PPS Kuadrat Kali Delapan
Filed Under (For Remember,From My Mind,rant ) by Pitiful Kuro on Saturday, December 11, 2010
Posted at : 4:47 AM
Ini jam setengah lima pagi, waktu dimana seharusnya gue lagi pelukan sama pacar gue tercinta: guling. Tapi toh, gue disini, bangun dengan mata setengah belo akibat efek kafein, dan ensefalon yang sedikit meringan berkat nikotin, mencoba menulis. Minim ide, minim tulisan, minim kata yang bisa gue susun belakangan membuat gue takut setengah mati, mereka itu teman terbaik gue yang bisa gue peluk sementara bayangan gue sendiri udah kabur entah kemana, sahabat dikala sepi, orang tua yang membesarkan gue dengan pecutan-pecutan tipis tapi perih yang membantu gue menemukan apa yang gue ga bisa gue temukan sendiri.
Dan gue Nampak berkhianat, durhaka pada mereka. Gue menipu diri, menipu otak dan pola berpikir gue, yang entah sejak kapan berubah makin konkrit ga asik secara subjektif. Subjektif bukan objektif, gue bukan mereka dan mereka tentunya bukan gue. Ketika gue menulis, itu adalah biji dari buah yang akan menghasikan buah yang bakal gue makan sendiri, which is: tulisan gue adalah gue yang baca, reminder, pengingat, bahasa sompretnya diary, ini blog gue dan itu tulisan gue. Berterima kasihlah pada yang mau mampir, tapi hell-a-day kalau-kalau ada yang nggak ngerti, toh tujuan asalnya tulisan ini hanya punya 1 konsumen tetap, yeah heck, gue sendiri.
Gue PPS, bukan PMS walau gejalanya rada-rada mirip, kayak yang gue coba jelaskan di postingan sebelum. Gue membaca cerita lama, tentang orang yang merasa kuat jika dia menjadi serigala dan bukannya domba, cukup dia sendirian melawan dunia yang mandang dia pake mata perompak, sebelah mata. Disaat para domba pada ngegosipin serigala dengan sinis bin najis, dia Cuma bilang, “wat de fak lah”, yeah, walaupun serigala ga bisa ngomong, pasti itu yang bakalan dia ucapin di hatinya—kalo punya. Sendirian, bermain di hutan gelap tanpa cahaya, bertahan hidup dengan mengandalkan taring dan cakar, dikendalikan rasa lapar dan insting. Lalu pada suatu saat, Tuhan melihat serigala tersebut dan kasihan karena kesendirian serigala itu. Maka ia bertanya pada serigala, “maukah kau memiliki teman dan keluarga?” serigala yang selalu merasa kesepian mengiyakan tanpa ragu, dan pada saat itu juga, Tuhan mengubah serigala itu jadi domba agar dapat membaur dengan domba-domba lainnya, berkawan, makan rumput dan dislepet sama gembala yang menggenggam garpu dan pisau di tangan, menunggu sang domba matang dan tinggal sembeleh pas idul adha.
Dan ceritapun makin ciamik, si serigala bermuka domba hidup bahagia, nggak perlu membunuh lagi untuk makan, bisa berkawan dengan domba-domba gaul lainnya dan yang paling membuat dia kesengsem.. ketemu domba cantik menawan idaman para dombawan lainnya, menikah dan makin seneng. Tapi cerita nggak akan menarik kalau akhirnya happy ending, penulis pun mencari ide yang agak twist dan mengaplikasikannya ke cerita yang ia buat. Voila, domba kita tadi ini ternyata masih menyimpan unsur keserigalaan yang ia tidak dapat kendalikan, ia mengamuk sering kali, membuat kawan-kawan dan istrinya dombawati tercinta pun takut dan akhirnya meninggalkannya—takut kecaplok dan jadi kudapan teman menonton gladiator semut rangrang di hutan sebrang kali bareng lurah macan.
