Ngapel Ekstrim
Filed Under (For Remember,Journal ) by Pitiful Kuro on Tuesday, May 24, 2011
Posted at : 4:25 AM
Ini berkenaan dengan perjalanan gue ke Surabaya kemarin, naik motor. Dalam rangka tujuan ngapelin pacar tersayang, Nanda (tjieh). Gue udah di wanti-wanti sih, baik sama orang rumah, ataupun dari pihak keluarga yang ada di Surabaya sana, kalau jangan naik kuda besi roda dua itu, capek, jauh, panas, nanti di tempat tujuan kerjanya tepar doang lah. Tapi bukan gue dong kalau nggak kepala batu, tetep ngotot, dan akhirnya memutuskan untuk tetap pada rencana awal. Motor kesayangan udah diajak bicara empat mata, udah dielus-elus sedemikian rupa untuk ngebujuk, mesin udah dikelitikin supaya makin manja, minuman juga dikasih spesial—oli baru. Diable pun siap berangkat.
Nggak, disini gue nggak akan bicara road report kok.
Tapi apa ya?
Bayangin aja, gue berangkat dari Bandung jam setengah satu pagi, nunggu Nanda tidur dulu baru berangkat. Oh yeah, gue berangkat nggak pake bilang soalnya, gue nggak pengen my Brown Sugar khawatir nungguin gue di jalan, nggak enak di guenya juga karena bisa kepikiran, jadilah, rencana dadakan tanpa bilang ini diambil. Kurang baik apa coba pacar yang satu ini #jeger. Jalur yang gue ambil tentu jalur utara, masih agak ngeri lewat selatan, selain legenda yang bilang banyak begar sepanjang jalan, jalurnya yang terlalu banyak potongan dan persimpangan juga gue jadiin pertimbangan, mengingat gue masih awam dalam touring jarak jauh, mending cari jalur gampangan.
Pagi masih buta, malam pun belum habis tersapa, mesin menggerung perlahan, rokok dinyalakan sebagai tanda pelatuk sudah ditarik, sepi, saking heningnya bahkan jangkrik pun malas berbisik, mungkin meninabobokan anaknya yang terlalu berisik. Gelap. Satu dua kendaraan bertegur sapa dengan lampu jauhnya. Sesekali memaki kalau disorot dengan lampu tinggi kelewat silau, pelepasan emosi namun hanya sekedar persaudaraan jalanan. Halah.. perjalanan malam hari itu nggak ada yang bisa ngalahin, walau horor dan banyak yang bergelantungan di atas pohon, ketenangan yang gue dapat nggak sebanding dengan mereka yang melayang-layang teror.
Malam tersapu di ufuk timur, perubahan pertama yang gue lihat. Awalnya biru tua, perlahan biru muda, lalu tersapu oleh pendar jingga setipis kapas, berganti oranye muda memeluk mata, dan akhirnya pagi membuka. Mungkin ini waktu-waktu dimana gue nggak membenci pagi, gue melihat langsung dari nol pertambahan cahaya yang dibiaskan dalam rentang warna, gimana caranya gue membenci apa yang gue pupuk dari hampa? Hitam menjadi cahaya. Gue nyengir sambil ngopi di pinggir pantura. Rokok mengepul di sela jari siap menyuap muka.
Jalan terlalu panjang telah terlewati, ingin kembali pun percuma, terlalu jauh untuk memutar arah. Lelah, capek itu pasti, tapi terobati. Semarang, Kendal, Demak, semuanya serasa di rumah. Entah tautan apa, mungkin karena ada darah Solo mengalir di nadi. Gaya bangunan dan daerah yang begitu mirip kampung halaman seolah menyapu keringat tanpa perlu di seka, senyum kembali muncul di wajah yang menghitam, tersapu asap truk besar mengandung oli. Kota-kota itu seolah memberi tenaga pecut di otot yang mulai terisi asam susu, semangat memuncak, 500 kilometer yang telah dijamah seolah tanpa arti.
Setengahnya berkat pak Yuda, kawan lama yang baru bertemu. Tiga jam kami beriringan di jalan, tanpa kenal dan bermodal klakson serta sorotan lampu, kami menjadi sahabat. Bekerja sama menghindari lubang ranjau pantura, berkelit ketika ada bahaya, dan akhirnya duduk bersama di kedai es kelapa. Mengobrol tidak banyak, hanya tertawa dan berbagi ilmu seputar mesin, seputar keluarga, dan sedikit berbohong pada bapak satu ini tentang siapa yang gue begitu bela sampai menempuh jarak Bandung – Surabaya (huahaha). Di Tuban kami berpisah, anak istrinya menunggu di rumah, sementara sang calon masih tak tahu apa-apa haha-hihi di Surabaya.
Eh? Sudahkah gue bercerita tentang Rembang? Ini kota yang luar biasa apik, kawan. Di kanan ada dusun, di kiri ada apa? Tau? Laut. Laut yang begkitu hijau, begitu biru sampai dasarnya pun terlihat dari atas motor yang gue tunggang. Terpana, sampai hampir nabrak saking terpesona. Lupakan Ancol yang bayar 20 rebu sekali masuk. Disini nggak bayar, tapi indahnya seperti Ancol dilipat tigapuluh. Ingin berhenti, menghisap rokok di tengah pantai berpasir putih, siapa yang tidak tergoda? Tapi sayang, waktu berkata lain, mepet, dan tidak ingin membuang waktu banyak di jalan. Aspal pun terus digerus sampai keringat terakhir.
(telepon bunyi cuk!)
“Hani lagi dimana?”
“Mana ya.. nggak tau nih, lagi nyasar nyari Mesjid Akbar.”
“Hah? Hahahah.. serius ah, lagi dimana?”
“Beneran.. nggak percaya?”
“Nggak.. hahaha.. serius Hani.”
“Dih, nggak percaya… bentar, tanya mas-mas tukang rujak nih kalau nggak percaya.”
(Setengah tereak nanya orang)
“Mas, nanya dong, ini daerah mana ya?”
“Ketabang Ali mas!”
“Nah tuh.. percaya nggak?”
“HAH? SERIUS?!”
*duer*
Yah.. nasib nggak dipercaya pacar sendiri.. #toet
Surabaya masih sama, banyak motor, panas (bukan pengap), logat Njancuk’I terdengar di mana-mana, sesekali Madura berbicara. Rasis yang sama. Suasana yang sama. Gue pun berputar-putar mencari alamat dengan patokan tempat ibadat. Ketemu? Jelas. Gue memarkir motor di salah satu pelataran masjid terbesar Surabaya itu, dan duduk, menyalakan rokok tanda kemenangan. 750kilometer habis dilahap, tanpa masalah, tanpa hal yang mengganggu, hanya rasa girang yang kelewatan, ketagihan, dan secepatnya ingin mengulang. Nggak perlu ditanya, capek? Pasti, lelah? Apalagi, pegal? Alamak. Tapi tau nggak? Begitu ada cewek cakep naik Supra Fit dateng dan parkir di depan gue, dengan senyum manisnya yang sama dengan beberapa waktu lalu diberikan untuk gue. Rasanya capek gue rontok semua.
Yah, menyenangkan kok, banget malah. Perjalanan gue kemarin dari Jakarta, Bandung, Malang, Yogya, Solo sampai akhirnya balik lagi ke Jakarta. Banyak orang-orang yang udah lama pengen gue temuin baru kesampaian kemarin itu. Dan ekspektasi gue ketika bertemu dengan mereka pun terlewati, lebih daripada yang gue harapkan ternyata, hehe.
Salah satu cita-cita gue terkabul, naik KA Ekonomi jarak jauh Bandung-Malang, harusnya sih dari Jakarta, tapi ada perubahan rencana. Rasanya? Yah, pegel, tapi rame, lo bisa ngobrol sama banyak orang disana, kaya biasa, itu adalah salah satu kesenangan di perjalanan buat gue. Hampir ¾ waktu perjalanan bahkan gue gunakan untuk mengobrol dengan orang yang entah disebelah gue, atau bahkan yang cuma lewat. Biarpun harus berkorban kaki jadi rada bengkak karena kelamaan berdiri, gue mendapatkan pemandangan sosial yang begitu indah.
Bayangin deh, penumpang pada merutuk karena pedagang bolak-balik lewat, padahal kadang mereka pada beli juga, dan para pedagang menggerutu karena gak dikasih jalan lewat sama penumpang yang berdiri, walaupun mereka bakalan jadi konsumen nantinya. Itulah, paradoks perkeretaapian Indonesia.
Paling menyenangkan tentu di Malang, gue ketemu banyak orang-orang yang menyenangkan lagi menarik disini. Gue diberikan tempat berteduh di kos temennya Ussi. Di tempat ini gue bener-bener diberikan gambaran kos-kosan cowo yang sering ditampilkan di cerita-cerita, yang 1 komputer rame-rame lah, yang punya konsol game wajib berbagi lah, traktir-mentraktir makanan, kalau malem kumpul di 1 kamar.. wueh.. Bandung kalah telak kalo soal ini.
Buat gue, kesan perjalanan gue di Malang bukan dari tempat-tempat wisata yang gue datangi, tapi justru dari orang-orang yang gue temui disana. Pesona yang diberikan candi ronggo ga sebanding dengan kebersamaan yang gue dapetin disana. Dinginnya Batu kalah dengan sesi obrolan singkat gue sama rekan yang bener-bener bikin gue semangat itu. Ngopi di warteg (euh, oke, kayungyun), ngobrol sama supir angkot dan banyak lagi. Gue bahkan berpikir, agak rugi juga gue gak berusaha lebih keras untuk masuk Brawijaya dulu pas SMA.
Malang itu kecil, seuprit dibandingkan Jakarta, cuma setengahnya Bandung tapi pesonanya luar biasa. Kota suram kalo kata gue. Kota dimana gue ga akan mau keluar di sore hari, kenapa? Karena pasti aura suram sepi bakal turun menggelayut memenuhi udara dan mengisi paru-paru lo dengan angin sendu. Cocok buat gue kali ya?
Gue ga begitu suka Jogja, yang pasti bukan kota wisata yang bisa dinikmati jika lo pergi sendirian, kota ini udah terinfeksi sama virus wisata, dimana segala-gala dijadikan komoditas, sulit bagi gue untuk menemukan sebuah obrolan murni sosialisasi disini. Entah gue yang nggak menemukan atau memang begitu adanya, nggak betah.
Dan Solo? Hey.. ini kampung gue, mau mengharap apa? Ketemu Mbah, Oom, anaknya, tante-tante dan segala hal yang ada disana, gue gak bisa ngeluh. Hek.
Lalu, apa gue akan menuliskan jurnal perjalanan gue? Haha, gue rasa nggak ya, kepanjangan dan kepala gue serasa penuh, lagipula, bukan hal yang bisa dinikmati saat menulisnya.
Saat Ngedrop Itu Dipakai Untuk..
Filed Under (For Remember,Journal,Sh*t ) by Pitiful Kuro on Monday, June 08, 2009
Posted at : 11:22 PM
Gue sakit, terhitung dari 19 Mei sampai sekarang. Dari sakit kepala ringan sampai memohon untuk habisi saja nyawa gue saat itu juga. Beberapa post sebelumnya juga memberitahukan hal demikian kan? Tapi siapa yang sangka gue sampai divonis Demam berdarah yang sepaket sama tipes oleh hasil tes darah keparat itu? Gue pun ngga menyalahkan dokter klinik yang keras kepalanya melebihi keras kepala gue untuk menyarankan gue di opname saja, oh sialan, rekor tanpa opname gue patah kan jadinya.
Terhitung tanggal 2 sampai tanggal 6 Juni kemarin, gue di opname, bukan pengalaman yang menyenangkan sih, tapi juga bukan hal yang nyebelin amat, it was fun. Awalnya, setelah dokter klinik menyarankan untuk di opname, Ibu langsung ngotot bawa gue ke Jakarta yang jelas-jelas gue tolak. Tugas banyak, UAS sebentar lagi, ngga mungkin gue meninggalkan kuliah dimana harusnya lagi masa-masa intensifnya kan? Tapi jelas, gue kalah. Dengan bukti autentik berupa hasil periksa darah dan keterangan dari dokter, gue ngga bisa membantah, dan saat itu juga gue langsung dibawa ke Jakarta dengan mengabari orang tertentu saja.
But from my brain is where I bleed.
Insanity it seems
Has got me by my soul to squeeze.
Well all the love from thee
With all the dying trees I scream.
The angels in my dreams
Have turned to demons of greed that's mean.
Ibu, paman (atau sebut saja begitu), dan gue ke Jakarta naik kereta, tadinya mau travel, tapi udah terlalu sore untuk nyari travel yang masih jalan jam segitu. Sampai di Jakarta, gue langsung diboyong ke RS. Islam, masuk UGD, disini gue bener-bener ngerasa konyol, saat itu gue sehat, serangan demam tipes yang biasa nongol malem hari itu udah gue lewatin pas di kereta. Jadilah..
Gue dan Ibu masuk ke UGD, menghampiri resepsionisnya, gue duduk dengan tenang di bangku yang kosong, si Ibu ngomong sama petugas.. dan ujug-ujug..
Petugas: Kamu! Kamu yang sakit kan?
Gue: *sempet nengok kanan kiri* ee.. iya pak.
Petugas: Itu, tempat tidurnya, kamu tidur disana sampai ada pertolongan nanti!
Gue: *Bengong* Tapi saya sehat pak..
Petugas: TIDURAN!
Gue: Hyaaa..
Entah karena bawaan UGD yang selalu hectic apa hal lain, itu bapak-bapak kayanya jadi sadis dah. Gue naik ke tempat tidur khas UGD yang kecil itu, dan taukah pemandangan apa yang ada di kanan kiri gue? Di kanan, gue melihat seorang laki-laki mengerang-ngerang hebat, wajahnya pucet penuh keringet, selimutnya entah dua atau tiga lapis, badannya ngga tenang dan bolak-balik teriak-teriak “Ibuu”. Di kiri? Horor, ada seorang bapak-bapak umur 60an lagi diobatin kepalanya, mungkin karena jatuh, kulit pelipis, bagian alis dan kelopak matanya lepas, dia bukan ngerang lagi, menggelepar. Di depan gue ada laki-laki umur 20 akhir yang bolak balik muntah darah, mungkin TBC atau habis kecelakaan, soalnya dia bolak balik megangin kepalanya. Di sisi lain, gue melihat laki-laki dengan tangan bengkok, tulangnya menonjol keluar, dahsyat, ngilu kuadrat ngeliatnya.
Dan apakah poin inti dari kesemuanya? Gue lagi sehat-sehat aja, dan gue tiduran kaya orang bego diantara erangan-erangan dan banjir darah di UGD itu.. ha-ha. Lima menit kemudian ada dokter jaga yang memasangkan infus ke gue. Gue baru pertama kali diinfus, jadi ngga tau rasanya, tapi apakah yang namanya diinfus itu sebegitu serunya ya? Soalnya darah gue ngucur deres sampai ngebasahin sendal, taulah. Selesai pasang infus dokternya langsung bilang ke gue agar langsung dibawa ke kamar aja, dan tau gue dibawa pake apa? Kursi roda, ampun dah, padahal gue udah mohon-mohon ke dokternya kalau gue masih kuat jalan, bawa-bawa infus sambil lari juga hayuk dah, tapi katanya prosedur dan gue disuruh nurut, yaudah, dengan badan sehat seger, gue didorong sama suster. Sampe di kamar, gue langsung tayamum, menjama’ solat magrib dan isya.
Target gue sembuh secepatnya karena gue harus kembali ke rutinitas gue.. secepat mungkin. Karena itu, disuruh minum, maka gue minum dengan porsi onta, disuruh makan, maka semua makanan yang dikasih rumah sakit gue makan tanpa sisa, disuruh jangan banyak gerak ya gue diem aja di kasur ngga kemana-mana. Cuma satu, cuma satu saran rumah sakit yang gue tolak mentah-mentah, pake pispot. Oh no, itu mimpi buruk, gue lebih suka bolak-balik kamar mandi nenteng infus daripada harus pamer benda keramat gue kemana-mana, maap-maap aja dah.
Lima hari berselang, gue akhirnya bisa pulang setelah ngotot-ngototan sama dokter yang mantau gue. Trombosit udah naik, DB udah bukan masalah, tinggal tipes dan demam sintingnya yang dateng tiap malem. Rawat jalan gue rasa udah cukup, lagian juga udah ada beberapa tugas yang menunggu dikerjain.
Hal yang cukup rese di kepulangan gue dari rumah sakit adalah, ngga berapa lama gue sampai dirumah, mandi dll, gue kedatangan tamu yang (sama sekali) tidak diundang. Yea, siapa lagi kalau bukan Tika dan Rere, oh, Tika sih emang niatannya mau dateng, tapi yang satu lagi tuh yang ngga diarepin kedatangannya. Yah, pokoknya makasih banyak buat Tika, terutama Rere yang udah menyempatkan waktunya jauh-jauh dari Sukabumi ke Jakarta yang entah dalam rangka apa mau mampir ke rumah gue sekedar jenguk dan ketawa-ketawa geje (sumpah, beneran geje). Walau akhirnya gue usir dengan tidak hormat karena demam gue mulai naik lagi, tapi gue berterimakasih sebesar-besarnya atas waktu yang disisihkan untuk menjenguknya.
Minggunya gue balik ke Bandung, naek kereta parahyangan paling pagi, tujuannya sih supaya sepi, tapi kereta minggu itu sama aja ramenya kaya jam-jam lain di hari lain. Untungnya sih yang sebangku sama gue tau kemana, bebas dah nikmatin dua bangku harga satu bangku. Sampai di Bandung ada yang berbaik hati ngejemput untungnya, ehe, makasih. Selanjutnya, hari minggu itu gue habiskan dengan sangat menyenangkan pokoknya, walau cuma di kosan, tetep aja menyenangkan dengan berbagai sebab (khu).
**
Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s

Untuk beberapa orang, judul Breakfast at Tiffany’s mungkin udah ngga asing lagi ya, apalagi di IH ada seorang Sigi yang memperkenalkan sang malaikat Audrey Hepburn yang baik disadari maupun tidak, telah mempromosikan pesonanya kepada anak-anak IH yang lain. Itu judul film yang dia (Sigi) rekomendasikan ke gue dimana Hepburn berperan didalamnya. Gue pun mengusahakan mencari film tersebut, apalagi mengingat siapa yang merekomendasikan film itu. Gue download via youtube tanpa subtitel. Nyaho dah, udah jelas kalau Breakfast at Tiffanys adalah film yang isinya 95% adalah dialog antartokoh, sementara gue menonton itu tanpa subtitel, plus bahasa Inggris gue khususnya listening itu sangat ecekeble, jadilah, gue Cuma bisa kerut dahi waktu nonton.
Selang beberapa bulan, saat menyusuri toko buku untuk mencari bacaan tambahan di kala bosan, gue menemukan buku itu, Truman Capote, Breakfast at Tiffany’s. Yeap, andaikata gue ngga bisa mengerti filmnya, kenapa gue ngga baca aja bukunya sekalian? Mumpung nemu. Gue beli dan gue baca. Dengan bayangan bahwa Holly Golightly adalah Audrey Hepburn (dan bukannya Raine Beau) gue sukses tersihir oleh dialog-dialog yang ada di buku itu. Kadang dialognya itu teramat panjang, bahkan bisa mencapai satu setengah halaman, tapi mungkin itulah gaya menulis Truman Capote, mengandalkan dialog daripada deskripsi, toh memang yang digunakan disini adalah sudut pandang orang pertama kan. Satu hal menarik yang gue dapat di novel ini, gue merasa (hanya merasa) menemukan darimana gaya tulisan Raine Beau berasal.
Gue merasa (sekali lagi, merasa) menemukan kesamaan antara tokoh Raine Beau dan Holly Golightly, bukan dari segi latar belakang, hanya pembawaannya. Pembawaan Holly yang humoris dan terkadang romantis entah kenapa gue rasa (ingat, merasa) tercermin didalam Raine Beau yang humoris (tapi sarkastis), dan romantis (tapi sinis). Atau apapun lah, gue hanya merasa begitu, anggap sajalah ini guyonan dari fans setia lo gi.
Alexandre Dumas Jr., Gadis Berbunga Kamelia

Kayanya ngga perlu ditanya lagi darimana gue mendapatkan rekomendasi buku yang satu ini. Tidak direkomendasikan secara langsung, tepatnya gue mencomot isi salah satu entri dari blognya Pradit yang ngebuat gue merinding di tiap paragrafnya sebagai rekomendasi. Entri tersebut memuat buku ini sebagai bahasan, dan gue menjadi amat tertarik untuk membaca dan mengalami hal yang sama dengan yang dirasakan oleh peresensi.
Ceritanya? Cengeng. Kisah cinta yang dikemas dengan sangat berlebihan, tapi gue suka. Gue suka bagaimana Armand Duval mencintai Margeurite Gautier dengan begitu murni, bagaimana Armand bisa meneteskan air matanya sebegtiu mudahnya kepada Margeurite tanpa gue menganggap Armand itu bukan laki-laki, mudah saja, mungkin Alexandre Dumas Jr. membawakan cerita yang begitu nyata tentang kemurnian cinta kepada gue dengan begitu apik. Bagaimana sebuah pembalasan dendam pun tetap ngga bisa gue liat sebuah pembalasan namun sebuah pernyataan cinta tak langsung yang diberikan Armand kepada Margeurite.
Gue mulai baca buku ini disaat gue lagi demam tinggi-tingginya di rumah sakit. Disela erangan manja anak laki-laki penghuni kasur sebelah, dan suara tee-vee yang sebisa mungkin gue hindari, gue membuka buku yang sengaja dibawa untuk mengisi waktu luan. Mungkin keadaan itu mempengaruhi gue, siapa tau, gue terlalu sentimentil saat mulai membaca buku ini.
Sampai titik ini, sampai gue selesai membaca buku itu, gue masih ngga bisa mempercayai bahwa di suatu tempat didunia ini ada manusia yang bisa mencintai seperti Armand. Gue akan menggunakan kata-kata najis disini. Dia bisa mencintai seseorang begitu tulus, sampai tadi gue bilang, dia menyakiti seseorang, membalas dendam tapi dendamnya ngga kerasa, gue hanya menangkap perasaan cinta yang tak tertahankan yang dimiliki Armand dari pembalasan dendamnya. Yang dia tetap menerima dan merawat Margeurite dengan begitu baiknya saat Margeurite datang memohon pengampunan. Dia begitu kehilangan sangat dikhianati, menangis. Terlebih saat ia mengetahui Margeurite meninggal dan ia tak sempat melihatnya lagi, yang pada bab awal gue hanya menaikkan alis membaca tingkah laku Armand yang aneh, pada bab akhir dan gue baca kembali bab awal lalu membaca apa yang tertulis disana, seketika gue paham. Dia adalah Armand Duval, seorang lelaki yang bisa mencintai dengan begitu luar biasa.
Awalnya, gue berpikir bahwa sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Armand. Pihak yang tidak mempunyai kekuatan dan harus mengalah saat pihak satunya ingin melakukan apa yang ia ingin lakukan, tidak punya hak untuk mengatur apalagi memerintah. Seperti Armand yang pasrah saat Margeurite kedatangan Duke yang menyokong pendanaannya. Armand tidak bisa protes karena dari segi finansial ia tidak dapat mengalahkan si Duke, ia harus menahan perasaan cemburu yang membakar otaknya, demi Margeurite. Ah, entahlah.
I feel the question
Of your loneliness
Confide... `cause Ill be on your side
You know I will, you know I will
1600 word, entri kali ini dicukupkan sajalah sampai disini.. kalau kepanjangan, juga susah untuk jadi memoar. Kadang gue benci bergantinya hari, karena perasaan yang dipupuk pun akan tumbuh semakin besar tanpa tanya suka atau ngga, betul kan?
And standing on
The brink of emptiness
No words... I know of to express
This emptiness
I heard a little girl
And what she said
Was something beautiful
To give... your love
No matter what
Not-so-Random Thingy
Filed Under (For Remember,Journal ) by Pitiful Kuro on Friday, January 09, 2009
Posted at : 4:02 AM
Oh yah, minggu tenang (23 desember – 5 januari) gue abisin setengahnya dijakarta dan setengahnya di bandung. Awal-awal, tanggal 23 siang, rencana pulang ke jakarta begitu selesai kuliah, naek.. Motor. Yup, Jakarta – Bandung dengan jarak kurang lebih 150km itu ditempuh menggunakan motor. Untuk orang yang udah terbiasa sama kendaraan roda dua itu sih mungkin kaga masalah, tapi kalo yang pantatnya perawan kaya gue, jah, pegel luar biasa. Siang menjelang sore, gue sama Dani (yang ngajakin ke jakarta naek motor) berangkat. Rencananya lewat jonggol, karena jalur puncak terlalu ekstrim buat dilewatin sama motor bebek (+ karung beras dibelakang).
Itu perjalanan, jangan ditanya deh, pegelnya dapet, tapi mata gue puas :d. Kami ngelewatin satu jalanan yang luruuuuuus banget, banget, cakrawalanya keliatan jelas, langit sama daratan kebelah dua, dan tanpa sadar gue nyanyi The Long and Winding Road-nya The Beatles—sumbang, untung lagi di motor, gada yang denger :p. Kejadian lain, hmm.. Ngga ada yang khusus sih, selain gue ampir jatoh melayang gara-gara ada turunan parah dijalanan dan si Dani juga dong-dong maen ngegas aja, siyal. Lama tempuh perjalanan itu sekitar lima jam, yeah, pantat gue men, pantat guee, bisa dibandingin sama 17" HP L1706 LCD Monitor, rata *lebay*. Sampe dijakarta kira-kira setengah enam, gue didrop di senen, dan dia langsung narik lagi ke tebet. Yah, lumayan, walaupun pantat pegel.
Dan liburan gue dijkarta? So-so aja tuh, gue namatin banyak buku yang sebelomnya ngga sempet dibaca, Ronggeng Dukuh Paruk, Maryamah Karpov, The Silver Chair, sama Parasit Lajang. Well, selain kegiatan rumahan geje ntu, gue juga melakukan ritual yang pastinya gue lakukan setiap kali gue kejakarta: sepedaan. Tapi ngga banyak tempat yang gue datengin kali ini secara solo. Cuman daerah sekolah, senen, cempaka putih dan sekitar serdang. Sebenernya disuruh si Ibu buat nyamperin bapak, nengok keadaannya, tapi yah, gitulah, skip skip.
Bersama kelompok Bersepeda Lintas Jakarta yang rada-rada heboh, rencana awalnya sih cuma mau sepedaan ke monas, makan bakmen (bakmi menteng), dan pulang. Sebelom berangkat gue ngusulin abis sepedaan kita pergi kemana gitu, maunya sih nonton, tapi entah kenapa berubah jadi ke kota tua. Awalnya, abis sepedaan, balik dulu, baru kita jalan ke kota tua. Eeeh, pas sampe di monas, si Lutfi ngusulin ke kota naek sepeda, ohoho, menarik. Gue pun ngusulin lagi, daripada cape ngegenjot, mendingan sepedanya dinaekin ke kreta, dan jadilah, tiga sepeda dan tiga penunggangnya ngangkut sepeda dari stasiun cikini ke beos. Di kota tua, malah maen bulu tangkis, wakakakak. Pulangnya, naek sepeda, dari kota, nyusurin jalan sampe ke jembatan merah, lanjut ke gunung sahari dan akhirnya balik kerumah lutfi. Yeap, cukup menyenangkan.
Sepedaan geje
bulutangkis-ing depan musim fatahillah :p
Itulah masa liburan gue dijakarta hanya gitu aja, ngga ada hal khusus laennya deh. Gue juga ngga ikut gath IH, dan gue juga ngga ikut ke cibatok buat tahun baruan, ah, taun baruan mah Cuma nama, emang orang-orangnya yang ngebet pada pengen kepuncak aja itu mah, wakaka. Beh, ngga makna banget lah. Dan tanggal 30 gue balik ke bandung diiringi sama kejadian konyol di stasiun, yaitu, yaoloh, kunci kamar kosan gue ktinggalan di rumah =)), emang mental pikunan, padahal gue udah balik dua kali ngecek barang, yang pertama gue ketinggalan USB, dan yang kedua charger hape. Dasar emang penggila gadget, USB n charger boleh inget, kunci ketinggalan :p. Itu membuat gue harus loncat dari kereta men, soalnya baru inget kunci ketinggalan pas 5 menit sebelom kereta brangkat, jadilah gue nelpon orang kosan, nanya ada kunci cadangan kaga, dan ternyata kaga ada, telpon selesai, kereta udah jalan, ya lompat gue.
***
Di bandung, malam taun baru gue abisin kaya biasa, nge-net, syahaha. Ngga makna dan sangat khas gue yak. Tapi pas jam 10an si Marwan, rekanan tandang menandang di kosan sms, mau dateng katanya, oke, seenggaknya gue ngga sendirian di taun baru, kasian juga si Marwan, anak desa datang ke kota. Jadi dah, dia dateng ke kosan gue, dan gue—seperti biasa, bikin kopi. Mendekati jam 12, kembang api mulai meletus disana sini, gue keluar dan duduk bersila di bangunan sebelah yang lantai duanya belom jadi :3. yah, ngga sebagus di cibatok sih, disana mah kembang apinya diatas kepala. Tapi lumayan lah, ngga jelek-jelek amat kok. Jam satuan dia pulang, gue kembali ngenet, ngobrol-ngobrol geje sama orang-orang yang juga begadang taun baruan. Dan begitulah, taun baru gue diabisin dengan ngga tidur selama dua hari penuh :p.
RW masih sama, berjalan dengan so-so aja. Gue sempet beneran frustasi. Gue jalan-jalan malem dari jam 8 ampe jam 12, satu kampus gue muterin, ajib. Dijalan gue diem, yang ngomong kepala gue. Tempatnya variasi, dari padang rumput, sampe lapangan baseball, dari pinggir jalan sampe bagian kampus yang terdalam, cukup asik.
Gue lagi berusaha ningkatin kualitas RW gue btw. Setelah gue pikir-pikir, yang paling mudah tuh kita menyusup masuk ke salah satu kelompok yang udah solid diawalnya. Dan ya, gue punya satu kelompok yang sangat ingin gue masukin, gue ingin bergabung disana, ingin ngobrol-ngobrol kaya mereka dengan satu sama lainnya, blabbering around without reason, yeap. Gue mencoba untuk gabung, gue selalu minta ikut kalo ada kegiatan ngumpul, berusaha ngebaur deh. Dan nyatanya. Setelah gue merasakan berada di tengah mereka, gue malah ngga kerasan. Kenapa? Pastinya sih ngga tau, cuma, gue merasa apa yang mereka omongin itu ngga pernah sesuai selera dan nyambung sama gue. Oh, diliat dari pembicaraannya sih harusnya menarik, pembicaraan khas anak-anak yang lagi berhormon tinggi lah, tapi tetep, gue ngga bisa nikmatin. Entah karena terlalu berharap membicarakan hal-hal fenomenal edukatif dan mempunyai output atau apa, gue ngga nyaman. Dan memang kan? Gue pada dasarnya ngga bisa bergeram dalam kelompok. Maan, kapan yah gue bisa gitu?
Dan btw, ada dua orang mensuggest gue untuk cari cewe =)), aduh, ngakak gue, alasan pertama, ada gitu yang doyan sama orang yang mukanya titisan preman pasar rebo gini? Alasan kedua, gue memang susah, dan lagi ngga pengen—dan sama sekali ngga mau membangun hubungan what so called ‘pacaran’, entah, saat ini gue berpikiran begitu, tapi semoga aja berubah. Soal unreachable? Well, sejujurnya sih, udah dari gue pindah ke bandung rasa suka itu gue alihkan ke ketertarikan aja, udah ngga menyangkut soal hati, tapi cuma soal selera, move on, rite? Dan untuk sekarang? Yaa, ngga ada yang nyantol-nyantol tuh, bentuknya hanya tertarik, dan ngga lebih. Cuma ‘terpanggil’ liat sifatnya, atau kadang kenampakan fisik seseorang. Dan bagusnya sih, gue ngga harus ngais-ngais tanah lagi, karena udah ngga pake hati :3. Satu orang sarap mengutuk gue kalo-kalo pacar gue berikutnya pasti dari NW, siyal. Sini kelinci lo, gue sate.
Japanese Carnival 2nd and 18th down..
Filed Under (Journal ) by Pitiful Kuro on Sunday, March 23, 2008
Posted at : 10:23 PM
yap, hari dimulai jam 6 pagi, mandi, solat subuh n siap2 mau ke NF, tapi ternyata penyakit males gw kambuh, akhirnya gw kaga NF dan mantengin Tipi aja tuh pagi ampe jam 11an, jam 11 gw langsung berangkat ke margo city naek patas 134, sepii banget, liburan kali yee, orang jadi males kemane-mane,
sampe di margo, gw langsung ke acara didalem, ngeliat2 barang yang (kalo bisa) pengen gw beli semuanya..T_T , ngga lama keliling2, gw ketemu anak2 IndoAnime (forum gw), salaman, greeting dan gw langsung misain diri, ngerasa nga bebas aja kalo kemana-mana dengan rombongan yang luar biasa berisik dan mayoritas urat malunya uda pada putus semua, mending gw ngejau d.. ngabisin waktu keliling2 lagi liatin cosu2 yang (maap) ngga sekeren waktu animonster sound kemaren,, trus gw ketemu sama moderator forum gw yg tadi, Tsuzuki.. ni orang luar biasa tinggi, ama gw mungkin beda sekitar 15senti kali yah?? n ketemu sama salah satu member yg lvl "ERO"-nya tinggi banget.. ngomongnya MOE truss... ada ce cakep dikit langsung dibahas, ck..ck..

(ki-ka)gw, sang moderator, 4reen, naina, g4ronk.. memisahkan diri dari kumpulan yg bising..
BTW, disini gw ketemu sama mantan gw, dan ternyata emang susah yah punya hubungan yang normal sama mantan.. gw ngerasa rancu aja nyapa-nya, ada perasaan nga enak, jadinya itu nambah alesan gw supaya nga gabung sama anak2 forum untuk mengarungi acara jejepangan inih..dan wow.. u know what? dia uda punya cowok lagi man.. ajib dah, kalah gw..
sorenya, sebagian udah pada pulang, jadi yang kesisa cuma orang2 yang pengen nikmatin Musik aja, karena band2 yang keren manggungnya di akhir acara, di acara ini, gw cuma nungguin 2 band, Amakusa dan Mama Rocker..komen gw mengenai performance mereka :
Amakusa
wew, keren.. ada 2 lagu album pertama X japan yg dibawain, vanishing love sama sadistic desire, trus lanjut sama I.V, nga nyangka mereka bawain lagu ini, itu lagu soalnya lumayan baru, nga sampe 2 bulanan kalo nga salah, tapi mereka udah dapet kuncinya dan maenin dengan baek pula.. top deh, lagu terakhirnya silent jealousy. semua lagu yang dibawain amakusa hari ini kok ada hubungannya sama patah hati? dunno d..
Mama Rocker
Rock.. hehe, cuma sayangnya, mereka nga Full meng-cover X japan hari ini, 2 lagu dari versailes, 1 dari mereka sendiri, dan yang 1 terakhir baru x japan, endless rain.. wogh, seneng banget dah mereka bwain lagu ntu.. T_T
and now.. kurang dari 1 jam lagi umur gw 18.. weh, udah berasa tua ni gwa (muka emang tua si..) besok mesti ngomong apa nih sama nyang minta traktir? boro2 nraktir, duit dari mana? dikasi jg kaga gw.. T_T..

gw yg 18 taun^^(diambil pake webcam warnet)
1 taun ini banyak banget hal2 yang tjadi di hidup gw yang nga bagus2 amat ini..contohnya..
-Diangkat jadi Wakil ketua Rohis
-Berat turun 20kg tp naek lg 20kg
-Resmi Pacaran pertama
-putus yang pertama
-Perang bintang dirumah
-pertama kalinya anggota keluarga meninggal (Ojiisan)T_T
-pertama kalinya suka sama seseorang banget2 (skrgpun masih!)
-buanyuaak de..
weh, males pulang, pengen nginep di warnet.. bleeeh, besok udah senen lagi, long weekend ini serasa mimpi, jangan bangun dong..
_FIN_
Animonster sound aishiteru 2008
Filed Under (Journal ) by Pitiful Kuro on Monday, February 25, 2008
Posted at : 8:25 PM
stnga 8 brangkat ke NF, rencannya dari NF pengen langsung berangkat ke Halte busway buat brangkat ke JaCC bareng rombongnnnya Chibi-ko, di NF ternyata Trt out-nya dipercepet dan ngga pake istirahat (weh, pada jago2 banget dah)..
karena jadi pulang kecepetan,.. (baru jam 10, padahal ngumpul jam 11) gwa pulang dlu kerumah, makan dlu n siapin bekel, jam 11 gwa baru berangkat (telatin dkit krna kayanya bakalan telat ni orang2)sampe di halte, gwa nunggu si kage sambil baca buku, ngga lama, akhirnya tu orang dateng dan langsung ke lippo buat jemput darto (kaga nyangka aja ni orang ikut, kaku dah), lanjut ke galur buat jemput ilon,olip, watay n yulie, agak kecewa dan lega juga karena orang yang "dimaksud" itu ngga dateng bareng si watay..
tumben2an busway sepi, duduk dah.. sampe di JaCC, tnyta uda mayan rame, celingak-celinguk nyari anak2 forum tnyta blum dateng, yasud, jadinya muter2 sambil nyuci mata ngeliatin yang cosu.. sugee, keren2 banget de kostum-nya, specially yang kamen rider ichigo sama V3!!
jam 3an, cabaret machipot mulei, weleh2, kaya biasa, cabaret-nyta machipot selalu penuh sama action2 yang kereeen2 abiss, sampe2 gwa bilang. "ini smek don apa king of fighter?" salut juga buat Hamaya yang rela2in badan-nya kebanting-banting ampe luka buat nyuksesin cabaret-nya, naisu pure!!! walopun ada bagian yang rada janggal, kaya waktu si char-nya curq ngelempar surat ke Tydesh,kayanya rada kecepetan yah si Tydesh nguarin suratnya.. trus sayang banget apinya fail buat dikuarin, tapi secara keseluruhan.. TOP ABIS dah!! ngga ada yang ngalain..
ngga lama abis cabaret, ketemu si si curq buat transaksi koleksi, tnyata Cd yang gwa pesen ketinggalan, tak papa-lah, laen kali aja..
jam 6 kurang, ud pada pgel, pada mao pulang, si ilon sama olipe tetep ditempat wat ketemu si tetchi (set dah), pulang naek busway, si kage turun di galur, gwa ngikut ampe pasar cempaka krna Hp-gwa di HM buat Sms T_T, gapapalah. toh di halte cempaka gwa sempet2in buat "nitip salam" buat tu orang (yang baru gwa tau kalo dia dipanggil "jgek"? what dat?)
selesai dah..
_FIN_
Operation : Cabut!!
Filed Under (Journal ) by Pitiful Kuro on Tuesday, January 15, 2008
Posted at : 3:20 PM
akhirnya setelah sekian lama jadi anak baik (^^) gwa cabut dari sekolah,gwa cabut juga bukan tanpa alasan,gwa pengen mikirin macem2.. dan gwa yakin,semua orang juga butuh waktu khusus untuk mikirin masalah2nya.. iya khan?
do you need sometimes all alone?
dont you know you need sometimes on your own?
everybody need sometimes on their own
dont you think you need someties all alone?
awalnya gwa bingung mau pergi kemana,ada orang yang nyaranin supaya gwa kewarnet aja,"maen aja bung,naekin lepel,have fun aja," bzt..kalo maen,apa yang dipikirin? akhirnya gwa mutusin bwat ke bogor aja,udah lama ngga kesana.. kangen juga sama udaranya n pohon2 disana.. hehee..
gwa ke bogor naek kereta dari stasiun cikini,lumayan sepi lah,tapi tetep aja ngga dapet tempat duduk,pegel oy.. sampe di bogor gwa langsung jalan ke kebun raya bogor,disini gwa mikir macem2.. kayak Ibu gwa yang makin kacau aja ngedidik ade2 gwa yang masih kecil,Bapak gwa yang entah kapa baru mau pulang kerumah,ade2 gwa ntar gedenya bakal kaya apa dengen didikan yang kayak gini dari orang tua dan orang2 laen dirumah gwa kayak bude2 gwa yang tutur katanya berantakan.. banyak deh..
dan gwa juga mikirin diri gwa sendiri.. (pastinya dong..) sebenernya,yang gwa pikirin tuh sama2 aja kayak renungan2 gwa sebelumnya, kayak.. kenapa gwa ngga bisa begaul sama orang laen? kenapa gwa segitu takutnya temenan sama orang laen? kenapa untuk ngilangin jarak yang gwa buat sendiri aja kok susah banget? kenapa untuk ngomong sma orang yang gwa suka pun gwa ngga bisa? kenapa begini? kenapa begitu? kenapa? nan de?..
setelah puas mikir macem2.. gwa langsung head-back to the station.. dan.. wow.. rame amat massa-nya kayak es cendol.. mungkin karena keretanya ketahan dimana kali gitu.. ngga tau deh,dan begitu keretanya dateng..parah banget gwa ampe kalah rebutan tempat duduk sama ibu2,ada ibu2 yang sampe manjat gitu,mantap banget dah indonesia ini,gwa cuma bisa nyengir sambil geleng2 pala aja,dan karena kereta penuh,gwa jadinya nyengser di pintu kereta,hontou ni.. ini pengalaman pertama gwa nyengser di kereta..^^ bener2 beda sama nyengser di metromini atau mikrolet,jauh lebih thriller dah,bener serasa mempertaruhkan nyawa gwa >.<
sampe dijakarta dengan tangan pegel2 karena pegangan sama pintu kereta,gwa pulang,shalat dzuhur, n tidur ampe sebelum magrib.. dan sekarang? lagi megang keyboard kompi.. ngetik blog.. ada2 aja deh.. yosh, jya ne


