Roman
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Wednesday, November 02, 2011
Posted at : 1:43 AM
Malam dingin walau tanpa kabut, lampu kamar mati gelap,
selimut siap menyambut tapi sayangnya mata dan kepala masih menagih minta
dicambuk. Alarm dipasang, elektronik, terinstallasi di komputer yang duduk
manis dipojokan. Minim.. minim roman, dan bukan pagi kalau tidak ada suara
monokrom menyebalkan itu. Yah, itu standar gue, roman gue sebagai laki-laki
konvensional soal apa-apa aja yang gue pegang dan gue gunakan. Simpel dalam
fungsi, tapi rumit dalam tingkatan ideal. Kalo nggak ideal, nggak roman
namanya.
Romannya laki-laki itu ngopi di warkop. Berusaha sok penting
ngobrolin fenomena-fenomena sosial politik yang bahkan ngerti pun belom tentu. Dengan
sebungkus rokok yang diniatkan habis saat itu juga, berbagi dengan bapak-bapak
lain, berbagi dengan rekan seobrolan, berbagi dengan siapapun yang saling
silahkan duduk di bangku kayu panjang legendari khas warung kopi. Itu roman. Lengkap
dengan segelas kopi hitam, dan apresiasi tingkat klenik jika ada seorang
kakek-kakek atau tukang ojek yang menggunakan teknik menguyuk kopi legendaris
yang mulai punah itu.. teknik gelas terbalik. Itu roman, romannya laki-laki.
Romannya laki-laki itu.. memaki tanpa maksud, memukul tanda
hormat, melecehkan tanda sayang, menghina tanda cinta. Makian-makian kasar
kosong yang ditujukan ke sesama yang dikeluarkan dan diterima dengan hati yang
lapang, pukulan-pukulan ringan kadang keras dengan maksud senda gurau,
lecehan-lecehan yang bertuju penghiburan, menghina tanda eratnya keakraban. Itu
roman, roman kami, laki-laki. Kadang absurd, kadang sarkastis, tidak jarang
anarkis, tapi tidak diantara itu adalah maksud, tidak diantara itu adalah
makna, tapi lapisan tipis tanda afeksi, tanda sayang dalam bentuk lain. Itu roman.
Romannya laki-laki itu perjalanan. Karena hidup itu adalah
sebuah perjalanan, sadar menyadari. Maka dibuatlah simulasi nyata akan sebuah
hidup, perjalanan panjang tanpa ujung yang tak mengenal kata puas. Sendirian menempuh
kilo demi kilo di tengah pekatnya malam bertemankan gerungan mesin dan udara
dingin yang menusuk paru-paru sadis. Menelan debu dan tanah, menyapu kantuk
yang menggigit mata, menghilangkan kata mudah akan adanya jalan pintas,
menafikkan fakta bahwa semua ini hanya insiden fana. Tapi nyata. Di-nyata-kan. Karena
ini roman. Berbicara roman, maka lupakan fungsi. Pembayaran lelah dengan
pemandangan, menyunggingkan senyum lebar saat menyentuh tempat tujuan, duduk
santai di pinggir jalan, menyalakan rokok dan bergumam dalam hati, “ini masih
kurang,”.
Kalian bilang aneh, tapi ini roman kami, para laki-laki.
Hal-hal rendah, remeh, atau bahkan kadang nekat, ceroboh. Apapun
sebutannya, itulah cara kami menikmati hidup. Menyadari hidup itu singkat, lalu
mengapa tidak sekalian saja hajar habis-habisan? Nikmati sampai ke sumsum
tulang yang paling dalam. Didihkan darah, tegangkan otot, lepaskan tawa dan
hisap asap rokok sampai paru-paru berkabut tebal. Lalu hembuskan, dan terimalah
fakta bahwa gue, dan mungkin elo siapapun jauh disana, telah menikmati hidup
semaksimal mungkin. Sebagai manusia, sebagai laki-laki, sebagai entitas yang
menapak bumi, sebagai penanggung beban untuk menjalankan hidup semaksimal
mungkin.