Tuhan pun menyadari kesalahan yang ia buat dan memutuskan untuk mengubah domba berjiwa serigala tadi menjadi serigala kembali seutuhnya, dan jadilah, serigala kita diubah. Domba-domba tadi, bahkan dombawati yang telah hidup bersamanya melarikan diri, meninggalkan serigala dengan taring dan cakarnya sendirian, takut, terpukul, dan bingung. Tidak tahu harus kepada siapa ia marah, ia tidak menyalahkan Tuhan, karena ia mengiyakan. Ia tidak menyalahkan para domba dan istri dombanya, karena dasarnya ia tidak sama dengan mereka. Dan dengan lesu, serigala pun kembali ke hutan lebatnya, berusaha mengasah taring dan cakarnya yang telah lama tumpul dimakan rumput dan perkawanan yang dianggapnya semu.
Dan itulah.. garis besarnya, dan seperti biasa juga, gue berjengit setelah baca, persis pangkat empat ketika gue habis membaca hikayat lama yang tata bahasanya ngebuat gue pengen meluk-nangis digabung dengan rasa ingin gampar si pengarang.
Dan gue Nampak berkhianat, durhaka pada mereka. Gue menipu diri, menipu otak dan pola berpikir gue, yang entah sejak kapan berubah makin konkrit ga asik secara subjektif. Subjektif bukan objektif, gue bukan mereka dan mereka tentunya bukan gue. Ketika gue menulis, itu adalah biji dari buah yang akan menghasikan buah yang bakal gue makan sendiri, which is: tulisan gue adalah gue yang baca, reminder, pengingat, bahasa sompretnya diary, ini blog gue dan itu tulisan gue. Berterima kasihlah pada yang mau mampir, tapi hell-a-day kalau-kalau ada yang nggak ngerti, toh tujuan asalnya tulisan ini hanya punya 1 konsumen tetap, yeah heck, gue sendiri.
Gue PPS, bukan PMS walau gejalanya rada-rada mirip, kayak yang gue coba jelaskan di postingan sebelum. Gue membaca cerita lama, tentang orang yang merasa kuat jika dia menjadi serigala dan bukannya domba, cukup dia sendirian melawan dunia yang mandang dia pake mata perompak, sebelah mata. Disaat para domba pada ngegosipin serigala dengan sinis bin najis, dia Cuma bilang, “wat de fak lah”, yeah, walaupun serigala ga bisa ngomong, pasti itu yang bakalan dia ucapin di hatinya—kalo punya. Sendirian, bermain di hutan gelap tanpa cahaya, bertahan hidup dengan mengandalkan taring dan cakar, dikendalikan rasa lapar dan insting. Lalu pada suatu saat, Tuhan melihat serigala tersebut dan kasihan karena kesendirian serigala itu. Maka ia bertanya pada serigala, “maukah kau memiliki teman dan keluarga?” serigala yang selalu merasa kesepian mengiyakan tanpa ragu, dan pada saat itu juga, Tuhan mengubah serigala itu jadi domba agar dapat membaur dengan domba-domba lainnya, berkawan, makan rumput dan dislepet sama gembala yang menggenggam garpu dan pisau di tangan, menunggu sang domba matang dan tinggal sembeleh pas idul adha.
Dan ceritapun makin ciamik, si serigala bermuka domba hidup bahagia, nggak perlu membunuh lagi untuk makan, bisa berkawan dengan domba-domba gaul lainnya dan yang paling membuat dia kesengsem.. ketemu domba cantik menawan idaman para dombawan lainnya, menikah dan makin seneng. Tapi cerita nggak akan menarik kalau akhirnya happy ending, penulis pun mencari ide yang agak twist dan mengaplikasikannya ke cerita yang ia buat. Voila, domba kita tadi ini ternyata masih menyimpan unsur keserigalaan yang ia tidak dapat kendalikan, ia mengamuk sering kali, membuat kawan-kawan dan istrinya dombawati tercinta pun takut dan akhirnya meninggalkannya—takut kecaplok dan jadi kudapan teman menonton gladiator semut rangrang di hutan sebrang kali bareng lurah macan.
