Judas, Yuda, Yudas
Filed Under (For Remember ) by Pitiful Kuro on Tuesday, March 15, 2011
Posted at : 9:32 PM
Aku tidak pernah memberinya nama.
Nihil tapi ada, hampa tapi terasa, tidak dapat disentuh namun bisa berbicara. Jangan tanya apa, yang ada hanya ribuan pertanyaan muncul di kepala, tatapan tidak percaya dan tidak jarang kata yang meremehkan. Makanya aku malas menyebut dia, tidak ada daya guna, aku punya dan kau tidak, jangan jadikan itu sebagai cemooh jika apa yang aku punya itu tidak ada sepertimu. Kalau ketidakmampuan kau bayar dengan ketiadaan, sampai mati kamu tidak akan dapat mengerti. Katakanlah, mati dulu sekali, mungkin pandanganmu tentangku bisa berubah, jika tidak, mungkin aku yang akan merubah sudut pandangku. Siapa yang tahu.
Dia memelukku erat dalam gelap, menggenggam tanganku dengan hangatnya menenangkan, dadanya menyentuh punggungku, antara dingin dan ingin. Ingin aku berbalik dan mencumbunya liar, merasakan lidahnya di lidahku, hidungnya yang bertemu dengan hidungku, dan mata-mata kami yang saling beradu. Tapi aku tidak bisa, terlebih dia hanya kabut hitam yang mengambang memenuhi paru-paruku, mengelus tengkukku halus tanpa ragu, dan bahkan mencambuk dagingku dengan arit kematiannya. Aku tercerahkan, aku ditenangkan. Dengan cara paling kejam yang bisa kau bayangkan, paling keras dan paling sadis yang aku sendiri tidak bisa membayangkan. Dia disini, disana, di hatiku dan di hatimu.
Kami sesama kami, pelaku sekaligus korban. Seolah fiktif tak logis, tapi nyata terbalut fakta empiris.
Kalimatku tidak akan terdengar padu, kecuali kamu adalah aku, dalam artian, kita mengalami hal yang sama. Aku bertemu dengannya, satu dari jenisku yang tidak kusangka. Aku ternganga, bayangkan saja, aku berada di sebuah titik dimana aku berspekulasi bahwa akulah yang salah, yang tidak lurus, yang otaknya sudah bergeser. Mungkin bergeser, tapi tidak. Ketika tidak ada fakta logis, pembuktian nyata yang dapat dipertanggungjawabkan, sebuah kata hanyalah kata, kalimat tetap disebut kalimat dan bukannya bukti otentik. Aku bersyukur setengah ngeri, dia berbicara sebagaimana aku ingin berbicara, satu dari jenisku, menjelaskan hal yang sebelumnya enggan aku jelaskan, tawa dingin yang juga menjadi tawaku, arogansi sepintas dangkal tapi justru adalah arogansi sebenarnya, sikap pembawa kematian yang justru adalah semangat hidup paling murni. Aku bukan dia dan dia bukan aku, tapi kami mengalami hal yang katakanlah sama, dengan interpretasi dan paradigma yang berbeda, jadilah kami satu spesies yang sama dengan gen berbeda.
“Lukas.”
Aku tidak pernah memberinya nama.
Bukan enggan atau tak ingin, tidak terpikir bahkan selintas kedip. Aku pun tidak pernah menganggapnya teman, rekan, saudara, padahal ia ada dalam setiap tarikan nafasku. Aku tidak pernah berusaha mengenalnya, padahal secara halus aku sudah bersetubuh dengannya. Kami bagaikan sepasang kuda yang membelit satu sama lain di malam hari, dan keesokan pagi seolah tak ada apapun yang telah terjadi. Nafsu yang begitu nyata seakan ilusi, sentuhan hangatnya kubuat maya, kalimat yang mengalir dari bibir tipisnya kubuat buram, aku menghilangkannya. Mungkin. Tapi dia ada, setiap aku menarik nafas.
Aku merasa dia berkhianat, menghancurkanku, melindasku dengan kaki domba nya yang kuat bagai bambu. Merobek jantungku dengan kata-katanya yang lebih tajam dari scalpel, meremukkan semua tulangku dengan tubuhnya yang bagai lembu jantan. Aku menyalahkannya, walau kurasa tak tepat. Aku berkhianat, kepada yang mengkhianatiku. Atau, kukira aku dikhianati. Tidak akan selesai sampai kiamat.
Ya, aku tidak pernah memberinya nama.
Mungkin.. tidak. Tidak terlambat. Syukur lah.
Nihil tapi ada, hampa tapi terasa, tidak dapat disentuh namun bisa berbicara. Jangan tanya apa, yang ada hanya ribuan pertanyaan muncul di kepala, tatapan tidak percaya dan tidak jarang kata yang meremehkan. Makanya aku malas menyebut dia, tidak ada daya guna, aku punya dan kau tidak, jangan jadikan itu sebagai cemooh jika apa yang aku punya itu tidak ada sepertimu. Kalau ketidakmampuan kau bayar dengan ketiadaan, sampai mati kamu tidak akan dapat mengerti. Katakanlah, mati dulu sekali, mungkin pandanganmu tentangku bisa berubah, jika tidak, mungkin aku yang akan merubah sudut pandangku. Siapa yang tahu.
Dia memelukku erat dalam gelap, menggenggam tanganku dengan hangatnya menenangkan, dadanya menyentuh punggungku, antara dingin dan ingin. Ingin aku berbalik dan mencumbunya liar, merasakan lidahnya di lidahku, hidungnya yang bertemu dengan hidungku, dan mata-mata kami yang saling beradu. Tapi aku tidak bisa, terlebih dia hanya kabut hitam yang mengambang memenuhi paru-paruku, mengelus tengkukku halus tanpa ragu, dan bahkan mencambuk dagingku dengan arit kematiannya. Aku tercerahkan, aku ditenangkan. Dengan cara paling kejam yang bisa kau bayangkan, paling keras dan paling sadis yang aku sendiri tidak bisa membayangkan. Dia disini, disana, di hatiku dan di hatimu.
Kami sesama kami, pelaku sekaligus korban. Seolah fiktif tak logis, tapi nyata terbalut fakta empiris.
Kalimatku tidak akan terdengar padu, kecuali kamu adalah aku, dalam artian, kita mengalami hal yang sama. Aku bertemu dengannya, satu dari jenisku yang tidak kusangka. Aku ternganga, bayangkan saja, aku berada di sebuah titik dimana aku berspekulasi bahwa akulah yang salah, yang tidak lurus, yang otaknya sudah bergeser. Mungkin bergeser, tapi tidak. Ketika tidak ada fakta logis, pembuktian nyata yang dapat dipertanggungjawabkan, sebuah kata hanyalah kata, kalimat tetap disebut kalimat dan bukannya bukti otentik. Aku bersyukur setengah ngeri, dia berbicara sebagaimana aku ingin berbicara, satu dari jenisku, menjelaskan hal yang sebelumnya enggan aku jelaskan, tawa dingin yang juga menjadi tawaku, arogansi sepintas dangkal tapi justru adalah arogansi sebenarnya, sikap pembawa kematian yang justru adalah semangat hidup paling murni. Aku bukan dia dan dia bukan aku, tapi kami mengalami hal yang katakanlah sama, dengan interpretasi dan paradigma yang berbeda, jadilah kami satu spesies yang sama dengan gen berbeda.
“Lukas.”
Aku tidak pernah memberinya nama.
Bukan enggan atau tak ingin, tidak terpikir bahkan selintas kedip. Aku pun tidak pernah menganggapnya teman, rekan, saudara, padahal ia ada dalam setiap tarikan nafasku. Aku tidak pernah berusaha mengenalnya, padahal secara halus aku sudah bersetubuh dengannya. Kami bagaikan sepasang kuda yang membelit satu sama lain di malam hari, dan keesokan pagi seolah tak ada apapun yang telah terjadi. Nafsu yang begitu nyata seakan ilusi, sentuhan hangatnya kubuat maya, kalimat yang mengalir dari bibir tipisnya kubuat buram, aku menghilangkannya. Mungkin. Tapi dia ada, setiap aku menarik nafas.
Aku merasa dia berkhianat, menghancurkanku, melindasku dengan kaki domba nya yang kuat bagai bambu. Merobek jantungku dengan kata-katanya yang lebih tajam dari scalpel, meremukkan semua tulangku dengan tubuhnya yang bagai lembu jantan. Aku menyalahkannya, walau kurasa tak tepat. Aku berkhianat, kepada yang mengkhianatiku. Atau, kukira aku dikhianati. Tidak akan selesai sampai kiamat.
Ya, aku tidak pernah memberinya nama.
Mungkin.. tidak. Tidak terlambat. Syukur lah.
Lagi? Iyalah.. Gue gituh..
Filed Under () by Pitiful Kuro on Monday, February 28, 2011
Posted at : 6:47 AM
Gue udah kehabisan kata-kata, semuanya nyangkut di leher, panasnya jantung udah sekalian buat masak mi rebus, dan hebatnya, batuk gue mendahsyat luar biasa beberapa menit lalu. Hebat? Coba bayangin, gue bisa nelen sebungkus rokok semalem tanpa ada sakit yang berarti sama sekali, sekarang? Bahkan satu batang pun bisa bikin gue ambruk kepentok bufet, motor gue jatoh, dan nyaris nabrak di perjalanan kesini, rumah sohib gue, Lutfhi. Tempat gue ngabur ketika udah nggak ada lagi tempat yang bisa gue singgah disaat gue mentok di tempat yang gue nggak tau namanya. Yea, ada pacar, tapi kalau mentok juga, gue kemana dong selain ke temen yang memang nggak ada kemungkinan untuk ribut-ribut segala, emangnya homo?
Gue nggak ngomong apa-apa sama dia (Luthfi), gue cuma dateng, duduk ngaso, dia bertanya “kenapa lau?” dan udeh. Selanjutnya gue udah cukup nyantai, gue nggak jawab pertanyaannya sampai ke detail, bahkan ‘D’ dari detail pun nggak. Tapi plong, sekarang gimana sisanya, gimana gue bisa kembali skeptis apatis, cuek bebek ketika gue melihat problem itu. Rasanya gue pengen maki-maki, rasanya gue pengen kebut-kebutan nggak pake otak, rasanya gue mau ngerokok berapa batangpun gue mau. Impulsif, gue tau, dan sayangnya gue nggak tau gimana caranya ngilangin sifat tuyul yang satu itu.
Bokap gue brengsek, men, dalam artian brengsek sebrengsek-brengseknya orang. Tapi gue tetep nggak bisa jauh dan berusaha tetep kontak dengan kebrengsekannya dia, kenapa? Gampang dia bokap gue. nyokap gue orang paling kepala batu, paling nggak bisa dikritik dan paling nggak bisa diajak ngomong baik-baik, nah, biarpun kuntilanak udah insyaf dan mulai dateng ke pengajian malem jumat, tetep aja dia nggak akan bisa denger omongan orang pake kepala, udah dipaku palanya, duer. Blah, ngomong apa gue.
Haha, gue mau ketawa sambil ngerokok, sayangnya nggak bisa, nanti batuk gue makin parah. Mulut udah bau besi walau nggak ada titik merah terdekteksi. Ketawa? Yaiya, gue garuk-garuk tanah di keluarga, pengen ke pacar, ngadu barang satu dua hal, tapi nggak bisa, kecekat karena mungkin salah gue sendiri yang emang nggak bisa tidur, tapi toh akhirnya ngorok juga, batal perginya. Wham slam bam, gak tau jadinya gimana kalau gue nggak kesini, mungkin udah ditereakin “ngentot” sama semua orang dijalanan saking gobloknya nyetir, kalau bego bisa kuadrat, maka gue pangkat tiga. Ribet. Oh yea, gue pengen banget tulisan ini bentuknya maki-maki, tapi sekali lagi dan gue gak akan bosen untuk memasukkan nama Luthfi disini, berkat dia, tulisan ini jadi rada guyon.
Emang guyon gitu? Yakali.
Selerah humor orang beda-beda, dan gue aja yang rada eksklusif, nggak ketawa kalau belom rasis, nggak nyengir kalau nggak nyindir, nggak senyum kalau belum ada orang lain ikutan senyum. Haah.. rasanya gue pengen nembak pelatuk di kepala gue sendiri. Dan.. ini alamat hubungan gue sama keluarga nyokap ambruk lagi.
Gue nggak ngomong apa-apa sama dia (Luthfi), gue cuma dateng, duduk ngaso, dia bertanya “kenapa lau?” dan udeh. Selanjutnya gue udah cukup nyantai, gue nggak jawab pertanyaannya sampai ke detail, bahkan ‘D’ dari detail pun nggak. Tapi plong, sekarang gimana sisanya, gimana gue bisa kembali skeptis apatis, cuek bebek ketika gue melihat problem itu. Rasanya gue pengen maki-maki, rasanya gue pengen kebut-kebutan nggak pake otak, rasanya gue mau ngerokok berapa batangpun gue mau. Impulsif, gue tau, dan sayangnya gue nggak tau gimana caranya ngilangin sifat tuyul yang satu itu.
Bokap gue brengsek, men, dalam artian brengsek sebrengsek-brengseknya orang. Tapi gue tetep nggak bisa jauh dan berusaha tetep kontak dengan kebrengsekannya dia, kenapa? Gampang dia bokap gue. nyokap gue orang paling kepala batu, paling nggak bisa dikritik dan paling nggak bisa diajak ngomong baik-baik, nah, biarpun kuntilanak udah insyaf dan mulai dateng ke pengajian malem jumat, tetep aja dia nggak akan bisa denger omongan orang pake kepala, udah dipaku palanya, duer. Blah, ngomong apa gue.
