Skinpress Demo Rss

Menemukan Sebuah Genre

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Thursday, March 18, 2010

Posted at : 7:10 AM

Mungkin sebagian besar para moviegoers punya genre yang dijadikan favoritnya dalam menonton sebuah film, entah horror, komedi, thriller, atau suspense. Dan biasanya, film-film yang sesuai dengan genre favoritnya itu akan didahulukan melewati film-film lainnya. Contohnya aja, bude gue, dia fanatik ekstrim sama film-film yang berbau action, film-film action segala rupa dari jamannya Jean Claude Van-Damme, Steven Seagle sampai Matt Damon atau Channing Tatum di zaman sekarang selalu ia tonton. Dan film-film genre lain, mau seterkenal apapun, ga akan sanggup bikin lehernya nengok barang satu derajat. Duileh, yang namanya Avatar aja dia kaga ngeh (atau kaga mau ngeh?)

Menonton film buat gue itu gue pikir hanya kegiatan sampingan, hobi sekunder yang ngga penting-penting amat, karena fokus gue (dulu) lebih kepada apa yang bisa gue baca, daripada apa yang bisa gue nikmatin secara audio visual. Jadinya, gue selalu menerima aja setiap genre yang gue tonton, ngga pilih-pilih dan berusaha untuk selalu enjoy nikmatin. Lain dulu lain sekarang, semenjak pindah ke Bandung, gue jadi lumayan sering menyambangi bioskop, yah.. untuk seenggaknya menonton film-film yang box office lah, yang punya pamor publik, untuk sekedar membunuh waktu kosong gue yang emang lowong banget disini.

Kebiasaan yang mulai berubah ini membuat gue lebih selektif saat menyaring, mana-mana aja nih film yang sekiranya ngga hanya berakhir dengan gue tonton aja, tapi yang juga bisa memberikan cinematic orgasm. Kepuasan puncak saat menonton sebuah film. Awalnya sih berjalan dengan santai aja, mencari-cari dan coba menelaah mana nih, film yang bisa bikin gue merinding? Dan akhirnya gue menemukan genre yang mungkin akan menjadi genre favorit gue.

Ternyata.. film yang mengandung gore, violence, blood dan splatter tingkat sarap yang mampir di otak gue, menyindir-nyindir modula oblongata dan menyengat adrenalin untuk menenangkan diri gue yang kelewat kesenengan. Aneh, padahal gue kira, gue hanya akan tertarik dengan film-film dengan sinematografi sekelas lukisan, jajaran pemain papan atas yang bisa bikin gue ciut hanya dengan satu dialognya, atau grafis-grafis edan yang bisa bikin dunia khayalan jadi nyata. Tapi bukan tuh. Pernah denger Evil Dead? Nah, itu salah satunya yang menjadi kiblat gue sekarang.

Darah yang tumpah dalam jumlah riddikulus, potongan organ yang terbang kesana kemari, usus yang memburai, kepala yang pecah kaya semangka, dan tentunya, hero kelas B yang seakan Mary Sue (unbeatable) bawa-bawa gergaji untuk menghasilkan deskripsi-deskripsi diatas saat mencincang zombie-zombie tersebut. Urgh.. tempting. Daripada Batman atau Wolverine, gue lebih suka Ash (Evil Dead) yang menggergaji kepala pacarnya saat pacarnya udah kerasukan roh jahat di tiap seri Evil Dead. Atau Lionel (Braindead a.k.a Dead Alive) yang mencincang halus puluhan zombie hanya dengan pemangkas rumputnya.

Tapi jangan salah, genre yang (mungkin) menjadi favorit gue ini jangan disamakan dengan Twisted Thriller macam Saw atau Hostel. Horror dalam favorit gue adalah film-film ‘rendahan’ yang menjanjikan kesadisan frontal tanpa ba-bi-bu, tanpa mikir, tanpa make otak, dan yang gue butuhkan adalah beberapa batang rokok, kopi, dan popcorn yang bisa gue nikmatin sambil nyantai saat nonton.

Memang, baru beberapa film dalam genre ini yang gue tonton, tapi gue rasa, itu udah cukup untuk menstempel, bahwa gue memang jatuh cinta kepada genre yang satu ini. Sekedar referensi, film-film yang udah gue tonton itu, diantaranya:

Evil Dead
Evil Dead II: Dead by Dawn
Feast
Return of The Living Dead
Trailer Park of Terror
Braindead a.k.a Dead Alive
Toxic Avenger (ini mah cacat, sumpah)
Bad Taste

Sekedar informasi, dua film diatas, Bad Taste dan Braindead adalah film yang dibuat oleh Peter Jackson sebelum dia bikin Trilogi LOTR, yang panjangnya bisa bikin orang insomnia jadi ngantuk itu loh, dan sebelum badannya bengkak kayak panda seperti sekarang. Soal kualitas? Bad Taste itu seperti film yang scriptnya dibuat oleh anak kelas 6 SD dan di sutradarai oleh orang yang pernah menderita schizophrenia, belum sembuh total tapi sudah disuruh menyutradai sebuah film, hasilnya? Bad Taste. Tapi memang tujuan pembuatan film ini (katanya) memang mewakili selera murahan filmaker pada dekadenya. Entah ya..

Ah, lain kali gue mau review film-film diatas.

0 comment: