Skinpress Demo Rss

Yo Ho Ho And a Pint of Dets'

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, August 14, 2013

Posted at : 6:23 AM

Determinasi. Yakin gak? Pasti gak?

Sangkut paut sama golongan darah A, determinasi mungkin salah satu titik tumpunya, gandengan tangan sama perfeksionis. Karena ketika lo mau melakukan sesuatu secara sempurna sesuai dengan standar pribadi lo, pastinya lo harus punya determinasi. Yah. walaupun gue nggak percaya-percaya amat sama yang namanya sifat bawaan golongan darah, asik-asik aja buat ditelisik. Ngomongin determinasi dan golongan darah A, mungkin gue bisa dibilang orang dengan golongan darah A yang paling murtad. Level determinasi gue setingkat dikit diatas niatnya emak-emak bangun pagi cuman buat njemur kasur. Itu secara general. Gue punya determinasi, tentunya, tapi sayangnya lebih ngarah ke hal-hal insignifikan kagak penting.

Misalnya aja gue tiba-tiba inget sesuatu, tapi nggak secara keseluruhan, Red Dragon katakanlah. Seberapa keraspun gue berusaha inget, gue lupa siapa yang meranin Will Graham disana. Gue harus tau siapa dia, harus tau siapa yang maenin apapun caranya atau gue nggak akan bisa tidur malem itu, ato seenggaknya gelisah selama setengah jam kedepan. Determinasi kan tuh? Tapi iyap, kagak penting. Atau dalam bentuk keinginan? Kalau-kalau hari ini gue lagi pengen makan capcay, maka capcay yang bakalan gue cari, gak peduli ini udeh jam 3 pagi yang jelas-jelas kagak ada tukang capcay, tetep aja gue pengen dan harus dapet. Kalo kagak? Ya laper-laperan ria.

Determinasi tuh, tapi sayangnye kagak penting.

Gue punya ketakutan, dimana determinasi gue itu ditaro bukan pada tempatnya, pada hal-hal insignifikan. Sementara gue butuh itu di tempat lain. Contohlah. Nulis.

Lusuh, karatan, basi, kaku.

Itu yang keluar dari mulut gue tanpa suara kalau-kalau gue ngeliat draft separagraf tulisan yang baru aja gue bikin tadi. Enek. Gak enak diliat. Itulah gue, tulisan gue. Hasil vakum beberapa bulan kebelakang soal tulis-menulis bikin tangan gue jadi selemes sawi asin.

Mungkin kalau tau gue bakalan harus ngapus paragraf yang gue tulis berkali-kali kaya begini gue nggak akan berenti nulis dulu. Haha. Tapi toh udeh kejadian, apa mau dikata. Dan emang bener, sampe poin dimana kalimat ini ditulis, entah udah berapa paragraf yang gue hapus hanya karena nggak puas. Gue pun harus berhenti tiap titik, tiap pindah kalimat untuk nyusun kalimat berikutnya, yang mana dulu nggak gue lakuin. Cieh. Katanya sih writer’s block dan penyakit yang satu ini bakalan dateng lebih sering semakin lama kegiatan nulis lo ilangin dari jadwal. Bener aja.

Kalo gak ada capcay, makan determinasi aje kali biar kenyang.

An Image

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Thursday, November 15, 2012

Posted at : 10:13 PM



An image can be tricky, it’s not a personality, I might say, it’s what you want to show to other people. What kind of yourself? What kind of words you’re gonna use? What kind of motion are you gonna do? It’s an image, for my narrow side of perspective. I say, it’s right to be playing with those, since you can control it, why not making fun of it?

It’s practical, it may be changed during a certain circumstances as you like. Like, when you’re need a good brotherly image to stay sharp with your brothers, a garm-looking bastard to prevent some bandit reach your group, or a foul mouthed jerk without sense of consideration of what he’s going to say. It’s all fun to do and have their own benefit, depends on what kind of image you’re gonna use.

 Like a secondary invisible weapon that you didn’t have to carry, but always there on your pocket. An image is not a personality, you may changed it at one time and change it back on the later times, but you’re no the image you’re using.  An image is not something you use to adjust yourself with your environment. It’s not a form of conformity, or on the further notion, a survival method. It is not. Once again, it’s used for a benefit, your own benefit. Not because you’re afraid to be judged by others. Image is not a mask, that you’re using for deceiving others, to make people think what you want them to think of. An image is used when a certain people you know are known of who you really are.

It is tricky, which is which?

You’re using image for making people believe what you’re shown, but at the same times, it’s not meant to be deceiveng others. For a benefit, for fun. Maybe it’s the right words to play with it. Maybe not? I don’t really sure, It’s hard to get a definition with something that just comes out of a bollocks. Haha. You’re gonna play with yourself, with an audience of others, the show will success  when you see those faces changed, maybe shock, not believing of what they just saw or heard. Because it’s coming from someone that unlikely to do so.