Haha, gue mau ketawa sambil ngerokok, sayangnya nggak bisa, nanti batuk gue makin parah. Mulut udah bau besi walau nggak ada titik merah terdekteksi. Ketawa? Yaiya, gue garuk-garuk tanah di keluarga, pengen ke pacar, ngadu barang satu dua hal, tapi nggak bisa, kecekat karena mungkin salah gue sendiri yang emang nggak bisa tidur, tapi toh akhirnya ngorok juga, batal perginya. Wham slam bam, gak tau jadinya gimana kalau gue nggak kesini, mungkin udah ditereakin “ngentot” sama semua orang dijalanan saking gobloknya nyetir, kalau bego bisa kuadrat, maka gue pangkat tiga. Ribet. Oh yea, gue pengen banget tulisan ini bentuknya maki-maki, tapi sekali lagi dan gue gak akan bosen untuk memasukkan nama Luthfi disini, berkat dia, tulisan ini jadi rada guyon.
Emang guyon gitu? Yakali.
Selerah humor orang beda-beda, dan gue aja yang rada eksklusif, nggak ketawa kalau belom rasis, nggak nyengir kalau nggak nyindir, nggak senyum kalau belum ada orang lain ikutan senyum. Haah.. rasanya gue pengen nembak pelatuk di kepala gue sendiri. Dan.. ini alamat hubungan gue sama keluarga nyokap ambruk lagi.
Malam Tumpul
Filed Under (For Remember,letter ) by Pitiful Kuro on Thursday, February 24, 2011
Posted at : 3:11 AM
Hari kedua, empat puluh delapan jam telah lewat semenjak terakhir mata terpejam mutlak. Bukan ingin namun dingin, seperti ular yang menjalar menelusuri perutmu, perlahan melata mendaki ke punggungmu, menapaki pundakmu hingga bersarang di leher, menyerang tengkuk dengan tusukan tumpul namun menyayat bagai sembilu. Kalau kamu tanya apa itu, aku tak tahu. Aku tidur, rasaku bangun, aku terpejam, indraku menajam. Mungkin ini sebatas lindur, luka menahun berbentuk kejam yang enggan hilang sebelum aku terpejam. Badanku lelah menahan rajam, tapi pikiran riuh berontak bagai disiram garam.
Suasana sendu, gemuruh licik terdengar samar namun menggema liar. Itu air, suara aliran air kali tepat di depan tempatku mondok sekitaran dipatiukur. Selalu membuat kangen akan pelukan alam diantara lebat pinus, sadisnya rajahan nyamuk dan gosong parafin tiap kali kuendus. Bukan malam bila tak gelap, dan bukan dosa bila tak lelap, awan menari membentuk pedang air, entah kapan menusuk, namun dinginnya terlanjur meremuk rusuk. Pintu terbuka, agar kamarku tak jadi rumah kaca, karbondioksid mendesak murka menghimpit paru-paru yang tak lagi perjaka, maka kubuka, dingin udara kubayar dengan belaian lembut di sekitar dada.
Malam.
Aku membenci pagi, karena dia melepaskanku dari pelukan malam yang amat kucintai. Malam itu cantik, malam itu erotis, malam itu ironis, kau bedakan nada maka akan memisahkan mana yang romantis dan mana yang tragis, mungkin bukan untuk mereka yang humoris, tapi tidak salah jika sang malam memang memanjakan kami yang kelewat melankolis. Bukan bangga, tapi rasa terima kasih beribu syukur kepada waktu-waktu ini yang terasa sangat manis. Bukan sekedar berkata najis, tapi tentu, kamu membaca dengan tersenyum sinis, hai, para apatis.
Dia akan merangkul mereka yang berbahagia, dengan pesona yang akan membuat sebuah rasa menjadi berlipat harga, merubah senangmu menjadi gembira, mengganti senyummu menjadi tawa, dan dengan jentikkan jari, sayangmu menjelma cinta. Koin itu bersisi dua, kepala dan ekor, memilih enggan atau percaya, ekor malam adalah yang paling buruk rupa. Dia akan meludah kepada mereka yang berduka, mereka yang tak lelap dalam tidurnya berselimut nestapa, memberikan kesendirian luar biasa saat tak ada sahabat menyapa, menghancurkan bendungan paling keras yang melindungi air matamu, dan menarik paksa makhluk liar bernama kesepian hingga buatmu binasa.
Aku memilih yang pertama dan membuang yang kedua, tidak, tidak kubuang, kusimpan disaat genting untuk menghadapimu, bukan kuat, tapi sentuhan lembut di organ metafisik, nada kemayu di telinga berbisik, air mata kupilih daripada menghardik. Konfrontasi fisik kubuang lampau, persetan teriakan lebih baik sengau, jantungku sakit mendengar suaramu yang parau, tawa getirmu yang tertahan tak lagi berkicau. Kepalaku hilang separuh, jangankan memikirkan seekor burung, paruhnya pun hanya berbayang keruh.