Yah.. itu gue.
Sell Ek See
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Tuesday, October 04, 2011
Posted at : 3:00 AM
Gue bangun di suatu pagi, masak air seperti biasa dan
nyalain rokok sebagai sarapan. Buka pintu dan berusaha melawan udara dingin
Bandung yang kadang nggak manusiawi. Ngampus, kayak biasa toh, cuci muka, gosok
gigi, tanpa mandi dan berangkat menunggang kuda besi tercinta yang gue namain
sama kayak nama pacar—soalnya, hubungan manusia dan mesin itu absurd, makanya
gue kasih nama orang supaya lebih kedenger rasional walau percuma.
Helm dipasang, mesin di starter dan berangkat. Bandung dingin,
orang-orang yang lagi menuju tempat kerjanya masing-masing lebih dingin lagi. Lo
tau? Kecelakaan itu lebih sering terjadi di jam berangkat ngantor, soalnya,
nggak ada orang yang demen tidurnya keganggu buat ngelakuin aktivitas annoying
secara konsekuen. Gue pun sampe kampus, ngerokok lagi, waktu-waktu yang selalu
gue sediakan lebih cepat untuk bisa menghisap batang karbondioksid, karena
mereka adalah temen gue disaat gue nggak punya siapapun untuk disapa, nyawa,
disaat gue butuh tiupan penghiburan di waktu kosong.
Gue buruk dalam relationship, segala bentuk.
Temen, pacar, keluarga. Selalu ada blunder yang gue lakuin
bahkan secara sengaja. Makanya, untuk menemukan satu dua orang yang punya arti
di mata gue itu susah, apalagi temen. Selektif, pilah-pilih itu gue lakuin,
dengan sengaja. Sengaja, itu poinnya, maka dari itu, gue udah ninggalin hal-hal
yang berbau kecewa, sedih karena orang-orang yang gue seleksi, masa-masa
pencarian, gue nggak memasukan emosi macem itu dalam to-do list. Pointless,
nggak ada guna. Karena gue udah memilih untuk melakukan seleksi secara ketat,
kenapa juga gue harus jatuh karena seleksi yang gue sendiri lakuin? Retoris.
Kadang gue menemukan beberapa. Orang-orang yang mengganggu
saraf mata dan otak gue untuk nggak bisa bilang nggak tertarik. Mereka menarik,
dalam banyak arti dan klasifikasi, ngebuat gigi gue bergemeletuk hebat tanda
ekstasi, mata gue menajam memantapkan target, dan taring gue meruncing siap
gigit. Bisa fisik, bisa otak dan cara mikir mereka, atau atittude yang luar
bisa eye slicing. Atau apapun, gue nggak menancapkan paneng kriteria apa aja
yang gue masukin untuk bisa bikin gue tertarik, terjadi begitu aja dan boom! Gue
siap cengkram. Kalau udah begini, seleksi dilakukan, apapun caranya, gue akan
ngasih berbagai macam saringan dari yang paling besar, sampai yang paling
kecil. Gigit nih.
Sayangnya, nggak semua cerita semulus Dorian Gray, atau
semanis The Count Of Monte Cristo. Seleksi gagal, entah apa alasannya. Tapi lebih
konyol ketika apa yang gue lakuin—seleksi ini kepentok sama hal-hal substansial
di luar daftar checklist yang gue sediakan. Bukan seberapa outstanding pola
pikirnya, bukan seberapa menarik atittudenya, tapi hal-hal semacem gender—bukan,
gender bisa gue bilang salah satunya. Iya, gender yang itu, hal sepele yang
kita bedain dari seseorang itu punya penis atau vagina. Sepele? Yea rite.
