Skinpress Demo Rss

Neil Young - Only Love Can Break Your Heart

Filed Under () by Pitiful Kuro on Tuesday, August 31, 2010

Posted at : 4:26 AM



When you were young
and on your own
How did it feel
to be alone?
I was always thinking
of games that I was playing.
Trying to make
the best of my time.

But only love
can break your heart
Try to be sure
right from the start
Yes only love
can break your heart
What if your world
should fall apart?

I have a friend
I've never seen
He hides his head
inside a dream
Someone should call him
and see if he can come out.
Try to lose
the down that he's found.

But only love
can break your heart
Try to be sure
right from the start
Yes only love
can break your heart
What if your world
should fall apart?

I have a friend
I've never seen
He hides his head
inside a dream
Yes, only love
can break your heart
Yes, only love
can break your heart

Pertama tau lagu ini dari saudara garib fauzie di blognya. Awalnya gue cuek bebek, paling cuma kerjaan orang gak punya ide yang bingung mau post apaan di blognya, tapi sekarang disaat gue lagi bingung mau genjreng lagu apaan lagi, gue keinget lagu ini., gue buka lagi postingannya dan gue cari chord nya.

Waw, chordnya gampang, dan lagunya cukup enak didengerin, dan gak cuma sampe disitu, belajar chord lagu pasti ngabaca liriknya, ternyata.. gue pengen ketawa sendiri saat sadar kalau lagu ini menggambarkan gue sedikit. Cieh.. tumben-tumbenan nih gue bilang ‘ini lagu gue bangeddsss’ haha. Penggambaran yang tepat untuk gue beberapa waktu lalu, dan kayaknya kagak penting juga gue bahas disini.

So? Katakanlah, gue lagu kurang ide mau nulis apaan dan ujungnya cuma kopipas lagu, uhuy.

Tengkiu buat rekanan join kopi gue yang ngenalin lagu ini, *peluk cium*









*merinding seleher

Movie Review: Braindead a.k.a Dead Alive

Filed Under ( ) by Pitiful Kuro on Friday, August 20, 2010

Posted at : 3:52 AM




Braindead a.k.a Dead Alive


beware of spoilers yeap?


Braindead, atau lebih dikenal dengan nama Dead Alive ini percaya gak percaya adalah besutan sutradara yang nanganin Lord Of The Ring, yap, si Peter Jackson. Sebelum dia dilimpahin rejeki budget berjuta-juta dollar dan ngadaptasi novelnya JR Tolkien itu, dia itu kerjaannya bikin film-film ‘sakit’ yang memuaskan rasa haus mereka-mereka yang fan dari gore-exploitation-splatter.

Braindead diawali dengan perjalanan sebuah kru peneliti ke daerah selatan sumatra, yeah, sumatra nyang entu, untuk menangkap spesies kera aneh yang dikenal dengan nama Sumtran-Raticus. Spesies aneh campuran monyet dan tikus. Kera yang akhirnya ditempatkan di sebuah kebun binatang di New zealand ini mulai menimbulkan masalah, manusia yang tergigit oleh spesies weirdo yang satu ini bisa berubah dalam hitungan hari! Woo..dan tentu saja, korban pertama dari si monyet kita ini adalah nenek dari hero kita, Leonel.

Leonel, pemuda tanggung nan canggung, nerdus kuperus ini tinggal sama neneknya yang sangat cocok jika digambarkan dengan kata ‘woman hitler’ versi modern. Hidupnya serba dikekang si nenek yang katanya sih bilang untuk kebaikan cucunya tersayang, dan Leonel yang memang udah yatim ini pun mau gak mau harus nurut sama neneknya, bahkan saat disuruh meninggalkan soulmatenya tercinta, paquita.

Well, ini bukan sinetron yang menceritakan perseteruan mertua dan menantu, karenanya, horror pun dimulai saat si nenek yang udah terinfeksi monyet tadi mulai bertransformasi menjadi zombie secara perlahan dan menimbulkan kekacauan beruntun. Yang menarik dari film ini, si polos Leonel yang sadar akan perubahan neneknya ini justru mencoba untuk menyembunyikan kezombie-an si nenek dengan caranya sendiri, yang bakalan menimbulkan masalah-masalah panjang berikutnya. Dan tentu, hilariously fun.

Review__

Asli, kalau ada yang menyatakan dirinya sebagai zombie lover, exploitation-gore-splatter fans, pasti gak mungkin gak suka sama film ini. Tingkat cult dari film ini secara subjektif gue anggep sama atau bahkan lebih dari Evil Dead seriesnya Sam Raimi. Peter Jackson bener-bener tau bagaimana cara memuaskan para fans dengan memberikan suguhan yang memang ingin kita lihat. Kayaknya, pembelajaran yang dia dapet dari proses pembuatan Bad taste bener-bener memberitahunya bagaimana sih cara membuat film yang bisa muasin fanbase horor sampai titik paling klimaks.

Percaya deh, lo gak akan tahan untuk gak mengeluarkan kata-kata makian saing nikmatnya suguhan sinematis yang dihadirkan di film ini. Darah dalam jumlah masif-idiotik, potongan daging yang beterbangan kemana-mana, adegan-adegan yang pasti gak bakalan lo bayangkan bakalan memenuhi mata dan otak lo dalam 90 menit pemutaran film ini.

Kao ditanya, apakah ada adegan memorable di film ini? Wuih, jangan samain film ini kayak Clash of The Titans yang begitu meleng aja gue udah lupa siapa nama jagoannya, film ini punya terlau banyak adegan cult yang gak bakalan bisa lo apus dari otak. Dari makan sup potongan telinga, sampai zombie ML. uh yeah, kata siapa zombie gak bisa kawin? Mereka saling napsu dan bisa ngelahirin anak secara instan! Haha! Didukung pula dengan couple yang sangat kinky sekali, pastur dan suster (zombie, tentunya).

Gue juga gak bisa ngelupain adegan si Lionel ngebawa bayi zombie itu jalan-jalan (ngapain coba), sumpah, adegan ini bikin gue ketawa dan bilang ‘bangsaaaaaat’ dalam waktu bersamaan.

Ketika lo menarik nafas lega dan berpikir bahwa filmnya baru aja melewati adegan klimaks saking kerasa edannya adegan itu, lo salah, adegan yang lebih sinting masih nunggu lo di scene berikutnya, berikutnya, dan berikutnya. Film ini bener-bener sukses ngebuat gue yang nonton bener-bener terpaku, nganga, dan instan memaki saking gobloknya apa yang gue liat.

Lo horror fan? Lo harus liat ini. Lupain Lord of The Ring, film ini jutaan kali lebih keren daripada itu.

10/10

Ketika Takdir Berjoget

Filed Under () by Pitiful Kuro on Tuesday, August 10, 2010

Posted at : 2:18 AM

Kalau gue menyebut kata adil, keadilan, nggak akan pernah lepas dari subjektivitas, bahkan senetral apapun orang memandang. Ketika seseorang merasakan ketidakadilan pada suatu hal yang menimpanya, jauh di suatu tempat mungkin ada saja toh orang yang akan mengatakan itu adalah hal yang wajar. Karena gue berpikir demikian, dan enggan untuk menerima perkataan ‘wajar’ dari seseorang nun jauh disana, gue lebih memilih untuk nggak menceritakannya disini.

Mungkin akan ada orang yang bilang itu udah kodrat Tuhan, mungkin juga akan ada yang bilang gue nggak bersyukur, mungkin juga bakal ada yang bilang gue terlalu dramatis, atau mungkin juga ada yang bilang masih banyak orang yang nggak seberuntung gue. Ini toh (katanya) negara demokrasi, semua orang punya pendapat dan hak bersuara, dan sayangnya mungkin gue nggak ingin mendengar kata-kata tersebut. Mungkin orang lain harus bertamasya dulu ke alam pikiran gue untuk tidak mengeluarkan beberapa kalimat diatas.

Kadang lucu, untuk apa kita sharing masalah? Ketika yang ingin kita dengar hanya pembenaran dan bukan masukan, pencegahan sakit hati nampaknya juga perlu dimasukan dalam etika sharing/bercerita, karena rasa nggak enak yang lagi nyantol di hati bisa saja nambah bengkak karena orang yang kita ajak bicara. Kadang kita nggak ingin ada intervensi dari lawan bicara, kadang pula kita hanya ingin didengar, kadang kita ingin hanya dibenarkan, kadang kita juga nggak mau di judge, kadang kita ingin orang lain mengerti tanpa harus bertanya.

Sepertinya perlu untuk disampaikan di awal pada lawan bercerita kita:

“Tolong, kamu diam aja, saya hanya mau cerita.”

Atau
“Lo jangan ngasih solusi atau pendapat, cukup iyakan apa yang gue bilang.”

Atau mungkin

“Kayaknya aku nggak perlu ngomong deh, kamu ngerti kan?”

Pernah kan? Rasanya ingin curhat sama dukun, sehingga kita nggak perlu susah-susah cerita tapi dapat dimengerti, tanpa pendapat tapi mau merangkul kita sepenuh hati, tanpa menjudge tapi bisa kita jadikan tempat bersandar tanpa mengeluh. Ketika kita menemukan orang seperti itu rasanya dunia pun bersama kita, tenang, damai, dan hati rasanya dipenuhi dengan kebun bunga aneka warna, wuih.

Tapi sayang, dukun hanya menangani santet dan pelet, bukan curhat.

Kita nggak bisa mengharapkan hal-hal diatas terjadi begitu aja dengan orang yang kita ajak bicara. Profesi yang dianggap paling keren untuk menangani masalah, Psikolog, bahkan harus mendengar detil cerita yang kita miliki untuk tahu bagaimana cara mengerti si klien. Psikolog bukan dukun, apalagi teman-teman kalian, ataupun gue, bukan. Lain cerita kalau dia memang beneran dukun, hehe.



Hoh..

Rasanya ingin mengeluh—eh? Sudah ya? Cek aja timeline twitter gue. Rasanya ingin mengeluarkan semua isi perut gue—eh? Udah juga? Cek aja WC gue, dari atas sama bawah lengkap disana.

Mungkin gue termasuk orang yang beruntung karena nggak mendapat kalimat-kalimat seperti diatas, maksudnya, yang kodrat lah, gak bersyukur lah, dst. Karena gue udah sadar duluan akan probabilitas kata-kata tersebut meluncur dari pemikiran anda-anda sekalian pembaca blog ini (eh? Ada ya?)

Gue berpikir, gue nggak bisa menyalahi kodrat gue lahir dimana dan sama siapa, udah terjadi dan toh gue nggak bisa masuk lagi, satu yang gue temukan adalah, bagaimana cara memperbaiki takdir yang udah ditunjukkin sama gue ini? Yang jelas, sama seperti kesepian. Kesepian nggak bisa diusir pake sapu, tapi carilah teman, takdir pun nggak bisa diperbaiki pakai palu dan paku, tapi.. well.. jawaban sementara sih: jalani aja hidup sebaik mungkin.

*hela nafas dulu ah.

Please allow me to Introduce something, dude!

Filed Under () by Pitiful Kuro on Wednesday, July 21, 2010

Posted at : 1:37 AM

Coming soon-but-not-that-close!

The Bandlith Project


Maybe august, septembre? Hope so--just wait, okay?



*plak

Make Up?

Filed Under () by Pitiful Kuro on Wednesday, July 07, 2010

Posted at : 6:03 PM

Make up?

Apa itu make up? Entah ya, gue bukan penggunanya, tapi gue rasa, itu adalah sebuah lapisan yang menyelimuti permukaan wajah, ketebalannya bervariasi, antara sekian mili sampai sekian senti (kata komik). Digunakan oleh perempuan, tentunya, tapi di jaman yang mendekati kiamat ini, tidak tertutup kemungkinan makhluk bertestikel juga mulai menggunakannya.

Apa gunanya make up? Gue gak tau pasti, yang jelas, menurut pengamatan gue sebagai cowo—yang tentunya tidak pernah menyentuh alat-alat demikian, katanya sih, biar muka nggak keliatan pucat, lesu, kusutnya tersamarkan dan seterusnya entah apa. Yang jelas, keseluruhan analisa cetek gue tadi itu mengacu kepada sebuah kalimat konklusif mengapa make up dipakai oleh kaum hawa: untuk mempercantik diri.

Buat apa mempercantik diri? (yeah, pertanyaan lagi) Jawabannya bisa beragam, ada yang mungkin karena ia memang ingin bersolek, tuntutan, sekedar kepuasan pribadi, usaha kerasnya untuk meningkatkan PD, atau mungkin.. sekedar menaikkan harga jual di dunia yang makin mendekati pasar persaingan sempurna untuk soal jodoh.

Setiap orang punya opini masing-masing soal penggunaan make up, dan tentunya gue juga dong? Buat gue, buat apa sih make up? Ketika suatu saat nanti gue ditanya, dimintai saran: “baiknya gue pake lipstick warna apa, gas?” gue mungkin bakalan menjawab: “ga usah pake”. Entah, gue selalu menganggap perempuan ber-make-up kalah memesona daripada mereka yang tidak. Dan tidak disini adalah tidak sama sekali. Tidak untuk bedak setipis sirotol mustakim, maskara selembut bulu, atau lipstik senatural apapun. Ti-dak.

Gue ga punya alasan soal ini, gue hanya merasa demikian, gue merasa dengan memakai make up, justru pressure (cieh) akan kecantikan seorang perempuan tertahan di selapis topeng yang ia poles sedemikian rupa. Kadang gue merasa agak sedikit ironis, padahal, usaha yang para kaum venus ini lakukan dengan sedemikian rupa adalah salah satu bentuk untuk menarik gue—yang mana adalah salah satu penduduk planet mars, tapi gue sama sekali nggak bisa mengapresiasi pakem yang telah tertanam di mentalitas nyaris sebagian penduduk dunia ini. Grok.

Dan belakangan, oknum berinisial A. S. M. P. (ketauan banget) nampak menggunakan make up, walau masih dalam taraf wajar dan sangat minim. Hik. Kecewa? Buat apa? Terima sajalah. Gue pikir, jika udah tiba pada waktunya, cewek se-horor Sarah Connor pun bakalan belajar pake make-up. (*plak)