Ini kamu.
Bukan dia, atau siapapun yang terlintas dikepalamu. Aku bilang, jangan tegar. Apalah arti sebuah tembok kokoh jika fondasinya lapuk dimakan rayap. Senyummu selebar nil tapi merindukan dekap tanpa pernah ingin kau lepas. Letakkan topeng model apapun yang kamu ingin, dari yang paling hangat hingga yang terdingin, yang tergersang hingga serimbun beringin. Tapi telanjanglah, bagai manusia vitruvian, lelaba humanis sehangat matahari, yang tak hanya memberikan panas, tapi penerangan akan bentuk yang kau tutup lama. Telingaku tak enggan mendengar jerit paling parau, mataku sudi melihat borok paling bernanah, kulitku siap terbakar tingkat empat dan hidungku akan menerima baumu yang paling amis.
Aku percaya dan kamu pun percaya. Nada itu enggan berhenti sekalinya dimainkan, sayang. Berapapun cangkir kopi tidak akan cukup, satu cangkir lebih dari cukup hanya jika ada kamu.
Suasana sendu, gemuruh licik terdengar samar namun menggema liar. Itu air, suara aliran air kali tepat di depan tempatku mondok sekitaran dipatiukur. Selalu membuat kangen akan pelukan alam diantara lebat pinus, sadisnya rajahan nyamuk dan gosong parafin tiap kali kuendus. Bukan malam bila tak gelap, dan bukan dosa bila tak lelap, awan menari membentuk pedang air, entah kapan menusuk, namun dinginnya terlanjur meremuk rusuk. Pintu terbuka, agar kamarku tak jadi rumah kaca, karbondioksid mendesak murka menghimpit paru-paru yang tak lagi perjaka, maka kubuka, dingin udara kubayar dengan belaian lembut di sekitar dada.
Malam.
Aku membenci pagi, karena dia melepaskanku dari pelukan malam yang amat kucintai. Malam itu cantik, malam itu erotis, malam itu ironis, kau bedakan nada maka akan memisahkan mana yang romantis dan mana yang tragis, mungkin bukan untuk mereka yang humoris, tapi tidak salah jika sang malam memang memanjakan kami yang kelewat melankolis. Bukan bangga, tapi rasa terima kasih beribu syukur kepada waktu-waktu ini yang terasa sangat manis. Bukan sekedar berkata najis, tapi tentu, kamu membaca dengan tersenyum sinis, hai, para apatis.
Dia akan merangkul mereka yang berbahagia, dengan pesona yang akan membuat sebuah rasa menjadi berlipat harga, merubah senangmu menjadi gembira, mengganti senyummu menjadi tawa, dan dengan jentikkan jari, sayangmu menjelma cinta. Koin itu bersisi dua, kepala dan ekor, memilih enggan atau percaya, ekor malam adalah yang paling buruk rupa. Dia akan meludah kepada mereka yang berduka, mereka yang tak lelap dalam tidurnya berselimut nestapa, memberikan kesendirian luar biasa saat tak ada sahabat menyapa, menghancurkan bendungan paling keras yang melindungi air matamu, dan menarik paksa makhluk liar bernama kesepian hingga buatmu binasa.
Aku memilih yang pertama dan membuang yang kedua, tidak, tidak kubuang, kusimpan disaat genting untuk menghadapimu, bukan kuat, tapi sentuhan lembut di organ metafisik, nada kemayu di telinga berbisik, air mata kupilih daripada menghardik. Konfrontasi fisik kubuang lampau, persetan teriakan lebih baik sengau, jantungku sakit mendengar suaramu yang parau, tawa getirmu yang tertahan tak lagi berkicau. Kepalaku hilang separuh, jangankan memikirkan seekor burung, paruhnya pun hanya berbayang keruh.
Ini kamu.
Bukan dia, atau siapapun yang terlintas dikepalamu. Aku bilang, jangan tegar. Apalah arti sebuah tembok kokoh jika fondasinya lapuk dimakan rayap. Senyummu selebar nil tapi merindukan dekap tanpa pernah ingin kau lepas. Letakkan topeng model apapun yang kamu ingin, dari yang paling hangat hingga yang terdingin, yang tergersang hingga serimbun beringin. Tapi telanjanglah, bagai manusia vitruvian, lelaba humanis sehangat matahari, yang tak hanya memberikan panas, tapi penerangan akan bentuk yang kau tutup lama. Telingaku tak enggan mendengar jerit paling parau, mataku sudi melihat borok paling bernanah, kulitku siap terbakar tingkat empat dan hidungku akan menerima baumu yang paling amis.
Aku percaya dan kamu pun percaya. Nada itu enggan berhenti sekalinya dimainkan, sayang. Berapapun cangkir kopi tidak akan cukup, satu cangkir lebih dari cukup hanya jika ada kamu.
Kado adalah.. Utang..
Filed Under () by Pitiful Kuro on Wednesday, February 23, 2011
Posted at : 5:30 AM
Dan.. kalau lo nganggep gue lupa, sori aja, salah. Waktunya ngga ada, caileh, sok sibuk bener. Oke, jadi begini, emak gue, atau tepatnya sih, emak tiri kuadrat gue beberapa hari yang lalu ulang tahun, dan gue diancem dimintain kado berupa blog post, dan inilah, gue sanggupin.
Kenapa? Soalnya gue bokek kalau harus ngasih kado dalam bentuk lain.
Sekilas pandang, dia Rere, lengkapnya Reni Handayani Mirza Putri, cukup panjang untuk dibuletin di LJK, dan cukup pendek kalau misalkan dibandingin dengan rokok klobot. Tahun ini umurnya 27, udah kerja di salah satu institusi pemerintah entah apa detailnya, dan sayangnya sampai detik ini ketika gue nulis, masih single. Pasti rada horor barang sedikit ya, di umur yang udah nggak abege lagi masih belum ada kejelasan apa-apa soal sama siapa dia bakal ngabisin sisa hidupnya nanti *jahat*. No big deal sih, asalkan lo ngejalanin hidup lo sebagaimana mestinya lo mau menjalani hidup. Nah.. mau ngomong apa gue coba?
Ucapan selamat? Panjang umur? Biar ga seret jodoh? Rejeki gampang? Blah, itu basi, ngga juga sih, toh itu universal dan udah jadi template, anggep lah, lo udah naro susu tiga hari di kulkas, lo gak tau itu udah basi apa belum, tapi ya minum aja daripada sayang kebuang, toh rasanya masih enak-enak aja. Naon. Nah kan, daripada gue ngomongin hal yang ambigu basi apa nggaknya, gue mau coba bahas aja deh beberapa statement lo. Makna gak makna, bodo amat, yang penting tugas ngerepp dalam bentuk ucapan selamat ulang tahun ini bisa makin panjang paragrafnya, soanya gue mandek dan rada webe. Nah kan, ngomongin gue webe aja udah nambah beberapa baris kalimat nih, asoy bener deh, cihuy, saiiik. *terus aja bung, terus.*
Statement nomer wahid lo nih, tentang relationship, tentang bagaimana sebuah hubungan timbal balik itu sangat berarti buat seorang Rere. Nggak masalah, toh gue juga orangnya pragmatis aja, gue mengamini ketika dia mengatakan ‘gue pengen seseorang yang gue beri perhatian lebih, afeksi, juga memberikan hal yang sama ke gue, timbal balik, equal, sama rata sama rasa’. Setengah bener. Nggak salah, tapi agak terlalu dipaksakan juga, karena nggak semua orang berpikiran kayak dia, nggak semua orang rela menurunkan derajatnya sama sesama manusia ketika dia—seenggaknya dianggap tinggi oleh orang lain—yang lo analogikan dengan artis dan idolnya. Itu satu. Terus, mungkin dia nggak sadar, ketika dia penasaran dengan seseorang, berusaha menilik informasi dengan antusias, yang setelahnya membuat orang itu merasa ‘agak’ diatas angin, apa itu yang disebut dengan setara?
Kalau itu yang dia harapkan adalah kesetaraan, mungkin, kurang tepat. Seseorang akan merasa dikejar kalau dia merasa dikejar, seseorang akan merasa penting ketika dia dianggap penting. Titik. Dan akan susah kalau lo mengharapkan kesetaraan dengan hubungan yang dimulai dengan demikian.
Soal, kenapa nggak pernah tanya? Simpel, lo nggak pernah memberikan clue, nggak pernah memberikan suatu pernyataan yang membuat gue bertanya hal lain selain ‘kapan nikah?’, yeaa.. entah ini gue yang terlalu labil sampai-sampai gue memberitahukan apa-apa aja yang terjadi sama gue, atau emang lo yang udah terlalu stabil sampai-sampai apapun yang lo alami adalah hal yang biasa aja? Dunno, tapi andai iya hal yang kedua, cobalah untuk ngerasain hidup lo sampai ke tulang, buat yang biasa menjadi sesuatu yang bisa diceritakan, atau paling nggak, menambah tone warna di hidup lo. Nuf said.
Kayak yang gue bilang, lo bukan cameo, lo adalah pemeran utama di film kehidupan lo sendiri, have fun, lo menjadi pusat kamera kemanapun lo pergi. Sekarang, tinggal gimana merubah sudut pandang, karena lo harus sadar, lo pun punya porsi penting di hidup orang-orang lain di dekat lo. Itu pasti.
Dan sekarang? Bagian dimana akhirnya gue sadar susu yang gue simpen di kulkas masih enak ternyata buat diminum. So? Panjang umur, semoga rejeki makin gampang dan lo bisa memenuhi hasrat miss jinjing itu, makin soleh, makin ikhlas ngebahagiain ortu, dan tentunya nggak lain dan nggak bukan, yang paling penting diantara yang terpenting, semoga gampang jodoh, dapet cowo sesuai idaman—tapi tetep, jangan terlalu picky, kasih mereka kesempatan buat berdampingan dengan lo, baru protes :> have a wonderful 27th years of your life, mak.
Kenapa? Soalnya gue bokek kalau harus ngasih kado dalam bentuk lain.
Sekilas pandang, dia Rere, lengkapnya Reni Handayani Mirza Putri, cukup panjang untuk dibuletin di LJK, dan cukup pendek kalau misalkan dibandingin dengan rokok klobot. Tahun ini umurnya 27, udah kerja di salah satu institusi pemerintah entah apa detailnya, dan sayangnya sampai detik ini ketika gue nulis, masih single. Pasti rada horor barang sedikit ya, di umur yang udah nggak abege lagi masih belum ada kejelasan apa-apa soal sama siapa dia bakal ngabisin sisa hidupnya nanti *jahat*. No big deal sih, asalkan lo ngejalanin hidup lo sebagaimana mestinya lo mau menjalani hidup. Nah.. mau ngomong apa gue coba?
Ucapan selamat? Panjang umur? Biar ga seret jodoh? Rejeki gampang? Blah, itu basi, ngga juga sih, toh itu universal dan udah jadi template, anggep lah, lo udah naro susu tiga hari di kulkas, lo gak tau itu udah basi apa belum, tapi ya minum aja daripada sayang kebuang, toh rasanya masih enak-enak aja. Naon. Nah kan, daripada gue ngomongin hal yang ambigu basi apa nggaknya, gue mau coba bahas aja deh beberapa statement lo. Makna gak makna, bodo amat, yang penting tugas ngerepp dalam bentuk ucapan selamat ulang tahun ini bisa makin panjang paragrafnya, soanya gue mandek dan rada webe. Nah kan, ngomongin gue webe aja udah nambah beberapa baris kalimat nih, asoy bener deh, cihuy, saiiik. *terus aja bung, terus.*
Statement nomer wahid lo nih, tentang relationship, tentang bagaimana sebuah hubungan timbal balik itu sangat berarti buat seorang Rere. Nggak masalah, toh gue juga orangnya pragmatis aja, gue mengamini ketika dia mengatakan ‘gue pengen seseorang yang gue beri perhatian lebih, afeksi, juga memberikan hal yang sama ke gue, timbal balik, equal, sama rata sama rasa’. Setengah bener. Nggak salah, tapi agak terlalu dipaksakan juga, karena nggak semua orang berpikiran kayak dia, nggak semua orang rela menurunkan derajatnya sama sesama manusia ketika dia—seenggaknya dianggap tinggi oleh orang lain—yang lo analogikan dengan artis dan idolnya. Itu satu. Terus, mungkin dia nggak sadar, ketika dia penasaran dengan seseorang, berusaha menilik informasi dengan antusias, yang setelahnya membuat orang itu merasa ‘agak’ diatas angin, apa itu yang disebut dengan setara?
Kalau itu yang dia harapkan adalah kesetaraan, mungkin, kurang tepat. Seseorang akan merasa dikejar kalau dia merasa dikejar, seseorang akan merasa penting ketika dia dianggap penting. Titik. Dan akan susah kalau lo mengharapkan kesetaraan dengan hubungan yang dimulai dengan demikian.
Soal, kenapa nggak pernah tanya? Simpel, lo nggak pernah memberikan clue, nggak pernah memberikan suatu pernyataan yang membuat gue bertanya hal lain selain ‘kapan nikah?’, yeaa.. entah ini gue yang terlalu labil sampai-sampai gue memberitahukan apa-apa aja yang terjadi sama gue, atau emang lo yang udah terlalu stabil sampai-sampai apapun yang lo alami adalah hal yang biasa aja? Dunno, tapi andai iya hal yang kedua, cobalah untuk ngerasain hidup lo sampai ke tulang, buat yang biasa menjadi sesuatu yang bisa diceritakan, atau paling nggak, menambah tone warna di hidup lo. Nuf said.
Kayak yang gue bilang, lo bukan cameo, lo adalah pemeran utama di film kehidupan lo sendiri, have fun, lo menjadi pusat kamera kemanapun lo pergi. Sekarang, tinggal gimana merubah sudut pandang, karena lo harus sadar, lo pun punya porsi penting di hidup orang-orang lain di dekat lo. Itu pasti.
Dan sekarang? Bagian dimana akhirnya gue sadar susu yang gue simpen di kulkas masih enak ternyata buat diminum. So? Panjang umur, semoga rejeki makin gampang dan lo bisa memenuhi hasrat miss jinjing itu, makin soleh, makin ikhlas ngebahagiain ortu, dan tentunya nggak lain dan nggak bukan, yang paling penting diantara yang terpenting, semoga gampang jodoh, dapet cowo sesuai idaman—tapi tetep, jangan terlalu picky, kasih mereka kesempatan buat berdampingan dengan lo, baru protes :> have a wonderful 27th years of your life, mak.
Para bangsat, datang mengetuk pintu
Mengajarkan, tentang penyesatan
Mengajarkan, tentang pengkhianatan
Dan kudengar sampai selesai, oh aku tak munafik.
Yang mengatakan sayang didepan tapi menyahut Anjing dibelakang
Manis kukatakan manis, pahit akan kuludahi
Terpukul katanya, sakit katanya
Dia kuat katanya, dia hebat katanya
Tapi mana? Dia jatuh, dia tersungkur.
Tak bangun, tak hidup
Dia bohong, dia dusta.
Bukan nista, hanya tak kuat.
Biadab tak biadab hanya kualat
Salahkah dia hei busuk
Dunia membentuk tanpa pernah mengetuk
Ia dirayu, bukan ikhlas, oleh iblis paling buas
Bahkan dia minta ampun membungkuk
Ia memohon amat lirih dengan remuk
Tidak bahkan satu, namun nol lirikan kikuk
Ia mengutuk dunia, yang kukuk bagai pelatuk
Mengetuk-ngetuk goblok tanpa maksud
Salahkah dia, eh busuk?
Busuk, dirinya busuk, semuanya busuk
Bukan ampunan yang ia minta berikut
Namun kutukan minim makna tanpa ada imbalan
01-01-2009
29-03-2010
____
Tulisan tanpa judul paska insiden 24 maret 2010, ditulis saat emak lagi ngorok nemenin gue di Bandung. Nggak pernah gue buka lagi setelah bait pertama gue tulis taun 2009 sampai waktu itu. Dan gue nggak pernah buka setelah gue lanjutin bait-bait berikutnya, sampai tadi. Sampai gue buka blog itu, yang sukses bikin gue inget waktu-waktu insiden 24 maret itu. Hoeh.. Kali ini gue buka dan gue masukin chord, jadinya njerit-njerit sendirian deh di kosan.
Parah deh. Makasih Nan, kalau kamu nggak ngingetin, tulisan ini bakalan jadi bangke di HDD kali.
Mengajarkan, tentang penyesatan
Mengajarkan, tentang pengkhianatan
Dan kudengar sampai selesai, oh aku tak munafik.
Yang mengatakan sayang didepan tapi menyahut Anjing dibelakang
Manis kukatakan manis, pahit akan kuludahi
Terpukul katanya, sakit katanya
Dia kuat katanya, dia hebat katanya
Tapi mana? Dia jatuh, dia tersungkur.
Tak bangun, tak hidup
Dia bohong, dia dusta.
Bukan nista, hanya tak kuat.
Biadab tak biadab hanya kualat
Salahkah dia hei busuk
Dunia membentuk tanpa pernah mengetuk
Ia dirayu, bukan ikhlas, oleh iblis paling buas
Bahkan dia minta ampun membungkuk
Ia memohon amat lirih dengan remuk
Tidak bahkan satu, namun nol lirikan kikuk
Ia mengutuk dunia, yang kukuk bagai pelatuk
Mengetuk-ngetuk goblok tanpa maksud
Salahkah dia, eh busuk?
Busuk, dirinya busuk, semuanya busuk
Bukan ampunan yang ia minta berikut
Namun kutukan minim makna tanpa ada imbalan
01-01-2009
29-03-2010
____
Tulisan tanpa judul paska insiden 24 maret 2010, ditulis saat emak lagi ngorok nemenin gue di Bandung. Nggak pernah gue buka lagi setelah bait pertama gue tulis taun 2009 sampai waktu itu. Dan gue nggak pernah buka setelah gue lanjutin bait-bait berikutnya, sampai tadi. Sampai gue buka blog itu, yang sukses bikin gue inget waktu-waktu insiden 24 maret itu. Hoeh.. Kali ini gue buka dan gue masukin chord, jadinya njerit-njerit sendirian deh di kosan.
Parah deh. Makasih Nan, kalau kamu nggak ngingetin, tulisan ini bakalan jadi bangke di HDD kali.
Subscribe to:
Posts (Atom)

Newer Posts