Gue pernah bilang, punya best mate atau temen ngobrol lawan
jenis itu nggak masalah, tapi untuk menjadikan sesi ngobrol itu murni berasal
dari kepala atau seberapa kuat lo pengen
bersaing soal intelektual dengan orang ini, itu yang jadi masalahnya. Dari dasar
ide ini, gue sampe berharap beberapa orang yang gue kenal itu lebih baik
kelaminnya beda dari yang seharusnya, dengan kata lain, cewe-cewe yang gue
kenal ini gue harap di dasar roknya itu punya penis. Karena hubungan antar
lawan jenis itu susah untuk dialihkan dari afeksi. Yang mana kaitannya erat
soal perasaan dan hati. Dari poin ini udah salah, karena yang utama dari
ngobrol itu kepala yang dipake, bukan hati. Gue nggak masalah dengan itu, gue
bisa menyamaratakan semua orang punya gender yang sama, gue nggak peduli itu
penis atau vagina atau bahkan klinfelter,
gue nggak peduli. Tapi itu gue, apa lawan bicara gue udah sampe pada
frekuensi yang sama dengan itu?
Kenapa laki-laki? Kenapa gue pilih para penyandang penis
untuk diajak ngobrol?
Soalnya gue muffin muncher, bukan cock cruncher—then, it’s
not going anywhere, dong kalo lawan bicara gue itu punya penis, afeksi nggak
akan kemana-mana, tetep berfokus dimana seharusnya berada, untuk Nanda The
Browne Sugar, dan dia tetep fokus mengalirkan afeksi untuk cewek entah di sudut
hatinya yang sebelah mana. Yah.. suka atau enggak, gender cukup menjegal gue
untuk seleksi, karena gue nggak pengen hal-hal konyol kejadian kalo gue
mengincer mereka-mereka yang bervagina untuk gue ajak tanding soal otak. Selain
karena emang 75% dari populasi mereka itu jelas retarded, gue nggak mau merusak fun yang gue
dapet dari kepala mereka dengan apa-apa aja yang mungkin keluar dari hati
mereka.
Gue pun turun dari motor, meletakkan helm di stang dan
berjalan santai. Seorang cewek melintas di depan mata. Menarik. Tapi gue cuma
menghela nafas panjang..
“Well, satu nama harus gue coret.. sekarang..”
Open Sick Minded People
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Saturday, September 17, 2011
Posted at : 11:29 PM
Sekarang penetrasi berbagai macem kebudayaan dah masuk ke
negara kita tercinta, dari yang lempeng-lempeng aja sampe yang bikin alis naek
sebelah pun ada. Masuknya kebudayaan-kebudayaan ini nuntut kita, sebagai manusia
yang tinggal di suatu negara dengan identitas spesifik untuk merubah pola pikir
supaya hal-hal baru ini bisa masuk dan diterima dengan baik. Nah, seberapa
besar lo membuka pikiran lo ini yang menghasilkan kata konvensional; mereka
yang berpegang tetap pada apapun yang klasik, yang dasar. Dan mereka-mereka
yang berpikiran terbuka dan bisa nerima perubahan-perubahan itu dengan ketawa.
Gue dibilang berpikiran terbuka, oh yea, gue seneng
dengernya, tapi gimana ketika gue dibilang berpikiran terlalu terbuka? Sekuler?
Dan pada saat-saat tertentu, bahkan gue dibilang ateis karena keliatannya nggak
memiliki landasan moral yang berdasar pada nilai-nilai religius. Masa sih?
Soalnya, ada yang bilang gue nggak punya stereotipe akan hal apapun, statement
ini dia keluarin waktu gue lagi nyetel TV Series yang belakangan ini lagi gue
tonton, Queer As Folks—garis bersarnya, menceritakan tentang gay life—dia heran
gue bisa segitu enjoynya nonton serial itu tanpa harus ngerasa jijik ataupun
awkward.
Soalnya, gue emang nggak ngerasa seperti itu sih. Terlepas
dari gue yang emang hetero meragukan ataupun mantan mahasiswa psikologi yang
harusnya lebih terbuka akan beberapa hal yang menyimpang termasuk LGBT,
seharusnya gue masih nyimpen pola pikir kalo gay itu: sedikit creepy. Nggak.
Karena gue selalu mencoba untuk berpikir se holistik mungkin, entah gimana
caranya, gue mencoba untuk memanusiakan manusia semanusia mungkin apapun
label-label yang menempel di jidat mereka, gue copot dan gue buang ke tong
sampah. Dasarnya apa? Soalnya, gue penegn mendapatkan probabilitas setinggi
mungkin untuk mendapatkan temen ngerokok atau temen minum baru. Halah.
Gue gak segitunya deh. Gue masih punya pandangan-pandangan
skeptis tentang hal-hal tertentu, soalnya gue masih orang dan bukannya Demit
yang bisa ngegodiain manusia tanpa pandang bulu. Contoh aja, gue ngerasa kalo
gue itu seksis—anti kesetaraan gender. Wets, jangan mikir gimana-gimana dulu,
kenapa gue bisa berpikiran seperti itu, karena yang namanya kesetaraan dalam
hal gender itu adalah hal yang mustahil kedua setelah SBY bisa nurunin berat
badan. Sekarang, ketika para feminis-feminis itu tereak seoal perlakuin gue
secara sama kayak lo cowok-cowok brengsek, apa prakteknya bisa semulus itu?
Kagak.
Feminis tereak, kasih gue jobdesk yang sama, tapi nyatanya,
ada aja jenis bidang tertentu yang nggak memungkinkan cewek-cewek itu untuk
ditempatkan disana, atau lebih seringnya, cewek-cewek itu malah ngeluh, “kenapa
GUE ditempatin disini?” d’oh. Untuk feminis, kayaknya harus dibahas dalam
bahasan khusus dah. Kepanjangan. Soalnya, kapan sih lo bisa debat sama cewek
dengan hasil yang sama-sama enak?
Intinya, gue nggak seterbuka itu, walau gue akui emang
kebukanya diatas rata-rata, gue bisa berdiri tegap ketika gue menonton
laki-laki berjoget a’la bencong. Gue bisa ngebuka mata lebar ketika gue nonton
torture porn. Gue bisa jalan enteng aja ketika ngelewatin gang yang penuh sama
PSK. Ataupun gue bisa ngobrol dengan kalem sama orang-orang yang keliatannya
baru keluar dari penjara. Tapi nggak semuanya gue bisa anggep dengan biasa, seksis tadi contohnya, atau gue paling
nggak tahan ngeliat laki-laki yang mentalnya kayak combro, lembek. Jadi bencong
ya sekalian, maksud gue.
Tapi tetep, gue berpendapat bahwa dengan gue membuka pikiran
selebarnya, maka gue akan punya temen ngobrol lebih banyak. Lagipula,
mereka-mereka yang dianggap menyimpang sama sistem sosial pun ngerasa seneng
ketika gue nganggep mereka normal sebagai temen ngobrol. Ya gak?
Karla
Filed Under (Demonic Pride ) by Pitiful Kuro on Tuesday, September 13, 2011
Posted at : 1:35 AM
Namanya Karla, usianya delapan tahun. Aku mengingatnya samar, ia duduk di sebuah sofa pada pagi hari minggu, menonton kartun kesukaannya sampai siang datang menyambut atau ibunya lebih dulu berteriak. Mandi. Dan dia pun terbirit takut. Aku tertawa.
Aku hanya bisa mengingatnya samar, senyumnya yang tulus sampai pipi merahnya mengembung, tingkahnya yang diluar akal sehat. Meloncat ke kolam ikan lalu mencoba berenang. Aku panik dibuatnya.
