Nyari Dimana? Tanya Siapa?
Filed Under (rant ) by Pitiful Kuro on Wednesday, November 24, 2010
Posted at : 11:30 AM
Kuliah, euh, entah berapa kali gue menyebutkan nama itu di blog ini. Tujuannya macem-macem, kadang gue ngocehin hal-hal menarik yang gue alami di tempat sakral menimba itu (tsah), kadang hal-hal yang bikin gondok, kadang juga gue (sok) mengkritisi institusi yang udah gue saksikan sendiri dengan mata kepala gue ini, baik bobrok dan bagusnya. Sekarang, kayanya gue pengen sedikit numpahin uneg-uneg gue sebagai mahasiswa yang lagi keluar jalur.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
...Rekaman Tanpa Judul
Filed Under (Sikit Karya ) by Pitiful Kuro on Tuesday, November 16, 2010
Posted at : 12:06 AM
Clek..
ZzzZzzz..
“Silahkan, anda dapat mulai sekarang,”
“Oh, sudah ya? Baik-baik.. ehmm..”
“Ini tentang peristiwa malam itu, seperti yang telah saya bilang pada anda sebelumnya, saya sedang berjalan berdua dengan kekasih saya saat itu. Tepatnya sekitar pukul sebelas malam, yah, anda tidak perlu tahu kan alasan saya datang ke tempat demikian pada jam-jam itu? Hehe.. oh maaf. Maksud saya, saya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman itu, tidak ada yang aneh, cuaca memang agak lembab, tapi itu tidak mengganggu sama sekali, ya kan pak? Lalu sekitar setengah jam kami berkeliling, kami menemukan pemandangan yang cukup ganjil di tempat itu, emm, kurasa sekitar bagian timur taman, dekat kolam menari itu, ya ya.. kalau tidak salah saya melihat mereka disana.”
*Tlep*
Lelaki yang satu mematikan tape yang sedari tadi digunakan untuk merekam tiap perkataan orang satunya lagi, dengan tampang yang jelas menunjukkan ekspresi heran, berpadu dengan secercah kepuasan batin seorang jurnalis: melampaui penyeledikan polisi.
“Tunggu, mereka? Maksud anda ada dua orang atau lebih?”
“Ya, ada dua orang disana, satu ting—“
“Maaf-maaf, tunggu sebentar.”
*Clek*
“Lanjutkan.”
“Emm, yah, dua orang seperti yang saya katakan tadi, yang satunya tinggi besar, ia mengenakan kemeja flanel warna merah muda kalau tidak salah ingat, berkacamata, dan..emm.. kalau bisa dikatakan juga, tampangnya murung. Lalu yang satunya, jauh lebih kecil, lebih kurus, mungkin hanya seleher orang yang tinggi besar itu. Ia mengenakan baju serba hitam, tidak jelas apakah itu kemeja atau jas. Pastinya..”
...
...
*Tlep*
“Ada apa pak?”
“Oh, maaf, hanya berusaha mengingat kesan yang ditimbulkan orang itu, ah!”
*Clek*
“Kurasa, kalau aku tidak salah merasakan, aku merasakan tekanan yang sangat berat, meluncur dari tubuh orang itu dan menekan atmosfir jauh disekitarnya. Mudahnya, menyeramkan. Dan jangan tanya kenapa aku tahu bahwa orang itulah yang mengeluarkan tekanan itu, bukan satunya, aku tidak dapat menjelaskan dengan detail, intinya, aku merasakannya. Seperti.. kau ingin—maaf—membunuhnya, tapi juga menyayanginya secara bersamaan. “
“Tidak logis ya? Begitulah yang kurasakan. Ah, lalu sampai dimana tadi? Ya ya.. kami bertemu mereka, yah, jarak kami dari mereka lumayan jauh, sekitar 30-40meter. Mereka nampak berbincang dengan amat serius—tidak, bukan. Maksudku, orang yang kecil itu nampak menasehati orang yang besar itu. Entah apa, tidak terlalu jelas terdengar, karena suara lalu lintas di samping taman saat itu masih cukup jelas terdengar dan mengganggu pendengaran kami saat itu.”
“Ah ya.. keanehan mulai terjadi disini, pak. Awalnya kami bisa mengacuhkan obrolan mereka, toh jelas mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kami, dan kami pun tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi niatan itu hilang musnah saat orang kecil itu mengeluarkan sebuah pisau. Whew, anda mungkin berpendapat saya cukup nekat, saya langsung berteriak dan berkata bolak balik, “hei! Letakkan pisaunya!”, tapi tidak mempan, kedua orang itu sama sekali tidak mengindahkan teriakanku. Baru saja sampai setengah jalan aku mendekati mereka, tiba-tiba aku teringat kekasihku, bahwa aku kesana bersama dengannya, dan tidak baik tentunya jika meninggalkan dia begitu saja. “
“Begitu aku menengok kebelakang, aku melihat dia, kekasihku, sudah jatuh terduduk, lemas dan tampak tanpa tenaga. Melihat itu, aku langsung berbalik arah, dengan niatan menolong kekasihku dan langsung pergi dari sana tanpa babibu. Dan kau tahu pak? Apa yang kurasakan saat aku memunggungi kedua orang itu? Phew, aku melihat gambaran diriku sendiri telah mati, leherku digorok sampai putus. Memang hanya ilusi, tapi aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya saat itu, seperti benar-benar terjadi. Saya yang terkejut langsung membalik badan, dan melihat kedua orang itu sedang melihatku, dengan tampang yang sama-sama menyeramkan, seolah benar-benar ingin membunuhku. Aih, aku tak ingin mengingatnya lagi, sudah pak, hal terakhir yang kuingat dari malam itu adalah.. emm.. lolongan yang mengerikan, seperti lolongan anjing yang.. kesakitan..”
*Cklek*
ZzzZzzz..
“Silahkan, anda dapat mulai sekarang,”
“Oh, sudah ya? Baik-baik.. ehmm..”
“Ini tentang peristiwa malam itu, seperti yang telah saya bilang pada anda sebelumnya, saya sedang berjalan berdua dengan kekasih saya saat itu. Tepatnya sekitar pukul sebelas malam, yah, anda tidak perlu tahu kan alasan saya datang ke tempat demikian pada jam-jam itu? Hehe.. oh maaf. Maksud saya, saya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman itu, tidak ada yang aneh, cuaca memang agak lembab, tapi itu tidak mengganggu sama sekali, ya kan pak? Lalu sekitar setengah jam kami berkeliling, kami menemukan pemandangan yang cukup ganjil di tempat itu, emm, kurasa sekitar bagian timur taman, dekat kolam menari itu, ya ya.. kalau tidak salah saya melihat mereka disana.”
*Tlep*
Lelaki yang satu mematikan tape yang sedari tadi digunakan untuk merekam tiap perkataan orang satunya lagi, dengan tampang yang jelas menunjukkan ekspresi heran, berpadu dengan secercah kepuasan batin seorang jurnalis: melampaui penyeledikan polisi.
“Tunggu, mereka? Maksud anda ada dua orang atau lebih?”
“Ya, ada dua orang disana, satu ting—“
“Maaf-maaf, tunggu sebentar.”
*Clek*
“Lanjutkan.”
“Emm, yah, dua orang seperti yang saya katakan tadi, yang satunya tinggi besar, ia mengenakan kemeja flanel warna merah muda kalau tidak salah ingat, berkacamata, dan..emm.. kalau bisa dikatakan juga, tampangnya murung. Lalu yang satunya, jauh lebih kecil, lebih kurus, mungkin hanya seleher orang yang tinggi besar itu. Ia mengenakan baju serba hitam, tidak jelas apakah itu kemeja atau jas. Pastinya..”
...
...
*Tlep*
“Ada apa pak?”
“Oh, maaf, hanya berusaha mengingat kesan yang ditimbulkan orang itu, ah!”
*Clek*
“Kurasa, kalau aku tidak salah merasakan, aku merasakan tekanan yang sangat berat, meluncur dari tubuh orang itu dan menekan atmosfir jauh disekitarnya. Mudahnya, menyeramkan. Dan jangan tanya kenapa aku tahu bahwa orang itulah yang mengeluarkan tekanan itu, bukan satunya, aku tidak dapat menjelaskan dengan detail, intinya, aku merasakannya. Seperti.. kau ingin—maaf—membunuhnya, tapi juga menyayanginya secara bersamaan. “
“Tidak logis ya? Begitulah yang kurasakan. Ah, lalu sampai dimana tadi? Ya ya.. kami bertemu mereka, yah, jarak kami dari mereka lumayan jauh, sekitar 30-40meter. Mereka nampak berbincang dengan amat serius—tidak, bukan. Maksudku, orang yang kecil itu nampak menasehati orang yang besar itu. Entah apa, tidak terlalu jelas terdengar, karena suara lalu lintas di samping taman saat itu masih cukup jelas terdengar dan mengganggu pendengaran kami saat itu.”
“Ah ya.. keanehan mulai terjadi disini, pak. Awalnya kami bisa mengacuhkan obrolan mereka, toh jelas mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kami, dan kami pun tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi niatan itu hilang musnah saat orang kecil itu mengeluarkan sebuah pisau. Whew, anda mungkin berpendapat saya cukup nekat, saya langsung berteriak dan berkata bolak balik, “hei! Letakkan pisaunya!”, tapi tidak mempan, kedua orang itu sama sekali tidak mengindahkan teriakanku. Baru saja sampai setengah jalan aku mendekati mereka, tiba-tiba aku teringat kekasihku, bahwa aku kesana bersama dengannya, dan tidak baik tentunya jika meninggalkan dia begitu saja. “
“Begitu aku menengok kebelakang, aku melihat dia, kekasihku, sudah jatuh terduduk, lemas dan tampak tanpa tenaga. Melihat itu, aku langsung berbalik arah, dengan niatan menolong kekasihku dan langsung pergi dari sana tanpa babibu. Dan kau tahu pak? Apa yang kurasakan saat aku memunggungi kedua orang itu? Phew, aku melihat gambaran diriku sendiri telah mati, leherku digorok sampai putus. Memang hanya ilusi, tapi aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya saat itu, seperti benar-benar terjadi. Saya yang terkejut langsung membalik badan, dan melihat kedua orang itu sedang melihatku, dengan tampang yang sama-sama menyeramkan, seolah benar-benar ingin membunuhku. Aih, aku tak ingin mengingatnya lagi, sudah pak, hal terakhir yang kuingat dari malam itu adalah.. emm.. lolongan yang mengerikan, seperti lolongan anjing yang.. kesakitan..”
*Cklek*
Kadang kita tau kalau jalan yang kita ambil itu salah, entah itu buntu, entah itu one way, entah itu jalan rusaknya udah kayak grojogan sewu. Tapi kadang, kita justru ngambil jalan itu, tutup mata, dan tancap gas sekenceng-kencengnya dan ga mau peduli, ga mau tau kalau kita ngambil jalan yang salah. Yang bisa berhentiin kita disana cuma polisi dengan senyum 250.000 rupiahnya, yang ujungnya, kita menyalahkan keadaan karena mengambil jalan yang salah.
Phew.
Phew.
Melakukan ini, melakukan itu, melakukan terlalu banyak hal sampai-sampai lo ngerasa 24 jam itu gak pernah cukup dalam satu hari. Tapi ketika mencapai satu titik tertentu, dan lo melihat kebelakang dan sadar, bahwa apa yang lo lakuin itu cuma buang waktu.
Terus? Lo pengen balik lagi gitu maksudnya?
Palelo kenceng.
Terus? Lo pengen balik lagi gitu maksudnya?
Palelo kenceng.
Movie Review: The Shining (1980)
Filed Under (Review Film ) by Pitiful Kuro on Wednesday, September 15, 2010
Posted at : 12:41 PM

God, I'd give anything for a drink. I'd give my god-damned soul for just a glass of beer -- Jack Torrance
Apa yang dibutuhkan sebuah film horror? Psikopat bertopeng bergergaji mesin? Andaikan lo jawab iya, berarti lo belom nonton The Shining. Film yang diadaptasi dari novel sang maestro horror, Stephen King ini nggak membutuhkan karakter itu. Lo cukup menyediakan bapak-bapak depresif dengan aplikasi tempramental yang di built in di dalam hatinya, plus hotel-besar-angker-creepy yang terisolasi selama 5 bulan musim dingin. Voila, lo udah dapetin terror sinting yang mempunyai probabilitas tinggi untuk memicu kelenjar ekskersi bekerja lebih aktif. Dan itu adalah The Shining.
Plotnya sederhana, dimulai ketika Jack Torrance (Jack Nicholson) melamar kerjaan di sebuah hotel untuk menjadi staff jaga selama musim dingin di hotel yang lagi tutup sementara, pekerjaan menjajikan yang ngebuat lo terisolir dari dunia luar selama 5 bulan Cuma dengan keluarga lo doang, belom lagi bonus menarik yang harus Jack dan keluarga hadapi, karena hotel ini punya sejarah kelam dimane setiap penjaga musim dingin yang dimiliki hotel ini selalu dapet celaka.
Simpel, dan sangat Stephen King abis, ga perlu banyak setting, ga perlu banyak karakter, tapi itu semua udah cukup untuk ngejadiin 90 menit yang lo abisin menonton film ini menjadi 90 menit yang asshole karena ngebuat lo bolak-baik ngegigitin selimut lo (oh kagak? Gue iye ). Gue selalu berkiblat pada horror 80-90an berkat film-film macem The Shining, film yang cukup cerdas untuk ngebuat suasana nan creepy tanpa perlu sound effect dang ding dong, dan pergantian gambar ekstra ekstrim yang nampiling muka serem. The Shining gak memiliki dua elemen tersebut, tapi bisa memberikan efek orgasme ketakutan melebihin film-film yang menggunakan formula itu. Habis pikir gak sih? Lo bisa deg-degan Cuma ngeliatin anak kecil muter-muter ruangan naek sepeda roda tiga? Dengan taraf akting yang sekelas 80an, tapi lo bisa dapet sensasi ngeri yang millenium.
Dan yeah, kalau tadi gue bilang akting sekelas 80an, maka Jack Nicholson di film ini adalah rajanya pada era itu. Bisa lo liat sendiri perubahan ekstrem Jack pada saat dia belom “berubah” dan setelahnya, jauuh.. dari bapak-bapak murah senyum menjadi serial killer on a duty, yang siap mengkampak siapapun yang ngalangin nyanyian setan di otanye. Gue suka gimana Stephen King memilih karakter didalam penceritaannya, gue lebih ngeri sama Serial Killer dalam bentuk bapak-bapak kaya Jack ini, bapak-bapak yang bisa kite liat dimanapun.. Kenapa? Karena.. sadar atau nggak, mereka dekat dengan kehidupan kite, siapa tau.. tukang ojek yang barusan nganter gue adalah seria killer yang gentayangan tiap malem di sekitaran Unpad, nyari darah segar untuk muasin nafsu sintingnye? Kagak tau kan? Makanya jadi serem.
The Shining adalah sebuah horror dimane lo gak perlu melihat banyak darah didalamnya, gak perlu ngeliat banyak orang-orang gak guna ko’it gitu aje tanpa ada alesan yang jelas, gak perlu embel-embel teknik segala-gala buat nyiptain atmosfir thrilling yang bikin kuduk merinding. Gue gak perlu ragu lagi untuk bilang bahwa The Shining adah Psychologycal Horror favorit gue yang masuk ke dalam daftar A list gue bareng dengan Misery (Stephen King again, anyone? ).
9/10
Subscribe to:
Comments (Atom)

Newer Posts
