Siapa yang berkhianat?
Pertanyaan retorik tanpa meminta jawaban, karena pada dasarnya tidak ada bukti nyata yang bisa dijadikan dasar untuk menyalahkan, menilai, dan menghakimi seseorang. Menyebalkan kuadrat, ketika kita ingin memberikan penilaian, namun tidak bisa. Karena apa? Ya tadi itu, tidak ada bukti. Tapi sekarang sudah ada, lalu? Mau berlagak bagai Tuhan menghakimi seseorang? Walah, saya masih manusia, dan mungkin lebih rendah dari itu tingkatannya, memberikan suatu stempel ‘salah’ pada seseorang hukumnya haram, apalagi jika memperhitungkan nilai timbal-balik secara materi. Pusing sendiri.
Khianat.. khianat.. khianat..
Depan manis, belakang pahit.
Sembunyikan kerut, timbulkan lesung.
Beraroma manggis, berasa pedit.
Apa guna diserut, ujungnya lengkung.
Kadang bingung sama diri sendiri, untuk apa hidup terlalu dirasakan sepatnya, banyak hal yang manis yang bisa saya rasakan namun saya tolak. Hingga selalu terlihat susah, banyak masalah, banyak pikiran, dibilang stres, disebut depresi. Akibatnya bukan malah persoalan yang saya hadapi makin enteng dan mudah dihadapi, malah makin berat, ditambah dengan penilaian orang lain bahwa saya adalah orang yang tidak dapat bersyukur dengan baik. Entahlah men. Saya bersyukur, tapi sebatas syukur satir yang bahkan tidak menyentuh kata puas. Lihat tuh, lagi-lagi keluhan kosong yang tidak saya tujukan ke siapa-siapanya, tanpa alamat, mungkin saya gila, siapa yang tahu, kan?
Susah untuk percaya siapa-siapanya, sebab, biasanya ketika saya mempercayai sesuatu, tidak lama kemudian, saya akan menemukan sesuatu, sesuatu yang memaksa saya untuk tidak mempercayai hal yang tadinya saya percayai. Seolah karma bagi saya yang memang ogah-ogahan untuk percaya, akibatnya Tuhan menghukum saya dengan cara menghilangkan kepercayaan saya akan suatu hal yang saya percayai tersebut. Ah pusing kalimat, yang penting apa yang ada di otak keluar.
Ketika dalam keadaan demikian, harus apa? Tetap percaya walaupun sudah jelas ada bukti dia main belakang? Atau pretend you don’t see it? Pura-pura bego? Cengar-celengir macam sapi ngantuk, padahal didalam hati sudah bagai Siberian Husky yang siap menggigit? Bukan gaya saya sih, sulit pastinya, namun tidak ada salahnya mencoba. Kalau kata orang tua sih, biarkan waktu yang berceloteh, kita tinggal diam duduk manis menonton pertunjukkan drama paling sinis. Ah dunia, begitu simpel tapi ribet.
Pertanyaan retorik tanpa meminta jawaban, karena pada dasarnya tidak ada bukti nyata yang bisa dijadikan dasar untuk menyalahkan, menilai, dan menghakimi seseorang. Menyebalkan kuadrat, ketika kita ingin memberikan penilaian, namun tidak bisa. Karena apa? Ya tadi itu, tidak ada bukti. Tapi sekarang sudah ada, lalu? Mau berlagak bagai Tuhan menghakimi seseorang? Walah, saya masih manusia, dan mungkin lebih rendah dari itu tingkatannya, memberikan suatu stempel ‘salah’ pada seseorang hukumnya haram, apalagi jika memperhitungkan nilai timbal-balik secara materi. Pusing sendiri.
Khianat.. khianat.. khianat..
Depan manis, belakang pahit.
Sembunyikan kerut, timbulkan lesung.
Beraroma manggis, berasa pedit.
Apa guna diserut, ujungnya lengkung.
Kadang bingung sama diri sendiri, untuk apa hidup terlalu dirasakan sepatnya, banyak hal yang manis yang bisa saya rasakan namun saya tolak. Hingga selalu terlihat susah, banyak masalah, banyak pikiran, dibilang stres, disebut depresi. Akibatnya bukan malah persoalan yang saya hadapi makin enteng dan mudah dihadapi, malah makin berat, ditambah dengan penilaian orang lain bahwa saya adalah orang yang tidak dapat bersyukur dengan baik. Entahlah men. Saya bersyukur, tapi sebatas syukur satir yang bahkan tidak menyentuh kata puas. Lihat tuh, lagi-lagi keluhan kosong yang tidak saya tujukan ke siapa-siapanya, tanpa alamat, mungkin saya gila, siapa yang tahu, kan?
