Gue selalu percaya bahwa televisi itu membodohi, menghipnotis penggemarnya untuk memfungsikan sebagian kecil saja fungsi otaknya. Nggak tau dengan orang lain, yang jelas benda itu sangat berpengaruh terhadap gue, entah itu mentalitas, verbalitas, aktivitas, dan mungkin tas-tas yang lain. Gue mengutuk benda persegi empat itu (belakangan ditemukan yang berbentuk persegi panjang) secara serius karena dampak yang dapat ditimbulkannya kepada diri gue sendiri, dan untungnya gue bukan keledai, sehingga sah-sah saja kalo gue jatoh ke lobang yang sama lebih dari dari dua kali.
Saat menonton, gue merasa dengan jelas bahwa gue sedang dibodohi, tapi hebatnya, gue tetep aja nonton. Menikmati tawa dengan lawakan-lawakan yang dijejalkan, menunggu-nunggu apa yang terjadi selanjutkan ketika mc keparat itu memotong acara dengan iklan, dan segudang aksi-aksi hipnotis lainnya yang dapat mempertahankan gue untuk duduk terus didepannya.
Salah satu film keluaran Turki pun, menggambarkan bagaimana awal-awal kemunculan televisi ini digambarkan sebagai benda iblis. Walau dengan dugaan lain, mereka menganggap kotak itu dapat memunculkan gambar dari tempat yang jauh, sekarang sih, membawa pikiran penontonnya ke tempat yang jauh.
Gue nggak munafik kok, gue mengakui bahwa apa yang disuguhkan didalam kotak tersebut memang ada yang menarik perhatian gue—walau tidak semua. Tapi sekali lagi, gue berkeras dengan pendirian gue bahwa benda tersebut adalah benda yang seharusnya dijauhi dari gue, mempertimbangkan apa dampak yang dapat ditimbulkannya. Mungkin media hiburan lain seperti internet, baik dalam bentuk berita, atau apapun isinya masih lebih cocok buat gue pribadi, seenggaknya ketika gue mencari hiburan di net, gue bisa menyimpan hiburan tersebut kedalam otak, lain halnya dengan televisi yang gambar-gambarnya nggak pernah gue inget baik.
Nah.. sekarang tipi gue mau dikemanain nih?
Saat menonton, gue merasa dengan jelas bahwa gue sedang dibodohi, tapi hebatnya, gue tetep aja nonton. Menikmati tawa dengan lawakan-lawakan yang dijejalkan, menunggu-nunggu apa yang terjadi selanjutkan ketika mc keparat itu memotong acara dengan iklan, dan segudang aksi-aksi hipnotis lainnya yang dapat mempertahankan gue untuk duduk terus didepannya.
Salah satu film keluaran Turki pun, menggambarkan bagaimana awal-awal kemunculan televisi ini digambarkan sebagai benda iblis. Walau dengan dugaan lain, mereka menganggap kotak itu dapat memunculkan gambar dari tempat yang jauh, sekarang sih, membawa pikiran penontonnya ke tempat yang jauh.
Gue nggak munafik kok, gue mengakui bahwa apa yang disuguhkan didalam kotak tersebut memang ada yang menarik perhatian gue—walau tidak semua. Tapi sekali lagi, gue berkeras dengan pendirian gue bahwa benda tersebut adalah benda yang seharusnya dijauhi dari gue, mempertimbangkan apa dampak yang dapat ditimbulkannya. Mungkin media hiburan lain seperti internet, baik dalam bentuk berita, atau apapun isinya masih lebih cocok buat gue pribadi, seenggaknya ketika gue mencari hiburan di net, gue bisa menyimpan hiburan tersebut kedalam otak, lain halnya dengan televisi yang gambar-gambarnya nggak pernah gue inget baik.
Nah.. sekarang tipi gue mau dikemanain nih?
Craving For DDDDIIIISSSS!!!!
Filed Under () by Pitiful Kuro on Saturday, May 08, 2010
Posted at : 5:56 PM
A Nightmare On Elm Street Teaser Poster
Barusan aja gue kegirangan luar biasa. Pasalnya gue menemukan bahwa salah satu film yang gue tunggu-tunggu banget udah masuk tayang di endonesa inih. A nightmare on elm street, remake dari film berjudul sama yangf dirilis pada tahun 1984. Tadinya gue udah was-was, semenjak Michael Bay si pecinta mobil-mobilan bermutasi ini mau bikin remake film cult terklasik ini, gue langsung ngecek jadwal rilisnya di IMDB, gue kecewa berat, kenapa? Masak gak tayang di Indo? Eh ternyata.. hari ini premiere, hahaha!