Tuhan pun menyadari kesalahan yang ia buat dan memutuskan untuk mengubah domba berjiwa serigala tadi menjadi serigala kembali seutuhnya, dan jadilah, serigala kita diubah. Domba-domba tadi, bahkan dombawati yang telah hidup bersamanya melarikan diri, meninggalkan serigala dengan taring dan cakarnya sendirian, takut, terpukul, dan bingung. Tidak tahu harus kepada siapa ia marah, ia tidak menyalahkan Tuhan, karena ia mengiyakan. Ia tidak menyalahkan para domba dan istri dombanya, karena dasarnya ia tidak sama dengan mereka. Dan dengan lesu, serigala pun kembali ke hutan lebatnya, berusaha mengasah taring dan cakarnya yang telah lama tumpul dimakan rumput dan perkawanan yang dianggapnya semu.
Dan itulah.. garis besarnya, dan seperti biasa juga, gue berjengit setelah baca, persis pangkat empat ketika gue habis membaca hikayat lama yang tata bahasanya ngebuat gue pengen meluk-nangis digabung dengan rasa ingin gampar si pengarang.
Nyari Dimana? Tanya Siapa?
Filed Under (rant ) by Pitiful Kuro on Wednesday, November 24, 2010
Posted at : 11:30 AM
Kuliah, euh, entah berapa kali gue menyebutkan nama itu di blog ini. Tujuannya macem-macem, kadang gue ngocehin hal-hal menarik yang gue alami di tempat sakral menimba itu (tsah), kadang hal-hal yang bikin gondok, kadang juga gue (sok) mengkritisi institusi yang udah gue saksikan sendiri dengan mata kepala gue ini, baik bobrok dan bagusnya. Sekarang, kayanya gue pengen sedikit numpahin uneg-uneg gue sebagai mahasiswa yang lagi keluar jalur.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
Dulu gue selalu bilang, “tenang aja, gimanapun jalannya, keinginan untuk lulus itu ngga akan pernah ilang kok,” hal ini gue sampein ke emak gue yang rada-rada khawatir anaknya yang paling ganteng, baik hati, dan suka makan apel ini kuliah di luar kota, jauh dari pengawasan. Ya emang, gue selalu nganggep kuliah sebagai hal yang okelah-gue-ga-ngerasa-ini-hal-penting-tapi-gue-harus-punya-stempel-ijazah-di-jidat-gue. Yang berarti bisa digampangkan dengan kalimat: suka ga suka, kelarin kuliah gue.
True.
Tapi man, sebenernya bukan itu sih yang pengen gue sampein (nah loh, ngapain tuh 2 paragraf nangkring diatas?), sebenernya, gue lagi berasa keluar jalur, ada yang gak sesuai dengan paham gue, ada yang salah pokoknya (eh, gue ga make baju kebalik lagi kok). Sejujurnya.. emm.. urh.. euh.. yeah, ada sedikit krisis-pegang-janji nih kayanya. Apa tuh? Katakanlah, gue adalah man of my word, gue ga akan mengingkari ucapan gue, janji-janji gue, ketepatan gue soal waktu, tingkat perfeksionis yang tinggi dan bladah-bladah lainnya selama kondisi dan syarat yang dipegang masih berlaku. Dampaknya kawan?
Hal yang paling konkrit ya blog ini, gur nganggur gur, biasanya gue posting paling enggak 5-6 kali sebulan, tapi sekarang satu itu pun juga postingan lawas gue yang baru gue post sekarang. Grok abis. Dan lucunya, gue masih ngerasa perlu untuk ngisi blog gue, dan kampretnya, gue bersyukur dengan adanya 1 postingan doang di blog ini, ini bener-bener disorientasi namanya, penurunan tingkat kepuasan, degradasi perfeksionismeeeh, dan dooh.. rasanya mau nenggak kopi 10 gelas sehari.
Hal lainnya? Banyak men, gue jadi sering ngaret atau bahkan ga dateng ke apa yang udah gue janjiin sebelomnya, gue ngerasa bersalah? Iya! Tapi tetep aja gue sadar gue telat, gue sadar gue ga dateng tapi tetep gue lakuin. Contoh lagi? Yakin? Yang wajib deh ye, kuliah men, rasanya kayak makan sambel goreng superpedes yang udah pasti bakalan bikin lo diare bin mencret 7 hari 7 malem tapi tetep aja lo sikat, sumpe deh, pusing sendiri.