Aku hanya bisa mengingatnya samar, saat-saat diamnya di kamar, mendengarkan musik melalui walkman kesayangan ibunya. Khusyuk, aku tidak bisa mendapatkan perhatiannya saat nada mulai mengalun dalam telinganya. Aku asik mengamati dari pintu.
Aku hanya mengingatnya samar. Namanya Karla. Aku rindu, kamu dimana?
Aku hanya bisa mengingatnya samar, senyumnya yang tulus sampai pipi merahnya mengembung, tingkahnya yang diluar akal sehat. Meloncat ke kolam ikan lalu mencoba berenang. Aku panik dibuatnya.
Aku hanya bisa mengingatnya samar, saat-saat diamnya di kamar, mendengarkan musik melalui walkman kesayangan ibunya. Khusyuk, aku tidak bisa mendapatkan perhatiannya saat nada mulai mengalun dalam telinganya. Aku asik mengamati dari pintu.
Aku hanya mengingatnya samar. Namanya Karla. Aku rindu, kamu dimana?
Infeksi Sosial
Filed Under (From My Mind ) by Pitiful Kuro on Monday, September 12, 2011
Posted at : 10:37 PM
Ngomongin soal hubungan antar manusia sekarang itu nggak bakalan mungkin tanpa melibatkan yang namanya teknologi. Segala hal ada hubungannya dengan apa yang kita pencet atau terkoneksi ke internet. Memudahkan emang, orang-orang yang ada dibelahan dunia lain bisa lo kontak dengan segera saat lo mau, cukup pencet satu dua tombol dan lo bisa ngobrol dengan bebas, itu teknologi, dan sesuai dengan tujuan awal teknologi terus berkembang, emang hal ini ditujuin supaya kehidupan manusia dimudahkan. Bisa digarisbawahi tuh, memudahkan, dan bukannya malah bikin susah.
Gue teringet sama seorang temen, waktu yang namanya Blackberry keluar, dia girang bukan main, seneng karena kemungkinan untuk sosialisasi dengan baik semakin kebuka lebar jalannya, dan dia pun beli satu. Seneng? Pasti, lo bisa ngontak siapapun dimanapun dan kapanpun, semacem address book yang bisa ngasih feedback langsung. Bener, dia memanfaatkan gadget satu itu dengan baik, gak cuma pake, tapi bisa memanfaatkan semua fitur yang ada didalemnya secara maksimal. Hidup jadi lebih mudah, kehidupan sosial berasa bersinar dan lo gak akan ngerasa kesepian, karena manusia punya kecenderungan untuk sosialisasi ketika keadaan memungkinkan, dan gadget satu itu ngasih semua kemudahan yang dibutuhin untuk ngelakuin sosialisasi.
Itu awalnya, lama kelamaan dia pun mikir, gunanya apa? Maksudnya, emang bener lo bisa sosialisasi sama siapapun dalam waktu yang gak terbatas, tapi apa iya kalo itu yang dia butuhin, sebagai manusia yang utuh? Ketika suatu saat, lo enek dengan semua hal yang ada di dunia ini, kenyang sama temen, mual sama cinta, dan ngerasa cukup banyak nelen yang namanya konflik sosial, apa sih yang lo butuhin selain waktu sempurna buat diri sendiri? Waktu yang lo ciptain buat lo dan hanya buat lo sendiri, masa iya lo ga butuh itu?
Gue pernah bilang di blog ini juga, nggak ada manusia yang mau sendirian barang satu jam, ya, gue pernah bilang begitu. Tapi kayaknya sekarang gue harus menarik kata-kata itu. Itu hanya sebatas statement yang gue keluarin disaat-saat tertentu, karena lo tau, manusia dikasih otak buat mikir dan hati buat merasa, saat hati mengalami perubahan, otak pun bakal berubah. Waktu itu gue sendirian, atau seenggaknya, merasa seperti itu, disaat lo nggak punya siapa-siapa bahkan untuk diajak ngobrol, jelas lo merasa kalo lo nggak akan pernah mau ngerasa sendirian karena sendirian nggak enak, masalahnya, gue waktu itu udah lupa apa rasanya ada di tengah kerumunan. Apa yang gue pandang sekarang beda dari dulu, itu dua tahun lalu, masa iya gue nggak mengalami perubahan sama sekali?
Temen gue bilang, dari sekian banyak kontak yang ada di handphonenya, berapa sih yang bener-bener dia kontak? Dia temuin dan ajak ngobrol? Katanya sepuluh pun nggak sampe. Ramai, tapi sepi. Mungkin itu yang dia rasain, terlebih efek lainnya dimana dia merasa nggak punya waktu untuk dirinya sendiri. Lalu? Kenapa nggak diciptain aja waktu itu? Nggak segampang itu, ketika ada kemungkinan sekecil apapun untuk berinteraksi, manusia sulit untuk nolaknya walau mereka nggak ingin, karena interaksi itu menyenangkan dan manusia itu makhluk sosial. Memang menyenangkan, tapi kesenangan ini juga yang kadang membuat kita lupa kalo manusia pun itu makhluk yang individual. Makhluk yang didorong oleh alam untuk bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri terlepas perannya sebagai bagian dari sebuah komunitas sosial.
Temen gue pun melakukan sebuah gerakan berani, dia mematikan handphonenya total, memutus segala kemungkinan-kemungkinan sosialisasi tersebut sampai pada titik dimana ketika ada orang yang ingin bener-bener sosialisasi sama dia, maka dia harus ditemui langsung. Beberapa waktu yang lalu, gue menemui dia dan apa yang terjadi? Katanya, dia nemuin frekuensi hidupnya yang udah lama hilang, sosialisasi ketika ingin dan waktu berkualitas untuk dirinya sendiri bisa diciptakan dengan mudah. Ada perubahan pembawaan dari dia, gue nggak tau detailnya gimana, tapi kayaknya, pertanyaan dia yang dulu diajuin ke gue—yang selalu ada di jidatnya itu—seolah udah nggak ada. Mungkin udah ketemu? Mungkin.
Gimana, apa, caranya, harus ngapain.
Seperti temen gue, gue juga ngerasa jenuh. Merasa harus cek twitter tiap satu jam sekali, facebook yang juga gue intip, Messangger yang bahkan gue selalu invisible. Gue berharap bisa melakukan sesuatu disana, sayangnya nggak. Nggak tapi gue cek, gue liat, kumpulan orang-orang entah darimana ada di depan mata gue tapi sama sekali nggak bisa gue sentuh, sosialisasi. Andaikan iya, kosong. Nggak ada rasanya. Apa itu yang gue cari? Nggak.
Bukan itu.
Gue teringet sama seorang temen, waktu yang namanya Blackberry keluar, dia girang bukan main, seneng karena kemungkinan untuk sosialisasi dengan baik semakin kebuka lebar jalannya, dan dia pun beli satu. Seneng? Pasti, lo bisa ngontak siapapun dimanapun dan kapanpun, semacem address book yang bisa ngasih feedback langsung. Bener, dia memanfaatkan gadget satu itu dengan baik, gak cuma pake, tapi bisa memanfaatkan semua fitur yang ada didalemnya secara maksimal. Hidup jadi lebih mudah, kehidupan sosial berasa bersinar dan lo gak akan ngerasa kesepian, karena manusia punya kecenderungan untuk sosialisasi ketika keadaan memungkinkan, dan gadget satu itu ngasih semua kemudahan yang dibutuhin untuk ngelakuin sosialisasi.
Itu awalnya, lama kelamaan dia pun mikir, gunanya apa? Maksudnya, emang bener lo bisa sosialisasi sama siapapun dalam waktu yang gak terbatas, tapi apa iya kalo itu yang dia butuhin, sebagai manusia yang utuh? Ketika suatu saat, lo enek dengan semua hal yang ada di dunia ini, kenyang sama temen, mual sama cinta, dan ngerasa cukup banyak nelen yang namanya konflik sosial, apa sih yang lo butuhin selain waktu sempurna buat diri sendiri? Waktu yang lo ciptain buat lo dan hanya buat lo sendiri, masa iya lo ga butuh itu?
Gue pernah bilang di blog ini juga, nggak ada manusia yang mau sendirian barang satu jam, ya, gue pernah bilang begitu. Tapi kayaknya sekarang gue harus menarik kata-kata itu. Itu hanya sebatas statement yang gue keluarin disaat-saat tertentu, karena lo tau, manusia dikasih otak buat mikir dan hati buat merasa, saat hati mengalami perubahan, otak pun bakal berubah. Waktu itu gue sendirian, atau seenggaknya, merasa seperti itu, disaat lo nggak punya siapa-siapa bahkan untuk diajak ngobrol, jelas lo merasa kalo lo nggak akan pernah mau ngerasa sendirian karena sendirian nggak enak, masalahnya, gue waktu itu udah lupa apa rasanya ada di tengah kerumunan. Apa yang gue pandang sekarang beda dari dulu, itu dua tahun lalu, masa iya gue nggak mengalami perubahan sama sekali?
Temen gue bilang, dari sekian banyak kontak yang ada di handphonenya, berapa sih yang bener-bener dia kontak? Dia temuin dan ajak ngobrol? Katanya sepuluh pun nggak sampe. Ramai, tapi sepi. Mungkin itu yang dia rasain, terlebih efek lainnya dimana dia merasa nggak punya waktu untuk dirinya sendiri. Lalu? Kenapa nggak diciptain aja waktu itu? Nggak segampang itu, ketika ada kemungkinan sekecil apapun untuk berinteraksi, manusia sulit untuk nolaknya walau mereka nggak ingin, karena interaksi itu menyenangkan dan manusia itu makhluk sosial. Memang menyenangkan, tapi kesenangan ini juga yang kadang membuat kita lupa kalo manusia pun itu makhluk yang individual. Makhluk yang didorong oleh alam untuk bertahan hidup dengan kemampuannya sendiri terlepas perannya sebagai bagian dari sebuah komunitas sosial.
Temen gue pun melakukan sebuah gerakan berani, dia mematikan handphonenya total, memutus segala kemungkinan-kemungkinan sosialisasi tersebut sampai pada titik dimana ketika ada orang yang ingin bener-bener sosialisasi sama dia, maka dia harus ditemui langsung. Beberapa waktu yang lalu, gue menemui dia dan apa yang terjadi? Katanya, dia nemuin frekuensi hidupnya yang udah lama hilang, sosialisasi ketika ingin dan waktu berkualitas untuk dirinya sendiri bisa diciptakan dengan mudah. Ada perubahan pembawaan dari dia, gue nggak tau detailnya gimana, tapi kayaknya, pertanyaan dia yang dulu diajuin ke gue—yang selalu ada di jidatnya itu—seolah udah nggak ada. Mungkin udah ketemu? Mungkin.
Gimana, apa, caranya, harus ngapain.
Seperti temen gue, gue juga ngerasa jenuh. Merasa harus cek twitter tiap satu jam sekali, facebook yang juga gue intip, Messangger yang bahkan gue selalu invisible. Gue berharap bisa melakukan sesuatu disana, sayangnya nggak. Nggak tapi gue cek, gue liat, kumpulan orang-orang entah darimana ada di depan mata gue tapi sama sekali nggak bisa gue sentuh, sosialisasi. Andaikan iya, kosong. Nggak ada rasanya. Apa itu yang gue cari? Nggak.
Bukan itu.
Subscribe to:
Comments (Atom)

Newer Posts