Susah untuk percaya siapa-siapanya, sebab, biasanya ketika saya mempercayai sesuatu, tidak lama kemudian, saya akan menemukan sesuatu, sesuatu yang memaksa saya untuk tidak mempercayai hal yang tadinya saya percayai. Seolah karma bagi saya yang memang ogah-ogahan untuk percaya, akibatnya Tuhan menghukum saya dengan cara menghilangkan kepercayaan saya akan suatu hal yang saya percayai tersebut. Ah pusing kalimat, yang penting apa yang ada di otak keluar.
Ketika dalam keadaan demikian, harus apa? Tetap percaya walaupun sudah jelas ada bukti dia main belakang? Atau pretend you don’t see it? Pura-pura bego? Cengar-celengir macam sapi ngantuk, padahal didalam hati sudah bagai Siberian Husky yang siap menggigit? Bukan gaya saya sih, sulit pastinya, namun tidak ada salahnya mencoba. Kalau kata orang tua sih, biarkan waktu yang berceloteh, kita tinggal diam duduk manis menonton pertunjukkan drama paling sinis. Ah dunia, begitu simpel tapi ribet.
Haha..
Katanya kesurupan, banyak ngelamun, bolak-balik jatoh ngegelinding di bukit, ga sadar diri, dan ngomong ngelantur ngga jelas juntrungannya. Alamak. Gue ngga tau harus ngomong apa, karena gue juga ngga inget banyak hal dariapa yang gue jalani disana. Batal untuk tahun ini masuk Mahacita, walaupun ketua adatnya mengatakan bahwa gue bisa datang kesana kapanpun, tetap menjadi bagian dari keluarga Mahacita dan lain-lain, tetep aja, ujungnya gue bukan anggota tetap, dan gue ingin sampai ke tulang.
Alrite, tahun depan, gue harus ikut lagi medan operasi. Hoh.. waktu kebuang lagi dah.
Katanya kesurupan, banyak ngelamun, bolak-balik jatoh ngegelinding di bukit, ga sadar diri, dan ngomong ngelantur ngga jelas juntrungannya. Alamak. Gue ngga tau harus ngomong apa, karena gue juga ngga inget banyak hal dariapa yang gue jalani disana. Batal untuk tahun ini masuk Mahacita, walaupun ketua adatnya mengatakan bahwa gue bisa datang kesana kapanpun, tetap menjadi bagian dari keluarga Mahacita dan lain-lain, tetep aja, ujungnya gue bukan anggota tetap, dan gue ingin sampai ke tulang.
Alrite, tahun depan, gue harus ikut lagi medan operasi. Hoh.. waktu kebuang lagi dah.
H-1. Tangan gue dingin.
Sebentar lagi gue berangkat, phew. Takut? Ngga sih. Excited? Juga ngga. Mungkin lebih seperti ke ketenangan sebelum badai. Ah, bahkan untuk menulispun udah ngga nafsu lagi. Sip sip.
Intinya.. gue pamit.
Pengennya sih gue hubungi satu-satu orang yang ingin gue pamitin ketimbang gue tulis massal di blog, tapi ada beberapa yang istilahnya.. hubungannya lagi memburuk. Jadi mau telpon pun ngga enak. Jadi lebih baik disini aja lah.Yang ngga sempet gue pamitin, gue mohon pamit ya, maaf kalau ada salah-salah, tolong dimaafin, oke?
Kalau pertengahan febuari gue belum posting lagi, berarti gue entah udah masuk jurang, atau jadi kompos di hutan =))..
Well, see ya.
Sebentar lagi gue berangkat, phew. Takut? Ngga sih. Excited? Juga ngga. Mungkin lebih seperti ke ketenangan sebelum badai. Ah, bahkan untuk menulispun udah ngga nafsu lagi. Sip sip.
Intinya.. gue pamit.
Pengennya sih gue hubungi satu-satu orang yang ingin gue pamitin ketimbang gue tulis massal di blog, tapi ada beberapa yang istilahnya.. hubungannya lagi memburuk. Jadi mau telpon pun ngga enak. Jadi lebih baik disini aja lah.Yang ngga sempet gue pamitin, gue mohon pamit ya, maaf kalau ada salah-salah, tolong dimaafin, oke?
Kalau pertengahan febuari gue belum posting lagi, berarti gue entah udah masuk jurang, atau jadi kompos di hutan =))..
Well, see ya.
Geez.. gue laper, amit-amit.
Dulu, sering gue membayangkan, seperti apa rasanya menjadi orang miskin, yang memenuhi kebutuhan pokoknya aja susah. Membayangkan, bagaimana rasanya ketika ingin tidur dengan perut lapar, lalu berpikir, “akankah saya dapat makan besok?” hanya sebatas bayangan sih. Gue beruntung tinggal di keluarga yang berkecukupan, yang ketika jatuh paling miskinnya pun, kami masih bisa membeli dua-tiga bungkus mie instan untuk dimakan berempat. Amin lah.
Seperti apa rasanya?
Mungkin seperti sekarang. Mungkin, tidak terlalu jatuh sampai ngga bisa beli sama sekali sih. Tapi uang yang gue pegang sekarang ngga lebih dari 10ribu, abis buat keperluan macem-macem, dan gue ngga berani membelikan uang tersebut untuk makanan. Ada kebutuhan lain yang menurut gue pribadi lebih mendesak, yeah, rokok.
Ada kawan lama yang mengatakan bahwa standar hidup gue begitu rendah, karena gue lebih memilih untuk membeli rokok daripada sebungkus nasi. Entah ya, kecanduan menjadi faktor kali? Dan bukan hanya itu, ada dorongan lain yang memotivasi gue, bahwa gue lebih butuh pengenyangan psikologis daripada fisiologis, sekarang. Lagipula, udah menjadi momok yang umum diantara perokok aktif, bahwa tidak jarang para perokok mempunyai kebutuhan akan rokok yang lebih besar daripada kebutuhan pangan mereka. Dan gue salah satunya.
Stres? Pikiran banyak? Seorang kawan yang lain lagi, malah mengatakan gue udah melewati jauh batasan itu, katanya gue udah masuk taraf depresi, boleh lah. Gue hanya tertawa. Yang jelas, gue lapar. Terakhir makan, dua hari lalu. Oh, lihat aja tulisan ini, ngga ada emosinya sama sekali, gue lemes, bener-bener lemes sampai ngga tau harus ngapain sekarang. Tidur? Bad idea.
Merokok mungkin? Bikin lambung kebas? Ah.. i need someone to talk to.
Dulu, sering gue membayangkan, seperti apa rasanya menjadi orang miskin, yang memenuhi kebutuhan pokoknya aja susah. Membayangkan, bagaimana rasanya ketika ingin tidur dengan perut lapar, lalu berpikir, “akankah saya dapat makan besok?” hanya sebatas bayangan sih. Gue beruntung tinggal di keluarga yang berkecukupan, yang ketika jatuh paling miskinnya pun, kami masih bisa membeli dua-tiga bungkus mie instan untuk dimakan berempat. Amin lah.
Seperti apa rasanya?
Mungkin seperti sekarang. Mungkin, tidak terlalu jatuh sampai ngga bisa beli sama sekali sih. Tapi uang yang gue pegang sekarang ngga lebih dari 10ribu, abis buat keperluan macem-macem, dan gue ngga berani membelikan uang tersebut untuk makanan. Ada kebutuhan lain yang menurut gue pribadi lebih mendesak, yeah, rokok.
Ada kawan lama yang mengatakan bahwa standar hidup gue begitu rendah, karena gue lebih memilih untuk membeli rokok daripada sebungkus nasi. Entah ya, kecanduan menjadi faktor kali? Dan bukan hanya itu, ada dorongan lain yang memotivasi gue, bahwa gue lebih butuh pengenyangan psikologis daripada fisiologis, sekarang. Lagipula, udah menjadi momok yang umum diantara perokok aktif, bahwa tidak jarang para perokok mempunyai kebutuhan akan rokok yang lebih besar daripada kebutuhan pangan mereka. Dan gue salah satunya.
Stres? Pikiran banyak? Seorang kawan yang lain lagi, malah mengatakan gue udah melewati jauh batasan itu, katanya gue udah masuk taraf depresi, boleh lah. Gue hanya tertawa. Yang jelas, gue lapar. Terakhir makan, dua hari lalu. Oh, lihat aja tulisan ini, ngga ada emosinya sama sekali, gue lemes, bener-bener lemes sampai ngga tau harus ngapain sekarang. Tidur? Bad idea.
Merokok mungkin? Bikin lambung kebas? Ah.. i need someone to talk to.
Subscribe to:
Comments (Atom)

Newer Posts