Like now, l really love being foul mouthed, I just don’t know which part of it is fun when you’re gotten a disgust looks from others. Maybe it’s just that, those priceless expression might be the reason. Tho, someone gotta play a bastard when there’s only a good people in it.

Ritual

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Thursday, November 01, 2012

Posted at : 1:17 AM



One for tonight, another one for tommorow. It’s what I said to myself a few minutes earlier, it’s about cigarettes, I only have two cigs left. Even my tongue are burning with bitter and my throat is screaming in agony, I always need those cancer-infested-money-spender thing., no matter what. One for now, and another one for later, it’s simply because my morning is incomplete without a smoke, I can handle my morning without coffee, but not a smoke. A habit, you can say it’s a bad one, but not for me. Though, theres a good habit in me, my morning habit.

Yeah, my morning always start with a lovely sound of my phone’s alarm, an old one, it’s not too loud, but I always woke up with it. I turn on the water heater and heating my iron. Then I go to the bathroom. For a cold day, I only brush my teeth and wash my head, not a single drip of water touch my warm-over-night body. Well, I love cold, but not this kind of cold. If the weathers warm enough, I still ended burrito-ing my body over my blanket, still cold, a damn cold one.

When I finished my bath, my water for coffee is already boiling, get a cup and scoop a spoonful of coffee (usually Aroma, sometimes Jenggo). Pour the boiling water to the cup, wait one minute for the coffee to ‘cooked’ and then stir it gently. Then I do the ironing of my uniform with my coffee on the side, and a cig stick on my mouth, don’t forget about the music, Sore’s Somos Libres or Mata Berdebu always played on the winamp. When I got a little time left, I usually polish my shoes, I love shiny shoes, but I love polishing it more. Thanks to artofmanliness.com, now I have a different prespective about polishing. Like, a manly habit. (maybe.)

And done. I fully prepared to campus. While in fact, the ironing is not that big of a difference, I don’t know, since I was in a junior grade, my cloth always had a wrinkle in it, no matter who iron it. Some kind of magic.

Yeah. It’s my daily morning ritual that I’m proud of. That is why a cig is so important  I could save them for tomorrow. Still, mulut asem always the big problem in this saving problem.

Now I wonder, why I post this in english since my englishs grammar is so ecekeblek? The answer might be.. ngetes aje.

Sendokiran

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Sunday, October 21, 2012

Posted at : 3:13 AM



Jalan-jalan itu asik, ke tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya yang kadang tanpa tujuan, atau malah terencana. Penyebabnya bisa karena ada kesempatan, atau tiba-tiba kepikiran di tengah jalan pulang. Asiknya bawa temen, tapi nggak jarang juga sendirian. Walau kadang rasanya agak sepi, tapi justru itu yang kadang-kadang memang kita cari. Sendirian, waktu kosong yang disediakan untuk ngelamun, mikirin hal-hal remeh-temen selintas apa yang lewat. Penting juga nggak, apalagi urgen. Soalnya kita emang butuh sosialisasi, tap kadang juga butuh sendiri-sendiri.

Gue lumayan lama nggak pergi sendiri, kalau sendiri pun biasanya ke tempat yang emang familiar, warung kopi. Deket sama kosan, langganan disana hampir setahun, sama penjualnya udah colek-colekan, bengong pun bakal disapa ramah. Dulu biasanya cuma ngerokok di tempat yang agak jauh, nongkrong depan alfamart, modalnya soda lima ribuan sama rokok sebungkus, itu bisa tahan dua-tiga jam. Bengong doang, mikirin nasib.

Kagak.

Lucunya sih betah, orang kebanyakan paling garuk-garuk kepala, nongkrongnya oke, tapi kenapa depan retail mini-market? Kenapa? Kalau gue nongkrong di café, sendirian—walau senormal apapun keliatannya, tetep aja aneh. Di depan mini-market, orang nggak akan heran, toh itu tempat umum, ada orang didepannya pun nggak akan lama, yang ngeliat gue disana ya ganti-ganti, bukan cuma sepasang cowok-cewek yang sesekali ngelirik ke gue terus bisik-bisik. Lagian, pergantian orang tadi yang gue butuhin, hiburan mata, sukur-sukur ada cucian mata lewat, nggak pun, masih ada aneka ragam manusia yang bisa gue lirik. Walau cuma selenting, bikin tebak-tebakan nilai personal seseorang dari kenampakan luar seseorang juga lumayan seru.

Kayaknya mulut gue penuh sama sosialisasi, lidah terbiasa berucap dengan lawan bicara, bukannya refleksi yang mantul ke tenggorokan sendiri kayak dulu. Minim temen, kedengerannya suram, tapi pas diinget kayak mau ketawa sendiri. Kalau sekarang mau ngobrol, tinggal sms dan serombongan dateng ke warung kopi langganan tadi. Gampang, nggak usah susah-susah nyari tempat sepi demi ketenangan batin, kopi pula. Kayak triple kill kalo di DotA, dapet temen ngobrol asik, tempat enak, dan kopi juara.

