Showing posts with label From My Mind. Show all posts
Showing posts with label From My Mind. Show all posts
Apa Yang Bakalan Gue Bilang Ke Anak Gue Nanti
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Wednesday, October 02, 2013
Posted at : 11:42 PM
1. Jangan pakai lampu jauh saat berkendara di malam hari
2. Say hi
3. Jangan tanya "maunya kemana?"
2. Say hi
3. Jangan tanya "maunya kemana?"
4. Jangan pakai topi saat dalam ruangan
5. Dan sunglass
6. Jangan halangi jalan orang
7. Kumpul sama teman
8. Listen to your father's songs
9. Masakan emak paling enak
10. Tong gandeng goblog
11. Hormati setiap pedagang, mereka lagi nyoba cari penghasilan
12. Pelajari basic komputer
13. Shut down your phone when you are with your friends
14. Hutang itu memberatkan
15. Trim your facial hair
16. Selesaikan kalimat (gak tau, ya gitu lah, skip-skip)
17. Belajar alat musik
18. Belajar masak, the right way
19. Lo harus tau apa yang lo ucapin
20. olahraga
21. Your friend's exes are out of limit
22. Adaptasi di segala lingkungan
23. Learn the language where you live in
24. Kunci pintu kalau mau 'ehe-ehe'
25. Jangan merusak suasana
5. Dan sunglass
6. Jangan halangi jalan orang
7. Kumpul sama teman
8. Listen to your father's songs
9. Masakan emak paling enak
10. Tong gandeng goblog
11. Hormati setiap pedagang, mereka lagi nyoba cari penghasilan
12. Pelajari basic komputer
13. Shut down your phone when you are with your friends
14. Hutang itu memberatkan
15. Trim your facial hair
16. Selesaikan kalimat (gak tau, ya gitu lah, skip-skip)
17. Belajar alat musik
18. Belajar masak, the right way
19. Lo harus tau apa yang lo ucapin
20. olahraga
21. Your friend's exes are out of limit
22. Adaptasi di segala lingkungan
23. Learn the language where you live in
24. Kunci pintu kalau mau 'ehe-ehe'
25. Jangan merusak suasana
Yo Ho Ho And a Pint of Dets'
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Wednesday, August 14, 2013
Posted at : 6:23 AM
Determinasi.
Yakin gak? Pasti gak?
Sangkut paut
sama golongan darah A, determinasi mungkin salah satu titik tumpunya, gandengan
tangan sama perfeksionis. Karena ketika lo mau melakukan sesuatu secara
sempurna sesuai dengan standar pribadi lo, pastinya lo harus punya determinasi.
Yah. walaupun gue nggak percaya-percaya amat sama yang namanya sifat bawaan
golongan darah, asik-asik aja buat ditelisik. Ngomongin determinasi dan
golongan darah A, mungkin gue bisa dibilang orang dengan golongan darah A yang
paling murtad. Level determinasi gue setingkat dikit diatas niatnya emak-emak
bangun pagi cuman buat njemur kasur. Itu secara general. Gue punya determinasi,
tentunya, tapi sayangnya lebih ngarah ke hal-hal insignifikan kagak penting.
Misalnya aja
gue tiba-tiba inget sesuatu, tapi nggak secara keseluruhan, Red Dragon katakanlah.
Seberapa keraspun gue berusaha inget, gue lupa siapa yang meranin Will Graham
disana. Gue harus tau siapa dia, harus tau siapa yang maenin apapun caranya
atau gue nggak akan bisa tidur malem itu, ato seenggaknya gelisah selama
setengah jam kedepan. Determinasi kan tuh? Tapi iyap, kagak penting. Atau dalam
bentuk keinginan? Kalau-kalau hari ini gue lagi pengen makan capcay, maka
capcay yang bakalan gue cari, gak peduli ini udeh jam 3 pagi yang jelas-jelas
kagak ada tukang capcay, tetep aja gue pengen dan harus dapet. Kalo kagak? Ya laper-laperan
ria.
Determinasi
tuh, tapi sayangnye kagak penting.
Gue punya
ketakutan, dimana determinasi gue itu ditaro bukan pada tempatnya, pada hal-hal
insignifikan. Sementara gue butuh itu di tempat lain. Contohlah. Nulis.
Lusuh,
karatan, basi, kaku.
Itu yang
keluar dari mulut gue tanpa suara kalau-kalau gue ngeliat draft separagraf
tulisan yang baru aja gue bikin tadi. Enek. Gak enak diliat. Itulah gue,
tulisan gue. Hasil vakum beberapa bulan kebelakang soal tulis-menulis bikin
tangan gue jadi selemes sawi asin.
Mungkin kalau
tau gue bakalan harus ngapus paragraf yang gue tulis berkali-kali kaya begini
gue nggak akan berenti nulis dulu. Haha. Tapi toh udeh kejadian, apa mau
dikata. Dan emang bener, sampe poin dimana kalimat ini ditulis, entah udah
berapa paragraf yang gue hapus hanya karena nggak puas. Gue pun harus berhenti
tiap titik, tiap pindah kalimat untuk nyusun kalimat berikutnya, yang mana dulu
nggak gue lakuin. Cieh. Katanya sih writer’s block dan penyakit yang satu ini
bakalan dateng lebih sering semakin lama kegiatan nulis lo ilangin dari jadwal.
Bener aja.
Kalo gak
ada capcay, makan determinasi aje kali biar kenyang.
An Image
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Thursday, November 15, 2012
Posted at : 10:13 PM
An image can be
tricky, it’s not a personality, I might say, it’s what you want to show to
other people. What kind of yourself? What kind of words you’re gonna use? What kind
of motion are you gonna do? It’s an image, for my narrow side of perspective. I
say, it’s right to be playing with those, since you can control it, why not
making fun of it?
It’s practical, it may
be changed during a certain circumstances as you like. Like, when you’re need a
good brotherly image to stay sharp with your brothers, a garm-looking bastard
to prevent some bandit reach your group, or a foul mouthed jerk without sense
of consideration of what he’s going to say. It’s all fun to do and have their
own benefit, depends on what kind of image you’re gonna use.
Like a secondary invisible weapon that you didn’t
have to carry, but always there on your pocket. An image is not a personality,
you may changed it at one time and change it back on the later times, but you’re
no the image you’re using. An image is
not something you use to adjust yourself with your environment. It’s not a form
of conformity, or on the further notion, a survival method. It is not. Once again,
it’s used for a benefit, your own benefit. Not because you’re afraid to be
judged by others. Image is not a mask, that you’re using for deceiving others,
to make people think what you want them to think of. An image is used when a
certain people you know are known of who you really are.
It is tricky, which is
which?
You’re using image for
making people believe what you’re shown, but at the same times, it’s not meant
to be deceiveng others. For a benefit, for fun. Maybe it’s the right words to
play with it. Maybe not? I don’t really sure, It’s hard to get a definition
with something that just comes out of a bollocks. Haha. You’re gonna play with
yourself, with an audience of others, the show will success when you see those faces changed, maybe
shock, not believing of what they just saw or heard. Because it’s coming from
someone that unlikely to do so.
Like now, l really
love being foul mouthed, I just don’t know which part of it is fun when you’re
gotten a disgust looks from others. Maybe it’s just that, those priceless
expression might be the reason. Tho, someone gotta play a bastard when there’s
only a good people in it.
Sendokiran
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Sunday, October 21, 2012
Posted at : 3:13 AM
Jalan-jalan itu asik,
ke tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya yang kadang tanpa tujuan, atau
malah terencana. Penyebabnya bisa karena ada kesempatan, atau tiba-tiba
kepikiran di tengah jalan pulang. Asiknya bawa temen, tapi nggak jarang juga
sendirian. Walau kadang rasanya agak sepi, tapi justru itu yang kadang-kadang
memang kita cari. Sendirian, waktu kosong yang disediakan untuk ngelamun,
mikirin hal-hal remeh-temen selintas apa yang lewat. Penting juga nggak,
apalagi urgen. Soalnya kita emang butuh sosialisasi, tap kadang juga butuh
sendiri-sendiri.
Gue lumayan lama nggak
pergi sendiri, kalau sendiri pun biasanya ke tempat yang emang familiar, warung
kopi. Deket sama kosan, langganan disana hampir setahun, sama penjualnya udah
colek-colekan, bengong pun bakal disapa ramah. Dulu biasanya cuma ngerokok di
tempat yang agak jauh, nongkrong depan alfamart, modalnya soda lima ribuan sama
rokok sebungkus, itu bisa tahan dua-tiga jam. Bengong doang, mikirin nasib.
Kagak.
Lucunya sih betah,
orang kebanyakan paling garuk-garuk kepala, nongkrongnya oke, tapi kenapa depan
retail mini-market? Kenapa? Kalau gue nongkrong di café, sendirian—walau senormal
apapun keliatannya, tetep aja aneh. Di depan mini-market, orang nggak akan
heran, toh itu tempat umum, ada orang didepannya pun nggak akan lama, yang
ngeliat gue disana ya ganti-ganti, bukan cuma sepasang cowok-cewek yang sesekali
ngelirik ke gue terus bisik-bisik. Lagian, pergantian orang tadi yang gue
butuhin, hiburan mata, sukur-sukur ada cucian mata lewat, nggak pun, masih ada
aneka ragam manusia yang bisa gue lirik. Walau cuma selenting, bikin
tebak-tebakan nilai personal seseorang dari kenampakan luar seseorang juga
lumayan seru.
Kayaknya mulut gue
penuh sama sosialisasi, lidah terbiasa berucap dengan lawan bicara, bukannya
refleksi yang mantul ke tenggorokan sendiri kayak dulu. Minim temen,
kedengerannya suram, tapi pas diinget kayak mau ketawa sendiri. Kalau sekarang mau
ngobrol, tinggal sms dan serombongan dateng ke warung kopi langganan tadi. Gampang,
nggak usah susah-susah nyari tempat sepi demi ketenangan batin, kopi pula. Kayak
triple kill kalo di DotA, dapet temen ngobrol asik, tempat enak, dan kopi
juara.
Sendirian nggak
selamanya jelek, sendirian memperkuat mental, ngasah pikiran. Selama dalam
taraf wajar dan bukannya menarik diri. Menjadi sendirian itu kebutuhan buat gue—dan
gue rasa juga semua orang. Tenggorokan kecapean kalau terus-menerus geter,
vibrasi hasil konversasi dalam kepala itu perlu dilakuin. Semacem persiapan
untuk menghadapi lingkungan sosial yang pastinya bakalan berubah terus-menerus. Iya dong. Nggak mungkin gue nongkrong di
warung kopi langganan itu sampe gue kerja atau tua nanti. Kalau iya, itu
bakalan jadi roman, kalau nggak, ya berarti itu hanya lembaran cerita dalam
buku hidup gue doang.
Gimana kalau dua tahun
lagi gue tinggal di tempat yang sama sekali baru, tanpa teman-teman lama atau
tempat familiar yang bisa gue kunjungi dan merasa dirumah? Nggak mungkin kalau
gue jadi depresi terus rengek-rengek buat pulang kampung. Sendirian itu
penting, tapi sendirian bukan selalu diartikan sebagai kesepian. Gue bisa have
fun dengan sebatang rokok dan soda, prosesnya panjang untuk sampe kesana, yang
sukurnya dibiasain dari sendirian tadi.
Sendirian bukan waktu
untuk ngerasa kesepian, tentunya lo bisa aja pake untuk ngeluh soal ‘kenapa gue
nggak ada temennya?’ tapi ngapain juga? Selama isi kepala dikontrol diri
sendiri, ngapain? Dipake buat fun, ketawa sendirian, masa bodo dengan
orang-orang lalu –lalang, soalnya mereka juga kagak peduli sama apa yang mereka
liat di tengah jalan.
Gue nggak sengaja
ngeklik satu link, yang ajaibnya, itu mengarah ke tulisan lama di blog gue. Tentu
lo tau apa artinya kalau hal-hal dari masa lalu lo dibawa paksa kehadapan lo
lagi, goosebumps, bulu kuduk merinding, mata merem melek, senyum lo getir dan
perut lo nyes kayak dielus dedemit. Yah itulah. Kalau ditanya kenapa, gue belum
pernah kesampean untuk mikir kesana. Tapi kalo diusut.. erm.. Gini, gue sama
sekali nggak merinding baca tulisan gue yang di 2009, tapi begitu gue baca yang
2008, rasanya gue pengen nyekek siapapun yang berjarak 2 meter dari gue. Apa itu
artinya gue nggak puas akan diri gue di 2008? Dan 2009 berjalan dengan oke-oke
aja? Atau kemampuan gue untuk menyampaikan sesuatu lewat tulisan itu masih
parah di 2008? Masuk akal.
Kayaknya, bukan cuma
tulisan. Tapi segala bentuk ketidakpuasan, rasa nggak kecapainya sesuatu di
sebuah tahapan hidup lo—yang dibekukan dalam bentuk apapun—bakalan nimbulin
efek tonjokan mules di perut lo. Nggak harus tulisan, tapi mesin waktu berbagai
bentuk yang mungkin untuk lo buat. Mungkin foto, atau video, karya-karya yang
tangan lo bisa buat, yang kesemuanya membekukan waktu, membekukan.. seperti apa
sih lo dulunya. Gue yakin ini nggak cuma gue, entah siapa yang lagi ngejugrug
di blog ini pasti punya pengalaman yang sama. Hayo adek-adek.. inget inget,
cari cari segala hal yang bikin perut lo mules dari masa lampau.
Gue bisa bilang
begitu, soalnya, tadi siang tanpa ujug-ujug, ada temen yang dateng ke kosan gue
dan tau-tau mamerin foto lamanya *gaaaay*. Tapi kebalik, dia justru merasa
kalau dia yang lama itu jauh lebih baik daripada dia yang sekarang. Kenapa? Soalnya
bahkan dia nggak berani ngeliat foto diri sendiri yang diambil baru-baru ini. Yep,
hal fisik. Jadi gendut katanya. *nga-kak*
Gue coba inget-inget
masa dimana gue ngerasa bener-bener jadi orang brengsek mutlak. No, jangan
masukan kata brengsek disini sebagai bentuk kebandelan masa muda, justru
kebalik, ngebitch total. Iya, gue yang cowok ini, ngerasa pernah ngebanci maksimal.
Dan bener loh, ketika gue menulis 1 kalimat kebelakang, perut gue kayak abis
ditinju Evander Hollyfied The Golden Boy. Ha..ha.. gue pernah ngerasa jadi
orang yang paling baik di lingkungan gue waktu itu, gue pernah ngerasa jadi
orang paling teraniaya sealam semesta, ngerasa kalo.. kenapa orang-orang tuh nggak
pernah ngerti gue. OKE CUKUP. Nggak cuma mas Evander, sekarang Randy Orton udeh
siap-siap mau RKO gue di pojok ring.
You get the point lah
ya.. I was a manbitch, intinya. Gue bisa bengep secara psikologis kalau harus
ngedeskrip itu semua detail.
Yeah.. long pause. Gue
berenti sejenak, kali ini bukan karena rokok gue abis, tapi nyoba mikir,
segimana bobroknya mental gue dulu.
Gue ngerasa itu adalah
kesalahan besar yang nggak boleh sampe keulang kedua kalinya, bahkan dengan
teori ‘cuman keledai yang nyemplung dua kali ke lobang yang sama, manusia boleh
kuar masuk’. Walaupun gue tau, itu adalah kesalahan yang murni. Terjadi di
waktu gue baru keluar goa dan ketemu banyak orang yang masih memandang gue
netral, jadi gue asal berlaku, atau nggak tau caranya bersikap? Yang manapun,
bukan alasan untuk pembenaran. Gue yakin, orang-orang itupun sekarang udah
nggak terlalu inget sama kejadian lama itu, jelas insignifikan, bukan hal besar
bagi alur hidup mereka. Tapi seperti yang pernah gue tulis sebelumnya di
twitter, gue ngerasa punya tanggung jawab untuk minta maaf, yang gue nggak tau
kapan, tapi pasti.
Gue nggak yakin pasti,
apa sih rasa mules di perut lo itu ketika lo mengingat masa lalu. Dari tulisan
ini, mungkin gue bisa bilang, tanda yang mengingatkan kalau apa yang telah lo
lakuin di masa lalu itu nggak tepat. Inappropriate, salah. Yang bakalan terus
ngehantui perut lo *ea* kalau belum terselesaikan. Mungkin. Yap, kata favorit
gue, mungkin.
Karena hal yang pasti
itu banyak, tapi opsi untuk mendapat hal yang pasti itu ada banyak. Kayaknya..
haha.
Kecoak Terbang
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Tuesday, February 21, 2012
Posted at : 7:00 PM
Sampe sekarang, gue masih heran ketika gue ngeliat orang
yang ngeluh di social network. Bunyinya bisa macem-macem, dari keluhan soal cuaca, makanan yang lagi dimakan, pacarnya,
keluarganya, sekolahnya, banyak. Gue bukan heran karena bertanya, apa mereka
kurang kerjaan? Semua orang juga kurang kerjaan kali, beda waktu doang. So? Kurang
kerjaan itu pasti, tapi kenapa ngeluh? Yah yah, mungkin hidup berat, tunggakan
menumpuk, cucian menggunung, atau pacar lagi PMS, apapun bisa jadi problem yang
tangan-tangan mereka bisa tumpahin kedalam bentuk pijitan manis keypad
handphone or keyboard komputer mereka.
Nah, mungkin poin utamanya ya
itu tadi, ‘apapun bisa jadi’. Mindset, cara pikir seseorang tuh bisa ngubah
makhluk se-nggak-berdaya kecoak menjadi momok mengerikan buat cowok bertampang
gahar budiman prakoso seberat 85 kilogram, nah, masa iya dia nggak bisa ngubah
makan indomi menjadi suatu ganjaran neraka buat seseorang?
Bicara mindset, jangan
ngomong logis. Tentu sih, namanya juga yang berasal dari pikiran, tentu aja
bisa logis. Tapi, ketika lo menemukan satu poin flaw dari seseorang—yang mana
lo nggak ada kaitan sedikitpun didalamnya—gue rasa, kita nggak bisa nyebut
orang itu nggak logis. Kenapa? Soalnya, mindset itu terspesifikasi, mindset itu
ideal, sulit untuk identik kecuali satu partai (haleeh). Ini nih, poin yang
paling gue suka dalam hal pola pikir. Paham boleh macem-macem, lo bisa pilih
modernis, post modernis, realis, surrealis, atau apapun. Tapi pada dasarnya
tiap orang selalu punya sisi pragmatis, sisi dimana dia harus toleran dengan
pola pikir orang lain, karena seperti yang kita tau, adalah hil yang mustahal
kita mau maksain pemikiran kita ke semua orang.
Sikap pragmatis emang nggak
mengenal kata salah, logis? Kalo menurut gue, kenapa nggak? Kata salah itu berasal
dari label-label yang menempel diseluruh badan kita, tertempel otomatis sama
yang namanya sistem, atau pembelajaran kuno jutaan tahun oleh manusia itu
sendiri, outputnya norma, nilai, agama—yang juga sebuah sistem—aturan tertulis,
dan kawan-kawannya. Tapi kalo semua label itu dilucuti satu-satu, blas sampai
ke kulit yang paling dalam, jadi apa manusia? Kaya apa pola pikirnya? Sekali lagi,
menurut gue, hanya pengetahuan tentang apa yang baik buat dirinya sendiri—pragmatistik.
Diri yang terbentuk oleh nature, insting dasar untuk bertahan hidup, yang cuma
tau.. apa yang paling baik buat dirinya.
Balik ke poin satu. Kenapa mereka
ngeluh? Padahal, ketika mereka punya mindset yang luar biasa, mereka bisa
merubah apa yang mereka rasa dengan petikan jari. Seperti gue yang coba-coba
untuk menangkap kecoa dengan tangan kosong, sekali, cukup sekali dan sukses
dengan mantap, walau akhirnya itu binatang gue tindih pake KBBI, sih. Tapi akhirnya
gue kembali memilih untuk bersikap paranoia terhadap itu makhluk satu, entah
kenapa, untuk merasa takut mungkin? Dan yah, itu juga mungkin yang membuat
orang-orang itu tetap pada pendirian mereka untuk mengeluhkan apapun yang
mereka mau keluhkan, toh mungkin itu baik buat mereka? Entah ya, gue bakalan kerja
penuh waktu kalo harus tanyain alesan mereka satu-satu toh.
Subscribe to:
Posts (Atom)