Kalo kata sesepuh yang gue ceritain persoalan ini, katanya gue kurang motipasi, ho oh coy, motipasi. Frankly my dear, I don’t give a damn.. lah.. salah, itu mah quote dari pilem gone with the wind. Maksudnya, frankly speaking, kalo gue inget-inget lagi, gue malah ga ngerasa punya motivasi selama ini, sejauh ini gue manut-manut aja kuliah, dan menjalankan kehidupan gue dengan cara lempeng tanpa motivasi. Gue sebagai a man of my words juga gue jalani sebagai prinsip idup aja dan ga lebih. Lalu apa yang hilang, kata yang kita sebut sebagai motivasi disini bagi gue ngilang kemana? Ke sumur?
Tau lah, gue ga tau, satu-satunya usaha yang bisa gue lakuin untuk mengembalikan motivasi yang bahkan gue ga tau apa itu ya.. palingan.. waduh.. gak tau yah bos. Nyeduh kopi banyak-banyak kali, atau curhat sama siapa tuh? Si salam super, lupa.
...Rekaman Tanpa Judul
Filed Under (Sikit Karya ) by Pitiful Kuro on Tuesday, November 16, 2010
Posted at : 12:06 AM
Clek..
ZzzZzzz..
“Silahkan, anda dapat mulai sekarang,”
“Oh, sudah ya? Baik-baik.. ehmm..”
“Ini tentang peristiwa malam itu, seperti yang telah saya bilang pada anda sebelumnya, saya sedang berjalan berdua dengan kekasih saya saat itu. Tepatnya sekitar pukul sebelas malam, yah, anda tidak perlu tahu kan alasan saya datang ke tempat demikian pada jam-jam itu? Hehe.. oh maaf. Maksud saya, saya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman itu, tidak ada yang aneh, cuaca memang agak lembab, tapi itu tidak mengganggu sama sekali, ya kan pak? Lalu sekitar setengah jam kami berkeliling, kami menemukan pemandangan yang cukup ganjil di tempat itu, emm, kurasa sekitar bagian timur taman, dekat kolam menari itu, ya ya.. kalau tidak salah saya melihat mereka disana.”
*Tlep*
Lelaki yang satu mematikan tape yang sedari tadi digunakan untuk merekam tiap perkataan orang satunya lagi, dengan tampang yang jelas menunjukkan ekspresi heran, berpadu dengan secercah kepuasan batin seorang jurnalis: melampaui penyeledikan polisi.
“Tunggu, mereka? Maksud anda ada dua orang atau lebih?”
“Ya, ada dua orang disana, satu ting—“
“Maaf-maaf, tunggu sebentar.”
*Clek*
“Lanjutkan.”
“Emm, yah, dua orang seperti yang saya katakan tadi, yang satunya tinggi besar, ia mengenakan kemeja flanel warna merah muda kalau tidak salah ingat, berkacamata, dan..emm.. kalau bisa dikatakan juga, tampangnya murung. Lalu yang satunya, jauh lebih kecil, lebih kurus, mungkin hanya seleher orang yang tinggi besar itu. Ia mengenakan baju serba hitam, tidak jelas apakah itu kemeja atau jas. Pastinya..”
...
...
*Tlep*
“Ada apa pak?”
“Oh, maaf, hanya berusaha mengingat kesan yang ditimbulkan orang itu, ah!”
*Clek*
“Kurasa, kalau aku tidak salah merasakan, aku merasakan tekanan yang sangat berat, meluncur dari tubuh orang itu dan menekan atmosfir jauh disekitarnya. Mudahnya, menyeramkan. Dan jangan tanya kenapa aku tahu bahwa orang itulah yang mengeluarkan tekanan itu, bukan satunya, aku tidak dapat menjelaskan dengan detail, intinya, aku merasakannya. Seperti.. kau ingin—maaf—membunuhnya, tapi juga menyayanginya secara bersamaan. “
“Tidak logis ya? Begitulah yang kurasakan. Ah, lalu sampai dimana tadi? Ya ya.. kami bertemu mereka, yah, jarak kami dari mereka lumayan jauh, sekitar 30-40meter. Mereka nampak berbincang dengan amat serius—tidak, bukan. Maksudku, orang yang kecil itu nampak menasehati orang yang besar itu. Entah apa, tidak terlalu jelas terdengar, karena suara lalu lintas di samping taman saat itu masih cukup jelas terdengar dan mengganggu pendengaran kami saat itu.”
