensifnya kan? Tapi jelas, gue kalah. Dengan bukti autentik berupa hasil periksa darah dan keterangan dari dokter, gue ngga bisa membantah, dan saat itu juga gue langsung dibawa ke Jakarta dengan mengabari orang tertentu saja.

I've got a bad disease
But from my brain is where I bleed.
Insanity it seems
Has got me by my soul to squeeze.

Well all the love from thee
With all the dying trees I scream.
The angels in my dreams
Have turned to demons of greed that's mean.

Ibu, paman (atau sebut saja begitu), dan gue ke Jakarta naik kereta, tadinya mau travel, tapi udah terlalu sore untuk nyari travel yang masih jalan jam segitu. Sampai di Jakarta, gue langsung diboyong ke RS. Islam, masuk UGD, disini gue bener-bener ngerasa konyol, saat itu gue sehat, serangan demam tipes yang biasa nongol malem hari itu udah gue lewatin pas di kereta. Jadilah..

Gue dan Ibu masuk ke UGD, menghampiri resepsionisnya, gue duduk dengan tenang di bangku yang kosong, si Ibu ngomong sama petugas.. dan ujug-ujug..

Petugas: Kamu! Kamu yang sakit kan?
Gue: *sempet nengok kanan kiri* ee.. iya pak.
Petugas: Itu, tempat tidurnya, kamu tidur disana sampai ada pertolongan nanti!
Gue: *Bengong* Tapi saya sehat pak..
Petugas: TIDURAN!
Gue: Hyaaa..

Entah karena bawaan UGD yang selalu hectic apa hal lain, itu bapak-bapak kayanya jadi sadis dah. Gue naik ke tempat tidur khas UGD yang kecil itu, dan taukah pemandangan apa yang ada di kanan kiri gue? Di kanan, gue melihat seorang laki-laki mengerang-ngerang hebat, wajahnya pucet penuh keringet, selimutnya entah dua atau tiga lapis, badannya ngga tenang dan bolak-balik teriak-teriak “Ibuu”. Di kiri? Horor, ada seorang bapak-bapak umur 60an lagi diobatin kepalanya, mungkin karena jatuh, kulit pelipis, bagian alis dan kelopak matanya lepas, dia bukan ngerang lagi, menggelepar. Di depan gue ada laki-laki umur 20 akhir yang bolak balik muntah darah, mungkin TBC atau habis kecelakaan, soalnya dia bolak balik megangin kepalanya. Di sisi lain, gue melihat laki-laki dengan tangan bengkok, tulangnya menonjol keluar, dahsyat, ngilu kuadrat ngeliatnya.

Dan apakah poin inti dari kesemuanya? Gue lagi sehat-sehat aja, dan gue tiduran kaya orang bego diantara erangan-erangan dan banjir darah di UGD itu.. ha-ha. Lima menit kemudian ada dokter jaga yang memasangkan infus ke gue. Gue baru pertama kali diinfus, jadi ngga tau rasanya, tapi apakah yang namanya diinfus itu sebegitu serunya ya? Soalnya darah gue ngucur deres sampai ngebasahin sendal, taulah. Selesai pasang infus dokternya langsung bilang ke gue agar langsung dibawa ke kamar aja, dan tau gue dibawa pake apa? Kursi roda, ampun dah, padahal gue udah mohon-mohon ke dokternya kalau gue masih kuat jalan, bawa-bawa infus sambil lari juga hayuk dah, tapi katanya prosedur dan gue disuruh nurut, yaudah, dengan badan sehat seger, gue didorong sama suster. Sampe di kamar, gue langsung tayamum, menjama’ solat magrib dan isya.

Target gue sembuh secepatnya karena gue harus kembali ke rutinitas gue.. secepat mungkin. Karena itu, disuruh minum, maka gue minum dengan porsi onta, disuruh makan, maka semua makanan yang dikasih rumah sakit gue makan tanpa sisa, disuruh jangan banyak gerak ya gue diem aja di kasur ngga kemana-mana. Cuma satu, cuma satu saran rumah sakit yang gue tolak mentah-mentah, pake pispot. Oh no, itu mimpi buruk, gue lebih suka bolak-balik kamar mandi nenteng infus daripada harus pamer benda keramat gue kemana-mana, maap-maap aja dah.

Lima hari berselang, gue akhirnya bisa pulang setelah ngotot-ngototan sama dokter yang mantau gue. Trombosit udah naik, DB udah bukan masalah, tinggal tipes dan demam sintingnya yang dateng tiap malem. Rawat jalan gue rasa udah cukup, lagian juga udah ada beberapa tugas yang menunggu dikerjain.

Hal yang cukup rese di kepulangan gue dari rumah sakit adalah, ngga berapa lama gue sampai dirumah, mandi dll, gue kedatangan tamu yang (sama sekali) tidak diundang. Yea, siapa lagi kalau bukan Tika dan Rere, oh, Tika sih emang niatannya mau dateng, tapi yang satu lagi tuh yang ngga diarepin kedatangannya. Yah, pokoknya makasih banyak buat Tika, terutama Rere yang udah menyempatkan waktunya jauh-jauh dari Sukabumi ke Jakarta yang entah dalam rangka apa mau mampir ke rumah gue sekedar jenguk dan ketawa-ketawa geje (sumpah, beneran geje). Walau akhirnya gue usir dengan tidak hormat karena demam gue mulai naik lagi, tapi gue berterimakasih sebesar-besarnya atas waktu yang disisihkan untuk menjenguknya.

Minggunya gue balik ke Bandung, naek kereta parahyangan paling pagi, tujuannya sih supaya sepi, tapi kereta minggu itu sama aja ramenya kaya jam-jam lain di hari lain. Untungnya sih yang sebangku sama gue tau kemana, bebas dah nikmatin dua bangku harga satu bangku. Sampai di Bandung ada yang berbaik hati ngejemput untungnya, ehe, makasih. Selanjutnya, hari minggu itu gue habiskan dengan sangat menyenangkan pokoknya, walau cuma di kosan, tetep aja menyenangkan dengan berbagai sebab (khu).

**

Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s


Untuk beberapa orang, judul Breakfast at Tiffany’s mungkin udah ngga asing lagi ya, apalagi di IH ada seorang Sigi yang memperkenalkan sang malaikat Audrey Hepburn yang baik disadari maupun tidak, telah mempromosikan pesonanya kepada anak-anak IH yang lain. Itu judul film yang dia (Sigi) rekomendasikan ke gue dimana Hepburn berperan didalamnya. Gue pun mengusahakan mencari film tersebut, apalagi mengingat siapa yang merekomendasikan film itu. Gue download via youtube tanpa subtitel. Nyaho dah, udah jelas kalau Breakfast at Tiffanys adalah film yang isinya 95% adalah dialog antartokoh, sementara gue menonton itu tanpa subtitel, plus bahasa Inggris gue khususnya listening itu sangat ecekeble, jadilah, gue Cuma bisa kerut dahi waktu nonton.

Selang beberapa bulan, saat menyusuri toko buku untuk mencari bacaan tambahan di kala bosan, gue menemukan buku itu, Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s. Yeap, andaikata gue ngga bisa mengerti filmnya, kenapa gue ngga baca aja bukunya sekalian? Mumpung nemu. Gue beli dan gue baca. Dengan bayangan bahwa Holly Golightly adalah Audrey Hepburn (dan bukannya Raine Beau) gue sukses tersihir oleh dialog-dialog yang ada di buku itu. Kadang dialognya itu teramat panjang, bahkan bisa mencapai satu setengah halaman, tapi mungkin itulah gaya menulis Truman Capote, mengandalkan dialog daripada deskripsi, toh memang yang digunakan disini adalah sudut pandang orang pertama kan. Satu hal menarik yang gue dapat di novel ini, gue merasa (hanya merasa) menemukan darimana gaya tulisan Raine Beau berasal.

Gue merasa (sekali lagi, merasa) menemukan kesamaan antara tokoh Raine Beau dan Holly Golightly, bukan dari segi latar belakang, hanya pembawaannya. Pembawaan Holly yang humoris dan terkadang romantis entah kenapa gue rasa (ingat, merasa) tercermin didalam Raine Beau yang humoris (tapi sarkastis), dan romantis (tapi sinis). Atau apapun lah, gue hanya merasa begitu, anggap sajalah ini guyonan dari fans setia lo gi.