Film ini! Lo gak tau ini, berarti lo bukan fans dari genre absurd yang dinamakan horror-splatter. Mas Freddy dengan tangan pisaunya, mengejar-ngejar penghuni elm street saat mereka tertidur dalam mimpinya. Wuih, gak ada yang bisa menandingi adegan klasik dimana dia ngebelah tubuh korbannya dari dalem, dan gue gak mau gue gak mendapatkan itu di film remake ini. Mungkin itu juga salah satu kekhawatiran gue di tangan full action Michael Bay. Gue gak mau Freedy gue yang memiliki luka bakar tingkat empat berubah menjadi setengah cyborg yang bisa berubah jadi motor, ataupun punya senapan rifle jaman WW.
Oke-oke, memang berlebihan gue emang. Gak mungkin juga unsur-unsur yang ada di transformer dan pearl harbour masuk ke film ini, kalo sampe? Wah wah, bisa nangis jenggo kali gue. Gue pengen film ini nakut-nakutin gue, saking takutnya sampai gue pengen keluar dari bioskop sebelum waktunya, gue pengen perut gue dibuat mual dengan intestin berserakan dan darah yang ngucur kayak pancuran sampai gue kehilangan nafsu makan beberapa hari kedepan, dan gue pengen sampai gue ketakutan tidur karena takut Mas Freddy ini bakalan muncul di mimpi gue ngebawa-bawa sarung tangan pisonya, hiih..
Yang pasti, gue gak sabar menyambangi bioskop terdekat, beli tiket, dan menikmati ketakutan dari remake film yang menjadi franchise-franchise elm street selanjutnya. Berapa sih yang bisa ampe segitu banyak? Brr.. nonton sama siapa nih? Doski mana doyan nonton yang ginian :(
Betapa gw benci yang namanya bohong dan pura-pura, apapun alasannya, dan bahkan atas nama keparat kebaikan. Gw gak bisa mentolerir segala jenis apapun maksud dan alasan apalah itu omong-kosong-blah-blah-blah peralasan yang menopengi untuk menghalalkan bohong tadi.
Perlu ya? Bersikap manis, pretend there is nothing wrong, padahal dalam hati jijik luar biasa. Gak capek? Apa susahnya bilang gak suka, lo enak, gwnya juga lega tau kalo ditolak terang-terangan. Gak perlu deh gw berharap-harap dapet ceceran pertemanan yang nyisa barang seiprit.
Sekarang apa? Gw membuka apa yang tertutup, menemukan yang sembunyi, dan gw gak habis pikir. Muak sampe tenggorokan gw penuh.
Naif? Munafik? Whatfuckever
Perlu ya? Bersikap manis, pretend there is nothing wrong, padahal dalam hati jijik luar biasa. Gak capek? Apa susahnya bilang gak suka, lo enak, gwnya juga lega tau kalo ditolak terang-terangan. Gak perlu deh gw berharap-harap dapet ceceran pertemanan yang nyisa barang seiprit.
Sekarang apa? Gw membuka apa yang tertutup, menemukan yang sembunyi, dan gw gak habis pikir. Muak sampe tenggorokan gw penuh.
Naif? Munafik? Whatfuckever
Balada KA Parahyangan
Filed Under (For Remember ) by Pitiful Kuro on Monday, May 03, 2010
Posted at : 2:19 PM
"EDDUUAN! GAK BERES INI!"
Itu adalah kalimat yang dilontarkan seorang bapak-bapak berusia 50an di stasiun Gambir, pasalnya pengumuman yang dipasang disebelah loket penjualan kereta api parahyangan membuatnya geram. Kereta api yang memfasilitasi hubungan antar Jakarta-Bandung PP itu akan diberhentikan mulai tanggal 27 april kemarin, hal ini menuai berbagai macam komentar dari beberapa kalangan, yang kebanyakan tentunya berupa protes dan ketidaksetujuan. Ya iya toh, kereta yang sudah mencapai tingkat ikonik tersebut tiba-tiba saja diberhentikan, tapi bukan tanpa alasan.
