Showing posts with label rant. Show all posts
Showing posts with label rant. Show all posts
Can’t sleep. Yah, bukan berita baru emang, tapi kali ini agak sedikit heboh. Mengurut kabel ke dua tahun lalu, sehabis gue tipes dan bedrest beberapa hari dirumah, gue kena serangan di perut, pokoknya sakit, dan gue guling-gulingan sampe pagi. Nah, baru aja gue kena lagi yang sakitnya mirip—toh gue juga abis tipes lagi kemaren, mungkin emang simptomnya begitu? Saking sakitnya gue sampe ngelakuin hal-hal ridikulus kayak minum aer yang masih ngebul, nenggak jahe instan tiga gelas, dan pada akhirnya, gue memaksakan untuk muntah. Bukan muntah uek, tapi emang disengajain muntah, sukurnya, rasa sakitnya berkurang setelah muntah kepaksa itu, amen. Lalu, mumpung mata udah melek jelas begini, mubazir kalo nggak dipake di depan kompi untuk menuliskan satu dua hal. Apaan?
Auk.
Auk.
PPS Kuadrat Kali Delapan
Filed Under (For Remember,From My Mind,rant ) by Pitiful Kuro on Saturday, December 11, 2010
Posted at : 4:47 AM
Ini jam setengah lima pagi, waktu dimana seharusnya gue lagi pelukan sama pacar gue tercinta: guling. Tapi toh, gue disini, bangun dengan mata setengah belo akibat efek kafein, dan ensefalon yang sedikit meringan berkat nikotin, mencoba menulis. Minim ide, minim tulisan, minim kata yang bisa gue susun belakangan membuat gue takut setengah mati, mereka itu teman terbaik gue yang bisa gue peluk sementara bayangan gue sendiri udah kabur entah kemana, sahabat dikala sepi, orang tua yang membesarkan gue dengan pecutan-pecutan tipis tapi perih yang membantu gue menemukan apa yang gue ga bisa gue temukan sendiri.
Dan gue Nampak berkhianat, durhaka pada mereka. Gue menipu diri, menipu otak dan pola berpikir gue, yang entah sejak kapan berubah makin konkrit ga asik secara subjektif. Subjektif bukan objektif, gue bukan mereka dan mereka tentunya bukan gue. Ketika gue menulis, itu adalah biji dari buah yang akan menghasikan buah yang bakal gue makan sendiri, which is: tulisan gue adalah gue yang baca, reminder, pengingat, bahasa sompretnya diary, ini blog gue dan itu tulisan gue. Berterima kasihlah pada yang mau mampir, tapi hell-a-day kalau-kalau ada yang nggak ngerti, toh tujuan asalnya tulisan ini hanya punya 1 konsumen tetap, yeah heck, gue sendiri.
Gue PPS, bukan PMS walau gejalanya rada-rada mirip, kayak yang gue coba jelaskan di postingan sebelum. Gue membaca cerita lama, tentang orang yang merasa kuat jika dia menjadi serigala dan bukannya domba, cukup dia sendirian melawan dunia yang mandang dia pake mata perompak, sebelah mata. Disaat para domba pada ngegosipin serigala dengan sinis bin najis, dia Cuma bilang, “wat de fak lah”, yeah, walaupun serigala ga bisa ngomong, pasti itu yang bakalan dia ucapin di hatinya—kalo punya. Sendirian, bermain di hutan gelap tanpa cahaya, bertahan hidup dengan mengandalkan taring dan cakar, dikendalikan rasa lapar dan insting. Lalu pada suatu saat, Tuhan melihat serigala tersebut dan kasihan karena kesendirian serigala itu. Maka ia bertanya pada serigala, “maukah kau memiliki teman dan keluarga?” serigala yang selalu merasa kesepian mengiyakan tanpa ragu, dan pada saat itu juga, Tuhan mengubah serigala itu jadi domba agar dapat membaur dengan domba-domba lainnya, berkawan, makan rumput dan dislepet sama gembala yang menggenggam garpu dan pisau di tangan, menunggu sang domba matang dan tinggal sembeleh pas idul adha.
Dan ceritapun makin ciamik, si serigala bermuka domba hidup bahagia, nggak perlu membunuh lagi untuk makan, bisa berkawan dengan domba-domba gaul lainnya dan yang paling membuat dia kesengsem.. ketemu domba cantik menawan idaman para dombawan lainnya, menikah dan makin seneng. Tapi cerita nggak akan menarik kalau akhirnya happy ending, penulis pun mencari ide yang agak twist dan mengaplikasikannya ke cerita yang ia buat. Voila, domba kita tadi ini ternyata masih menyimpan unsur keserigalaan yang ia tidak dapat kendalikan, ia mengamuk sering kali, membuat kawan-kawan dan istrinya dombawati tercinta pun takut dan akhirnya meninggalkannya—takut kecaplok dan jadi kudapan teman menonton gladiator semut rangrang di hutan sebrang kali bareng lurah macan.
Tuhan pun menyadari kesalahan yang ia buat dan memutuskan untuk mengubah domba berjiwa serigala tadi menjadi serigala kembali seutuhnya, dan jadilah, serigala kita diubah. Domba-domba tadi, bahkan dombawati yang telah hidup bersamanya melarikan diri, meninggalkan serigala dengan taring dan cakarnya sendirian, takut, terpukul, dan bingung. Tidak tahu harus kepada siapa ia marah, ia tidak menyalahkan Tuhan, karena ia mengiyakan. Ia tidak menyalahkan para domba dan istri dombanya, karena dasarnya ia tidak sama dengan mereka. Dan dengan lesu, serigala pun kembali ke hutan lebatnya, berusaha mengasah taring dan cakarnya yang telah lama tumpul dimakan rumput dan perkawanan yang dianggapnya semu.
Dan itulah.. garis besarnya, dan seperti biasa juga, gue berjengit setelah baca, persis pangkat empat ketika gue habis membaca hikayat lama yang tata bahasanya ngebuat gue pengen meluk-nangis digabung dengan rasa ingin gampar si pengarang.
Dan gue Nampak berkhianat, durhaka pada mereka. Gue menipu diri, menipu otak dan pola berpikir gue, yang entah sejak kapan berubah makin konkrit ga asik secara subjektif. Subjektif bukan objektif, gue bukan mereka dan mereka tentunya bukan gue. Ketika gue menulis, itu adalah biji dari buah yang akan menghasikan buah yang bakal gue makan sendiri, which is: tulisan gue adalah gue yang baca, reminder, pengingat, bahasa sompretnya diary, ini blog gue dan itu tulisan gue. Berterima kasihlah pada yang mau mampir, tapi hell-a-day kalau-kalau ada yang nggak ngerti, toh tujuan asalnya tulisan ini hanya punya 1 konsumen tetap, yeah heck, gue sendiri.
Gue PPS, bukan PMS walau gejalanya rada-rada mirip, kayak yang gue coba jelaskan di postingan sebelum. Gue membaca cerita lama, tentang orang yang merasa kuat jika dia menjadi serigala dan bukannya domba, cukup dia sendirian melawan dunia yang mandang dia pake mata perompak, sebelah mata. Disaat para domba pada ngegosipin serigala dengan sinis bin najis, dia Cuma bilang, “wat de fak lah”, yeah, walaupun serigala ga bisa ngomong, pasti itu yang bakalan dia ucapin di hatinya—kalo punya. Sendirian, bermain di hutan gelap tanpa cahaya, bertahan hidup dengan mengandalkan taring dan cakar, dikendalikan rasa lapar dan insting. Lalu pada suatu saat, Tuhan melihat serigala tersebut dan kasihan karena kesendirian serigala itu. Maka ia bertanya pada serigala, “maukah kau memiliki teman dan keluarga?” serigala yang selalu merasa kesepian mengiyakan tanpa ragu, dan pada saat itu juga, Tuhan mengubah serigala itu jadi domba agar dapat membaur dengan domba-domba lainnya, berkawan, makan rumput dan dislepet sama gembala yang menggenggam garpu dan pisau di tangan, menunggu sang domba matang dan tinggal sembeleh pas idul adha.
Dan ceritapun makin ciamik, si serigala bermuka domba hidup bahagia, nggak perlu membunuh lagi untuk makan, bisa berkawan dengan domba-domba gaul lainnya dan yang paling membuat dia kesengsem.. ketemu domba cantik menawan idaman para dombawan lainnya, menikah dan makin seneng. Tapi cerita nggak akan menarik kalau akhirnya happy ending, penulis pun mencari ide yang agak twist dan mengaplikasikannya ke cerita yang ia buat. Voila, domba kita tadi ini ternyata masih menyimpan unsur keserigalaan yang ia tidak dapat kendalikan, ia mengamuk sering kali, membuat kawan-kawan dan istrinya dombawati tercinta pun takut dan akhirnya meninggalkannya—takut kecaplok dan jadi kudapan teman menonton gladiator semut rangrang di hutan sebrang kali bareng lurah macan.
Tuhan pun menyadari kesalahan yang ia buat dan memutuskan untuk mengubah domba berjiwa serigala tadi menjadi serigala kembali seutuhnya, dan jadilah, serigala kita diubah. Domba-domba tadi, bahkan dombawati yang telah hidup bersamanya melarikan diri, meninggalkan serigala dengan taring dan cakarnya sendirian, takut, terpukul, dan bingung. Tidak tahu harus kepada siapa ia marah, ia tidak menyalahkan Tuhan, karena ia mengiyakan. Ia tidak menyalahkan para domba dan istri dombanya, karena dasarnya ia tidak sama dengan mereka. Dan dengan lesu, serigala pun kembali ke hutan lebatnya, berusaha mengasah taring dan cakarnya yang telah lama tumpul dimakan rumput dan perkawanan yang dianggapnya semu.
Dan itulah.. garis besarnya, dan seperti biasa juga, gue berjengit setelah baca, persis pangkat empat ketika gue habis membaca hikayat lama yang tata bahasanya ngebuat gue pengen meluk-nangis digabung dengan rasa ingin gampar si pengarang.
Nyari Dimana? Tanya Siapa?
Filed Under (rant ) by Pitiful Kuro on Wednesday, November 24, 2010
Posted at : 11:30 AM
Kuliah, euh, entah berapa kali gue menyebutkan nama itu di blog ini. Tujuannya macem-macem, kadang gue ngocehin hal-hal menarik yang gue alami di tempat sakral menimba itu (tsah), kadang hal-hal yang bikin gondok, kadang juga gue (sok) mengkritisi institusi yang udah gue saksikan sendiri dengan mata kepala gue ini, baik bobrok dan bagusnya. Sekarang, kayanya gue pengen sedikit numpahin uneg-uneg gue sebagai mahasiswa yang lagi keluar jalur.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
Kadang kita tau kalau jalan yang kita ambil itu salah, entah itu buntu, entah itu one way, entah itu jalan rusaknya udah kayak grojogan sewu. Tapi kadang, kita justru ngambil jalan itu, tutup mata, dan tancap gas sekenceng-kencengnya dan ga mau peduli, ga mau tau kalau kita ngambil jalan yang salah. Yang bisa berhentiin kita disana cuma polisi dengan senyum 250.000 rupiahnya, yang ujungnya, kita menyalahkan keadaan karena mengambil jalan yang salah.
Phew.
Phew.
Untukku Jurusanku, dan Untukmu Jurusanmu
Filed Under (From My Mind,rant,Scupidicy,Sh*t ) by Pitiful Kuro on Tuesday, May 18, 2010
Posted at : 12:26 AM
Kadang gue suka panas kuping ketika ada seseorang mendiskreditkan, baik secara langsung maupun tidak jurusan-jurusan lain selain jurusan yang ia tekuni. Nggak jarang gue mendengar seseorang berkata, atau melihat tulisan yang ditulis, dengan tujuan secara nggak langsung untuk mengatakan “duh, jurusan gue kok susah amat yah, jurusan lo kok kagak?” atau mungkin dalam tahap yang lebih sakit lagi masuk ke hati “duuh, ngapain sih belajar gituan? Penting ya?” kasarnya sih begitu.
Oke, hal pertama, buat apa membandingkan jurusan yang lo punya dengan jurusan lain? Iri karena yang lain lebih lowong? Lebih “gampang”? Sekali lagi, buat apa? Jurusan beda, kebijakan juga beda, dan bodohnya lagi, dosennya juga pasti beda, dan dosen yang beda pasti akan mengarah kepada tata ajar dan kurikulum yang diterapkan pastinya juga berbeda (oke, cukup, gak dipanjangin lagi). Ketika elo udah memutuskan untuk mengambil satu jurusan, aturan nomor satunya itu: jangan ngeluh. Kalau elo udah ngeluh ngejalanin apa yang lo sendiri putusin, maka kontinuitas elo di jurusan yang lo ambil udah bisa dipertanyakan. Okeh, kita manusia dan manusia itu mortal, mortalitas manusia yang mengarah kepada saat-saat labil ini akan menimbulkan dampak capek, letih, lesu, lunglai dst dst—yang akan mengarah (lagi) ke aturan nomor dua ketika lo udah mutusin jurusan yang lo ambil: lo mau ngeluh, silahkan ngeluh ke orang yang satu jurusan sama lo, jangan ke orang yang beda jurusan. Kenapa?
Ya percuma. Lo mau jungkir balik bilang presentasi lo padet-det, praktek lo seabrek-brek, dan tugas lo segambreng-breng, dia kagak akan ngerti beban yang lo pikul. Bukannya simpati, yang ada malah dianggep angin lalu, karena tadi, dia nggak di jurusan yang sama dengan yang lo ambil.
Lo bersikeras demikian, bukan hal yang nggak mungkin ujungnya adalah debat kusir membandingkan jurusan mana yang lebih susah untuk dijalanin—apalagi dengan mentalitas bangsa Endonesa ini yang masih bangga punya sifat minus bernama primordialisme. Itu, perdebatan begitu adalah hal tergoblok yang bisa diomongin sama akademisi, manusia-manusia yang sedang dalam tahap pola pikir paling sempurna. Buat gue, itu sama aja kayak nilai D di mata kuliah yang gue sukain. Ya jelaslah beda, yang satu observasi orang, yang satu nyampurin bahan kimia-entah-apa-namanya. Sama aja kayak lo nanyain ke orang cina dan india, gantengan mana Jet Li sama Amir Khan? Subjektif kan? Nah.. makanya goblok.
Dan, kawan, gue belum kelar ngoceh nih. Jika ngeluh aja udah gue anggep haram, gimana yang mendiskreditkan jurusan? Disiplin ilmu? Rasanya gue kayak ngeliat keong racun menang balapan lari, nah loh? Percaya gak lo? Nah itu dia, gue juga gak percaya ada aja yang bisa mengatakan hal-hal begitu. Satu hal yang perlu gue tekankan dalam bahasan ini, mempertanyakan apa yang elo lakukan di jurusan lo itu beda sama mendiskreditkan, misalkan, “elo di ppkn belajar apaan aja emang?” dan “ngapain lo ngambil ppkn?” jelas kan?
Ketika sebuah disiplin ilmu nongol di Universitas, apa itu tanpa alasan? Cuma salah satu jalan bagi universitas untuk meraup dana tambahan bagi mahasiswa-mahasiswa yang cukup goblok nyasar dan bayar duit buat para penguasa bisa makan gorengan dan ngopi-ngopi asik di warkop? (kepanjangan? Bodo) Ya kagak lah, ada permintaan, maka ada juga yang harus menawarkan. Ketika ada jurusan IPS di Universitas lo, maka percayalah, ada yang meminta universitas itu untuk menggojlok manusia dan membutuhkan banyak S.Pd atau S.Sos bidang IPS dalam waktu 4-5 tahun kedepan. Belip it.
“ngapain lo masuk FSRD? Emang penting ya gambar-gambar gitu doang?”
Percaya sama gue say, kalau jurusan ini kagak ada, mungkin baju Dagadu yang lo bangga-banggain itu kagak akan pernah nongol di pasaran. Mungkin distro-distro yang kerap lo datengin dan aburin duit disana ga akan pernah ada.
“Ngapain lo masuk IKJ? Cuma maen gitar doang sih gue bisa belajar sendiri.”
Nah, kalo Universitas itu kagak ada, gue yakin film-film horror bakal punya score musik dangdut, musik yang bisa bikin lo mengkeret ga akan bisa lo dapetin cuma dengan kunci E C G D-E C G D doang kali.
“Ngapain lo masuk Psikologi? Belajar tentang manusia mah bisa dari kehidupan sehari-hari.”
DUAR.. angin bertiup kencang, langit kelabu, petir pun menyambar bertalu-talu, dan suasana tiba-tiba hening dirundung bisu. Kaya gue bilang, bangsa Endonesa itu sifat primordialismenya tinggi, dan apa yang terjadi, kawan, ketika jurusan gue sendiri dibilang kaya begitu? Okelah, ambil napas, kembang-kempiskan hidung, ambil lewat diafragma dan hembuskan lewat mulut, sabar-sabar..
Andaikan gue bisa tau apa yang menyebabkan bystander effect tanpa harus kuliah Psikologi Umum, andaikan gue bisa tau pengaplikasian Classical Conditioning tanpa baca buku Pengantar Psikologi, andaikan gue bisa tau Defends Mechanism tanpa mendengar celotehan dosen gue yang begitu bersemangat, andaikan gue bisa tau apa penyebab gue merokok begitu masif tanpa gue mendengarkan ceramah kuliah Psikologi Kepribadian, andaikan gue bisa tau apa pengaruh posisi anak lahir pertama dalam sifatnya tanpa gue mengerti teori Alfred Adler, andaikan gue bisa tau bahwa nama ilmiah gila adalah schizophrenia—serta mengetahui kalau itu dapat disembuhkan—tanpa gue ikut kuliah, andaikan gue bisa tau kenapa ada anak yang begitu membangkang sama orang tuanya tanpa gue denger apa yang dikatakan ketua jurusan gue..
Ahh…
Gue nggak akan mau masuk Psikologi deh.. Langsung aja jadi Psikolog keliling. HA!
Oke, hal pertama, buat apa membandingkan jurusan yang lo punya dengan jurusan lain? Iri karena yang lain lebih lowong? Lebih “gampang”? Sekali lagi, buat apa? Jurusan beda, kebijakan juga beda, dan bodohnya lagi, dosennya juga pasti beda, dan dosen yang beda pasti akan mengarah kepada tata ajar dan kurikulum yang diterapkan pastinya juga berbeda (oke, cukup, gak dipanjangin lagi). Ketika elo udah memutuskan untuk mengambil satu jurusan, aturan nomor satunya itu: jangan ngeluh. Kalau elo udah ngeluh ngejalanin apa yang lo sendiri putusin, maka kontinuitas elo di jurusan yang lo ambil udah bisa dipertanyakan. Okeh, kita manusia dan manusia itu mortal, mortalitas manusia yang mengarah kepada saat-saat labil ini akan menimbulkan dampak capek, letih, lesu, lunglai dst dst—yang akan mengarah (lagi) ke aturan nomor dua ketika lo udah mutusin jurusan yang lo ambil: lo mau ngeluh, silahkan ngeluh ke orang yang satu jurusan sama lo, jangan ke orang yang beda jurusan. Kenapa?
Ya percuma. Lo mau jungkir balik bilang presentasi lo padet-det, praktek lo seabrek-brek, dan tugas lo segambreng-breng, dia kagak akan ngerti beban yang lo pikul. Bukannya simpati, yang ada malah dianggep angin lalu, karena tadi, dia nggak di jurusan yang sama dengan yang lo ambil.
Lo bersikeras demikian, bukan hal yang nggak mungkin ujungnya adalah debat kusir membandingkan jurusan mana yang lebih susah untuk dijalanin—apalagi dengan mentalitas bangsa Endonesa ini yang masih bangga punya sifat minus bernama primordialisme. Itu, perdebatan begitu adalah hal tergoblok yang bisa diomongin sama akademisi, manusia-manusia yang sedang dalam tahap pola pikir paling sempurna. Buat gue, itu sama aja kayak nilai D di mata kuliah yang gue sukain. Ya jelaslah beda, yang satu observasi orang, yang satu nyampurin bahan kimia-entah-apa-namanya. Sama aja kayak lo nanyain ke orang cina dan india, gantengan mana Jet Li sama Amir Khan? Subjektif kan? Nah.. makanya goblok.
Dan, kawan, gue belum kelar ngoceh nih. Jika ngeluh aja udah gue anggep haram, gimana yang mendiskreditkan jurusan? Disiplin ilmu? Rasanya gue kayak ngeliat keong racun menang balapan lari, nah loh? Percaya gak lo? Nah itu dia, gue juga gak percaya ada aja yang bisa mengatakan hal-hal begitu. Satu hal yang perlu gue tekankan dalam bahasan ini, mempertanyakan apa yang elo lakukan di jurusan lo itu beda sama mendiskreditkan, misalkan, “elo di ppkn belajar apaan aja emang?” dan “ngapain lo ngambil ppkn?” jelas kan?
Ketika sebuah disiplin ilmu nongol di Universitas, apa itu tanpa alasan? Cuma salah satu jalan bagi universitas untuk meraup dana tambahan bagi mahasiswa-mahasiswa yang cukup goblok nyasar dan bayar duit buat para penguasa bisa makan gorengan dan ngopi-ngopi asik di warkop? (kepanjangan? Bodo) Ya kagak lah, ada permintaan, maka ada juga yang harus menawarkan. Ketika ada jurusan IPS di Universitas lo, maka percayalah, ada yang meminta universitas itu untuk menggojlok manusia dan membutuhkan banyak S.Pd atau S.Sos bidang IPS dalam waktu 4-5 tahun kedepan. Belip it.
“ngapain lo masuk FSRD? Emang penting ya gambar-gambar gitu doang?”
Percaya sama gue say, kalau jurusan ini kagak ada, mungkin baju Dagadu yang lo bangga-banggain itu kagak akan pernah nongol di pasaran. Mungkin distro-distro yang kerap lo datengin dan aburin duit disana ga akan pernah ada.
“Ngapain lo masuk IKJ? Cuma maen gitar doang sih gue bisa belajar sendiri.”
Nah, kalo Universitas itu kagak ada, gue yakin film-film horror bakal punya score musik dangdut, musik yang bisa bikin lo mengkeret ga akan bisa lo dapetin cuma dengan kunci E C G D-E C G D doang kali.
“Ngapain lo masuk Psikologi? Belajar tentang manusia mah bisa dari kehidupan sehari-hari.”
DUAR.. angin bertiup kencang, langit kelabu, petir pun menyambar bertalu-talu, dan suasana tiba-tiba hening dirundung bisu. Kaya gue bilang, bangsa Endonesa itu sifat primordialismenya tinggi, dan apa yang terjadi, kawan, ketika jurusan gue sendiri dibilang kaya begitu? Okelah, ambil napas, kembang-kempiskan hidung, ambil lewat diafragma dan hembuskan lewat mulut, sabar-sabar..
Andaikan gue bisa tau apa yang menyebabkan bystander effect tanpa harus kuliah Psikologi Umum, andaikan gue bisa tau pengaplikasian Classical Conditioning tanpa baca buku Pengantar Psikologi, andaikan gue bisa tau Defends Mechanism tanpa mendengar celotehan dosen gue yang begitu bersemangat, andaikan gue bisa tau apa penyebab gue merokok begitu masif tanpa gue mendengarkan ceramah kuliah Psikologi Kepribadian, andaikan gue bisa tau apa pengaruh posisi anak lahir pertama dalam sifatnya tanpa gue mengerti teori Alfred Adler, andaikan gue bisa tau bahwa nama ilmiah gila adalah schizophrenia—serta mengetahui kalau itu dapat disembuhkan—tanpa gue ikut kuliah, andaikan gue bisa tau kenapa ada anak yang begitu membangkang sama orang tuanya tanpa gue denger apa yang dikatakan ketua jurusan gue..
Ahh…
Gue nggak akan mau masuk Psikologi deh.. Langsung aja jadi Psikolog keliling. HA!
Lha? Kan gw gak minta tolong?
Filed Under (rant ) by Pitiful Kuro on Monday, April 05, 2010
Posted at : 11:05 PM
--gw, kepada rere yang tiba-tiba nelpon dan ujug-ujug ngomel
Untunglah gue dikasih uang lebih bulan ini. Karena, yah, gue harus mengganti banyak barang entah yang gue rusakin, gue ilangin, dstdst. Gue juga harus beli kacamata baru karena yang lama ilang, dan yang sebelumnya udah ga layak pakai. Belum lagi yang katanya uangnya udah pada abis, gue minjemin beberapa ratus ribu buat mereka.
Dan sekarang? Kok malah gue yang susah? Huah.
Duit gue sekian, dengan jangka waktu sekian hari sampai dapet gaji berikutnya. Kalo diitung, ya gue bokek, paling sehari jatahnya lima rebu.
Dan di Mahacita, tampang gue udah kaya orang anoreksia, kuyu, lemes, blalala blalala. Ditanya lah, kenapa. Gue bilang, belum makan dua hari.
voila.
Dalam lima menit gue udah di ‘rescue’ ke warteg terdekat. Diseret, ditarik, dijejelin sepiring bentang makanan.
Ah dunia.
Biar kata tukang mabok dan doyan ngegele, bukan jaminan kalau mereka bukan orang baik toh?
Salam lestari.
Dan sekarang? Kok malah gue yang susah? Huah.
Duit gue sekian, dengan jangka waktu sekian hari sampai dapet gaji berikutnya. Kalo diitung, ya gue bokek, paling sehari jatahnya lima rebu.
Dan di Mahacita, tampang gue udah kaya orang anoreksia, kuyu, lemes, blalala blalala. Ditanya lah, kenapa. Gue bilang, belum makan dua hari.
voila.
Dalam lima menit gue udah di ‘rescue’ ke warteg terdekat. Diseret, ditarik, dijejelin sepiring bentang makanan.
Ah dunia.
Biar kata tukang mabok dan doyan ngegele, bukan jaminan kalau mereka bukan orang baik toh?
Salam lestari.
Imagine this situation.
When you need someone to--at least--sit, or just stand beside you. To cheer you up, and pull you up from a hole of sorrow.
--But in fact.
There is no one, even your shadow is runaway, spit your face with his/her bloody hatred.
What will you do?
For me, i'd like to say:
What the Fvck?
Subscribe to:
Posts (Atom)


