Appetite
Filed Under (For Remember ) by Pitiful Kuro on Thursday, January 05, 2012
Posted at : 11:46 PM
“Kenapa lo nggak pernah ngebuka obrolan?”
Salah satu rekan kampus gue bilang gitu di sesi ngopi
ngalor-ngidul malem buta. Karena, waktu gue sama dia ngobrol, gue jarang bener
ngebuka sebuah topik, selalu mereka nanya sesuatu—atau, menceritakan sesuatu yang
nantinya gue tanggapi panjang lebar. Well said. Tapi gue bukannya nggak
memberikan topik, lebih tepatnya, nggak membuka sesuatu yang ada hubungannya
sama gue sebagai pribadi kedalam topik. Paling yang umum-umum dibahas: cewek,
motor, kopi, game, bokep(!) or anything about men’s talking.
Spesifiknya, kenapa nggak pernah cerita tentang diri sendiri
kali?
Soalnya, gue sejelas open book. Apa sih yang gue umpetin? Ah
enggak, mate. Lebih tepatnya, gue berusaha nggak ngumpetin apa-apaan.
Pertanyaan paling sensitif pun bakal gue jawab kalau emang ada yang berani
nanya, yang sayangnya nggak ada. Yeah yeah, mungkin ada orang yang emang seneng
banget cerita sampe mulutnya berbusa, orang yang suka didenger sampe mereka
capek sendiri ngomong, tapi lebih asik buat gue denger cerita orang. Apapun
itulah. Free movie, tanpa harus ke bioskop dan bayar tiket, serta tawaran
annoying para mas dan mbak penjual pop corn di bioskop, cerita asli—dari tangan
pertama, yang mungkin nggak jarang fiksi, tapi yah, yang penting kan terhiburnya.
Ngedenger diri sendiri ngomong aja capek, apalagi harus
ngulang apa yang ada di kepala gue ke orang lain? Plus!! Plus banget nih, belom
lagi kalo gue harus NGULANG berkali-kali karena pelafalan kata gue yang
kepret. Iye dah, lawak.
Sudut Pandang Spesifik
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Sunday, December 04, 2011
Posted at : 3:08 AM
Kita semua tau, kalau kita mencoba ngambil sudut pandang
dari suatu hal yang beda, hal yang diluar kebiasaan, kita bakalan nemuin
hal-hal baru yang sebelumnya nggak kita tau. Nah, sebenernya,
seberapa jauh batasan nyicip sudut pandang ini bisa berlaku? Segimana efeknya
dari apa yang lo liat pakek mata lo? Itu pertanyaan yang asik buat dijawab dan
bukan retoris, menarik.
Gue kepikiran hal ini ketika gue lebih jauh sama beberapa
orang yang beda jurusan kuliah, tentunya tentang apa-apa aja yang dilakuin di
jurusan masing-masing. Bahan ajar, orang-orang, keinginan, fokus, semuanya
beda, dari sanalah timbul sebuah pola pikir baru yang lahir dari kebiasaan,
kebiasaan yang lo terima setiap hari, setiap waktu, kewajiban yang lo harus
jalanin dan apa yang lo dapetin. Semuanya ngebentuk paradigma baru, yang kemungkinan kombinasinya nggak terbatas!
Gue bahkan nggak perlu mencoba sudut pandang ekstrim dari
kubu yang berlainan, misalnya aja, dari segi LGBT, dari segi jurusan dan
kekhususan hal yang diambil seseorang pun, ketika gue mencoba berenang
didalamnya, gue menemukan hal menarik. Gue nih, seorang mantan mahasiswa
psikologi, gue punya pandangan yang pastinya beda ketika gue dihadapi sama
persoalan sosial. Gue bisa mengidentifikasi ada yang namanya bystander effect—misalnya,
makanya gue nggak ngerasa segitu anehnya ketika ada seseorang yang lagi butuh
pertolongan tapi nyatanya nggak ada orang yang siaga langsung nolong, diem aja.
Ya karena bystander effect tadi, setiap orang beranggapan bahwa orang lain yang
bakalan nolong orang yang lagi ditimpa kemalangan tadi.
Sementara, ketika gue sekarang kuliah di jurusan kuliner,
setiap kali gue ngunyah sesuatu, setiap kali gue melihat jenis makanan lewat
depan mata gue, gue nggak lagi cuma punya pikiran pengen ngunyah, men. Tapi, gue
instan mikir, itu makanan bahannya apaan? Proses masaknya apa aja? Ada teknik
atau spice khusus yang dipake? And so on.
Common sense, huh? Tapi boi, gue sama sekali nggak pernah
mikirin ini sebelumnya, sudut pandang. Sebelum gue kuliah di bidang kuliner,
gue nggak peduli sama makanan yang gue makan, tinggal kunyah dan beres, diem di
perut sebentar, dan keluar lagi buat nyumbang metan ke atmosfir, done. Sudut pandang
spesifik ini bener-bener ngasih lo sebuah pengetahuan baru, pengetahuan yang
mungkin nggak bisa lo pelajari, tapi secara pasif terus ngasih rangsangan ke
kepala, ke pola pikir dan ngebentuk lo menjadi orang yang punya penglihatan
yang beda dari orang laen. Gini deh, ketika lo kuliah di jurusan desain produk
misal, pas lo ke supermarket dan tujuan awal lo cuma buat belanja, lo bakal
mulai ngeliatin bentuk-bentuk deodoran yang ada disana, bertanya-tanya segala
hal yang bisa dibilang idiotik atau retarded oleh orang selain mereka yang
menggeluti bidang yang sama dengan lo. Masalahnya, siapa sih yang tanya “kenapa
bentuk kaleng obat semprot badan itu bulet? Nggak kotak?” selaen mereka yang
kerjaannya ngegambar bentuk produk?
Menarik? Banget. Dengan pemikiran begini, rasanya gue pengen
minjem otak tiap anak dari tiap jurusan yang berbeda yang ada di dunia ini,
ngintipin apa aja yang mereka liat dari kacamata sudut pandang spesifik mereka.
Blah.. ngebayanginnya aja lutut gue udah lemes.
Kecuali, kayaknya gue ogah minjem otak anak jurusan yang ada
kata “agama”. Isinya pasti annoying.
Perempuan di Seberang
Filed Under (Fotolisan ) by Pitiful Kuro on Saturday, November 19, 2011
Posted at : 3:31 AM
Gue gak kenal, sohib gue juga nggak kenal. Dia berdiri
begitu aja di ujung sana, di sisi lain kerumunan sebuah pertunjukan debus. Kurang
lebih duapuluh meter, tapi mata sohib gue seolah elang yang ngeliat tikus
(tentunya putih bersih, imut, tikus cakep pokoknya) dari kejauhan dan langsung
menekan shutter dengan membabi-buta, dan nunjukin hasil jepretannya ke gue. Gue
nyengir, berusaha menyipitkan mata melihat perempuan satu itu tanpa viewfinder.
Ya emang, cakep.
Probabilitas yang mengerikan gue bilang, apa yang terjadi
kalau gue dan Luthfi telat lima menit nonton acara debus di kota tua waktu itu?
Atau gue ngisi bensin dulu sebelum berangkat kesana? Atau gue nggak minat
nonton dan milih duduk di pinggiran sambil ngenyot es potong nan seger? Atau ngampar
ngerokok nyante nyampah sambil ngobrol sama guide museum Fatahillah? Atau milih
spot di sisi lain kerumunan dari yang kita pilih waktu itu? Atau bahkan...
Luthfi nggak mengarahkan lensa kameranya kearah sana? Kalau.. satu dari banyak hal yang gue jabarkan
tadi terjadi, mungkin gue nggak akan menulis sekarang, mungkin gue nggak akan
mengenang pertunjukkan debus kota tua satu tahun yang lalu—sebatas kenangan
kosong yang nggak bisa diinget. Dan foto ini pun nggak akan pernah terpotret.
Kejadian luar biasa, kebetulan yang nggak disangka, kumpulan
dari jutaan hal abstrak yang bersatu menjadikan sebuah momen sederhana. Detail-detail
mikro yang seolah ada pengatur dibalik semuanya. Coba pikir, gimana caranya
hal-hal itu bisa kejadian?
Tentu aja.
It just happen. Dot. Ngarep apaan emangnya?
Untuk cewek yang ada di foto, tolong dong nongol lagi,
kayaknya sohib gue butuh kecengan seger.
Roman
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Wednesday, November 02, 2011
Posted at : 1:43 AM
Malam dingin walau tanpa kabut, lampu kamar mati gelap,
selimut siap menyambut tapi sayangnya mata dan kepala masih menagih minta
dicambuk. Alarm dipasang, elektronik, terinstallasi di komputer yang duduk
manis dipojokan. Minim.. minim roman, dan bukan pagi kalau tidak ada suara
monokrom menyebalkan itu. Yah, itu standar gue, roman gue sebagai laki-laki
konvensional soal apa-apa aja yang gue pegang dan gue gunakan. Simpel dalam
fungsi, tapi rumit dalam tingkatan ideal. Kalo nggak ideal, nggak roman
namanya.
Romannya laki-laki itu ngopi di warkop. Berusaha sok penting
ngobrolin fenomena-fenomena sosial politik yang bahkan ngerti pun belom tentu. Dengan
sebungkus rokok yang diniatkan habis saat itu juga, berbagi dengan bapak-bapak
lain, berbagi dengan rekan seobrolan, berbagi dengan siapapun yang saling
silahkan duduk di bangku kayu panjang legendari khas warung kopi. Itu roman. Lengkap
dengan segelas kopi hitam, dan apresiasi tingkat klenik jika ada seorang
kakek-kakek atau tukang ojek yang menggunakan teknik menguyuk kopi legendaris
yang mulai punah itu.. teknik gelas terbalik. Itu roman, romannya laki-laki.
Romannya laki-laki itu.. memaki tanpa maksud, memukul tanda
hormat, melecehkan tanda sayang, menghina tanda cinta. Makian-makian kasar
kosong yang ditujukan ke sesama yang dikeluarkan dan diterima dengan hati yang
lapang, pukulan-pukulan ringan kadang keras dengan maksud senda gurau,
lecehan-lecehan yang bertuju penghiburan, menghina tanda eratnya keakraban. Itu
roman, roman kami, laki-laki. Kadang absurd, kadang sarkastis, tidak jarang
anarkis, tapi tidak diantara itu adalah maksud, tidak diantara itu adalah
makna, tapi lapisan tipis tanda afeksi, tanda sayang dalam bentuk lain. Itu roman.
Romannya laki-laki itu perjalanan. Karena hidup itu adalah
sebuah perjalanan, sadar menyadari. Maka dibuatlah simulasi nyata akan sebuah
hidup, perjalanan panjang tanpa ujung yang tak mengenal kata puas. Sendirian menempuh
kilo demi kilo di tengah pekatnya malam bertemankan gerungan mesin dan udara
dingin yang menusuk paru-paru sadis. Menelan debu dan tanah, menyapu kantuk
yang menggigit mata, menghilangkan kata mudah akan adanya jalan pintas,
menafikkan fakta bahwa semua ini hanya insiden fana. Tapi nyata. Di-nyata-kan. Karena
ini roman. Berbicara roman, maka lupakan fungsi. Pembayaran lelah dengan
pemandangan, menyunggingkan senyum lebar saat menyentuh tempat tujuan, duduk
santai di pinggir jalan, menyalakan rokok dan bergumam dalam hati, “ini masih
kurang,”.
Kalian bilang aneh, tapi ini roman kami, para laki-laki.
Hal-hal rendah, remeh, atau bahkan kadang nekat, ceroboh. Apapun
sebutannya, itulah cara kami menikmati hidup. Menyadari hidup itu singkat, lalu
mengapa tidak sekalian saja hajar habis-habisan? Nikmati sampai ke sumsum
tulang yang paling dalam. Didihkan darah, tegangkan otot, lepaskan tawa dan
hisap asap rokok sampai paru-paru berkabut tebal. Lalu hembuskan, dan terimalah
fakta bahwa gue, dan mungkin elo siapapun jauh disana, telah menikmati hidup
semaksimal mungkin. Sebagai manusia, sebagai laki-laki, sebagai entitas yang
menapak bumi, sebagai penanggung beban untuk menjalankan hidup semaksimal
mungkin.
Yah.. itu gue.
Sell Ek See
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Tuesday, October 04, 2011
Posted at : 3:00 AM
Gue bangun di suatu pagi, masak air seperti biasa dan
nyalain rokok sebagai sarapan. Buka pintu dan berusaha melawan udara dingin
Bandung yang kadang nggak manusiawi. Ngampus, kayak biasa toh, cuci muka, gosok
gigi, tanpa mandi dan berangkat menunggang kuda besi tercinta yang gue namain
sama kayak nama pacar—soalnya, hubungan manusia dan mesin itu absurd, makanya
gue kasih nama orang supaya lebih kedenger rasional walau percuma.
Helm dipasang, mesin di starter dan berangkat. Bandung dingin,
orang-orang yang lagi menuju tempat kerjanya masing-masing lebih dingin lagi. Lo
tau? Kecelakaan itu lebih sering terjadi di jam berangkat ngantor, soalnya,
nggak ada orang yang demen tidurnya keganggu buat ngelakuin aktivitas annoying
secara konsekuen. Gue pun sampe kampus, ngerokok lagi, waktu-waktu yang selalu
gue sediakan lebih cepat untuk bisa menghisap batang karbondioksid, karena
mereka adalah temen gue disaat gue nggak punya siapapun untuk disapa, nyawa,
disaat gue butuh tiupan penghiburan di waktu kosong.
Gue buruk dalam relationship, segala bentuk.
Temen, pacar, keluarga. Selalu ada blunder yang gue lakuin
bahkan secara sengaja. Makanya, untuk menemukan satu dua orang yang punya arti
di mata gue itu susah, apalagi temen. Selektif, pilah-pilih itu gue lakuin,
dengan sengaja. Sengaja, itu poinnya, maka dari itu, gue udah ninggalin hal-hal
yang berbau kecewa, sedih karena orang-orang yang gue seleksi, masa-masa
pencarian, gue nggak memasukan emosi macem itu dalam to-do list. Pointless,
nggak ada guna. Karena gue udah memilih untuk melakukan seleksi secara ketat,
kenapa juga gue harus jatuh karena seleksi yang gue sendiri lakuin? Retoris.
Kadang gue menemukan beberapa. Orang-orang yang mengganggu
saraf mata dan otak gue untuk nggak bisa bilang nggak tertarik. Mereka menarik,
dalam banyak arti dan klasifikasi, ngebuat gigi gue bergemeletuk hebat tanda
ekstasi, mata gue menajam memantapkan target, dan taring gue meruncing siap
gigit. Bisa fisik, bisa otak dan cara mikir mereka, atau atittude yang luar
bisa eye slicing. Atau apapun, gue nggak menancapkan paneng kriteria apa aja
yang gue masukin untuk bisa bikin gue tertarik, terjadi begitu aja dan boom! Gue
siap cengkram. Kalau udah begini, seleksi dilakukan, apapun caranya, gue akan
ngasih berbagai macam saringan dari yang paling besar, sampai yang paling
kecil. Gigit nih.
Sayangnya, nggak semua cerita semulus Dorian Gray, atau
semanis The Count Of Monte Cristo. Seleksi gagal, entah apa alasannya. Tapi lebih
konyol ketika apa yang gue lakuin—seleksi ini kepentok sama hal-hal substansial
di luar daftar checklist yang gue sediakan. Bukan seberapa outstanding pola
pikirnya, bukan seberapa menarik atittudenya, tapi hal-hal semacem gender—bukan,
gender bisa gue bilang salah satunya. Iya, gender yang itu, hal sepele yang
kita bedain dari seseorang itu punya penis atau vagina. Sepele? Yea rite.
Gue pernah bilang, punya best mate atau temen ngobrol lawan
jenis itu nggak masalah, tapi untuk menjadikan sesi ngobrol itu murni berasal
dari kepala atau seberapa kuat lo pengen
bersaing soal intelektual dengan orang ini, itu yang jadi masalahnya. Dari dasar
ide ini, gue sampe berharap beberapa orang yang gue kenal itu lebih baik
kelaminnya beda dari yang seharusnya, dengan kata lain, cewe-cewe yang gue
kenal ini gue harap di dasar roknya itu punya penis. Karena hubungan antar
lawan jenis itu susah untuk dialihkan dari afeksi. Yang mana kaitannya erat
soal perasaan dan hati. Dari poin ini udah salah, karena yang utama dari
ngobrol itu kepala yang dipake, bukan hati. Gue nggak masalah dengan itu, gue
bisa menyamaratakan semua orang punya gender yang sama, gue nggak peduli itu
penis atau vagina atau bahkan klinfelter,
gue nggak peduli. Tapi itu gue, apa lawan bicara gue udah sampe pada
frekuensi yang sama dengan itu?
Kenapa laki-laki? Kenapa gue pilih para penyandang penis
untuk diajak ngobrol?
Soalnya gue muffin muncher, bukan cock cruncher—then, it’s
not going anywhere, dong kalo lawan bicara gue itu punya penis, afeksi nggak
akan kemana-mana, tetep berfokus dimana seharusnya berada, untuk Nanda The
Browne Sugar, dan dia tetep fokus mengalirkan afeksi untuk cewek entah di sudut
hatinya yang sebelah mana. Yah.. suka atau enggak, gender cukup menjegal gue
untuk seleksi, karena gue nggak pengen hal-hal konyol kejadian kalo gue
mengincer mereka-mereka yang bervagina untuk gue ajak tanding soal otak. Selain
karena emang 75% dari populasi mereka itu jelas retarded, gue nggak mau merusak fun yang gue
dapet dari kepala mereka dengan apa-apa aja yang mungkin keluar dari hati
mereka.
Gue pun turun dari motor, meletakkan helm di stang dan
berjalan santai. Seorang cewek melintas di depan mata. Menarik. Tapi gue cuma
menghela nafas panjang..
“Well, satu nama harus gue coret.. sekarang..”
Subscribe to:
Comments (Atom)


Newer Posts
