Skinpress Demo Rss

Nyeleneh?

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Saturday, January 29, 2011

Posted at : 1:47 PM

Penasaran gak, sama apa yang orang pikir tentang diri kita? Yah, se masa bodonya gue, jelas penasaran. Ketika gue melihat seorang bapak-bapak duduk di halte bus dengan tampang nanar memandang tanah, jemarinya menjepit djarum super dengan rapat, khusyuk menghembuskan sekali-sekali asap putih ke udara kosong, gue bisa berpikir banyak tentang dia. Entah apa, acak, sebuah deduksi bisa gue ambil hanya dengan sekelebat momen yang berlalu begitu aja di mata gue. Nah, kalau gue aja bisa memberikan pandangan tentang seseorang dengan padat dan singkat, padahal tanpa gue kenal baik sama orang itu, apa yang bisa orang pikirkan tentang gue yang begini? Penasaran dong.

Tinggal di mana masyarakat selalu memberi nilai sama apa yang kita lakukan emang membuat was-was, segala gerakan seolah dihitung poin, segala ucapan ada skornya, segala bentuk penampilan yang kita kenakan punya bobot tersendiri. Gue gak bilang jelek, kalau patokan-patokan ini gak ada, bisa-bisa orang berpenampilan Lady Gaga sliweran di Ciwalk nanti. Tapi agak susah buat orang-orang yang emang pada dasarnya nggak mau dibatasi sama yang namanya norma. Pada satu sisi, seorang motivator bisa bilang, “be what you wanna be, embrace yourself!” dan seseorang pun terpacu, “oh yeah, bener, gue mau ngelakuin yang gue percaya! Gue mau operasi ganti kelamin!” sementara, di sisi lain, para kambing liar itu ngerusuh di kampanye LGBT. Gimana nggak merinding coba? Kelingking setengah ngetrill udah di gampar.

Buat orang-orang yang macam ini, ya cuma ada dua pilihan. Menekan hasrat mereka, ikuti norma dan berusaha untuk ngikutin tatanan masyarakat yang ada. Atau, orang-orang yang nggak peduli orang mau bilang apa dan tetep menjalani hidup mereka dengan apa yang mereka anggap bener. ‘Oh yeah, gue gay dan gue bangga dengan itu, soal dosa urusannya cuma gue dan Tuhan yang bahas.’ Misal. Atau para seniman yang menganggap apa yang ia percaya ialah yang benar, nggak mau peduli se vulgar apapun bahasa yang mereka pake, semenjijikkan apapun, toh ini jalan seni dia, yang nggak mau apresiasi ya minggir.

Jelas gue bukan golongan yang pertama, tapi nggak cukup fundamental untuk sampai ke golongan kedua, seniman juga bukan. Jadi, kembali ke topik awal, gue cukup masa bodo, tapi nggak se bebal itu untuk nggak mengindahkan penilaian orang, kalau iya, gue gak akan se cemas itu dong di tengah kerumunan, sampe harus ngelakuin sesuatu biar gak gugup, ngerokok misal. Apalagi belakangan, makin ngerasa lama-lama kok jadi nyeleneh. Rasanya salah kalau gue memfilter apa yang gue pikir, jadi lebih sering maki-maki, apalagi di jalan. Makin terasa pas diputusin, ga bermaksud nyebut patah hati ye, wakakaka :p. mungkin karena stress, gue jadi lebih terpacu buat mikir nyeleneh, dan ga cuma dipikir, tapi ditulis dan dilakuin. Ha..

Jujur, gue menikmati pola pikir dan tindakan yang begini. Bebas, sebelumnya gue selalu memfilter apa yang gue akan omongin, terlalu takut sekiranya ada yang menganggap gue frik atau apalah, sekarang bahkan gue bisa berpendapat, kalau nggak suka, ya ngga usah liat, acuhin lah. Tapi yaa.. karena masih setengah-setengah, ada aja rasa ngeri—yang tadi gue sebut—apa sih yang mereka pikirin tentang gue?

Mblah.. makanya gue selalu ngeri sama yang namanya proses transisi. Serba gamang.

0 comment: