Skinpress Demo Rss

Konyol to The Core

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Sunday, June 14, 2009

Posted at : 12:28 AM

Katanya, gue kena karma.

Mungkin. Pada dasarnya gue ngga pernah meletakkan kepercayaan kepada hal yang di blacklist oleh anak rohis pada masa SMA gue, TBC katanya. Bukan karena rohis juga sih, gue terlalu rasional untuk percaya sama hal yang sejenis dengan takhayul itu. Ada mobil dijalan, maka jangan jalan di tengah-tengah, nanti ketabrak, simpel sajalah. Gue selalu heran kenapa orang zaman dulu selalu mau bersusah-susah mengarang cerita untuk menakuti anak agar mau mengikuti apa yang mereka inginkan. Jangan potong kuku pada malam hari katanya, kenapa? Karena nanti potongan kukunya bisa jadi kunang-kunang.. heh, sinting. Teori abiogenesis itu cuma berarti satu kata, konyol.

Katanya, selalu ada penjelasan rasional dari apa yang ditakhayulkan sama orang zaman dulu. Katanya jangan bersiul saat lagi mandi, nanti bisa jadi bego. Setau gue sih, saat bersiul, otot yang bergerak itu hanya otot bibir dan pengaturan nafas, paling banter ya keselek aer, bukan jadi bego—kecuali minum aer ledeng bisa bikin bego, laen cerita—nah nah, kalo begitu siapa yang bego? Yang bersiul, atau yang bikin ‘bersiul saat mandi itu bisa bikin bego’? Ada lagi hal yang menggelitik relung otak kiri gue, jangan bersiul waktu malem, karena ada tiga kemungkinan berdasarkan kitab takhayul populer, (1) bisa mengundang maling, (2) nanti ada uler dateng kerumah. (3) mengundang kuntilanak.

Poinnya, segoblok-gobloknya maling, sebisa mungkin dia akan mendatangi rumah yang sepi tanpa penghuni, dan bukannya rumah yang rame sama suara siulan, bener ga sih? Kecuali malingnya kaya di cerita-cerita 1001 malam yang cukup imbisil untuk mengatakan mau ke pesta topeng saat kepergok penjaga Baitul Maal (dan dia emang pake topeng untuk nutupin wajah), dan berdalih mau menjahit saat alasan pertama ngga dipercaya (dia bawa linggis yang diasumsikan sebagai jarum jahit). Oh, tolong.

Yang kedua, uler? Biarpun gue bersiul sampe jontor juga kalau gue bersiulnya di tengah kota Jakarta yang jalanannya bikin uler merinding buat nyebrang, gue jamin ngga akan ada uler yang dateng.

Yang ketiga, for sure, gue pernah saking penasarannya sama entitas paling doyan ngikik sejagat raya ini sampai bela-belain bersiul setengah jam di bawah pohon beringin paling angker di kampus jam satu pagi, hasilnya? Nihil. Yang ada gue kejang-kejang keausan ratusan meter dari kosan.

Pelajaran yang bisa diambil—selalu ada alasan rasional di setiap petuah? Maka buatlah dalih yang rasional pula, anak zaman sekarang udah terlalu pinter untuk dibegoin, sayang. Tapi sialnya, masih ada aja tuh yang percaya, yasudahlah, silakan aja.

Nah, apa karma gue?

Mata bales mata, darah bales darah, menampar pipi kanan orang lain, suatu waktu pipi kanan kita akan ditampar. Nah, konsep karma itu begitu kan? Apa yang gue lakukan ke orang lain dengan bunyi yang negatif, mungkin suatu hari hal negatif itu juga akan terjadi ke gue dalam bentuk yang lain. Oh ya, menyebalkan amat dan gue males untuk percaya walaupun gue mengalaminya sendiri dalam bentuk yang begitu konkrit sekarang. Masa bodo, nama gue salah satunya diambil dari nama batu, say, jadi salahkan nama gue kalau-kalau gue punya kepala sekeras batu. Gue. Tetep. Ngga. percaya

Kenapa?

Back to square one, gue terlalu rasional untuk percaya bahwa bangun siang = rejeki ilang.

Yang gue percaya, bangun siang = telat solat subuh.

**

Lucu ya?

Bagaimana satu kejadian kecil bisa membuat gue lari-larian sepanjang jalan penuh jemaah taat, terburu satu hal ece-ece yang kita kenal dengan nama kabar. Setengah sinting mencari tahu, berekspetasi kelewat bodoh yang ujungnya hanya bikin kepala sendiri berasap, memandangi kotak kecil yang biarpun kita goyang-goyangkan sampai gila juga ngga akan ada yang berubah. Oalah.. termakanlah gue sama omongan sendiri. Kalau sudah dalam keadaan begitu, kemana sisi rasional gue? Kemana logika konkrit yang gue bangga-banggain, heh? Tenggelam kedalam satu kata empat huruf dalam bahasa Indonesia yang sangat perlu gue sensor agar tidak terjadi perpecahan, demi kepentingan dan kerukunan umat, mengingat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, maka kata itu adalah..

****

Halah.. bodoh lah.

0 comment: