Skinpress Demo Rss
Showing posts with label Sikit Karya. Show all posts
Showing posts with label Sikit Karya. Show all posts

Tiga Tahun

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Friday, June 24, 2011

Posted at : 3:10 AM

Tiga tahun, tepat 1095 hari setelah hari kepergianmu, hari dimana engkau menghembuskan nafas busamu untuk terakhir kalinya, kali terakhir mata bulat indahmu menatap dunia dengan kepolosan yang tak dibuat-buat. Tiga tahun. Tiga tahun pula bayang-bayangmu tak pernah lepas dari kepalaku, senyummu yang manis merekah, tawamu yang ceria—seolah-olah dunia pun ikut tertawa bersamamu, gerak tubuhmu yang gemulai, tutur katamu yang sehalus sutra India, semuanya, tanpa cela, tanpa jeda, mengisi hari-hariku selama tiga tahun, setelah kepergianmu.

Tiga tahun pula aku sendiri, sesuai janjiku padamu di akhir nyawamu meregang, tidak ada wanita lain, cukup tiga tahun. Tidak sulit, sayangku, mengingat kenangan yang telah kau berikan padaku, yang begitu indahnya sampai berarti hidup itu sendiri bagiku. Tiga tahun itu singkat. Bahkan terlalu pendek. Janjiku padamu kutepati, bahkan mungkin akan kutambah sesuai selera. Karena kamu, sayangku, begitu meninggalkan arti dalam hidupku. Kamu adalah aku, hidupku, bagian jiwaku yang tak mungkin bisa kulepas.

Aku berada di pintu masuk pemakaman, merokok, dengan khidmat, kegiatan yang akan bernilai ratusan kali lipat jika kau ada di sampingku. Melihatku mengeluarkan asap dengan berbagai cara selalu membuatmu terhibur, entah kenapa. Kenapa, sayang? Katamu, aku paling ganteng ketika menjepit sebatang rokok di sela jari telunjuk dan manisku, menghembuskannya perlahan bagaikan cerobong lokomotif yang berjalan lambat. Itu katamu. Sambil tertawa kau ucapkan itu. Ah… stop sayang. Kenangan menyenangkan bersamamu selalu membuat sudut mataku berair. Kuanggap hanya sekedar asap yang menusuk mata, selalu kuanggap begitu, yang padahal bukan. Itu karenamu. Yang memberikan hidupku arti seharga hidup itu sendiri, itu kamu.

Kenapa?

Kenapa, sayang?

Kenapa kau begitu cepat pergi?

Tiga tahun lalu, kau terbaring lemah di rumah sakit, selang-selang infus menggantung ramai diatasmu, menusuk tiap nadi yang mungkin bisa dipompa cairan natrium. Kamu sekarat, kamu tahu, dan aku pun tahu. Tapi kamu tetap tersenyum setiap kali aku datang menjenguk, membawakan buah yang tak bisa kau makan, memberikan buku-buku yang tak bisa kau baca karena tanganmu tak mampu mengangkat. Ya, aku ingat. Setiap kali aku datang, kau menyuruhku membacakan satu bab, satu bab setiap kalinya. Satu. Itu aku sesalkan. Walaupun tenggorokanku kering seperti dicakar saat membaca, aku senang, melihatmu tersenyum, kadang bertampang penasaran, kadang bingung karena pengejaanku yang tidak jelas, aku senang. Tapi.. waktu berkata lain, satu buku pun tak sempat aku selesaikan kubaca. Kamu lebih dulu terpanggil kehadapannya. Kamu tahu sayang? Bab terakhir yang kubacakan padamu penuh bekas noda air mata, air mataku.

Tiga tahun. Sesuai janjimu yang lain, aku tidak akan mengunjungi makammu selama tiga tahun. Aku tak pernah mengerti alasanmu. Katamu, kau tidak ingin aku menangisi kepergianmu tiap tahun, itu terlalu sering. Cukup tiga tahun sekali, katamu. Tapi kau tak tahu, tiap malam, sayang, aku menangisimu, membelai bingkai foto dari kayu hadiahmu untukku, bahkan sampai mengkilap karena usapan tanganku sendiri. Kenapa tiga tahun? Aku tak mengerti, rasa rinduku tak terbendung. Aku ingin sering dekat denganmu, dengan jasadmu dua meter dibawah sana, merasakan kau dekat. Mengapa kau larang? Ya, aku mengerti alasanmu, karenanya, aku mematuhi janjiku padamu. Aku mencintaimu sayang. Kau berarti bagiku, berarti seharga hidup itu sendiri. Kamu, hanya kamu.

Rokok kumatikan, hembusan terakhir yang menodai paru-paruku telah terhembus lepas ke udara. Aku berjalan menuju makammu sekarang, tak pernah kulupa letaknya. Karena, walau kau melarangku untuk datang, aku tetap datang, dari jauh, dari parkiran, dari luar pemakaman, aku melihat nisanmu. Jauh, kangen, rindu, tapi aku punya janji, yang pasti akan kutepati, kuhargai itu. Langkahku perlahan, petak-petak nisan yang tak terhitung banyaknya kulewati tanpa peduli. Tigaribu batu kapur itu tak berarti dibandingkan satu nama yang kutuju. Dan sampai, aku tersenyum. Senyum yang lebar, bergetar nyaris tertawa. Aku membungkuk, bunga Kamelia favoritmu yang kubawa kuletakkan tepat dibawah nisanmu. Tanah merah pekuburanmu kugenggam, erat, getar tanganku menjalar ke tubuh, lalu leher, dan akhirnya pecah. Tangisku.

Kenapa? Kenapa sayang?

Kenapa kau begitu cepat pergi?

Aku begitu.. ah.. bahkan lidahku, lidah batinku tak sanggup merangkai kata akan berartinya keberadaanmu bagiku. Kau tak tahu, entah berapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku saja, titik, tanpa koma, dan aku akan bergabung denganmu di alam sana. Naif, memang. Tapi itulah, itulah arti keberadaanmu, keberadaan yang seharga hidup itu sendiri ba—

“Mas.. Mas?”

Aku menengok, seorang lelaki berdiri tepat dibelakangku, kuusap sisa air mata dan kuatur nafas yang sesungukan. Aku berdiri, menghadapnya. Seumuranku, mungkin. Berkemeja rapih necis dan nampak dari kalangan berada. Waw, dia juga membawa bunga kamelia.

“Mas temannya Heny?” dia bertanya.

Aku mengangguk saja, mengatakan ‘pacar’ dalam situasi ini tidaklah bijak menurutku, lagipula..

“Oh.. saya pacar mendiang semasa dia hidup dulu.” Oh, pacarnya..

AP—!!?

Aku gelagapan bukan main. Sesungukanku mendadak hilang, bercanda dia. Mana mungkin, karena akulah pacarnya! Aku senyum meledek.

“Lah, bercanda mas ini, maksudnya mantan? Soalnya saya pacar Henny yang terakhir dulu, sebelum dia meninggal.” Kataku pembelaan.

“Walah, tapi saya pacarnya mas! Beneran! Mas emang tau apa bunga kesukaan Henny?”

Aku pun menunjuk kearah nisan, tempatku meletakkan bunga Kamelia kesukaannya, yang juga ada di pelukan lelaki itu. Apa maksudnya ini? Aku tak mengerti, sayang. Tak ada yang tahu apa bunga kesukaanmu selai aku, bukan? Iya kan? Tiga tahun berlalu, dan tiba-tiba seseorang datang ke hadapanku, di depan makammu yang sakral, mengatakan dia adalah pacarmu.. pacarmu. Pac—

“Maaf, mas-mas ini temannya Henny?”

Aku menengok, satu lagi laki-laki, botak plontos dengan setelan kasual, dan ya, dia membawa bunga Kamelia di sisi tubuhnya yang tegap. Rasanya aku mulai mengerti semuanya, mengerti permainanmu, mengerti segala tingkah busukmu, tingkahmu yang palsu! Senyummu yang artifisial! Tak tahu malu!

“Jangan sebut! Kutebak, kau juga pacarnya Henny?” Kataku sambil melirik pula kepada laki-laki parlente disebelahku.

“Emm.. ya, mas ini siapa ya?”

Hancur. Hatiku luluh lantak. Aku bergegas, pergi dengan tergesa, menjauh dari dua orang entah siapa darimana yang mengatakan bahwa mereka juga kekasih dari kekasihku. Ya, hebat, sayangku. Kau kuanggap hidup, hidup yang seharga hidup itu sendiri bagiku. Tiga tahun! Persetan tiga tahun! Terkutuk dan membusuklah kau di neraka!

“BANGSAT!”

Makian terakhir, dan ia pun berlalu. Kedua orang yang berdiri di depan makam hanya bertatapan, senyum miris berbalut kesedihan. Mereka menatap kearah nissan, meletakkan Kamelia yang masing-masing mereka bawa.

“Selesai, Hen, berterimakasihlah pada kami, dan semoga kau tenang di sana.”

Amin.

Dongeng Yukeli dan Keluarga Tikus

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, April 20, 2011

Posted at : 5:44 PM

Di hutan nun jauh di sana, hiduplah sebuah keluarga tikus kecil yang tentram. Keluarga itu terdiri dari seekor Ibu Tikus dan kedua anaknya, Sulung dan Biyung. Hidup mereka sederhana tapi bahagia, tidak kekurangan suatu apapun dan penuh tawa. Keluarga tikus kecil hidup bertetangga dengan seekor babi hutan tua, babi hutan itu bernama Yukeli. Ia sudah terlalu tua untuk bisa berburu mencari makanannya sendiri, mengetahui itu, Ibu Tikus yang baik hati selalu memberinya bagian dari hasil mengumpulkan makanan di hutan. Yukeli senang, dan Ibu Tikus pun juga turut senang karena bisa membantu tetangganya.

Musim dingin pun tiba, makanan di hutan mulai menipis dan sulit didapat. Ibu Tikus harus berpergian jauh ke selatan agar dapat mengumpulkan makanan yang cukup untuk Sulung, Biyung dan Yukeli. Tapi Ibu Tikus kebingungan, bagaimana dengan kedua anaknya yang masih kecil? Mereka belum dapat menjaga dirinya sendiri. Lalu Ibu Tikus mendapat sebuah ide, ia meminta Yukeli untuk menjaga kedua anaknya. Yukeli mengiyakan, ia berkata akan menjaga Sulung dan Biyung sampai Ibu Tikus kembali nanti. Ibu Tikus pun lega, ia bisa berangkat dengan tenang untuk mengumpulkan makanan.

Tapi mengumpulkan makanan di musim dingin ternyata tidak mudah. Perjalanan yang di tempuh Ibu Tikus sangatlah jauh, jalur yang sulit dilalui dan banyaknya pemangsa-pemangsa ganas di tengah jalan. Hal itu membuat Ibu Tikus berpergian sangat lama, cukup lama. Sekembalinya Ibu Tikus ke hutan dengan keranjangnya yang penuh makanan, ia menemukan sarangnya kosong, tidak ada kedua anaknya, Sulung dan Biyung. Ibu Tikus lalu pergi ke rumah Yukeli, berharap kedua anaknya sedang bermain bersama babi hutan tua itu dengan gembira. Tapi tidak. Yukeli bertampang murung, ia berkata.

“Anak-anakmu sudah besar, bu. Mereka sudah menikah dan pergi keluar hutan.”

Mendengar itu, Ibu Tikus sedih. Ia kembali ke sarangnya, terduduk di kursi kayu dan memandangi ranjang tempat kedua anaknya biasa tertidur. “Mengapa?” Ibu Tikus bertanya. Padahal ia sudah bersusah payah mengumpulkan makanan, untuk kedua anaknya. Tapi kenapa mereka justru pergi tanpa pamit? Ibu Tikus semakin sedih. Kesedihannya membuat ia tak bernafsu makan, berhari-hari, berbulan-bulan sampai tubuhnya kurus kecil tak bertenaga.

Suatu ketika, musim hujan yang hebat turun di hutan itu, Ibu Tikus harus menggali parit agar sarangnya tidak terendam air. Ibu Tikus menggali dan terus menggali, belum selesai setengah pekerjaannya, ia menemukan sebuah benda aneh terkubur di dalam tanah dekat rumahnya. Sebuah potongan kaki mungil, mirip kaki si Biyung pada saat Ibu Tikus pergi mencari makanan dulu. Ibu Tikus mengambil potongan kaki tersebut, matanya berkaca-kaca lalu menuju ke rumah Yukeli. Ibu Tikus membuka pintu rumah Yukeli dengan terburu, ia berkata.

“Yukeli.. Ini kok seperti kaki anakku, si Biyung..”

Yukeli diam sesaat, ia lalu menjawab pertanyaan Ibu Tikus.

“Bukan bu.. itu kaki seekor marmut.” Katanya perlahan dengan suara yang berat parau.

Ibu Tikus tak percaya, ia mendekati Yukeli, memegangi tangannya, ia meratap kepada babi hutan tua itu. Ibu Tikus lalu mengulangi perkataannya lagi.

“Yukeli.. Ini kok seperti kaki anakku, si Biyung..”

Yukeli kebingungan harus berkelit apa lagi. Betul, itu adalah kaki si Biyung, anak tikus bungsu dari Ibu Tikus. Yukeli lalu membalas perkataan Ibu Tikus.

“Iya bu, itu kaki anakmu, si Biyung. Kedua anakmu bermain terlalu jauh ke hutan, mereka dimakan oleh kucing hutan.”

Tangisan Ibu Tikus pecah, selama ini ia tidak mengetahui, bahwa anaknya tidak hidup bahagia dengan pasangannya di luar sana, tapi berada di perut kucing hutan, dimangsa hidup-hidup. Ibu Tikus putus asa, apa arti hidupnya kalau bukan untuk anak-anaknya? Apalah guna Ibu Tikus mengumpulkan makanan kalau bukan untuk mereka, melihat mereka besar nanti dan dapat mengurusi dirinya di hari tuanya. Apalah gunanya?

“Yukeli.. antarkan aku ke tempat kucing hutan itu. Setidaknya tubuhku yang kurus kering ini bisa menjadi makan malamnya, setidaknya aku bisa berkumpul lagi dengan anak-anakku di perut kucing hutan itu.”

Yukeli ikut menjadi sedih, ia menghela nafas panjang. Bibirnya yang tebal bergemetar, Yukeli menatap Ibu Tikus yang putus asa. Kasihan.

“Ibu, sebenarnya aku yang memakan kedua anakmu, Sulung dan Biyung, aku kelaparan. Tapi mereka tidak menolak kumakan, mereka bilang ‘apa gunanya kami hidup jika tanpa ibu kami, Yukeli’ mereka menganggap kamu telah mati, bu, karena kamu tidak kunjung pulang kembali kemari.”

Yukeli selesai bercerita, Sulung dan Biyung ada di dalam perutnya. Ibu Tikus menangis semakin keras. Yukeli hanya bisa terdiam. Lama, sangat lama. Sampai akhirnya Ibu Tikus mengusap air matanya, menatap Yukeli yang murung dengan tegas.

“Makan aku, Yukeli.”


________

(c) Imaniar Permana yang mendongengkan ini buat gue, dan Bapaknya yang mendongengkan ini buat Nanda.

Sempurna

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Saturday, April 16, 2011

Posted at : 4:23 AM

Aku bercermin pada cermin, cermin yang juga bercermin kepadaku. Kulihat bayangan seorang perempuan di balik sana. Cantik. Usianya awal duapuluhan, berambut panjang sepundak, sedang tersenyum menatap kembali padaku di sisi satunya. Itu aku. Diriku sendiri yang sedang berdiri tanpa busana, memandangi diriku yang lain di sisi yang lain. Aku berkedip, dia pun berkedip. Hidungku kukembangkan, dia pun melakukan yang sama. Aku meletetkan lidahkan padanya, dan kurang ajar, dia juga meniruku. Huh. Ngomong-ngomong, kalau kau tak tahu. Aku ini sempurna.

Lihatlah bentuk wajahku. Oval imut, yang seolah Tuhan sendiri yang turun tangan membuatnya sehari-semalam, diukur dengan presisi tinggi agar menghasilkan sebuah fondasi paling indah untuk menempatkan bahan lain diatasnya. Tidak jarang ada orang yang meminta izin padaku untuk menyentuhnya, merasakan kesempurnaan kontur wajahku yang tanpa cacat. Hei. Sudahkah aku menyebutkan lesung pipiku yang dalam menggoda? Dalam mencekung, menambah kecantikanku limapuluh poin, tidak ada pria yang tidak terpana ketika lubang temporer itu menampakkan wujudnya. Iya, wajahku sempurna. Aku sempurna.

Lihatlah mataku. Begitu bulat besar, simetris sempurna tanpa cacat, melekuk indah di sudut dan melengkung cantik di sisinya. Kelopak mataku yang putih merona dihiasi bulu-bulu lentik mempesona, tanpa tambahan apapun, aku bisa pergi ke sebuah pesta dan banyak yang memuji tampilan mataku. Tanpa cela, tanpa cacat, bahkan tida segaris kantung matapun tampak menodai kesempurnaannya. Alisku tebal cantik, terpisah dalam jarak yang pas dengan presisi luar biasa. Praktiknya di lapangan? Jangan tanya. Tidak ada satupun lelaki yang bisa memalingkan wajahnya begitu aku melirik. Tidak jarang mereka sampai membuntutiku, hanya karena dilirik! Aneh kan? Tidak. Karena mataku sempurna. Aku ini sempurna.

Lihatlah hidungku. Tidak besar, tidak kecil. Menekuk indah bagaikan pahatan seniman patung legendaris. Kuping hidung yang mungil melengkapi pahatan itu, tentu saja tanpa cela, tanpa noda, tanpa efek-efek buruk rupa semacam komedo ataupun jerawat. Orang-orang yang berfokus pada hidungku saat melihat, pastilah menganggap sirkulasi yang dihasilkannya hanyalah menghisap oksigen, dan mengeluarkan oksigen. Ya, tentu saja. Karena hidungku sempurna. Aku ini sempurna.

Bibirku? Inilah yang dinamakan kesempurnaan. Merah merekah walau tanpa pewarna bibir. Orang-orang menyebutnya sensual, terbentuk indah dari dua daging pilihan yang menyatu ketika mulutku terkatup. Tidak tipis, tidak tebal, pas. Ditambah lagi dengan ketidaksempurnaan yang sempurna, gigiku gingsul menambah manis citraku sebagai wanita. Senyumku? Jangan ditanya. Kalau dijumlahkan dengan lesung pipit dan gingsul yang kumiliki, lelaki mana sih yang tidak bertekuk lutut dihadapanku? Lelaki mana yang tidak mengabulkan permintaanku ketika au tersenyum? Tidak ada, sayang, tidak ada. Tidak. Karena bibirku sempurna. Aku sempurna.

Ya. Sempurna.

Setiap mili dari wajahku adalah karya terbesar yang pernah Tuhan ciptakan, dengan segala detail dan kejelasan yang bahkan nalar manusia pun tidak mampu bayangkan. Aku tersenyum lagi, kepadaku di sisi lain sana, yang juga membalas senyumku dengan sama manisnya. Ah, cantik sekali kamu. Tidak akan ada satupun lelaki yang akan menolakku, tidak satupun. Tidak. Semua kalangan, semua orang, dari yang di atas sampai yang di bawah. Dari bukan siapa-siapa sampai publik figur. Dan yang paling miskin sampai yang paling kaya semua akan meletetkan lidahnya kepadaku seperti anjing kelaparan. Ya. Semuanya.

Semuanya.

Termasuk temanku sendiri, baru-baru ini. Ia mencoba menjamah tubuhku ketika kami sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar kontrakanku, tentu saja aku menolak. Tapi? Dia menahan kedua tanganku, berontak? Percuma. Apa daya seorang perempuan dengan fisik terbatas melawan laki-laki? Mungkin bisa lebih buruk, tangannya bisa saja melayang ke wajahku, dan itu artinya kesempurnaanku berkurang, dan aku tak mau itu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis, memejamkan mataku seerat mungkin, menunggu waktu-waktu ini terlewat dengan cepat sementara ia menikmati kesempurnaanku, tiap sentinya. Apa boleh buat. Ini karena aku sempurna.

Sahabatku? Sama saja. Lima tahun kami berteman baik, berbagi suka duka dan tawa tangis, menghabiskan waktu-waktu menyenangkan dan juga menyedihkan bersamanya. Tapi apa? Dia tetap laki-laki yang tak mampu menahan godaan dari sebuah kesempurnaan. Aku tak heran. Belum lagi teman-teman perempuanku yang satu persatu menjauhiku, katanya iri padaku. Itu masih mending, menjauh lebih baik, tak berbuat apa-apa, tapi bagaimana mereka yang terang-terangan memusuhiku? Kau tahu? Aku pernah hampir disiram air keras oleh salah seorang senior, waktu itu di Lab, kalau saja tidak ada dosen yang datang waktu itu, dijamin, sempurnaku hilang sudah.

Aku memang sempurna. Tidak ada laki-laki yang tidak tergoda olehku. Tidak ada satupun. Ya. Tidak satupun, termasuk paman-pamanku. Semuanya. Aku hafal gerakan mereka, yang seminggu sekali menginap di rumahku. Kedoknya tali silaturahmi, padahal ketika semua orang sudah tidur, mereka mengendap-endap ke kamarku, membisikanku iming-iming kadang mengancam dan mulai menggerayangi tubuhku. Aku takut? Tentu saja, aku takut ancaman mereka menjadi nyata dan kesempurnaanku hilang. Aku tak heran. Mereka tergoda itu wajar. Karena aku sempurna.

Ya. Aku sempurna. Dan kesempurnaan itu menggoda semua lelaki. Semua, kubilang, semua! Termasuk ayahku sendiri. Jangan tanyakan jumlah, aku tak mampu menghitungnya lagi. Jangan tanya seberapa hebat, badanku tak sanggup menjawab. Sekali lagi aku mengatakan, aku tak heran. Karena aku sempurna.

Apa yang kupikirkan hanya satu. Apakah aku rela berbagi kesempurnaanku ini dengan orang lain? Tidak adalah jawabannya. Mutlak. Tuhan menciptaku dengan kekhususan, sebuah mahakarya, spesial, tiada bandingan dan saingan. Apa aku rela, apa aku tega membiarkan sesuatu yang menjadi jerih payah Tuhan dinikmati atau bahkan suatu saat dirampas oleh orang lain? Tidak adalah jawabannya. Mutlak. Untuk itu aku berusaha mencegahnya, dengan jalan satu-satunya dimana mereka tak mungkin bisa menyentuhku lagi.

Aku masih bercermin pada cermin, cermin yang juga bercermin kepadaku. Kulihat bayangan seorang perempuan di balik sana. Cantik. Aku tersenyum, senyum bahagia. Kulihat pergelangan tanganku yang merah. Darah masih mengalir perlahan tapi pasti sejak tigapuluh menit lalu. Aku tak sadar, lantai kamar sudah banjir dengan darahku sendiri. Pandanganku mulai mengabur, lemas, kepalaku pening. Sakit. Tapi tak apa, sebentar lagi semua akan selesai. Semua akan berakhir dengan baik. Aku telah melakukan usaha terbaikku untuk menjaga karya Tuhan paling sempurna untuk tidak ternoda. Sebuah kehampaan. Tak ada lagi yang bisa merusaknya. Dan kamu, jangan heran. Ini karena aku sempurna.

Mungkin Bukan Aku.

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Monday, April 04, 2011

Posted at : 1:20 PM

“…”

“…”

“…”

“…”

“….kita putus aja ya,”

“…”

“—bye, baik-baik.”

“—Mel, tungg—“

Pett..

Bangsat.

Brengsek.

Lonte!


Sundal!

Habis sudah kata-kataku, habis sudah hidupku. Mataku terbatu pada aspal jalanan, handphone masih dikupingku berbunyi ‘tut tut tut’, tak percaya. Aku diputus pacarku, alasannya? Tak jelas. Dugaanku Roni keparat itu yang mengambil alih hatinya, pesan-pesan di BBM Meila yang berhubungan dengannya selalu dihapus, dan hanya dia yang dihapus, pasti ada apa-apanya kan? Goblok, sialan! Hatiku terbakar amuk, rasanya aku ingin menendang tiang halte ini sekuatnya sampai puas. Tapi tidak, ada beberapa orang disini, nanti aku dianggap gila beneran. Percakapanku dengan Meila di telpon tadi saja sudah cukup menarik perhatian mereka.

Hoh..

Kukantongkan handphoneku, sebagai gantinya, satu pak rokok ada di tanganku sekarang. Kunyalakan tentu saja. Dan apa aku sudah bilang kalau disini hujan? Ya, hujan badai melanda daerah Cempaka Putih sekarang, dan yang kumaksud badai disini adalah badai yang membuat ranting-ranting pohon berjatuhan saking kencang anginnya. Dahsyat, aku pun sampai sangsi kalau halte ini cukup kuat menahan terpaan angin yang begitu kerasnya.

Aku duduk, tak jauh dari seorang bapak-bapak yang sedari tadi melihatku dengan senyum, umurnya sekitar 50an dan mungkin baru saja pulang dari pekerjaannya. Mana kutahu? Sementara diujung satunya seorang wanita berpakaian khas sekretaris duduk terdiam memandangi handphonenya, asik dengan dunianya sendiri. Pukul 10. Mungkin kami, mereka dan aku adalah rombongan terkahir yang menggunakan halte ini sebagai tempat transit. Commuter paling ujung yang berharap sebuah bis menuju peraduan kami segera datang. Tapi tidak.

Tidak.

Entah kemana sopir dan kenek itu.

Aku menghisap rokokku dalam, sampai ke paru-paru paling ujung, tak ada yang tak terjamah. Dan wuush.. asap tebal mengepul hebat dari mulutku. Sama seperti uangku yang habis ludes. Masih ada sangkutannya dengan Meila, belum lagi ratusan juta hutangku pada bank. Jumlah yang tak mungkin kubayar dengan hitungan gaji 20-30 tahun dari sekarang. Mati. Rasanya aku mau mati saja. Aku tertunduk lesu, wajahku menatap lantai, aku menggaruk-usap kepalaku yang tidak ada gatalnya sama sekali.

Haaaahhh…

Hujan masih deras. Kapan bisa pulang? Entahlah.

Lewat. Pulang?

Kata siapa?

Aku bangun. Bis kota itu akhirnya nampak diujung jalan untuk mampir ke halte ini untuk mengangkut kami para penumpang terakhirnya. Raut senyum sekilas nampak dari bibir bapak itu tadi. Tapi aku punya rencana lain. Aku mau mati saja. Mati terlindas! Sampai otakku berceceran di tengah jalan dan tidak ada yang dapat mengenali wajahku lagi, ha! Mei akan menyesal memutuskanku hanya karena masalah materi, nyawaku hilang karenamu sekarang! Menangislah besok, menangislah meraung melihat berita di koran merah tentang bodohnya seorang pemuda yang bunuh diri ditinggal kekasihnya. Mampus!

Aku berdiri, rokokku masih di mulut. Sebentar lagi bis itu akan sampai di halte ini, aku akan meloncat dan satu tiket ke neraka akan berada di tanganku. Mantap. Tak perlu hutang, tak perlu sedih, tak perlu bekerja lagi.

30 meter.

Bersenang-senanglah kalian di kasur yang pernah kutiduri, dengan Mei! Kau terima bekasan saja, ha-ha! Ogah aku melihatnya, mendengar kabarnya, apalagi sampai menerima undangan pernikahan kalian nantinya. Najis, amit-amit.

10 meter.

Keluarga? Yah, maaf buk, anakmu ini tak bisa meneruskan keinginan-keinginan ibu, aku cinta ibu, aku sayang ibu, tapi aku tak sanggup menanggung beban ini lagi bu. Bapak, maafin aku ya pak, bapak bilang bangga sama aku yang sekarang udah bisa mencari duitku sendiri, tapi sekarang aku tak bisa lagi menghasilkan sesuatu untuk menyenangkan hati bapak, jadi maafin aku ya pak sekali lagi. Dik, kamu jaga ibu sama bapak ya, nafkahi mereka sebaiknya, urus mereka sampai mereka tua nanti, maafin aku ya dik harus melimpahi kamu dengan tanggung jawab sebesar ini ke kamu, maafin kakak. Maafin aku ya semuanya.

5 meter.

Dan aku pun siap melomp—

“Kami duluan ya dek..”

Lho? Bapak-bapak dan perempuan tadi sudah ada disampingku? Sejak kapan? Mereka bergandengan tangan dan—

Melompat.

Dan daging-daging pun terlempar kesana-kemari, darahnya membanjiri tubuhku, aku ternganga, rokok yang terselip di bibirku terlepas. Mereka mati. Seketika. Tersenyum dan berpelukan dalam bentuk potongan daging tak jelas. Bahagia.

Aku—?

Ngomong-ngomong, masih hujan.

...Rekaman Tanpa Judul

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Tuesday, November 16, 2010

Posted at : 12:06 AM

Clek..

ZzzZzzz..

“Silahkan, anda dapat mulai sekarang,”

“Oh, sudah ya? Baik-baik.. ehmm..”

“Ini tentang peristiwa malam itu, seperti yang telah saya bilang pada anda sebelumnya, saya sedang berjalan berdua dengan kekasih saya saat itu. Tepatnya sekitar pukul sebelas malam, yah, anda tidak perlu tahu kan alasan saya datang ke tempat demikian pada jam-jam itu? Hehe.. oh maaf. Maksud saya, saya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman itu, tidak ada yang aneh, cuaca memang agak lembab, tapi itu tidak mengganggu sama sekali, ya kan pak? Lalu sekitar setengah jam kami berkeliling, kami menemukan pemandangan yang cukup ganjil di tempat itu, emm, kurasa sekitar bagian timur taman, dekat kolam menari itu, ya ya.. kalau tidak salah saya melihat mereka disana.”

*Tlep*

Lelaki yang satu mematikan tape yang sedari tadi digunakan untuk merekam tiap perkataan orang satunya lagi, dengan tampang yang jelas menunjukkan ekspresi heran, berpadu dengan secercah kepuasan batin seorang jurnalis: melampaui penyeledikan polisi.

“Tunggu, mereka? Maksud anda ada dua orang atau lebih?”

“Ya, ada dua orang disana, satu ting—“

“Maaf-maaf, tunggu sebentar.”

*Clek*

“Lanjutkan.”

“Emm, yah, dua orang seperti yang saya katakan tadi, yang satunya tinggi besar, ia mengenakan kemeja flanel warna merah muda kalau tidak salah ingat, berkacamata, dan..emm.. kalau bisa dikatakan juga, tampangnya murung. Lalu yang satunya, jauh lebih kecil, lebih kurus, mungkin hanya seleher orang yang tinggi besar itu. Ia mengenakan baju serba hitam, tidak jelas apakah itu kemeja atau jas. Pastinya..”

...
...

*Tlep*

“Ada apa pak?”

“Oh, maaf, hanya berusaha mengingat kesan yang ditimbulkan orang itu, ah!”

*Clek*

“Kurasa, kalau aku tidak salah merasakan, aku merasakan tekanan yang sangat berat, meluncur dari tubuh orang itu dan menekan atmosfir jauh disekitarnya. Mudahnya, menyeramkan. Dan jangan tanya kenapa aku tahu bahwa orang itulah yang mengeluarkan tekanan itu, bukan satunya, aku tidak dapat menjelaskan dengan detail, intinya, aku merasakannya. Seperti.. kau ingin—maaf—membunuhnya, tapi juga menyayanginya secara bersamaan. “

“Tidak logis ya? Begitulah yang kurasakan. Ah, lalu sampai dimana tadi? Ya ya.. kami bertemu mereka, yah, jarak kami dari mereka lumayan jauh, sekitar 30-40meter. Mereka nampak berbincang dengan amat serius—tidak, bukan. Maksudku, orang yang kecil itu nampak menasehati orang yang besar itu. Entah apa, tidak terlalu jelas terdengar, karena suara lalu lintas di samping taman saat itu masih cukup jelas terdengar dan mengganggu pendengaran kami saat itu.”

“Ah ya.. keanehan mulai terjadi disini, pak. Awalnya kami bisa mengacuhkan obrolan mereka, toh jelas mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kami, dan kami pun tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi niatan itu hilang musnah saat orang kecil itu mengeluarkan sebuah pisau. Whew, anda mungkin berpendapat saya cukup nekat, saya langsung berteriak dan berkata bolak balik, “hei! Letakkan pisaunya!”, tapi tidak mempan, kedua orang itu sama sekali tidak mengindahkan teriakanku. Baru saja sampai setengah jalan aku mendekati mereka, tiba-tiba aku teringat kekasihku, bahwa aku kesana bersama dengannya, dan tidak baik tentunya jika meninggalkan dia begitu saja. “

“Begitu aku menengok kebelakang, aku melihat dia, kekasihku, sudah jatuh terduduk, lemas dan tampak tanpa tenaga. Melihat itu, aku langsung berbalik arah, dengan niatan menolong kekasihku dan langsung pergi dari sana tanpa babibu. Dan kau tahu pak? Apa yang kurasakan saat aku memunggungi kedua orang itu? Phew, aku melihat gambaran diriku sendiri telah mati, leherku digorok sampai putus. Memang hanya ilusi, tapi aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya saat itu, seperti benar-benar terjadi. Saya yang terkejut langsung membalik badan, dan melihat kedua orang itu sedang melihatku, dengan tampang yang sama-sama menyeramkan, seolah benar-benar ingin membunuhku. Aih, aku tak ingin mengingatnya lagi, sudah pak, hal terakhir yang kuingat dari malam itu adalah.. emm.. lolongan yang mengerikan, seperti lolongan anjing yang.. kesakitan..”

*Cklek*

Kangen.. Duileeh..

Filed Under (,, ) by Pitiful Kuro on Sunday, February 28, 2010

Posted at : 5:50 PM

Tau kan apa artinya kangen?

Jadi, menurut KBBI, kangen atau rindu itu ar—hayah, ga usah sok ilmiah dulu deh. Tau kan ya, definisi ngga perlu, yang penting esensi dari kata tersebut pasti semuanya udah tau.

Intinya sih, ada perasaan yang mirip gak enak badan, tapi imbasnya bukan ke fisik, tapi ke hati *alamaaak*. Biasanya timbul dengan berbagai macam sebab, ada yang tiba-tiba kangen saat ngeliat album kenangan masa lalu, ketemu orang yang mirip dengan kawan lama, status updatenya muncul di timeline kita, kangen sama pacar, atau bahkan kangen tiba-tiba aja, de el el dah.

Kangen? Ya tentu, gue juga. Sama temen yang ada di jakarta, sama temen-yang-kalo-bisa-disebut-temen, temen yang diluar kota, temen-kampus-yang-tiap-hari-ketemu-tapi-kangen-juga-kadang, dst dst. Untungnya ngga pernah kangen sama keluarga, amit-amit dah, amit-amiit.

Biasanya apa sih yang dilakukan kalau lagi kangen? Pastinya kan, ngontak orang yang bersangkutan dong, entah itu secara langsung, bela-belain ketemu padahal rumahnya jauh, atau tidak langsung—yang mana media udah amat mendukung temu kangen, ga ada alasan ga punya nomer kontaknya, pergilah ke warnet, ketik facebook.com, dan voila, pertemuan kangen-kangenan bisa diorganisir dengan gampang.

Buat gue?

Ribay, karena buat gue kontak via sms dan telpon itu, entah kenapa nyebelin amit-amit. Mungkin gerak jempol 1-2 menit bukan masalah, tapi buat gue sih lumayan masalah. Bukan males, rasanya ngga efektif aja. Sms isinya dibatasi 150 karakter, bisa lebih kalau niat, ngetiknya pake jempol, dan satu tuts di handphone itu isinya 3-4 huruf, gondok ga ngetiknya? Kagak? Wah, gue iya :)). Sedangkan telpon, okelah, lebih efektif, pesan bisa sampai langsung bersamaan dengan kita mau menyampaikan apa (yaiyalah, pake suara), tapi rasanya agak lucu juga kalau misalkan nelpon tanpa subjek yang jelas dengan judul kangen aja.

Makanya, biasanya dua jalur komunikasi itu, sms dan telpon gue gunakan saat gue bener-bener perlu untuk berkomunikasi dan keperluan yang emang mendesak. Gue lebih prefer YM, walaupun dari hape dan ngetiknya pake jempol-jempol juga, seenggaknya balesannya bisa kita dapet instan, gapake lama, dan pesannya juga ga harus numplek numpuk kaya sms, lebih santai :).

Akibatnya, yah, kadang gue ditegur temen, entah yang bilang sambil bercanda “gak kangen lo sama guee?” sampai yang bener-bener serius bilang “lo ninggalin gue.” Karena smsnya sering nggak gue bales. Huweh. Bukan drama, dan benar-benar terjadi. Tapi mungkin dia bener. Gimana caranya orang tau kalau kita kangen sama dia, sedangkan kita nggak menunjukkan itu?

Yeah, buat gue ini adalah hal yang harus diubah, bad habbit harus disapu masuk ke kolam kerapu, balas sms walaupun malas, karena kita nggak tahu kalau orang diseberang sana benar-benar ingin kita tahu, apakah dia tahu kalau kita kangen sama tahu? *Tahuuu, tahunya buuk? Tahuunyaa?* *apaan sih*.

Intinya mah, kangen tiada arti tanpa tindakan, karena tanpa tindakan, orang nggak akan tau kalau kita kangen sama dia. *uhuk*.

Tidak Jelas Juntrungannya

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Monday, October 26, 2009

Posted at : 12:42 AM

Selalu mudah membuat cerita dengan awalan sebuah awal. Huruf pertama dari suku kata pertama dari kalimat pertama dari paragraf pertama, dan apakah itu? Aku. Aku duduk, tertidur, namun aku sadar. Sadar bahwa aku masih hidup, jantungku berdetak sebagaimana mestinya sebuah jantung bergerak, nafasku memburu terengah-engah, tapi diatas semua itu, aku masih hidup. Tidak peduli berapa satuan cc yang tertumpah ke jok mobil orang yang panik disampingku, tak peduli seberapa indah penampilanku sudah didandani manis oleh darahku sendiri, sekali lagi satu hal yang kutegaskan, aku masih hidup.

Tapi aku tak ditubuhku.

Aku melihat aku, duduk di dashboard melihat diriku sendiri yang merintih sakit, kesannya lucu, dan mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup—atau terakhir—yang bisa saja terjadi. Aku tentu tidak merasa sakit, tapi sepertinya dia, maksudku aku, tampak kepayahan. Pft—

Si supir nampak panik, begitupula dua orang yang ada di bangku penumpang, err.. tentu saja, melihat salah satu anggota keluarganya berpeluh darah tak sadar, bagaimana bisa tenang, mereka pasti sedih memikirkan bagaimana mengurus mayatku nanti, ergh.. proses kremasi, tanah pekuburan, dan tetek bengek birokrasi lainnya soal penguburan mayat yang dulu pernah kudengar hanya bikin pusing, jelas saja mereka panik. Maaf, terlalu sinis? Ah ya, kalau begitu, mereka pasti sedih akan kehilanganku, puas ralatnya?

Langit sudah memeluk bumi dengan gulita pekatnya, menyisihkan ruang sempit untuk selusin bintang paling terang bereksibisi pamer cahaya, sedangkan aku, dengan tubuh astral ringan tak lebih berat dari zarah menikmatinya santai. Sayang, rintihan dia—maaf—aku, mengganggu saja. Tak pernah menyangka dengan tubuh macam ini bisa menikmati dunia senikmat-nikmatnyanya, tahu tidak? Rasanya, emm.. seperti menyatu dengan alam, maksudku, benar-benar menyatu, ah, sudahlah, kalau belum sepertiku takkan tahu rasanya.

Aku menghirup udara yang sebenarnya tak perlu, merasakan dingin udara perbuktian yang seharusnya tak bisa kurasakan, dan mendengarkan kabar-kabar dari serangga di kejauhan gelapnya malam. Ah~ dunia.. ups! Maksudku, akhirat. Euh. Tak tega, kawan. Meskipun aku dianugrahi sinisme tingkat empat dan sarkasme level dewa, aku tak bisa membiarkan dia—ergh, maksudku tubuhku—merintih demikian hebatnya. Tak percaya aku, bagaimana mungkin seorang kuat seperti diriku, si keras kepala pantang mengeluh dan tukang injak kelemahan orang, bisa berteriak pilu begitu. Halalah, malu aku. Kapan sih prosesnya selesai? Halo? Tuhan? Kau disana? Sini dong ah.

“Yap?”

Ergh? Siapa? Aih aih, datang? Sewujud entitas berdiri (maksudku, benar-benar berdiri) diatas kap mobil yang melaju 80km/jam, bukan manusia kan? Aku membalik badanku, memaksimalkan akomodasi mata astralku untuk melihat lebih jelas wujud makhluk yang asik nangkring semeter didepanku. Apa.. si Tuhan sendiri yang menyempatkan datang ke mobil sedan butut keluaran 80an ini untuk menjemputku secara langsung?

“Oh.. bukan-bukan..”

Dia membaca pikiranku?

“Tentu,”

Waw, dia tersenyum, yang ngerinya, bukan senyuman manusia, err, secara literal. Karena saat mataku mulai dapat melihat dengan baik, kepalanya bukan kepala manusia, tapi.. anjing?

“Koreksi, pak, ini kepala Jackal, bukan anjing. Mitos mesir kuno di dunia atas, pernah dengar?”

“Dunia atas?”

“Ah, tentu tidak tahu ya, maksudku dunia orang hidup,”

Tampak lebih jelas sekarang, sosok itu berbentuk manusia utuh, hanya saja berkepala an—maksudku, Jackal. Mengenakan setelan jas hitam plus kemeja putih, nampak seperti orang yang menghadiri pemakaman. Aku turut keluar mobil mendekatinya, menembus kaca depan, dan duduk persis didepan.. emm.. siapa?

“Wah, maaf pak, terlambat memperkenalkan diri saya, anda dapat menyebut saya dengan berbagai sebutan yang ada di dunia atas sesuka anda, Shinigami, dewa kematian, Izrail, Anubis, Domorad, Elynthiok, atau apapun yang pernah anda dengar,”

“Oh, tukang cabut nyawa,”

“Ya bolehlah.. kalau begitu, mulai saja. Farhan Putranto, lahir 6 maret 1985 pukul 08.11 pagi, meninggal 8 Febuari 2010 pukul 02.54 pagi. Anak dari bapak Catur Marti—“

Err.. aku menengok sekilas ke dashboard, jam masih menunjukkan pukul 01.49, 5 menit lagi?

“—cucu dari—astaga! Pak, tolong dengarkan! Ini prosedurnya!”

“Euh, baik.. tapi.. apakah lima menit sisa ini akan digunakan untuk mendengarkan anda berbicara soal silsilah panjang yang bahkan-aku-tak-tahu-anda-sebut-siapa? Boleh ngobrol saja?”

Plop

Ah, dia menutup bukunya.

“Tentu pak,”

“Baiklah, biasanya aku mengobrol sambil minum kopi, apakah mungkin aku bisa minum kopi dengan tubuh begini? Atau aku kembali sebentar ke tubuhku untuk minum kopi? Aih, tapi nampaknya aku hanya akan kesakitan ya?”

“Mungkin..”

“Aduh, ngobrol atuh pak, saya hanya punya waktu kurang dari empat menit untuk ada disini kan? Kooperatif sedikit sesekali untuk memenuhi permintaan terakhir orang yang akan meninggal dong..”

“Sebenarnya, dalam catatan, anda sudah tercatat meninggal,”

“Ah ya.. baiklah, kalau begitu saya saja yang bertanya, nanti akan dibawa kemana saya? Surga? Neraka? Atau reinkarnasi seperti film-film kungfu itu?”

“Anda yakin ingin tahu?”

“Err... tidak akan ada bedanya tahu sekarang dan nanti kan?”

Waw, takut sih sebenarnya, berbuat baik aku jarang, berbuat jahat tidak pernah, ibadah kurasa cukup, aku sering membantu orang, hei, aku psikolog, itu terhitung membantu kan? Walau ada bayarannya, tetap saja hitungannya membantu orang. Pasti surga, eh, tapi rasanya terlalu mudah, lagipula aku baru saja jadi psikolog setahun terakhir, apa sudah cukup banyak orang yang kutolong? Bagaimana-bagaimana—

“Ehm Ehm..”

“Euh, maaf pak, lupa kalau anda bisa tahu apa yang saya pikir,”

“Begini (membuka catatan), waktu kecil anda pernah memukul kepala teman anda dengan gelas, itu minus, lalu pernah menaruh paku payung di bangku guru, minus, pernah melempari teman sekelas dengan plastik air kencing, minus, ah.. ini baik, memberi makan kucing dengan susu, plus, lalu—blablabla—oke, surga.”

“Hah?”

“Jangan senang dulu, surga dan neraka hanya berbeda suhu, di surga lebih sejuk, sementara neraka panas sedikit. Yah, kalau di dunia orang hidup, surga itu seperti bumi bagian barat—apa namanya?—ah, eropa. Neraka, katakanlah seperti daerah tropis. Saya pribadi lebih suka berlibur di neraka—ah.. maaf, melantur, ehm. Dan anda bisa berkunjung atau pindah ke dua bagian dunia itu jika anda mau. Yang berbeda dari dunia orang hidup, disana anda dapat mati, tapi di tempat yang anda kunjungi nanti, anda abadi. Mudah saja.”

“...”

“Pak?”

“Gentayangan sajalah..”

Permisi..

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, February 11, 2009

Posted at : 12:17 AM

Lelaki itu berbelok ke kiri tepat di sebuah persimpangan, daerah mana, tidak tahu, karena esensi fragmen ini tidak menekankan kepada sebuah kejelasan geografis. Ah nona, ah tuan, mari. Lelaki itu berjalan tanpa melihat segala yang ada disekitarnya, fokusnya terpatri kepada buku yang ia pegang setinggi dada. Berbahaya memang. Matanya minus, sehingga buku itu didekatkan sedemikian rupa sampai-sampai nyaris ia cium. Sayang, padahal cuaca pagi ini begitu indahnya. Tirai-tirai kabut kabut tipis menyelimuti hari yang seolah enggan beranjak siang, udara dingin menggelitik tengkuk siapapun yang berada di luar selimut, menggelitiki syaraf-syarafnya manusia dengan jahil tanpa pandang mata.


Tapi ia tak tergoda.


Trotoar bersemen bagus, menandakan lingkungan perumahan yang cukup prestisius. Pepohonan lebat yang beranjak kuning musim gugur memenuhi kanan kiri jalan tak bernama pagi ini. Ah. Kasihan si lelaki, ia bahkan tak menengok sedikitpun saat ada kucing kecil lucu mengeong lembut di sudut trotoar. Kehilangan induk sungguh malang. Langkah bisunya bergesek perlahan dengan semen, membaca dengan lekat buku tak berjudul di tangannya yang kaku, desau angin dingin ia hiraukan, suara sayup dedaunan ia tampik, bau rumput bertanah pagi ia campakkan. Ia ada, dalam dunianya.

Deru mesin satu dua kali terdengar, cahaya suram lampu kabut menyinari jalan yang tak tampak mempunyai ujung. Bayang-bayang besar mobil melewati si lelaki acuh, sama acuhnya seperti si lelaki terhadap dunia yang ia pijak.

Ia menyentuh dadanya sesekali, memeriksa apakah jantungnya masih berdetak sampai detik ia menyeentuhnya. Masih. Ia baru saja ditinggalkan kelompoknya karena suatu urusan, kekurangan tempat menjadi alasan. Ia enggan mengingatnya saking bosan. Acuh, memegangi dada kirinya yang berdetak konstan, ia masih berjalan membaca bukunya tenang. Tapi aneh, semakin jauh ia berjalan, semakin ia sadari, bahwa irama nada jantungnya makin naik. Degupnya makin cepat. Dan disaat ia mengalihkan perhatian dari bukunya, bersamaan pula saat ia menemukan bahwa dirinya tengah berada di deretan pohon berbatang menjulang minim daun. Pohon bambu. Ia baru tersadar setelah entah berapa kilometer ia berjalan, ia sudah pergi begitu jauh meninggalkan tempat perpisahan dengan kelompoknya. Dan dimana dia sekarang? Tidak tahu, fragmen ini tidak menceritakan kejelasan geografis, bukan?


Pohon bambu—banyak pohon bambu.


Pagar-pagar besar setinggi dua meter memenuhi daya tampung retinanya.


Dan dibalik semua itu, bangunan.


Bangunan besar bergaya renaisance-hampir-belanda. Dinding-dindingnya bercat putih kusam mengelupas sana-sini. Dua ting—tidak, tidak—tiga tingkat, menjulang tinggi angkuh di tanah yang entah berapa meter kubik luasnya. Lelaki itu terpana melihat bangunan tersebut, tak bergerak, tak mampu, diam.

Desau angin berhembus tega, menggoyang rimbunnya dedaunan bambu di pekarangan rumah itu. Baunya, hmmh, kau tentu tahu sendiri. Dan bunyinya,


‘Srsssshhh.. Srsssshhh.. Wurrssshh’


Instrumen murni dari alam, dengan sentuhan modern geraman mesin pesawat dari kejauhan. Ia menatap takjub akan semua yang ia rasakan sekarang, buku yang ia baca sudah entah tergeletak dimana, ia kosong seketika. Pandangannya tertuju ke setiap lekuk bangunan tua di hadapannya sekarang, tiap tikungan tangganya, gagangnya yang berkarat megah, pintunya yang besar dan berkelas, lalu jendelanya yang—


Apa?


Sesuatu, siluet kasar nampak buram dari mata minus si lelaki. Berdiri di dekat salah satu jendela rumah tua yang mistis mutlak. Detik itu pula, si lelaki ingin pergi meninggalkan tempat ia berdiri, berlari, sensasi tak nyaman entah apa menggantikan pesona alam yang ia rasakan beberapa saat lalu. Tapi ia tak bisa. Sesuatu aneh mengetuk pelan hatinya yang kaku, menariknya perlahan, memaku kakinya yang enggan namun ingin beranjak. Siluet itu bergerak perlahan menyambut angin dengan anggun dan lembut. Perempuan?

Si lelaki mengerjapkan matanya maksimal, akomodasi matanya yang payah ia paksakan sampai batas terujung. Dan ya, itu kuntilanak? Dengan suasana yang demikian, besar kemungkinan, tapi bukan! Bidadari? Juga bukan.


Kuntilanak-nyaris-bidadari. Pastilah itu.


Rasa enggan dan rasa tertarik sekaligus, apalagi kalau bukan entitas yang demikian absurdnya? Yang jelas satu, ia perempuan. Benar kan, non? Mau kuntilanak, mau bidadari, asalnya tetap perempuan. Entitas asing itu tak menggubris keberadaan si lelaki, sama sepertinya, ia terkungkung dalam dunianya yang sempit, berbatas tegas kaku, percaya bahwa tidak ada yang ingin menembus batas tersebut. Ah. Kata siapa? Sekarang si lelaki terpesona, akan suasana mencekam, akan getaran menyenangkan, absurd, tapi kau tahu rasanya? Ya, asik.

Si lelaki melangkah ke depan gerbang, memandangi sebuah ketukan bermotif singa menggigit cincin, tanpa ragu, ia meraihnya dan membenturkanya tiga kali ke pagar.

“Knock, Knock, Knock,”

“Boleh aku masuk?”

Strange..

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, June 18, 2008

Posted at : 7:38 PM

Gw ga tau gw ada dimana, tempat yang gw temuin bukan pemandangan kamar sempit gw yang biasa, bukan PS2 gw yang selalu setia duduk manis di meja kayu depan tempat tidur, tapi gw bangun dijalanan becek yang lembab, air menggenang kira-kira satu senti dr pijakan gw. Jalanan itu memanjang sampe jadi titik, seakan ga berujung, gelap total, sumber cahaya cuma berasal dari ujung jalan, itu juga cuma samar-samar. Gw ga tau harus kemana, akhirnya gw mutusin buat ikutin jalan itu sampe ujung, berharap bisa nemuin jalan pulang lg dari tempat yang sumpah, gw ga pengen banget datengin.

Lama gw jalan, gw berasa agak capek, tapi jalan ini ngga nunjukin tanda-tanda bakalan abis, gw nunduk sebentar megang lutut, ngambil nafas sesaa.. sekedar persiapan kecil buat nempuh lg perjalanan gw yang entah kapan bakalan selesai. Tapi begitu gw angkat lagi kepala gw, samar, gw ngeliat orang di ujung jalan, dia bawa semacem kantong plastik item di dua tangannya, isinya membulat kepenuhan, dia diem aja, ga bergerak, dan gw pun mulai jalan ngedeketin dia, siapa tau bisa nanya jalan pulang sama satu-satunya orang yang gw temuin di jalanan ini toh.

Udah cukup dekat buat ngeliat lebih jelas bentuk orang itu, udah ga keliatan sekedar Siluet aja seperti yang gw liat tadi, dia pake jaket ber-Hood warna hitam, hitam yang nyaris blend sama warna gelap disekitar dia, bagian belakang kepalanya ngga keliatan, ketutupan Hood, dia pake celana baggy warna hitam yang sama pekat dengan jaket Hoodnya dia. Entah kenapa, gw tau, bukan ide bagus buat gw deketin orang ini, tapi badan gw ngga bisa dikontrol, bawaannya harus maju! harus samperin orang itu! dan akhirnya, badan gw berenti sendiri.. kira-kira 3 meter dibelakang dia, gw diem.

gw perhatiin lagi kantong plastik yang dia tenteng sedari tadi, ada banyak benang hitam sewarna rambut yang mencuat dari sela-sela kantong itu, ga tau itu apa. Dan sekali lagi, gw ga tau apa yang gw lakuin, gw melangkah sedikit kedepan, berenti, dan ngomong, "jalan pulang?", dan bahkan gw sendiri ga ngerti apa maksud gw ngomong begitu, keluar begitu aja. Orang itu diem aja denger kata-kata gw, gw terus ngulang kata "jalan pulang", sementara perasaan ga enak gw untuk cepet pergi dari tempat ini makin gede, bukan ide bagus menurut pikiran gw buat berlama-lama disini, tapi apa daya? badan gw sama sekali ga mau nurut.

Dan setelah lebih dari sepuluh kali ngulang kata "jalan pulang", orang itu nunjukin tanda kalau dia denger, badannya bergerak sedikit, tiba-tiba dia nguarin dengusan keras yang sumpah bikin gw takut. Dia nengok ke samping, matanya ngeliat kearah gw dr celah-celah Hoodnya, mata yang nyaris putih total andaikan ga ada pupil setitik ditengah-tengahnya, dan dia make kacamata frame besi yang bening, tipis. matanya gerak-gerak pelan, seakan mempelajari gw, mungkin. setelah beberapa saat, dia nengokin kepalanya lagi ke depan, dan sekarang dia muter badannya ke belakang, ke arah gw, bener-bener cara gerakkin badan yang aneh, seakan dia ga berbobot, tangannya masih menggantung megang kantong plastik tadi, dan akhirnya keliatan, mukanya.

umur sekitar 40an, rasnya, seperti yang gw jelasin tadi, berkacamata dan berpupil titik, kerutan tebal menuhin muka dia, wajahnya cekung, pipinya tirus dalem, kurus. dan dia langsung senyum ke gw, bukan senyum yang tentram, senyum yang sadis, kejam, dan berbahaya mungkin, dan giginya putih bersih, bakalan terlihat nyenengin andaikan ngga semuanya berbentuk taring. dia bergerak pelan ke arah gw, kakinya diseret, nimbulin suara yang ga ngenakin kuping, tp kayanya dia ngga ada masalah dengan cara jalannya itu, gw tetep diem, padahal gw tau gw harusnya lari, tp gw ga bisa. Dan sekarang jarak gw sama dia tinggal setengah jengkal, dia lebih tinggi dari gw satu kepala, itu membuat dia harus nunduk buat ngeliat gw, dan gw pun mendongak.

rasa takut udah ga bisa ditahan lagi, gw mulai gemeter, rasa dingin udah nyebar keseluruh badan, gw pengen lari. dari jarak sedeket ini, gw bisa jelas geliat benda apa yang dia bawa di kantongnya, gw ngelirik, dan gw tambah ngeri, isinya kepala, warna kulit si kepala itu putih pucat, udah ga ada darah, dan ga cuma satu, ada banyak sampe ngebuat kantong itu ngembung gede. dan waktu gw nengok lagi (dengan ngeri) ke arah wajah orang itu, mulutnya udah kebuka lebar sampe ke leher.. saat itu saat gw baru bisa bergerak, tapi belom sempet larim, mulut udah itu melahap gw sampe setengah badan.. dan detik berikutnya.. gw bangun, baju gw basah sama keringet, gw teriak2 histeris tanpa sadar.. mimpi yang serem.