Sendirian nggak selamanya jelek, sendirian memperkuat mental, ngasah pikiran. Selama dalam taraf wajar dan bukannya menarik diri. Menjadi sendirian itu kebutuhan buat gue—dan gue rasa juga semua orang. Tenggorokan kecapean kalau terus-menerus geter, vibrasi hasil konversasi dalam kepala itu perlu dilakuin. Semacem persiapan untuk menghadapi lingkungan sosial yang pastinya bakalan berubah terus-menerus.  Iya dong. Nggak mungkin gue nongkrong di warung kopi langganan itu sampe gue kerja atau tua nanti. Kalau iya, itu bakalan jadi roman, kalau nggak, ya berarti itu hanya lembaran cerita dalam buku hidup gue doang.

Gimana kalau dua tahun lagi gue tinggal di tempat yang sama sekali baru, tanpa teman-teman lama atau tempat familiar yang bisa gue kunjungi dan merasa dirumah? Nggak mungkin kalau gue jadi depresi terus rengek-rengek buat pulang kampung. Sendirian itu penting, tapi sendirian bukan selalu diartikan sebagai kesepian. Gue bisa have fun dengan sebatang rokok dan soda, prosesnya panjang untuk sampe kesana, yang sukurnya dibiasain dari sendirian tadi.

Sendirian bukan waktu untuk ngerasa kesepian, tentunya lo bisa aja pake untuk ngeluh soal ‘kenapa gue nggak ada temennya?’ tapi ngapain juga? Selama isi kepala dikontrol diri sendiri, ngapain? Dipake buat fun, ketawa sendirian, masa bodo dengan orang-orang lalu –lalang, soalnya mereka juga kagak peduli sama apa yang mereka liat di tengah jalan.

Ketika Musik Mengalun

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Monday, October 01, 2012

Posted at : 10:06 PM



Gue masih seneng dengerin lagu, terutama untuk ngebangun niat. Tapi gue (tetep) nggak bisa ngelakuin gerak produktif selama lagu itu mengalun. Kayak sekarang, gue lagi mati-matian nulis blog post ini dengan diiringi sama Violet Hill, lagunya Coldplay yang mungkin satu-satunya gue suka. Direkomendasiin Pradit, mungkin karena itu gue suka, rekomendasi. Kayak Englishman In New York yang kagak ada berentinya gue puter tiap pagi belakangan ini, direkomendasiin Sonny, gara-gara dia juga tiap gue bengong pasti senandungnya lagu ini. 

Atau Mata Berdebu-nya Sore yang tiap pagi juga gue puter, rekomendasi yang tidak lain dan tidak bukan dari Bapak Garib Fauzie. Walopun lagu-lagu itu kesannya suram, gue nggak terlalu mandang, yang penting ada orang dibalik lagu itu, mungkin itu cukup buat ngasih dorongan mental di muka yang masih dijalar iler. Sekarang gue mau nugas, makanya gue setel lagu, tapi nantinya bakalan gue matiin kalau gerak jari ini udah mulai niat pindah halaman word.  

Apa lagi ya? Oh iya, ada juga Lemon Tree, gue direkomendasiin lagu ini sama Sigi, iya, Sigi yang itu. Kalo nggak salah, waktu itu dia tiba-tiba IM gue dan bilang bahwa suramnya hari minggu dia makin menggema gara-gara lagu itu. Terus ada juga Shape Of My Heart, Sting, sama juga dari Sigi, gue lupa ada cerita apaan dibaliknye. Endah Rhesa, terutama Catch The Windblows sama Blue Day yang dikasih Della, kalo ini biasanya diputer pas hari libur doang. Ga tau ye, kesannya kan gloomy abitch gitchu. Apaan.. kagak, enak aje didenger.

Kebanyakan lagu-lagu itu nggak gue ngerti sama sekali artinya, baca iya, denger iya, diapalin pun kadang iya, tapi nggak ada satupun yang gue artiin secara harafiah untuk mencari makna. Seolah buat gue itu nggak penting. Mungkin ini nandain kalo gue emang kagak bisa multitasking, denger lagu ya denger aje, otak gue nggak bisa mencerna lagu itu lebih jauh. Sama kayak gue nggak bisa nugas sambil denger musik. Apalagi maen gitar sambil nyanyi, jari gue kusut.

Beberapa lagu yang gue favoritin direkomendasiin orang, kayak band favorit gue, RHCP itu kan hasil rekomendasi dari bude gue sendiri. Apalagi kalo lagu itu emang dasarnya cocok, di loop terus-terusan sampe winamp gue jebol sendiri (ya kali). Mungkin bukan lagunya, tapi karena ada orang-orang dibaliknya, mungkin, nggak tau ya.