Minimnya jumlah penumpang yang menjadi permasalahan, bahkan dalam hari kerja, tidak sampai setengah dari jumlah tempat duduk kereta tersebut yang terisi, ini membuat PT. KA merugi hingga 6 Triliyun pada tahun lalu. Menjamurnya travel-travel yang melayani jalur Jakarta-Bandung adalah penyebab utamanya, dengan harga yang tidak jauh berbeda dari KA Parahyangan, para penumpang cukup menempuh hampir setengah waktu tempuh jika menggunakan KA Parahyangan. Jika dengan PArahyangan jarak tempuh bisa sekitar 3-4 jam, dengan travel yang melalui Tol Cipularang cukup menempuh sekitaran 2 jam saja.
Tapi bagi segelintir orang, travel yang menjamur tersebut masih bukanlah sebuah opsi, ada sebagian masyarakat yang masih lebih memilih untuk naik Parahyangan dibandingkan dengan naik travel. Sejauh yang saya tanya, alasan mereka pun tidak pernah berbau ekonomi, kebanyakan orang yang saya temui memilih naik kereta Parahyangan karena nyaman. Tidak hanya itu, bagi yang lainnya, KA Parahyangan punya nilai historisnya tersendiri bagi mereka-mereka, entah apa itu. Pihak-pihak inilah yang menyuarakan protes-protes atas pemberhentian jalur tersebut.
Pemberhentian ini bagi saya pribadi adalah sebuah dua buah ironi tersendiri. Setahu saya, KA Parahyangan adalah ikon pergerakan KA nasional, KA dengan lokomotif terbaik yang didatangkan dari Jepang serta gerbong-gerbongnya adalah KA Parahyangan yang pertama kali mempergunakannya, namun ketika sekarang justru sang ikon diberhentikan, bukankah menjadi ironi tersendiri bagi mereka yang mempunyai kenangan-kenangan dengan kereta tersebut?
Hal kedua yang membuat saya miris adalah, ketika negara-negara maju berlomba dalam teknologi transportasi massal, Indonesia justru malah kembali ke metode angkutan pribadi. Jepang dan sebagian besar negara di eropa mengandalkan kereta, baik subway ataupun yang biasa, sebagai mode transportasi utama di negaranya, tapi masyarakat Indonesia justru lebih menyukai travel yang jelas-jelas mengonsumsi bahan bakar fosil yang lebih banyak—jika dibandingkan dengan KA dan jumlah penumpang yang dapat diangkut.
Namun ada secercah harapan bagi mereka yang masih ngotot ingin bernostalgi memandangi pegunungan kapur padalarang, atapaun perbukitan indah purwakarta. PT KA memberikan solusi yang menurut saya cukup brilian mengenai minimnya jumlah penumpang serta rencana penutupan jalur tersebut. Kabar angin yang beredar seputar penghapusan KA Parahyangan dan hanya akan digantikan oleh KA Argo Gede tidak sepenuhnya benar, ternyata PT KA justru menggabungkan kedua kereta tersebut menjadi KA Argo Parahyangan. KA ini sendiri memiliki gerbong dari kedua kereta tadi, 2 gerbong bisnis parahyangan, 2 gerbong eksekutif parahyangan, dan terakhir ada 2 gerbong eksekutif argo gede.
Kesan saya saat menggunakan KA Argo Parahyangan kemarin tidak jauh berbeda ketika saya menggunakan KA Parahyangan dulu (saya naik kelas bisnis), saya masih dapat merokok di bordes sesuka saya, membuka pintu bila memungkinkan, dan mengobrol dengan orang asing sesuai dengan hobi saya. Hanya saja, jika PT KA tidak ingin merugi lebih banyak lagi, peremajaan jalur serta revitalisasi kereta agaknya cukup diperlukan. Pasalnya jalur yang amblas semenjak insiden Sukatani, Purwakarta masih belum pulih sepenuhnya. Kereta masih harus melaju dengan amat perlahan—dengan sensasi thrilling yang cukup menegangkan ketika melewati daerah tersebut.
Ketika PT. KA sudah dapat menyelesaikan PR tersebut, bukan tidak mungkin pelanggan-pelanggan lama yang telah pindah hati ke Travel kembali lagi untuk bernostalgi dengan KA dari Bumi Parahyangan ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)

Newer Posts