“Ah ya.. keanehan mulai terjadi disini, pak. Awalnya kami bisa mengacuhkan obrolan mereka, toh jelas mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kami, dan kami pun tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi niatan itu hilang musnah saat orang kecil itu mengeluarkan sebuah pisau. Whew, anda mungkin berpendapat saya cukup nekat, saya langsung berteriak dan berkata bolak balik, “hei! Letakkan pisaunya!”, tapi tidak mempan, kedua orang itu sama sekali tidak mengindahkan teriakanku. Baru saja sampai setengah jalan aku mendekati mereka, tiba-tiba aku teringat kekasihku, bahwa aku kesana bersama dengannya, dan tidak baik tentunya jika meninggalkan dia begitu saja. “
“Begitu aku menengok kebelakang, aku melihat dia, kekasihku, sudah jatuh terduduk, lemas dan tampak tanpa tenaga. Melihat itu, aku langsung berbalik arah, dengan niatan menolong kekasihku dan langsung pergi dari sana tanpa babibu. Dan kau tahu pak? Apa yang kurasakan saat aku memunggungi kedua orang itu? Phew, aku melihat gambaran diriku sendiri telah mati, leherku digorok sampai putus. Memang hanya ilusi, tapi aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya saat itu, seperti benar-benar terjadi. Saya yang terkejut langsung membalik badan, dan melihat kedua orang itu sedang melihatku, dengan tampang yang sama-sama menyeramkan, seolah benar-benar ingin membunuhku. Aih, aku tak ingin mengingatnya lagi, sudah pak, hal terakhir yang kuingat dari malam itu adalah.. emm.. lolongan yang mengerikan, seperti lolongan anjing yang.. kesakitan..”
*Cklek*
ZzzZzzz..
“Silahkan, anda dapat mulai sekarang,”
“Oh, sudah ya? Baik-baik.. ehmm..”
“Ini tentang peristiwa malam itu, seperti yang telah saya bilang pada anda sebelumnya, saya sedang berjalan berdua dengan kekasih saya saat itu. Tepatnya sekitar pukul sebelas malam, yah, anda tidak perlu tahu kan alasan saya datang ke tempat demikian pada jam-jam itu? Hehe.. oh maaf. Maksud saya, saya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman itu, tidak ada yang aneh, cuaca memang agak lembab, tapi itu tidak mengganggu sama sekali, ya kan pak? Lalu sekitar setengah jam kami berkeliling, kami menemukan pemandangan yang cukup ganjil di tempat itu, emm, kurasa sekitar bagian timur taman, dekat kolam menari itu, ya ya.. kalau tidak salah saya melihat mereka disana.”
*Tlep*
Lelaki yang satu mematikan tape yang sedari tadi digunakan untuk merekam tiap perkataan orang satunya lagi, dengan tampang yang jelas menunjukkan ekspresi heran, berpadu dengan secercah kepuasan batin seorang jurnalis: melampaui penyeledikan polisi.
“Tunggu, mereka? Maksud anda ada dua orang atau lebih?”
“Ya, ada dua orang disana, satu ting—“
“Maaf-maaf, tunggu sebentar.”
*Clek*
“Lanjutkan.”
“Emm, yah, dua orang seperti yang saya katakan tadi, yang satunya tinggi besar, ia mengenakan kemeja flanel warna merah muda kalau tidak salah ingat, berkacamata, dan..emm.. kalau bisa dikatakan juga, tampangnya murung. Lalu yang satunya, jauh lebih kecil, lebih kurus, mungkin hanya seleher orang yang tinggi besar itu. Ia mengenakan baju serba hitam, tidak jelas apakah itu kemeja atau jas. Pastinya..”
...
...
*Tlep*
“Ada apa pak?”
“Oh, maaf, hanya berusaha mengingat kesan yang ditimbulkan orang itu, ah!”
*Clek*
“Kurasa, kalau aku tidak salah merasakan, aku merasakan tekanan yang sangat berat, meluncur dari tubuh orang itu dan menekan atmosfir jauh disekitarnya. Mudahnya, menyeramkan. Dan jangan tanya kenapa aku tahu bahwa orang itulah yang mengeluarkan tekanan itu, bukan satunya, aku tidak dapat menjelaskan dengan detail, intinya, aku merasakannya. Seperti.. kau ingin—maaf—membunuhnya, tapi juga menyayanginya secara bersamaan. “
“Tidak logis ya? Begitulah yang kurasakan. Ah, lalu sampai dimana tadi? Ya ya.. kami bertemu mereka, yah, jarak kami dari mereka lumayan jauh, sekitar 30-40meter. Mereka nampak berbincang dengan amat serius—tidak, bukan. Maksudku, orang yang kecil itu nampak menasehati orang yang besar itu. Entah apa, tidak terlalu jelas terdengar, karena suara lalu lintas di samping taman saat itu masih cukup jelas terdengar dan mengganggu pendengaran kami saat itu.”
“Ah ya.. keanehan mulai terjadi disini, pak. Awalnya kami bisa mengacuhkan obrolan mereka, toh jelas mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kami, dan kami pun tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Tapi niatan itu hilang musnah saat orang kecil itu mengeluarkan sebuah pisau. Whew, anda mungkin berpendapat saya cukup nekat, saya langsung berteriak dan berkata bolak balik, “hei! Letakkan pisaunya!”, tapi tidak mempan, kedua orang itu sama sekali tidak mengindahkan teriakanku. Baru saja sampai setengah jalan aku mendekati mereka, tiba-tiba aku teringat kekasihku, bahwa aku kesana bersama dengannya, dan tidak baik tentunya jika meninggalkan dia begitu saja. “
“Begitu aku menengok kebelakang, aku melihat dia, kekasihku, sudah jatuh terduduk, lemas dan tampak tanpa tenaga. Melihat itu, aku langsung berbalik arah, dengan niatan menolong kekasihku dan langsung pergi dari sana tanpa babibu. Dan kau tahu pak? Apa yang kurasakan saat aku memunggungi kedua orang itu? Phew, aku melihat gambaran diriku sendiri telah mati, leherku digorok sampai putus. Memang hanya ilusi, tapi aku tahu dengan jelas bagaimana rasanya saat itu, seperti benar-benar terjadi. Saya yang terkejut langsung membalik badan, dan melihat kedua orang itu sedang melihatku, dengan tampang yang sama-sama menyeramkan, seolah benar-benar ingin membunuhku. Aih, aku tak ingin mengingatnya lagi, sudah pak, hal terakhir yang kuingat dari malam itu adalah.. emm.. lolongan yang mengerikan, seperti lolongan anjing yang.. kesakitan..”
*Cklek*
Kadang kita tau kalau jalan yang kita ambil itu salah, entah itu buntu, entah itu one way, entah itu jalan rusaknya udah kayak grojogan sewu. Tapi kadang, kita justru ngambil jalan itu, tutup mata, dan tancap gas sekenceng-kencengnya dan ga mau peduli, ga mau tau kalau kita ngambil jalan yang salah. Yang bisa berhentiin kita disana cuma polisi dengan senyum 250.000 rupiahnya, yang ujungnya, kita menyalahkan keadaan karena mengambil jalan yang salah.
Phew.
Phew.
Melakukan ini, melakukan itu, melakukan terlalu banyak hal sampai-sampai lo ngerasa 24 jam itu gak pernah cukup dalam satu hari. Tapi ketika mencapai satu titik tertentu, dan lo melihat kebelakang dan sadar, bahwa apa yang lo lakuin itu cuma buang waktu.
Terus? Lo pengen balik lagi gitu maksudnya?
Palelo kenceng.
Terus? Lo pengen balik lagi gitu maksudnya?
Palelo kenceng.
Subscribe to:
Comments (Atom)

Newer Posts