Alexandre Dumas Jr., Gadis Berbunga Kamelia


Kayanya ngga perlu ditanya lagi darimana gue mendapatkan rekomendasi buku yang satu ini. Tidak direkomendasikan secara langsung, tepatnya gue mencomot isi salah satu entri dari blognya Pradit yang ngebuat gue merinding di tiap paragrafnya sebagai rekomendasi. Entri tersebut memuat buku ini sebagai bahasan, dan gue menjadi amat tertarik untuk membaca dan mengalami hal yang sama dengan yang dirasakan oleh peresensi.

Ceritanya? Cengeng. Kisah cinta yang dikemas dengan sangat berlebihan, tapi gue suka. Gue suka bagaimana Armand Duval mencintai Margeurite Gautier dengan begitu murni, bagaimana Armand bisa meneteskan air matanya sebegtiu mudahnya kepada Margeurite tanpa gue menganggap Armand itu bukan laki-laki, mudah saja, mungkin Alexandre Dumas Jr. membawakan cerita yang begitu nyata tentang kemurnian cinta kepada gue dengan begitu apik. Bagaimana sebuah pembalasan dendam pun tetap ngga bisa gue liat sebuah pembalasan namun sebuah pernyataan cinta tak langsung yang diberikan Armand kepada Margeurite.

Gue mulai baca buku ini disaat gue lagi demam tinggi-tingginya di rumah sakit. Disela erangan manja anak laki-laki penghuni kasur sebelah, dan suara tee-vee yang sebisa mungkin gue hindari, gue membuka buku yang sengaja dibawa untuk mengisi waktu luan. Mungkin keadaan itu mempengaruhi gue, siapa tau, gue terlalu sentimentil saat mulai membaca buku ini.

Sampai titik ini, sampai gue selesai membaca buku itu, gue masih ngga bisa mempercayai bahwa di suatu tempat didunia ini ada manusia yang bisa mencintai seperti Armand. Gue akan menggunakan kata-kata najis disini. Dia bisa mencintai seseorang begitu tulus, sampai tadi gue bilang, dia menyakiti seseorang, membalas dendam tapi dendamnya ngga kerasa, gue hanya menangkap perasaan cinta yang tak tertahankan yang dimiliki Armand dari pembalasan dendamnya. Yang dia tetap menerima dan merawat Margeurite dengan begitu baiknya saat Margeurite datang memohon pengampunan. Dia begitu kehilangan sangat dikhianati, menangis. Terlebih saat ia mengetahui Margeurite meninggal dan ia tak sempat melihatnya lagi, yang pada bab awal gue hanya menaikkan alis membaca tingkah laku Armand yang aneh, pada bab akhir dan gue baca kembali bab awal lalu membaca apa yang tertulis disana, seketika gue paham. Dia adalah Armand Duval, seorang lelaki yang bisa mencintai dengan begitu luar biasa.

Awalnya, gue berpikir bahwa sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Armand. Pihak yang tidak mempunyai kekuatan dan harus mengalah saat pihak satunya ingin melakukan apa yang ia ingin lakukan, tidak punya hak untuk mengatur apalagi memerintah. Seperti Armand yang pasrah saat Margeurite kedatangan Duke yang menyokong pendanaannya. Armand tidak bisa protes karena dari segi finansial ia tidak dapat mengalahkan si Duke, ia harus menahan perasaan cemburu yang membakar otaknya, demi Margeurite. Ah, entahlah.

My friends are so depressed
I feel the question
Of your loneliness
Confide... `cause Ill be on your side
You know I will, you know I will

1600 word, entri kali ini dicukupkan sajalah sampai disini.. kalau kepanjangan, juga susah untuk jadi memoar. Kadang gue benci bergantinya hari, karena perasaan yang dipupuk pun akan tumbuh semakin besar tanpa tanya suka atau ngga, betul kan?

My friends are so distressed
And standing on
The brink of emptiness
No words... I know of to express
This emptiness

I heard a little girl
And what she said
Was something beautiful
To give... your love
No matter what

0 comment: