Skinpress Demo Rss

Tiga Tahun

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Friday, June 24, 2011

Posted at : 3:10 AM

Tiga tahun, tepat 1095 hari setelah hari kepergianmu, hari dimana engkau menghembuskan nafas busamu untuk terakhir kalinya, kali terakhir mata bulat indahmu menatap dunia dengan kepolosan yang tak dibuat-buat. Tiga tahun. Tiga tahun pula bayang-bayangmu tak pernah lepas dari kepalaku, senyummu yang manis merekah, tawamu yang ceria—seolah-olah dunia pun ikut tertawa bersamamu, gerak tubuhmu yang gemulai, tutur katamu yang sehalus sutra India, semuanya, tanpa cela, tanpa jeda, mengisi hari-hariku selama tiga tahun, setelah kepergianmu.

Tiga tahun pula aku sendiri, sesuai janjiku padamu di akhir nyawamu meregang, tidak ada wanita lain, cukup tiga tahun. Tidak sulit, sayangku, mengingat kenangan yang telah kau berikan padaku, yang begitu indahnya sampai berarti hidup itu sendiri bagiku. Tiga tahun itu singkat. Bahkan terlalu pendek. Janjiku padamu kutepati, bahkan mungkin akan kutambah sesuai selera. Karena kamu, sayangku, begitu meninggalkan arti dalam hidupku. Kamu adalah aku, hidupku, bagian jiwaku yang tak mungkin bisa kulepas.

Aku berada di pintu masuk pemakaman, merokok, dengan khidmat, kegiatan yang akan bernilai ratusan kali lipat jika kau ada di sampingku. Melihatku mengeluarkan asap dengan berbagai cara selalu membuatmu terhibur, entah kenapa. Kenapa, sayang? Katamu, aku paling ganteng ketika menjepit sebatang rokok di sela jari telunjuk dan manisku, menghembuskannya perlahan bagaikan cerobong lokomotif yang berjalan lambat. Itu katamu. Sambil tertawa kau ucapkan itu. Ah… stop sayang. Kenangan menyenangkan bersamamu selalu membuat sudut mataku berair. Kuanggap hanya sekedar asap yang menusuk mata, selalu kuanggap begitu, yang padahal bukan. Itu karenamu. Yang memberikan hidupku arti seharga hidup itu sendiri, itu kamu.

Kenapa?

Kenapa, sayang?

Kenapa kau begitu cepat pergi?

Tiga tahun lalu, kau terbaring lemah di rumah sakit, selang-selang infus menggantung ramai diatasmu, menusuk tiap nadi yang mungkin bisa dipompa cairan natrium. Kamu sekarat, kamu tahu, dan aku pun tahu. Tapi kamu tetap tersenyum setiap kali aku datang menjenguk, membawakan buah yang tak bisa kau makan, memberikan buku-buku yang tak bisa kau baca karena tanganmu tak mampu mengangkat. Ya, aku ingat. Setiap kali aku datang, kau menyuruhku membacakan satu bab, satu bab setiap kalinya. Satu. Itu aku sesalkan. Walaupun tenggorokanku kering seperti dicakar saat membaca, aku senang, melihatmu tersenyum, kadang bertampang penasaran, kadang bingung karena pengejaanku yang tidak jelas, aku senang. Tapi.. waktu berkata lain, satu buku pun tak sempat aku selesaikan kubaca. Kamu lebih dulu terpanggil kehadapannya. Kamu tahu sayang? Bab terakhir yang kubacakan padamu penuh bekas noda air mata, air mataku.

Tiga tahun. Sesuai janjimu yang lain, aku tidak akan mengunjungi makammu selama tiga tahun. Aku tak pernah mengerti alasanmu. Katamu, kau tidak ingin aku menangisi kepergianmu tiap tahun, itu terlalu sering. Cukup tiga tahun sekali, katamu. Tapi kau tak tahu, tiap malam, sayang, aku menangisimu, membelai bingkai foto dari kayu hadiahmu untukku, bahkan sampai mengkilap karena usapan tanganku sendiri. Kenapa tiga tahun? Aku tak mengerti, rasa rinduku tak terbendung. Aku ingin sering dekat denganmu, dengan jasadmu dua meter dibawah sana, merasakan kau dekat. Mengapa kau larang? Ya, aku mengerti alasanmu, karenanya, aku mematuhi janjiku padamu. Aku mencintaimu sayang. Kau berarti bagiku, berarti seharga hidup itu sendiri. Kamu, hanya kamu.

Rokok kumatikan, hembusan terakhir yang menodai paru-paruku telah terhembus lepas ke udara. Aku berjalan menuju makammu sekarang, tak pernah kulupa letaknya. Karena, walau kau melarangku untuk datang, aku tetap datang, dari jauh, dari parkiran, dari luar pemakaman, aku melihat nisanmu. Jauh, kangen, rindu, tapi aku punya janji, yang pasti akan kutepati, kuhargai itu. Langkahku perlahan, petak-petak nisan yang tak terhitung banyaknya kulewati tanpa peduli. Tigaribu batu kapur itu tak berarti dibandingkan satu nama yang kutuju. Dan sampai, aku tersenyum. Senyum yang lebar, bergetar nyaris tertawa. Aku membungkuk, bunga Kamelia favoritmu yang kubawa kuletakkan tepat dibawah nisanmu. Tanah merah pekuburanmu kugenggam, erat, getar tanganku menjalar ke tubuh, lalu leher, dan akhirnya pecah. Tangisku.

Kenapa? Kenapa sayang?

Kenapa kau begitu cepat pergi?

Aku begitu.. ah.. bahkan lidahku, lidah batinku tak sanggup merangkai kata akan berartinya keberadaanmu bagiku. Kau tak tahu, entah berapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku saja, titik, tanpa koma, dan aku akan bergabung denganmu di alam sana. Naif, memang. Tapi itulah, itulah arti keberadaanmu, keberadaan yang seharga hidup itu sendiri ba—

“Mas.. Mas?”

Aku menengok, seorang lelaki berdiri tepat dibelakangku, kuusap sisa air mata dan kuatur nafas yang sesungukan. Aku berdiri, menghadapnya. Seumuranku, mungkin. Berkemeja rapih necis dan nampak dari kalangan berada. Waw, dia juga membawa bunga kamelia.

“Mas temannya Heny?” dia bertanya.

Aku mengangguk saja, mengatakan ‘pacar’ dalam situasi ini tidaklah bijak menurutku, lagipula..

“Oh.. saya pacar mendiang semasa dia hidup dulu.” Oh, pacarnya..

AP—!!?

Aku gelagapan bukan main. Sesungukanku mendadak hilang, bercanda dia. Mana mungkin, karena akulah pacarnya! Aku senyum meledek.

“Lah, bercanda mas ini, maksudnya mantan? Soalnya saya pacar Henny yang terakhir dulu, sebelum dia meninggal.” Kataku pembelaan.

“Walah, tapi saya pacarnya mas! Beneran! Mas emang tau apa bunga kesukaan Henny?”

Aku pun menunjuk kearah nisan, tempatku meletakkan bunga Kamelia kesukaannya, yang juga ada di pelukan lelaki itu. Apa maksudnya ini? Aku tak mengerti, sayang. Tak ada yang tahu apa bunga kesukaanmu selai aku, bukan? Iya kan? Tiga tahun berlalu, dan tiba-tiba seseorang datang ke hadapanku, di depan makammu yang sakral, mengatakan dia adalah pacarmu.. pacarmu. Pac—

“Maaf, mas-mas ini temannya Henny?”

Aku menengok, satu lagi laki-laki, botak plontos dengan setelan kasual, dan ya, dia membawa bunga Kamelia di sisi tubuhnya yang tegap. Rasanya aku mulai mengerti semuanya, mengerti permainanmu, mengerti segala tingkah busukmu, tingkahmu yang palsu! Senyummu yang artifisial! Tak tahu malu!

“Jangan sebut! Kutebak, kau juga pacarnya Henny?” Kataku sambil melirik pula kepada laki-laki parlente disebelahku.

“Emm.. ya, mas ini siapa ya?”

Hancur. Hatiku luluh lantak. Aku bergegas, pergi dengan tergesa, menjauh dari dua orang entah siapa darimana yang mengatakan bahwa mereka juga kekasih dari kekasihku. Ya, hebat, sayangku. Kau kuanggap hidup, hidup yang seharga hidup itu sendiri bagiku. Tiga tahun! Persetan tiga tahun! Terkutuk dan membusuklah kau di neraka!

“BANGSAT!”

Makian terakhir, dan ia pun berlalu. Kedua orang yang berdiri di depan makam hanya bertatapan, senyum miris berbalut kesedihan. Mereka menatap kearah nissan, meletakkan Kamelia yang masing-masing mereka bawa.

“Selesai, Hen, berterimakasihlah pada kami, dan semoga kau tenang di sana.”

Amin.

Hangtime

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Tuesday, June 14, 2011

Posted at : 4:51 AM

Melongo, bengong, diam di kamar sampai semuanya terasa percuma, bahkan bengong yang baru aja dilakuin semenit kebelakang dirasa pembuangan waktu. Merasa lifeless padahal kuliah tiap hari, serasa kurang bergaul padahal dua hari sekali ngumpul bareng temen lama, blah, apaan tuh? Pertanyaan lagi. Tentu dong. Gue sama Luthfi nggak menemukan padanan kata yang tepat untuk menamakan perilaku ini, sekilas gue menyebutnya jenuh kebablasan, Luthfi menamainya kehilangan tujuan hidup—stagnasi. Anggaplah, jalan tengahnya aja, waktu-waktu dimana lo jenuh dan nggak tau harus melangkah kemana, hang time.

Gue merasakan, sohib gue yang ganteng itu juga merasakan, dan semua orang pun pasti merasakan. Saat-saat dimana lo udah meluangkan waktu dua puluh lima jam sehari, itupun masih serasa kurang, dan pada titik terlelah, lo akan ngerasa semua yang lo lakuin itu ngga ada artinya, kosong makna. Dan bukan makna secara hasil, kalau hasil mungkin ada-ada aja yang dikeluarin, tapi kosong pemaknaan, apa yang lo lakuin serasa nggak ada artinya buat hidup. Kuliah banting tulang ngurus tugas yang numpuk, kehimpit deadline tugas—deadline lulus, berentet ngerjain kerjaan kantor yang nggak ada habisnya, lalu merasa waktu-waktu yang dihabiskan untuk quality time bareng kawan dekat itu serasa pembuangan waktu. Hang.

Hidup hanya berputar-putar dalam alur yang sama, tempat yang sama, orang-orang yang itu-itu aja, lingkup pergaulan kerasa sempit, dan dalam taraf yang lebih akut, diri sendiri bagai kehilangan makna di hadapan orang lain. “Apaan sih gue? Gini doang?”

Bahaya? Buat orang-orang yang merasa perlu ada tantangan dalam hidup, buat orang-orang yang perlu merasakan saripati hidup sampai ke tulang sum-sum, jelas bahaya. Bernafas menggunakan adrenalin, darah di pompa melalui tantangan-tantangan yang ngebuat tengkuk meremang, usus melakukan gerak peristaltik secara normal ketika menemukan hal-hal baru menarik, yeah, orang-orang macam ini akan mati kalau keadaan stagnan itu terus berlanjut dalam jangka panjang. Banyak? Banyak. Tapi langkah mereka selanjutnya yang akan menentukan, apakah ujung-ujung hanya akan jadi manekin berengsel yang digerakin genset diesel?

Sohib gue yang satu itu lagi merasakan, hadeh, nggak tega rasanya ngeliat muka mesum-senang-girang-terangsang dia yang biasanya hilang ditelan nestapa badai stagnasi yang menghantam paru-paru hidupnya. Mana mungkin gue ceramah, level sohiban udah nggak ada ceramah, gue hanya bisa ngasih saran dan tips-tips yang sekiranya bisa ngebantu secara praktikal, efektif bila gue pake, dipake enggaknya ya terserah yang bersangkutan, itu hidupnya, dia yang paling tau apa yang dia butuhin, apa yang dia perlu.

Lakukan hal baru. Simpelnya.

Keluar dari zona aman nyaman tentram emang nggak mudah, tapi ketika zona tersebut hanya membatasi hidup menjadi itu-itu aja, ya ngapain juga dipertahanin? Mendobrak dindin kenyamanan itu selalu punya konsekuensi, dan kemungkinan besar, konsekuensinya itu adalah hal-hal yang pada umumnya nggak akan bisa diterima dengan gampang. Tapi ya tinggal pilih, mau aman-amanan tapi ngerasa hidup ngebosenin, atau mau ambil konsekuensi dengan fitrah dimana kita bisa merasakan hal-hal menarik yang sebelumnya nggak pernah dirasain?

Gue benci gitar, dulu. Bukan benci sih, gue suka, gue pengen bisa mainin itu alat musik dengan lancar (supaya bisa karaoke sendiri, tche), tapi gue selalu kepentok dengan alasan, ‘megang fretnya susah, sakit di jari, men). Halah, dan apa? Keinginan gue untuk mulai belajar gitar kepending dari SMP, pada akhirnya, gue bisa meniatkan belajar gitar karena ngeliat temen gue main dengan sendu penuh penghayatan. Ah, gue pengen kayak dia, dan dilawanlah rasa perih di jari demi bisa karaokean. Simpel?

Hal baru itu bukan berarti hal besar, hal-hal kecil pun pasti banyak yang biasanya nggak dilakuin. Contoh, hari minggu pagi, dimana lo udah have fun abis-abisan sabtunya sama temen-temen, dan besoknya rutinitas kaku udah ngehantem. Pasti rasanya durjana abis. Kalau gue, setiap perasaan seperti itu muncul, gundah gulana tanpa kegiatan, maka gue langsung naik ke atas sadel motor, pergi entah kemana dan tujuannya apa, hanya motoran. Berenti di setiap kali gue ingin, jalan lagi ketika gue mau, nemu spot asik buat ngerokok ya ngerokok, nemu warkop ganteng ya stop lagi. Kecil, tapi kita nggak akan pernah tau kan, apa-apa aja yang kita temui disana? Dijalanan? Misal aja, setiap gue berenti ngewarkop di perjalanan random gue, gue selalu ajak ngobrol bapak-bapak yang ada disana, biasanya mereka akan dengan senang hati menceritakan pengalaman hidupnya yang entah berapa puluh tahun udah dijalani, itu cerita, satu cerita dari satu orang, satu lagi bahan cerita menarik yang bisa lo ceritan ke temen-temen lo yang mungkin lagi tiduran ngetwit ‘bosenn’ dari kamarnya yang nyaman. Satu. Berapa cerita yang bisa lo dapetin tiap bulannya? Pengalaman, cuk.

Belajar, dan pengalaman, seenggaknya itu dua hal yang selalu membantu gue disaat hangtime itu datang. Selalu. Karena gue nggak ingin perasaan-perasaan itu muncul dan mengganggu hidup gue yang terlalu sayang kalau dilewatkan sama penyesalan akan waktu kosong. Belajar hal baru, soft skill, dan mencari pengalaman-pengalaman entah apa yang bisa ditemui dimanapun, interaksi. Selalu baru, selalu menarik. Ngamiin.

Ma(L)u Berpendapat?

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, June 01, 2011

Posted at : 4:24 AM

Gue jarang mengeluh, oke, belum lama gue jarang mengeluh, soalnya sebelumnya, gue itu fatal whiner. Komplain, ngga ada hasilnya, apalagi kalau sesuatu yang gue keluhkan itu menyangkut pihak lain, gue males juga ngebayangin pihak kedua ini harus repot-repot menanggapi keluhan gue. Contoh gampangnya, ketika gue menginginkan sebuah barang, gue menabung susah payah berbulan-bulan, lalu barang yang gue beli itu ternyata cacat produksi, apa yang akan gue lakuin? Yeah, gue nggak akan komplain, kasian si mas-mas penjualnya harus ngeretur. Kebiasaan aneh, tapi ngebuat gue seneng dengan cara yang aneh pula. Berapa kalori yang harus dikeluarkan ketika komplain coba? Capek sendiri, waktu kebuang, mending cengengesan aja ngetawain kelakuan sendiri karena kepengen barang aneh-aneh, konsumen pret.

Sejalan dengan itu, gue juga jarang bersyukur. Dan bukan lupa. Setiap gue mendapatkan sebuah hal baik, gue sadar. Apa yang gue dapet, fitrahnya ke gue, gue memiliki kesempatan untuk sekedar mengucap ‘alhamdulillah’ atau sesimpel ‘syukurlah’ tapi nggak pernah keluar dari tenggorokan. Kalau yang ini bingung juga, dibilang sombong juga gue nggak bisa ngelak. Tapi kayaknya, dicamkan dalam hati pun udah termasuk mensyukuri kan? Kurang di verbalnya aja.

Males komentar. Gampangnya sih itu kalau diliat dari dua paragraf diatas. Males? Haha. Nggak nemu padanan yang lebih halus sih. Gue hanya ngerasa dunia yang gue tempati ini, lingkungan dimana gue hidup udah terlalu banyak suara, banyak kepala yang udah terlalu pintar, banyak komentar, kritis (atau kriTAIs kalau kata ussi). Jadi, melakukan hal yang mainstream bukan gaya gue (halah), ngga.. ngga.. gue cuma berpikir, kalau suara yang udah sebegitu banyaknya kalau ditambah lagi mau jadi apa coba? Gue nggak pernah berbicara banyak dalam sebuah kelompok, mereka udah mengeluarkan pendapatnya masing-masing, nggak jarang ada yang berbeda, tabrakan, berisik. Lagipula, beberapa pendapat mereka ada yang sama dengan persepsi gue toh, buat apa gue ngomong hal yang sama diulang-ulang? Lain cerita kalau kondisinya perbincangan antar dua orang, kalau gue nggak ngomong, rekan ngobrol gue mau ngomong sama siapa? Asep? Nggak jarang dicap pendiem dan nggak ramah, padahal sebenernya ramah, ramah menghindari pemborosan pendapat. Teot.

Tiga orang termasuk gue, itu udah cukup untuk menstaples mulut gue sempurna. Contohnya aja, paling gampang nih. Kalau gue, Luthfi, sama Sonny udah jalan bareng, yang ada cuma itu anak dua cuap-cuap ngadu pendapat sampe mulut kering, gue paling nyengir doang sambil ngerokok dan garuk-garuk pala yang nggak gatel.

Sekarang zamannya kritis, penampilan mungkin udah dinomorduakan, semua orang berlomba memberikan komentar, berusaha menonjolkan diri dengan otak, yang sayangnya kopong blas. Inget zaman SMA dimana kita masih pada polos? Begitu guru bilang “keaktifan jadi nilai penting” dan semua anak berlomba mengangkat keteknya, apa yang diomongin bisa disusun belakangan, jelas atau nggak juntrungannya itu nomor sekian, yang penting nilai. Terlihat pinter dimata guru. Ngomongin PPKN, Psikologi, dan logi-logi lainnya selalu dengan solusi “kembali ke pribadi masing-masing” atau “tergantung pemerintahnya sih”. Duar.

Yah, namanya juga era konsumeris, yang penting itu presentasi, kenampakan. Coba pikir, kenapa dua produk dengan spesifikasi yang sama tapi harga beda jauh, orang masih pilih yang lebih mahal? Yang brandnya terkenal? Itulah presentasi. Car free day tiga tahun lalu sepinya kayak kuburan, sekarang kayak kuburan malem jumat kliwon, rame sama lelembut. Karena apa? Tren, sepeda fix. Lah ngelantur. Gue nggak menyerang para diskutor, kalau senang berdiskusi, berdebat, silahkan. Tapi mbok ya pendapat yang dikeluarin itu ada isinya. Tujuan dari berbagi pikiran itu kan menemukan hal yang nggak bisa ditemukan sendiri, bukan adu gede suara untuk menyampaikan hal yang umum, semua orang juga tau. Apalagi sampe menyerang orang yang pendapatnya berbeda, ini diskusi atau lomba masuk neraka?

‘Tren’ berpendapat udah bergeser kearah itu, gue pun semakin melakban mulut serapatnya. Berbicara kalau emang merasa kredibel untuk menyampaikan apa yang dimaksud. Buat apa menyampaikan pendapat yang hanya bikin orang lain ngangguk-ngangguk ‘itu dia maksud gue!’. Gue pengen pendapat yang gue keluarin itu mindfucking, orang lain nggak kepikiran, dan membuat orang lain juga terstimuli memberikan pendapat yang nggak biasa pula. Tapi sayangnya gue nggak sekompeten itu dalam berpendapat, pengetahuan juga cetek. Jadi ya, lebih baik tutup mulut. Menikmati para kusir saling berdebat lempar ludah. Gue merokok dengan khidmat. Adieu.

Malam Lagi Hujan

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Wednesday, May 25, 2011

Posted at : 2:20 AM

Jakarta hujan dini hari, gue girang setengah mati. Biarlah dikata melankoli, toh rasanya lega bisa menyalurkan sepenuhnya yang ada di hati. Gue selalu suka malam hari, gue pun suka hujan, jadi ya kalau digabung rasanya sempurna. Nggak ada alasan khusus, bukan karena pengalaman di masa lampau, hanya suasana yang dijual membuat semuanya tanpa cela. Sadisnya cihuy.

Gue nggak bisa melihat jelas hujan di Jakarta, terutama di rumah. Terlalu banyak bangunan tinggi menutupi pandangan jendela, apalagi lantai satu. Titik-titik air menjadi bening tak tampak, hanya suara gemercik yang membasahi telinga. Sekilas mereka terlihat menetes dari tepi pagar sesaat, lalu jatuh ke tanah berbaur dengan kawan lama mereka yang lama tak dicumbu. Jangan harapkan jangkrik ataupun kodok, tikus pun enggan mencicit, mungkin sedang menikmati malam di peraduan mereka. Secangkir teh, dan obrolan ringan antara bapak-ibu tikus tentang pendidikan anak-anak mereka soal curi mencolong. Siapa tahu?

Samar terdengar anak tanggung berteriak girang di tengah malam. Jalanan ramai oleh suara mereka, aneh? Mereka tidak di kasur kapuk berdebu seperti seharusnya, tapi jangan heran. Ini kemayoran, tempat macan Jakarta bernaung, Hooligan dari klub sepakbola beringas di Indonesia, ricuh itu hal biasa, ramai itu kudapan pengisi hara. Pastilah menyenangkan, tanpa harus memikirkan hal-hal yang normatif dan prinsipil, mereka bisa berkeliaran pagi buta di tengah hujan. Rasanya ingin sesekali mencoba, tidak ada salahnya, lain kali pasti.

Tanpa kenangan? Bisa saja iya, tapi mungkin juga tidak. Hampa yang total. Kosong yang sempurna. Dengan pembiasaan yang terlalu lama menjadikan hal yang buruk terasa indah. Mungkin itu. Mungkin saat-saat seperti ini, dimana tidak ada hal lain selain denting panah air menghantam paving blok, bau tawar yang menusuk hidung sampai sakit, hening namun ramai. Hanya ada gue dan kesempatan untuk tertawa pada diri sendiri. Hujan dan malam mengingatkan dengan baik bagaimana hal-hal itu pernah dilalui. Eh. Mungkin bukan pernah, tapi sedang dan akan dilalui. Sekarang mungkin teringat, entah kapan akan menjadi, atau bahkan sebuah nostalgi.

Hampa yang itu. Yang seakan semua orang adalah musuh, tanpa teman dan bahkan bayangan entah berlari kemana. Anggapan bahwa kaki ini hanyalah dua tanpa sandaran, tidak perlu dan tidak akan pernah mau. Gue pun heran, bagaimana caranya menganggap tatapan orang lain adalah intimidasi yang harus diatasi, sedikit gerakan adalah proses menembus pertahanan diri, hoeh, kalau diingat rasanya capek sendiri. Untungnya sudah terlewat, dan harapan di kepala tentunya ingin tidak terulang, apalagi sedang diulang. Amit-amit.

Sekarang gue merokok, seperti biasanya. Dengan badan menempel di teralis jendela, menajamkan kuping akan tiap tetes air yang turun, sedikit percikan menghampiri, gue senyum, yang kata Nanda aneh. Biarlah aneh, toh senyum ini buat kamu kok.

Ngapel Ekstrim

Filed Under (, ) by Pitiful Kuro on Tuesday, May 24, 2011

Posted at : 4:25 AM

Seperti apa rasanya menyaksikan suatu perubahan? Buat gue rasanya itu luar biasa, membuat darah muda gue bergejolak sadis begitu manis. Tapi sayang. Perubahan kadang datang begitu lambat, yang saking lambatnya, kita nggak merasakan sesuatu yang kita raba itu udah berubah. Kemarin, gue diberikan kesempatan untuk melihat perubahan itu, tiap detiknya, tiap menitnya, tiap jamnya. Gue mengamati dengan mata dan indra peraba gue sendiri, langsung. Gue ketawa girang.

Ini berkenaan dengan perjalanan gue ke Surabaya kemarin, naik motor. Dalam rangka tujuan ngapelin pacar tersayang, Nanda (tjieh). Gue udah di wanti-wanti sih, baik sama orang rumah, ataupun dari pihak keluarga yang ada di Surabaya sana, kalau jangan naik kuda besi roda dua itu, capek, jauh, panas, nanti di tempat tujuan kerjanya tepar doang lah. Tapi bukan gue dong kalau nggak kepala batu, tetep ngotot, dan akhirnya memutuskan untuk tetap pada rencana awal. Motor kesayangan udah diajak bicara empat mata, udah dielus-elus sedemikian rupa untuk ngebujuk, mesin udah dikelitikin supaya makin manja, minuman juga dikasih spesial—oli baru. Diable pun siap berangkat.

Nggak, disini gue nggak akan bicara road report kok.

Tapi apa ya?

Bayangin aja, gue berangkat dari Bandung jam setengah satu pagi, nunggu Nanda tidur dulu baru berangkat. Oh yeah, gue berangkat nggak pake bilang soalnya, gue nggak pengen my Brown Sugar khawatir nungguin gue di jalan, nggak enak di guenya juga karena bisa kepikiran, jadilah, rencana dadakan tanpa bilang ini diambil. Kurang baik apa coba pacar yang satu ini #jeger. Jalur yang gue ambil tentu jalur utara, masih agak ngeri lewat selatan, selain legenda yang bilang banyak begar sepanjang jalan, jalurnya yang terlalu banyak potongan dan persimpangan juga gue jadiin pertimbangan, mengingat gue masih awam dalam touring jarak jauh, mending cari jalur gampangan.

Pagi masih buta, malam pun belum habis tersapa, mesin menggerung perlahan, rokok dinyalakan sebagai tanda pelatuk sudah ditarik, sepi, saking heningnya bahkan jangkrik pun malas berbisik, mungkin meninabobokan anaknya yang terlalu berisik. Gelap. Satu dua kendaraan bertegur sapa dengan lampu jauhnya. Sesekali memaki kalau disorot dengan lampu tinggi kelewat silau, pelepasan emosi namun hanya sekedar persaudaraan jalanan. Halah.. perjalanan malam hari itu nggak ada yang bisa ngalahin, walau horor dan banyak yang bergelantungan di atas pohon, ketenangan yang gue dapat nggak sebanding dengan mereka yang melayang-layang teror.

Malam tersapu di ufuk timur, perubahan pertama yang gue lihat. Awalnya biru tua, perlahan biru muda, lalu tersapu oleh pendar jingga setipis kapas, berganti oranye muda memeluk mata, dan akhirnya pagi membuka. Mungkin ini waktu-waktu dimana gue nggak membenci pagi, gue melihat langsung dari nol pertambahan cahaya yang dibiaskan dalam rentang warna, gimana caranya gue membenci apa yang gue pupuk dari hampa? Hitam menjadi cahaya. Gue nyengir sambil ngopi di pinggir pantura. Rokok mengepul di sela jari siap menyuap muka.

Jalan terlalu panjang telah terlewati, ingin kembali pun percuma, terlalu jauh untuk memutar arah. Lelah, capek itu pasti, tapi terobati. Semarang, Kendal, Demak, semuanya serasa di rumah. Entah tautan apa, mungkin karena ada darah Solo mengalir di nadi. Gaya bangunan dan daerah yang begitu mirip kampung halaman seolah menyapu keringat tanpa perlu di seka, senyum kembali muncul di wajah yang menghitam, tersapu asap truk besar mengandung oli. Kota-kota itu seolah memberi tenaga pecut di otot yang mulai terisi asam susu, semangat memuncak, 500 kilometer yang telah dijamah seolah tanpa arti.

Setengahnya berkat pak Yuda, kawan lama yang baru bertemu. Tiga jam kami beriringan di jalan, tanpa kenal dan bermodal klakson serta sorotan lampu, kami menjadi sahabat. Bekerja sama menghindari lubang ranjau pantura, berkelit ketika ada bahaya, dan akhirnya duduk bersama di kedai es kelapa. Mengobrol tidak banyak, hanya tertawa dan berbagi ilmu seputar mesin, seputar keluarga, dan sedikit berbohong pada bapak satu ini tentang siapa yang gue begitu bela sampai menempuh jarak Bandung – Surabaya (huahaha). Di Tuban kami berpisah, anak istrinya menunggu di rumah, sementara sang calon masih tak tahu apa-apa haha-hihi di Surabaya.

Eh? Sudahkah gue bercerita tentang Rembang? Ini kota yang luar biasa apik, kawan. Di kanan ada dusun, di kiri ada apa? Tau? Laut. Laut yang begkitu hijau, begitu biru sampai dasarnya pun terlihat dari atas motor yang gue tunggang. Terpana, sampai hampir nabrak saking terpesona. Lupakan Ancol yang bayar 20 rebu sekali masuk. Disini nggak bayar, tapi indahnya seperti Ancol dilipat tigapuluh. Ingin berhenti, menghisap rokok di tengah pantai berpasir putih, siapa yang tidak tergoda? Tapi sayang, waktu berkata lain, mepet, dan tidak ingin membuang waktu banyak di jalan. Aspal pun terus digerus sampai keringat terakhir.

(telepon bunyi cuk!)

“Hani lagi dimana?”

“Mana ya.. nggak tau nih, lagi nyasar nyari Mesjid Akbar.”

“Hah? Hahahah.. serius ah, lagi dimana?”

“Beneran.. nggak percaya?”

“Nggak.. hahaha.. serius Hani.”

“Dih, nggak percaya… bentar, tanya mas-mas tukang rujak nih kalau nggak percaya.”

(Setengah tereak nanya orang)

“Mas, nanya dong, ini daerah mana ya?”

“Ketabang Ali mas!”

“Nah tuh.. percaya nggak?”

“HAH? SERIUS?!”

*duer*

Yah.. nasib nggak dipercaya pacar sendiri.. #toet

Surabaya masih sama, banyak motor, panas (bukan pengap), logat Njancuk’I terdengar di mana-mana, sesekali Madura berbicara. Rasis yang sama. Suasana yang sama. Gue pun berputar-putar mencari alamat dengan patokan tempat ibadat. Ketemu? Jelas. Gue memarkir motor di salah satu pelataran masjid terbesar Surabaya itu, dan duduk, menyalakan rokok tanda kemenangan. 750kilometer habis dilahap, tanpa masalah, tanpa hal yang mengganggu, hanya rasa girang yang kelewatan, ketagihan, dan secepatnya ingin mengulang. Nggak perlu ditanya, capek? Pasti, lelah? Apalagi, pegal? Alamak. Tapi tau nggak? Begitu ada cewek cakep naik Supra Fit dateng dan parkir di depan gue, dengan senyum manisnya yang sama dengan beberapa waktu lalu diberikan untuk gue. Rasanya capek gue rontok semua.